Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Malam Minggu


__ADS_3

“Lalu, apa rencana kita sekarang?” Arga mulai membuka suara lagi setelah beberapa menit mereka terpaku dalam diam.


“Rencana? Rencana apa maksudmu?”


“Mungkin kita mau jalan-jalan? Atau ngapain?"


Indi tersipu malu, dalam pikirannya terlintas beberapa tempat yang mungkin bisa mereka kunjungi.


“Bukankah kita sudah menunggu hari ini sangat lama?” Arga menyambung lagi.


“I…Iya. Tapi mau kemana kita? Malam ini malam minggu, bagaimana kalau kita nonton?” Ajak Indi.


Arga mengangguk. Sebenarnya dia ragu untuk mengikuti pendapat Indi. Namun dia tidak ingin membuat Indi kecewa dan menurunkan imagenya didepan Indi.


Mereka menuju sebuah bioskop yang letaknya sekitar tiga puluh menit dari rumah Indi. Mereka pergi mengendarai motor besar milik Arga. Sesekali, Arga ngerem mendadak, supaya Indi bisa lebih dekat dengan dia. Karena sepertinya Indi sangat canggung dan duduk sangat dibelakang.


“Pelan-pelan…filmnya nggak akan lari, waktunya masih lama” kata Indi tanpa mengetahui maksud


Arga yang sesungguhnya kenapa dia sering ngerem mendadak.


Arga hanya tersenyum. Dia ambil tangan kiri Indi dengan tangan kirinya, kemudian dilingkarkan dipinggangnya sendiri. Tangan itu tak dilepaskannya beberapa saat, walaupun itu sebenarnya berbahaya dijalan besar. Arga melajukan motornya pelan.


Indi kaget, namun dia juga bahagia. Laki-laki yang dikaguminya kini benar-benar ada didepannya, sedang memegang tangannya.


“Duh, mimpi apa ini?” pikir Indi.


Dalam perjalanan, mereka menikmati keindahan kota senja hari. Mereka menelusuri jalanan kota dipinggir pantai. Sungguh indah. Tampak matahari akan segera terbenam dikejauhan. Warna orange pada langit menambah kesejukan perasaan kepada siapa saja, apalagi kepada mereka yang sedang dimabuk asmara.


Sesekali Arga mengajak Indi mengobrol.


"Dekatkan bibirmu dengan telingaku kalau bicara, aku nggak dengar. Suara kendaraan sangat ramai" kata Arga nakal.

__ADS_1


***


Satu jam mereka baru sampai ditempat tujuan karena kecepatan motor Arga dibawah rata-rata. Mereka masuk kedalam bioskop. Bioskopnya terletak didalam sebuah mall yang besar dan megah. Mereka kemudian melihat-lihat film yang ada. Setelah membeli tiket, mereka masuk kedalam ruangan. Tak lupa Indi membeli beberapa camilan untuk teman mereka menonton.


Arga tidak biasa pergi ke mall. Baginya ini adalah sebuah tempat mewah yang hanya didatangi oleh remaja-remaja dari kaum konglomerat. Yang tinggal jentikkan jari, uang muncul didepan mata. Selama ini dia tinggal didesa. Walaupun desa tempat tinggalnya adalah desa yang berkembang, tapi tidak ada tempat hiburan seperti ini. Dia adalah seorang guru dari sekolah didesa, gajinya juga tidak seberapa. “Kalau sering-sering main ketempat begini, bisa bangkrut aku” pikirnya. Tapi lagi-lagi, dia tidak mau mengecewakan gadis pujaannya. Apalagi berkencan dengan Indi sudah menjadi keinginannya sejak setahun yang lalu.


Beda dengan Indi, dia seorang assistant manager diperusahaan Internasional. Gajinya berkali-kali lipat gaji Arga. Tapi Indi bukan perempuan matrealistis yang menginginkan laki-laki hanya karena harta. Dia mengajak Arga ke bioskop untuk mendapatkan kesan romantis, seperti di film-film yang sering ditontonnya. Arga menyetujui usulnya tanpa sepatah bantahan. Dia tidak tau kalau Arga sebenarnya tidak suka ke bioskop. Tapi demi menyenangkan hati wanita dihadapannya, Arga mengikuti permintaan Indi.


Dua jam berlalu, film itu memang benar-benar romantis. Arga tidak melepas tangan Indi sedetikpun tadi didalam bioskop. Indi tidak keberatan sama sekali, dia hanya takut kalau Arga bisa merasakan tangannya yang basah karena gugup tapi Indi sangat bahagia.


