Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Bagaimana Perasaanmu?


__ADS_3

Mereka sampai disebuah kantor travel agent. Edwin memesan tiket pesawat keberangkatan hari Jumat pagi. Pelatihannya akan dimulai hari Senin. Tapi Edwin harus sampai di Jakarta lebih awal. Dia harus menyiapkan tempat tinggal selama berada di ibu kota, mengenal lingkungan sekitar dan sebagainya. Dia takut, jika dia berangkat hari Minggu, dia akan tergesa-gesa dan akan mempengaruhi aktifitasnya.


Edwin hanya memesan tiket keberangkatan. Dia belum memesan tiket untuk pulang.


"Berapa lama kamu akan berada di Jakarta?" tanya Indi lirih sesampainya mereka dirumah Indi. Sebenarnya dia tidak mau mendengar jawaban Edwin. Karena berapa haripun Edwin ada di Jakarta, dia tetap akan berjauhan dengan Edwin. Indi belum siap.


"Tiga bulan." sahutnya.


"Apa? Tiga bulan? Lama sekali." ucap Indi dalam hati. Dia hanya terdiam. Tanpa terasa bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk mata Indi. Air mata itu sudah dia tahan sejak tadi siang. Namun dia berusaha tetap tegar didepan Edwin. Dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya.


Mereka duduk diteras rumah sambil minum teh yang baru saja disiapkan Indi.


"Apa yang akan kamu lakukan saat aku di Jakarta?" Edwin memandang wajah Indi sambil mengambil sepotong biskuit dan melahapnya.


"Aku? Aku akan bekerja seperti biasa. Apa lagi?" Indi pura-pura santai menanggapi pertanyaan Edwin. Tapi dalam hatinya jelas sangat sedih.


"Apakah kamu akan merindukanku?" Pertanyaan Edwin ini membuat Indi tersentak. Edwin terlalu to the point.


"Jika aku jawab tidak, jelas aku sudah berbohong." Indi segera menunduk. Dia merasa tidak seharusnya dia sejujur itu. Terlalu cepat.


Edwin tersenyum puas mengetahui rindunya akan berbalas.


Hari semakin gelap, mereka masih ngobrol santai berdua. Lia sama sekali tidak mengganggu mereka. Dia melihat kakaknya sudah bahagia sekarang. Edwin adalah laki-laki yang baik. Itu sudah cukup untuk membuatnya senang.


"Ndy, aku harus kembali kerumah temanku." Edwin pamitan pada Indi. Jam didinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Baiklah." Indi menyetujui bahwa mereka harus segera beristirahat.


Edwin berdiri bersiap untuk pergi. Indi juga berdiri, dia akan mengantarkan Edwin sampai ke pintu gerbang. Sebelum melangkah, Edwin menarik tangan Indi agar menghadap kearahnya.


Dengan kelembutan, jari telunjuknya menarik dagu Indi supaya tatapan mereka bertemu. Sama seperti hari itu, Edwin mengecup halus bibir Indi. Tidak sekali, tapi beberapa kali. Hanya menyentuh, tidak lebih. Tapi suasana malam membuat rasanya berbeda dari hari itu. Lebih manis, lebih romantis.


"Aku pergi dulu." ucap Edwin setelah memasang helm dikepalanya dan menyalakan motornya.


Indi mengangguk.

__ADS_1


***


Keesokan harinya,


Edwin tahu, Indi pasti sedang sibuk bekerja. Tapi detak keras jantungnya haus akan kata-kata Indi. Belum beberapa jam mereka berpisah, Edwin sudah rindu. Padahal tadi pagi dia sudah menjemput Indi dan mengantarnya kekantor seperti biasa. Kebetulan hari ini Edwin tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi yang dia lakukan hanya memikirkan Indi dan hal-hal yang sudah mereka lalui bersama.


Tadi pagi Indi memakai rok berwarna hitam selutut, kemeja putih bergaris-garis dan balutan blezer warna coklat. Dia memakai sepatu hak tinggi dengan ukuran 12 cm berwarna putih, senada dengan warna kemejanya. Rambutnya digerai, dia benar-benar cantik.


Sudah jelas Edwin terpesona. Walaupun ini bukan pertama kalinya Edwin melihat penampilan Indi seperti itu.


Bayangan itu membuatnya ingin segera bertemu lagi dengan wanita yang sudah berhasil menaklukkan hatinya. Wanita yang membuat nasi terasa tidak enak jika tidak dimakan bersamanya. Wanita yang sudah mengambil tempat kosong dihatinya.


