
Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Walaupun hanya tiga hari menunggu, rasanya sudah tiga tahun. Indi benar-benar ingin tampil mempesona didepan Arga. Namun tetap dalam kesederhanaan.
Sejak kecil, Indi dan saudara-saudaranya sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Ayah Indi adalah seseorang yang terpandang didesanya. Beliau sangat menekankan kesederhanaan, kesopanan dan kerendahan hati pada anak-anaknya.
Itulah yang menyebabkan, meskipun Indi adalah seorang Assistant Manager diperusahaan International, Indi sama sekali tidak sombong. Itulah yang membuat dia sangat dekat dan disukai oleh staff-staff dibawahnya, begitu pula oleh jajaran manager dan direkturnya.
Untuk membuat dirinya tampil mempesona kali ini, Indi mempercayakan penampilannya pada penata busana andalannya, Lia. Ya.. Lia adalah penata busana dan perias wajah andalan Indi. Indi memang lebih tua daripada Lia. Tapi dalam urusan berpakaian dan berdandan, Lia paling tahu bagaimana cara membuat perempuan terlihat cantik dan menarik.
Hari ini Lia sudah menyiapkan blouse lengan panjang warna biru langit, dipadukan dengan celana jeans 3/8 dan sepatu kets warna putih. Indi memakai make up minimalis, rambutnya digerai, penampilannya santai namun Indi benar-benar mempesona.
Selesai berdandan, Indi duduk diruang tamu menunggu kedatangan Arga. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangan dan kakinya. Dia sangat gugup. Indi sedang memikirkan, apa yang nanti akan dia katakan, apa yang akan mereka bicarakan saat mereka sudah bertemu.
Tiba-tiba ponsel Indi berbunyi, dan itu panggilan dari Arga.
“Hallo....” Indi menjawab.
“Hallo sayang, aku sepertinya sudah dekat dengan alamat yang kamu kasi. Tapi aku tidak bisa menemukan rumahmu.”
“Oke... kamu dimana sekarang?”
“Aku sudah masuk Jalan Cinta Gang Asmara. Rumahmu yang mana?”
“Kamu lurus saja, rumahku paling ujung. Aku akan tunggu kamu didepan.” Indi segera menutup teleponnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sepertinya tangan dan kakinya sudah basah kuyup oleh keringat dingin.
Indi segera memutar CD yang pernah Arga berikan pada Lia sewaktu Lia masih sekolah. Bukan Arga yang kasi sebenarnya. Tapi Lia yang minta ketika dalam sebuah materi pelajaran Bahasa Inggris yang diajar Arga, Arga mengajarkan siswanya untuk mendengarkan kata-kata dalam Bahasa Inggris melalui lagu berbahasa Inggris. CD itu berisikan lagu-lagu barat romantis. Lagu-lagu itu pasti saja lagu- lagu kesukaan Arga. Lia bermaksud untuk meminjam beberapa hari, tapi Arga menyuruhnya untuk mengambilnya, menjadikan itu miliknya.
Dengan deretan lagu itu, Indi hanya ingin membuat suasananya lebih romantis dengan memutar lagu-lagu tersebut.
Kemudian setelah semuanya terpasang sempurna, Indi menarik tangan Lia.
“Ayo temani aku menemui Arga didepan” Indi meminta Lia untuk mengantarnya menunggu Arga didepan rumah. Sepertinya dia tak sanggup menunggu sendiri. Walaupun Indi sudah tahu wajah Arga melalui sosial media, tapi akan terasa aneh kalau dia menemui Arga sendiri.
Indi dan Lia berdiri didepan pintu gerbang. Lia asik bermain ponselnya, sedangkan Indi sibuk melihat-lihat keujung jalan.
__ADS_1
"Tuh dia datang." Lia menunjuk dengan dagunya. Tampak sebuah motor besar melaju menuju arah mendekati mereka. Indi tersenyum malu. Dia benar-benar gugup.
Arga berhenti tepat didepan Indi. Dia membuka kaca helmnya kemudian tersenyum pada Indi dan Lia.
"Ayo masuk." ajak Indi.
Indi dan Lia berjalan masuk kedalam rumah sedangkan Arga menyalakan kembali kendaraannya dan memarkirkan motornya ditempat yang ditunjukkan oleh Indi. Kemudian mereka masuk keruang tamu bersama-sama.
