Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Kupercayakan Dia Padamu


__ADS_3

Selesai makan, mereka kembali keruang tamu. Edwin sudah tidak sabar ingin bicara dengan Indi.


"Ndi, boleh aku tanya sesuatu?"


"Itu juga kamu udah nanya." Indi cekikikan.


"Aku serius." Edwin memegang tangan Indi.


Indi terdiam, kira-kira apa yang akan ditanyakan Edwin? Melihat tangannya dipegang, Indi mengira-ngira."Indi, apakah kamu cinta padaku?" pasti Edwin mau bertanya begitu. Tanpa sadar Indi senyum-senyum sendiri.


Melihat senyum Indi, Edwin merasa nyaman.


"Ndi...Indi.." Edwin melambai-lambaikan tangannya didepan mata Indi. Indi tersadar dari lamunanya dan menunduk malu. "Duh... bodoh. Pasti Edwin lihat tadi aku senyum sendiri." bisiknya dalam hati.


"Mau tanya apa?" Indi tampak santai karena sudah memikirkan pertanyaan Edwin.


"Aku harap kamu jawab jujur."


Hati Indi semakin deg-degan dan semakin yakin, itulah pertanyaan Edwin.


"Indi, apakah kamu mencintai Arga?"


Indi membelalakkan matanya. Dia kaget, sangat kaget. Dia salah, salah besar. Sejak pertama kali mengenal Edwin, dia sangat takut kalau Edwin akan membahas hubungannya dengan Arga. Tapi itu tidak pernah terjadi. Hari ini, didepan matanya, Edwin menanyakan hal itu.


"I...iya, aku...aku...aku memang mencintainya." Sangat terlihat Indi gelagapan. Nada suaranya pelan dan nyaris tak terdengar.


"Kamu nggak usah gugup." kata Edwin.


"Trus, hubungan kalian gimana sekarang? Kamu sudah pacaran sama Arga?"


"I..itu juga iya, sudah. Tapi...." Indi belum selesai bicara, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tapi apa? Kamu kenapa? Kenapa menangis? Apa yang Arga lakukan padamu? Katakan padaku!" Edwin memegang pundak Indi, nyaris saja Edwin memeluknya.


"Arga sudah punya pacar." Tangisan Indi semakin dalam. Tak bersuara, tapi air matanya tak henti mengalir.


"Maaf sudah membuatmu menangis. Tapi tolong ceritakan semuanya padaku. Aku tidak mungkin mendekatimu kalau kamu masih pacaran dengan adikku. Aku tidak mungkin merebutmu dari dia." Edwin berkata dengan sangat lembut. Membuat hati Indi tenang dan merasa aman untuk menceritakan semuanya.


Indi menceritakan hubungan mereka dengan sejujur-jujurnya. Edwin mendengarkan cerita Indi dengan seksama. Edwin sangat salut dengan ketegasan Indi.


"Jadi, sekarang kamu sudah putus sama Arga?"


"Aku nggak tau. Dia tidak pernah menghubungiku lagi."


"Kamu tenang saja. Aku akan bantu kamu. Kalau memang dia pantas untukmu, aku akan kembalikan kamu padanya." ucap Edwin.

__ADS_1


Edwin tidak mungkin berebut seorang wanita dengan Arga. Tapi dia juga tidak mau Indi merasakan sakit hati.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Nanti aku datang kesini lagi. Jangan menangis lagi ya." pinta Edwin.


Indi mengangguk menghapus air matanya.


Edwin pergi meninggalkan Indi. Dia ingin menjauh dari Indi supaya Indi tidak mendengar pembicaraannya saat menelepon Arga.


***


Edwin menghubungi Arga, namun yang menerima panggilan itu adalah seorang perempuan.


"Hallo..." Sapanya halus.


"Hallo...ini siapa? Benar dengan nomornya Arga?"


"Iya benar. Saya dengan Hera pacarnya. Ini siapa?" Ponsel Arga ternyata masih disita.


"Ini dia perempuan yang diceritakan Indi. Tapi sayang sekali, perempuan ini juga sedang dipermainkan Arga." Edwin bicara dalam hati.


"Aku kakaknya. Arga dimana ya?" Edwin bicara dengan nada ketus.


"Arga ada dirumah sepertinya kak. Tadi ponselnya ketinggalan dirumahku." Sahut Hera. Dia takut kakaknya Arga tahu dia menyita ponsel adiknya.


"Baiklah, terimakasih." jawab Edwin dengan nada tidak puas.


