
*Satu bulan kemudian*
Indi menunggu Edwin di ruang kerjanya. Edwin sudah mengatakan kalau dia akan terlambat menjemput Indi hari ini karena dia hendak mengantar Rama, teman satu rumahnya untuk membeli playstation. Indi sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Dia menunggu Edwin sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Sudah pukul tujuh malam, hujan turun sangat deras. Namun, belum juga ada tanda-tanda kemunculan Edwin. Indi mulai resah karena hari sudah semakin gelap dan kantor sudah mulai sepi. Teman-temannya sudah banyak yang pulang. Hanya tersisa dirinya dan Ani. Ani memang sengaja menemani Indi dikantor. Dia tidak tega meninggalkan sahabatnya sendirian.
Indi mencoba menghubungi Edwin beberapa kali tapi tidak tersambung. Nomornya tidak aktif. Indi mengirim pesan pada Edwin. Berharap Edwin akan segera menjemputnya.
"Sayang, kamu dimana?" tulis Indi.
Dua puluh menit berlalu, Indi semakin gelisah. Namun, dia berusaha tetap terlihat tenang di depan Ani. Indi membersihkan meja kerjanya, merapikan beberapa dokumen dan alat-alat tulis hanya untuk membunuh waktu.
"An, kamu pulang saja, sudah malam," ucap Indi.
"Nggak ah, kamu sendirian dong kalau aku pergi?" jawab Ani sambil memainkan ponselnya.
"Nggak apa-apa, kan ada satpam juga disini. Aku pasti akan aman." Indi melempar senyum pada sahabatnya itu. Meskipun di dalam hatinya sangat kacau menunggu kedatangan Edwin.
"Nanti kalau kamu diapa-apain sama mereka gimana? Pokoknya aku akan menunggu sampai yayangmu datang!" tungkas Ani.
Indi hanya bisa berpasrah jika Ani bersikeras ingin menemaninya. Sebenarnya dia senang ada yang menemani, tapi dia juga tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tunggu sebentar lagi ya sayang, masih hujan," tulis Edwin pada sebuah pesan yang dikirimnya untuk Indi.
Indi masih bersabar menunggu Edwin sambil bercanda dan ngobrol dengan Ani. Beruntung ada Ani yang menemaninya, jadi Indi tidak kesepian.
Tanpa terasa, jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan. Indi sudah mulai sedikit geram. Tidak biasanya Edwin seperti itu. Edwin selalu datang sebelum jam lima sore. Hari ini memang Edwin sudah meminta ijin untuk menjemputnya sedikit terlambat, tapi dibayangan Indi tidak akan sampai semalam ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Indi langsung menyambar ponsel itu dari atas meja dan segera membuka pesan yang sudah diduganya pasti dari Edwin.
"Kamu bisa minta kak Maria jemput nggak? Sepertinya aku nggak bisa datang."
"Huh." Indi menghembuskan nafas penuh kekecewaan.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" jawab Indi kesal.
Perlu waktu tiga puluh menit atau lebih bagi Indi untuk mendapatkan balasan pesan dari Edwin.
"Hujan deras sekali, Sayang. Sepertinya aku benar-benar nggak bisa jemput kamu. Maaf ya."
"Rugi ada pabrik jas hujan kalau pada saat hujan begini nggak digunakan!"
Segera Indi menelepon Edwin, tapi lagi-lagi ponselnya sudah tidak aktif. Indi meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. Biasanya Indi bisa menghadapi Edwin dengan tenang dan sabar. Sangat berbeda dengan keadaan hari ini, ingin sekali rasanya Indi menerkam Edwin dan mencabik-cabik tubuh kurus itu untuk memuaskan nafsu amarahnya. Campuran rasa gelisah dan lelah membuat Indi sedikit kehilangan akal sehat.
Baru semenit yang lalu mengirim pesan, sekarang sudah nggak aktif lagi? Seenaknya lari dari tanggung jawab dan minta kak Maria yang jemput. Kalau saja kak Maria dan Lia tidak pulang ke desa, aku nggak akan repot-repot minta bantuan kamu! geram Indi dalam hati.
Seketika Indi teringat, beberapa bulan yang lalu, Indi pernah menyimpan nomor ponsel Rama saat Edwin meminjam ponselnya untuk menelepon Rama waktu itu. Indi kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Rama.
__ADS_1
Beberapa kali tanpa jawaban, tapi Indi terus mencoba.
"Halo ..." sahut Rama di seberang telepon mungkin pada panggilan ke sepuluh.
"Halo, ini benar dengan Rama?"
"Iya, ini Indi ya? Ada apa?"
"Edwin ada dirumah?"
"Edwin ... ada."
"Bisa tolong panggilkan? Aku mau bicara."
Indi mendengar suara langkah kaki, diikuti dengan suara Rama membangunkan Edwin, memberitahu bahwa Indi sedang meneleponnya.
Beberapa saat kemudian, Rama kembali pada sambungan teleponnya.
"Maaf Indi, Edwin sudah tidur. Aku sudah coba membangunkannya tapi dia nggak bangun juga. Maaf ya, aku nggak bisa bantu," terang Rama.
Belum sempat Indi menjawab perkataan Rama, teleponnya sudah terputus.
Indi mencoba menghubungi Rama lagi, tapi ponselnya juga sudah tidak aktif.