Mereka keluar dari gedung bioskop dengan bergandengan tangan. Banyak mata melihat kearah mereka. Arga laki-laki tampan, bersanding dengan perempuan cantik. Mungkin bukan hanya mereka pasangan tampan dan cantik ditempat itu, tapi mereka berdua sangat natural.


“Mau kemana kita sekarang?” tanya Arga.


“Sepertinya sudah waktunya makan malam. Bagaimana kalau kita cari makan?”


Arga mengangguk setuju.


“Tapi….” Arga menatap Indi sangat dalam. Kemudian dia menunduk malu.


“Kita jangan makan dimall ini ya…” Arga masih menunduk.


“Makanan disini pasti mahal.” sambungnya. Dia sangat jujur. Tapi dia takut, dengan kejujurannya seperti ini, Indi akan berpaling darinya.


Indi tersenyum kecil. Dia sudah terbiasa hidup sederhana dari kecil. Makan diwarung kaki lima bukan masalah baginya.


“Ayoo….aku tunjukkan jalannya. Kamu ikuti petunjukku. Aku tahu dimana bisa mendapatkan makanan yang enak, yang tidak akan membuatmu kanker” Indi menarik tangan Arga.


“Kanker? memangnya makanan-makanan dikota bikin kanker?” Sepertinya didesa dia bebas makan apa saja yang biasa disiapkan ibunya tanpa berpikir makanan tersebut akan membuatnya sakit kanker.


“Iya… makanan disini bisa bikin kanker alias kantong kering. Haha….” Indi tertawa ngeledek.

__ADS_1


"Kamu polos juga ya.", ucap Indi sambil tertawa.  Sedangkan Arga tersenyum malu.


"Bisa aja kamu." Arga memencet hidung Indi karena geregetan dengan candaan Indi.


"Nakal kamu." Ucap Indi mengejar Arga yang sudah lebih dulu berlari. Sekarang giliran Arga yang tertawa.


Kemudian Arga berhenti menunggu Indi dan menggandeng tangan Indi sampai ke parkir motor. Mereka kembali menaiki motor besar Arga menuju tempat makan yang dimaksud Indi.


Setelah sampai ditempat itu, mereka segera mencari tempat yang kosong. Tempat itu sangat ramai pengunjung. Apalagi ini malam minggu. Banyak kawula muda yang keluar bersama pasangan mereka masing-masing.


Sejak turun dari motor tadi, Arga memegang tangan Indi lagi sampai ditempat duduk mereka. Jantung Indi berdebar kencang. Dia bahagia bisa berdampingan dengan laki-laki ganteng itu. Argapun memiliki perasaan yang sama.


Indi sangat lembut. Itu sepengetahuan Arga. Arga baru mengenal wanita ini beberapa bulan dan baru hari ini bertemu. Arga bingung dengan perasaanya. Dia teringat Hera. “Kalau ini Hera, dia tidak akan mau aku ajak makan ditempat makan kaki lima seperti ini.” Pikirnya. “Haruskah aku memutuskan hubunganku dengan Hera sekarang dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan Indi?, Hera pasti akan mencabik-cabikku kalau dia tau aku sekarang pergi dengan wanita lain. Tapi aku tak bisa mengendalikan perasaanku. Pandangan pertamaku, membuatku takluk pada Indi. Dia memenangkan hatiku. Apa yang harus aku lakukan?” Arga termenung


memikirkan perasaannya.


“Hey….kok bengong. Ini makanannya sudah datang” Indi menyenggol Arga, membuyarkan lamunan Arga.


“Eh…iya. Selamat makan…” Merekapun menyantap makanan itu dengan sedikit perbincangan


kecil.


Selesai makan, Arga membayar makanan mereka. Namun Indi menolak. Indi ingin membayar makanannya sendiri.


“Biar aku saja yang bayar makananku sendiri” Indi ikut bangkit berdiri dari tempat duduknya.


“Tidak apa-apa, anggap saja aku traktir kamu kali ini”


“Tapi ini baru pertemuan pertama kita, aku nggak enak”


“Sudahlah, tidak apa-apa… biarkan aku yang bayar” Arga mendorong jari-jari Indi dengan lembut supaya memasukkan dompetnya kembali.

__ADS_1


Setelah beberapa menit perdebatan, Indi setuju Arga yang membayar makanannya kali ini. Kemudian mereka pulang menuju rumah kontrakan Indi.


^*****Tunggu episode selanjutnya yaa readers tercinta***^**


__ADS_2