Menunggu jam lima sore rasanya sangat lama.


"Ndy." Pesan singkat Edwin.


Seperti biasa, Indi sudah tahu sebentar lagi Edwin akan menghubunginya melalui kode yang dia terima dari jantungnya. Dia sudah bersiap.


Pada dentingan pertama, Indi sudah mengambil ponselnya.


"Kamu sibuk?"


"Sedikit." Jawabnya berbohong. Padahal banyak sekali laporan yang harus dia selesaikan. Jika dia mengaku sibuk, Edwin akan menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaan dan menghentikan obrolan mereka.


"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Edwin.


Lagi-lagi jantungnya berpacu membaca pertanyaan Edwin.


"Aku merasa nyaman berada didekatmu."


"Benarkah?"


"Iya, aku benar." Indi terlalu hanyut dalam buaian asmara Edwin. Rupanya semalam Indi sempat menyesal mengaku akan merindukan Edwin saat dia ke Jakarta. Namun, setelah dia pikirkan lagi, jika Indi tidak mengakui perasaannya didepan Edwin, bukan tidak mungkin Edwin akan mencari wanita lain yang mencintainya dan meninggalkan Indi. Indi mulai mengakui, dia mencintai Edwin. Perasaannya selama ini adalah rindu, sayang, cinta.


"Apa yang kamu rasakan jika aku jauh darimu?" Pertanyaan Edwin semakin dalam membuatnya kesusahan menjawab. Indi harus benar-benar memikirkan perkataannya.

__ADS_1


"Aku akan rindu." jawabnya setelah beberapa menit merenung.


"Bagaimana denganmu?" Indi bertanya balik pada Edwin. Dia juga ingin tahu perasaan Edwin padanya. Belum pernah Edwin menyatakan cinta ataupun rindu. Hanya dirinya saja yang mengaku oleh jebakan-jebakan pertanyaan Edwin. Walaupun dia bisa merasakan getaran cinta Edwin, dan ciuman dibibir itu bisa dipastikan adalah cinta, tapi Indi ingin Edwin mengatakannya.


"Separuh jiwaku akan hilang jika aku tidak bersamamu."


Jawaban Edwin membuat Indi tercengang. Dia tidak menyangka Edwin bisa mengeluarkan kata-kata puitis seperti itu.


"Benarkah?" Kali ini Indi yang mempertanyakan.


"Apa yang kamu inginkan dariku untuk melihat bahwa aku mencintaimu?"


Lagi-lagi jawaban Edwin membuatnya mematung. Cinta? Edwin mencintainya? Dia terkurung dalam lamunannya. Dia lupa dia sedang bekerja. Senyumnya tak bisa ditahan.


"Indi..." Mr. William masuk keruangan Indi dan memanggilnya. Membuat Indi tersadar dari lamunannya.


"Ya Mr. William," sahut Indi.


William adalah Direktur operasional diperusahaan tempatnya bekerja. Dia adalah seorang laki-laki berkewarganegaraan Australia. Meskipun begitu, William sangat fasih berbahasa Indonesia karena sudah belasan tahun tinggal di negeri ini. Hanya sesekali dia akan berbicara dalam bahasa Inggris pada staffnya. Tidak jarang dia mencampur-campur bahasa dalam satu kalimat. William adalah atasan yang menyenangkan bagi Indi."


"Bisa kirim laporan production kita bulan ini?. I will have a meeting dengan big boss besok." kata William.


"Oke, sebentar lagi aku kirim." jawab Indi. Indi mengerti, sebelum rapat dengan pemilik perusahaan, William harus mempelajari materinya agar dia tidak kaku saat berhadapan dengan boss besar. Indi harus segera menyelesaikan laporan yang diminta dan menjelaskan isinya kepada William.


"Just kasi tahu aja kalau sudah selesai." Ucap William sembari meninggalkan ruangan Indi.


"Okay, I Will. (Baiklah, pasti.)" jawab Indi dengan sigap.


"Nanti malam kita sambung lagi ya, aku harus kembali bekerja." Indi mengabaikan pertanyaan terakhir Edwin. Dia terpaksa menghentikan percakapannya dengan Edwin yang telah membuat adrenalinnya naik turun. Padahal perbincangannya kali ini sangat menarik.


Edwin mengerti.


Indi segera kembali bekerja dan menyelesaikan tugas-tugasnya.


*Teman-teman readers tersayang, jika ada kritik dan saran boleh dituliskan dikolom komentar ya... Jangan lupa like, comments, vote dan klik favourite. Selamat membaca......*

__ADS_1


__ADS_2