Kemana semua orang, ponselnya nggak aktif? Apa karena hujan, sinyalnya jadi hilang? Indi menggosok-gosok daun telinganya dengan ujung jari telunjuknya.
Sepuluh menit menunggu, Doni datang ke kantor Indi. Dia merasa bahagia, akhirnya menemukan dewa penolong.
Doni menyerahkan jas hujan berwarna biru. Indi segera memakainya dan naik ke atas motor Doni.
Dalam tiga puluh menit, mereka sampai didepan rumah Indi.
"Kak Indi, lain kali kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan meneleponku. Kakak sudah aku anggap seperti kakakku sendiri," ucap Doni lirih.
Indi merasa terharu mendengar ucapan Doni. Dia mengangguk pada Doni dan mengucapkan terimakasih.
Doni berbalik arah menerobos derasnya hujan setelah memastikan Indi sudah masuk ke dalam rumah. Doni tidak mampir karena Lia sedang tidak ada.
***
"Selamat siang Sayangku, hari ini berangkat kerja sama siapa?" Indi membaca pesan dari Edwin disela-sela jam makan siangnya.
"Tadi aku dijemput temanku,"
"Nanti sore aku yang jemput ya,"
"Baiklah," jawab Indi.
__ADS_1
Indi sudah tidak marah lagi pada Edwin, meskipun semalaman kemarin Edwin susah dihubungi. Indi berpikir mungkin Edwin sangat lelah sampai-sampai dia ketiduran dan tidak bisa dibangunkan saat Indi menelepon Rama.
Saat pulang kerja tiba, Edwin sudah menunggu Indi di depan kantornya. Dia tepat waktu hari ini. Indi menyambutnya dengan hati gembira. Walaupun pertemuan terakhir mereka baru kemarin pagi, tapi Indi sangat merindukan kekasihnya seperti setahun tidak bertemu.
Indi naik ke atas motor dan memeluk pinggang Edwin.
Sampai di rumah Indi, mereka masuk ke ruang tamu. Edwin segera menyambar Indi dengan ciuman panas. Indi tidak mau kalah, dia membalas ciuman itu. Begitu cara mereka melepas rindu.
Matanya terpejam, tapi hatinya bisa melihat kehangatan cinta diantara mereka berdua.
Edwin meremas pay*dara Indi dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain menyangga tengkuk leher Indi. Indi memeluk Edwin semakin erat, merasakan manisnya bibir Edwin yang bertengger dibibirnya. Adrenalinenya berpacu, menghilangkan sebagian besar ingatannya pada sekitar.
Edwin merebahkan tubuh Indi pelan-pelan. Dia memindahkan bibirnya ke leher Indi. Seperti makan es krim, dia sibuk menjilat leher itu. Indi mulai mengejang dan mendesah, membuat Edwin semakin bersemangat.
"Sayang, hentikan," desah Indi seraya menyingkirkan tangan Edwin yang mulai bergereliya lebih jauh.
"Aku mencintaimu," ucap Edwin di telinga Indi, membuat Indi semakin mabuk asmara.
"Aku juga mencintaimu, tapi kita harus hentikan ini."
"Sekali ini saja ya, aku sangat merindukanmu," bujuk Edwin sambil terus ******* bibir Indi.
"Bagaimana kalau aku hamil?"
"Kamu tenang saja, aku pasti bertanggung jawab."
Indi hampir tidak bisa menahan godaan. Siapa yang tidak mau bercinta dengan orang yang sangat disayangi?
Dia memang sangat mencintai Edwin. Akan tetapi, banyak hal yang harus dia pikirkan sebelum dia benar-benar memberikan kesuciannya untuk dinodai seorang laki-laki.
Ada ketakutan di hatinya. Edwin sedang mengurus keberangkatannya ke kapal pesiar. Bagaimana jika tiba-tiba Edwin berangkat dan dia mendapati dirinya hamil? Bagaimana Edwin bisa bertanggung jawab? Saat ini, Edwin sedang menunggu hasil tes kesehatannya. Dan kemungkinan dia akan berangkat satu atau dua minggu setelah hasil tes kesehatannya keluar. Bekerja di kapal pesiar, Edwin akan berada di sana selama delapan bulan. Tidak mungkin Indi menunggu Edwin menyelesaikan kontrak kerjanya untuk menikahinya. Mungkin saja saat itu anaknya sudah lahir.
Indi mendorong tubuh Edwin yang menghimpitnya diantara bantalan sofa dan segera bangkit dari posisinya.
"Maafkan aku, bukan aku tidak mau, tapi aku rasa ini belum waktunya," ucap Indi berharap Edwin tidak kecewa dengan penolakannya.
Edwin mengangguk tapi ada rasa tidak puas di matanya. Indi bisa melihat itu. Edwin berusaha menghormati Indi. Memang bukan itu tujuannya berpacaran dengan Indi. Tapi dirinya tidak bisa menahan godaan manisnya cinta Indi.
"Aku akan memasak untuk makan malam Kita," ucap Indi berlalu ke dapur sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang sudah acak-acakan.
Edwin memandangi Indi dari belakang sambil membayangkan betapa nikmatnya jika dia bisa menyatukan tubuh mereka di atas cinta.
Padahal sedikit lagi, gumam Edwin.
***
Terimakasih sudah membaca. Maaf ya, updatenya lama. Teman-teman jangan lupa like, comments dan vote supaya author bisa semangat lagi menulisnya ☺️
__ADS_1