Melihat canggungnya mereka bedua, Lia memulai pembicaraan.
"Pak Arga apa kabar? Ya ampun, hampir setahun kita tidak bertemu ternyata bapak masih cungkring aja ya." ucapnya mengejek.
Indi mencubit paha Lia yang duduk disampingnya.
"Yang sopan kamu." katanya sesikit berbisik supaya Arga tidak bisa mendengarnya.
Arga melihat tingkah kakak beradik itu kemudian tersenyum. Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Lia. Biasanya Arga yang memulai percekcokannya dengan Lia.
"Baguslah kalau bapak tidak kurang gizi." Lia tertawa semakin keras. Arga pun ikut tertawa sinis.
"Kalian ini." ucap Indi sembari menahan tawa.
Arga mulai ngobrol dengan Indi dan juga Lia. Mereka membicarakan hal-hal masa lalu, menertawakan pengalaman mereka selama menjadi guru dan murid, dan lain sebagainya. Keberadaan Lia disana benar-benar membuat suasana tidak canggung. Indi memperhatikan mereka sambil sesekali menimpali obrolan Arga dan Lia. Indi juga menceritakan pengalamannya selama bersekolah disana.
Setelah beberapa puluh menit duduk bersama dan basa-basi, Arga sadar, lagu-lagu yang diputar sepertinya susunannya sama dengan CD yang pernah dia berikan pada Lia. Arga tersenyum kecil.
“Ini sepertinya CD yang aku kasi pada Lia ya? Kamu tahu tidak kalau ini pemberianku?” Arga menoleh Indi yang duduk didepannya.
“He’em... aku tahu”
“Kamu suka lagu-lagunya?”
“Iya..suka banget.” Indi menunduk menahan senyum.
__ADS_1
"Ini juga lagu-lagu favouritku." ucap Arga.
"Terimakasih sudah memberikannya pada Lia."
Mereka hening sambil berpandang-pandangan. Senyum diwajah mereka tidak bisa disembunyikan.
**I love you....please say you love me to......** terdengar sepenggal lirik lagu Celine Dion
yang berjudul I Love You.
Arga tersipu malu. Dia menunduk. Begitu juga dengan Indi.
“Sepertinya lirik lagu tadi mewakili perasaanku” kata Arga.
“Hah? Apa? Kamu tadi bilang apa?” Indi bertanya lembut, pura-pura tidak dengar.
“Nggak ada apa-apa” Arga kembali menunduk. Dia sangat malu. Arga sangat terpesona pada Indi yang cantik sederhana. Dia juga baru tahu kalau ternyata Indi wanita yang romantis. Demikian juga dengan Indi, dia tidak henti-henti memuji ketampanan Arga didalam hatinya. Walaupun Arga terlihat seperti pria yang sangat dingin dan jutek, tapi sepertinya dia tidak segarang penampilannya.
Arga dan Indi melanjutkan perbincangan mereka. Lia melihat dua sejoli ini semakin akrab. Dia tidak ingin mengganggu mereka, diapun pergi kerumah temannya untuk membiarkan mereka berduaan. Padahal Indi sudah melarang Lia pergi. Namun Arga tampak diam-diam senang dengan perginya Lia.
“Lia, mau kemana kamu?” Tanya Indi melihat adiknya mengambil tas dan jaket.
“Itu kak, tadi aku ditelepon temenku disuruh nemenin dia belanja. Aku pergi dulu yaaa…”
“Lia, jangan pergi. Bilang sama temenmu kamu lagi sibuk.” Indi berdiri meraih tangan Lia yang siap memberi ruang pada pasangan itu untuk bermesraan.
“Kakak kan nggak sendiri disini, ada………” Lia menoleh Arga kemudian mengedipkan matanya sambil membuat symbol love dengan tangannya. Lia meninggalkan mereka berdua.
“Hais…anak nakal” Indi menggerutu sambil kembali duduk. Arga yang dengan sengaja mencuri-curi pandang hanya bisa tersenyum malu tapi dihatinya sedang merayakan kebebasan. Bisa bebas bicara apapun pada Indi.
"Kamu cantik sekali" ucap Arga melebarkan senyumnya.
~Enjoy ya para readers tercintaaa. Terimakasih sudah like, vote, comments dan tandai sebagai favourite. Terimakasih...terimakasih... 😉😘~
__ADS_1