"Kenapa Kak?" sapanya.


"Arga ada dirumah nggak?"


"Ada dikamarnya. Kenapa?"


"Tolong panggilkan, aku mau bicara."


Ricky bergegas menuju kamar Arga dan memberikan ponselnya pada Arga.


"Kak Edwin mau bicara." Ricky menaruh ponselnya ditangan Arga.


"Ga, kamu udah liat oleh-oleh yang aku kasi?" Edwin berbasa-basi sebelum memulai topik utama.


"Belum. Nanti aku liat. Tapi terimakasih. Ada apa kamu nelpon aku?" Arga tahu tujuan utama kakaknya bukan ingin menanyakan oleh-oleh itu. Mereka tidak pernah berbasa-basi sebelumnya.


"Soal Indi." sahut Edwin.


Arga meremas tangannya. Dia sangat kesal, tapi harus dia tahan.

__ADS_1


"Kenapa Indi? Dia sekarang sedang bersamamu kan?" Arga berusaha tegar.


"Kenapa kamu nggak pernah menghubunginya? Bukannya kalian pacaran?"


"Apa dia menunggu?"


"Iya, kamu pikir dia bisa kamu telantarkan begitu saja? Dia sangat sedih karena sikapmu. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sudah mendengar cerita dari Indi. Sekarang aku harus mendengar cerita dari sisimu juga."


Arga tertunduk lemas memegang ponsel Ricky.


"Aku tidak bisa menghubungi Indi. Ponselku disita. Indi memutus hubungannya denganku karena aku masih memiliki wanita lain yang tidak aku cintai. Wanita itu selalu mengancam untuk bunuh diri. Awalnya aku tidak ingin menyerah. Tapi, mengetahui dia bersamamu, aku yakin dia akan lebih bahagia. Dia perempuan spesial. Kupercayakan dia padamu. Tolong bahagiakan dia. Aku sudah gagal." pinta Arga pada Edwin.


"Aku sudah tahu kalian berkomunikasi sejak hari pertama aku jadian dengannya. Dia mengakui kalau dia merasa nyaman bicara denganmu. Kalau kamu macam-macam, aku akan melupakan sebentar bahwa kamu adalah kakakku dan aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu. Aku mencintainya. Kalau kamu juga mencintainya, jaga dia baik-baik, jangan sampai aku merebutnya lagi." Arga berbicara dengan sangat mantap. Namun suaranya bergetar. Campuran antara rasa sedih, marah, kecewa, dan mungkin sakit hati dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Baik, jika itu maumu. Aku yang akan menjaga dia. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman antara kita gara-gara seorang wanita. Tapi, jika kamu bisa membahagiaka dia, aku serahkan dia padamu sebelum dia benar-benar aku miliki." Ucap Edwin.


Arga tidak sanggup lagi melanjutkan perbincangannya dengan Edwin. Dia segera menutup panggilan itu dan mengembalikan ponsel Ricky.


"Kasihan juga Arga. Tapi aku ingin Indi bahagia. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, aku yang akan membahagiakannya." ujar Edwin.


Edwin kembali kerumah Indi. Dia mendapati Indi sedang merapikan taman bunga didepan rumahnya.


"Kamu sudah kembali?" sapa Indi.


"Ya... malam ini aku mau mengajakmu jalan-jalan. Ayo siap-siap." perintah Edwin.


"Mau kemana?"


"Terserah kamu maunya kemana. Yang pasti ada jadwal mengantarku beli gitar ya."


Indi hanya mengangguk dan segera mengganti pakaian.


Dua puluh menit kemudian mereka siap berangkat.


Pertama, mereka berkeliling untuk mencari gitar yang diinginkan Edwin. Setelah menemukan, mereka jalan-jalan ke mall. Mereka pergi ketoko buku. Edwin tampak antusias ditoko buku. Tapi Indi biasa saja, karena membaca buku bukan hobinya. Dia hanya pendai membaca postingan teman disosial media. Hehe....


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kembali kerumah Indi.


"Ndi, duduk sini." pinta Edwin meminta Indi untuk duduk disampingnya.


Indi nurut dan duduk disamping Edwin.


Edwin mulai bernyanyi lagu-lagu romantis berbahasa Inggris. Indi duduk disampingnya juga ikut bernyanyi.


"*Edwin juga romantis sekali" puji Indi dalam hati.

__ADS_1


~Selamat menghujani Novel ini dengan likes dan comments ya*.


__ADS_2