
Mungkin juga selama berpacaran dengan Wiko, Indi tidak sepenuhnya mencintai Wiko. Karena setiap kali dia berjauhan dengan Wiko, Indi merasakan kebebasan yang luar biasa. Hatinya tenang, tidak ada beban dan relax.
Terang saja begitu. Karena berpacaran dengan Wiko, Indi tidak boleh menghubungi teman-temannya. Jangankan pergi dengan mereka, menelepon atau saling berkirim pesan saja tidak boleh walaupun itu teman perempuan. Termasuk keempat sahabatnya. Bahkan pergi dengan saudara-saudaranya pun, gerak Indi sangat terbatas. Wiko sangat tidak suka. Apalagi pergi untuk makan malam atau jalan-jalan dengan teman, mungkin Indi akan digantungnya dengan sadis.
Kemarahan Wiko kadang-kadang tidak beralasan. Indi sering harus menahan siksaan setelah pulang terlambat karena rapat dikantornya. Bahkan ketika pemilik perusahaan akan datang dan Indi harus lembur menyiapkan beberapa data untuk dia presentasikan kepada direktur utama itu juga tidak akan luput dari kemarahan Wiko.
Terkadang Indi geram dengan sikap Wiko yang terlalu mengekangnya. Indi beberapa kali mengajaknya untuk ikut serta pergi dengan sahabatnya. Tapi Wiko selalu menolak dengan bentakan. Dia juga selalu menjelaskan apa yang dia lakukan sehingga dia harus lembur, tidak juga mendapatkan pengampunan. Tiada hari tanpa pertengkaran dalam hubungan mereka. Sekuat apapun Indi mengalah, dia akan tetap kalah. Prinsip mengalah untuk menang tidak berlaku disini.
Namun saat dia bersama Wiko, dia merasa mungkin Wiko adalah laki-laki terakhir dalam hidupnya. Entah mengapa perasaannya berubah-ubah, dia juga tak mengerti.
Jika Indi sedang marah, dia akan menyimpannya dalam hati. Dia tidak akan dengan mudah memutuskan hubungan cintanya dengan Wiko walaupun dia tidak yakin dengan perasaannya. Jika sampai terdengar kata permintaan putus dari mulut Indi, Indi pasti akan diamuknya. Wiko akan selalu menuduh Indi yang tidak-tidak. Indi adalah tipe perempuan setia, Indi tidak pernah berkhianat.
Selain setia, Indi juga adalah seorang anak yang mandiri. Selepas SMA, dia merantau kekota melanjutkan kuliahnya hingga kemudian dia mencari pekerjaan dan menetap di kota. Orang tuanya ada didesa bersama 2 adiknya. Kakak Indi, Maria juga bekerja dikota, tidak jauh dari kantor tempat Indi bekerja. Namun dia mendapatkan asrama dari perusahaannya. Jadi mereka tidak tinggal bersama.
Dikota, Indi hanya tinggal bersama Lia, adik kesayangannya itu. Adik yang bukan hanya sebagai saudara, namun juga sahabat. Indi dan Lia terpaut usia 4 tahun, namun mereka saling mengerti isi hati satu sama lain, walaupun hanya dengan tatapan mata, tanpa perlu mengucapkan sepatah kata. Bagaikan telepati, getaran otak mereka dapat bercengkrama. Mereka tinggal disebuah rumah kontrakan. Tidak terlalu besar, namun sangat nyaman untuk mereka berdua.
Meskipun Indi mandiri, cerdas, dan cekatan, cinta mampu membuatnya menjadi perempuan paling bodoh didunia. Dia sangat lemah jika sudah berurusan dengan asmara. Seketika dia menjadi buta dan tuli.
Lia yang sore itu baru pulang dari rumah temannya, sontak kaget melihat keadaan kakaknya menangis dengan kondisi wajah penuh luka. Lia segera menghampiri Indi dengan tatapan cemas.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa Kak Indi penuh luka?” tanya Lia panik.
Indi tak bisa menjawab, dia hanya menangis sesegukan.
“Apa laki-laki bre***ek itu yang lakukan ini pada Kakak?” Lia bertanya dengan nada kesal. Lia sudah tahu kelakuan kekasih Indi. Ini bukan pertama kalinya Lia melihat Indi dalam keadaan terluka. Namun ini lebih parah dari biasanya.
“Apa dia pelakunya? Katakan padaku.” Lia memegang pundak Indi. Indi hanya mengangguk menahan sakit.
Lia memeluk Indi mencoba menenangkan kakaknya. Dia benar-benar tidak terima dengan perlakuan ini. Beberapa kali Lia meremas kedua tangannya. Dia sangat marah.
Setelah Indi tenang, Lia meminta Indi untuk menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Indipun menceritakan semuanya tanpa ada yang ketinggalan sambil menangis sesegukan.
“Sudah kuduga. Laki-laki tidak bertanggung jawab itu akan selalu menyiksamu. Lebih baik Kakak cari saja laki-laki lain. Kakak cantik dan pintar. Pasti banyak yang menunggu Kakak. Laki-laki seperti itu sangat tidak pantas untuk Kakak.” Lia menghibur kakaknya.
Lia menelepon kak Maria, dia menceritakan apa yang terjadi dan meminta kak Maria untuk datang.
Bersama kak Maria, Lia membawa Indi kedokter.
Dokter mengatakan ada pendarahan dimata Indi yang membuat sebagian matanya menjadi merah. Perlu dua atau tiga minggu sampai Indi sembuh total. Selama itu pula, Indi dilarang untuk bekerja. Pekerjaannya yang menuntutnya untuk fokus didepan komputer akan memperparah kondisi matanya.
__ADS_1
Dokter juga memeriksa dan mengobati bagian tubuhnya yang lain.
Setelah luka Indi terobati, Lia segera menelepon orangtua mereka yang ada didesa untuk memberitahukan keadaan Indi.
Orangtua Indi tentu saja kaget mendengar apa yang baru saja diceritakan Lia. Mereka tidak terima anak gadisnya diperlakukan seperti itu, apalagi oleh laki-laki yang belum ada hubungan apa-apa dengan keluarga mereka. Mereka saja yang melahirkan dan merawat Indi dari bayi belum pernah berbuat begitu. Dengan segera mereka berangkat kekota menemui gadis kesayangannya.
Ibu Indi tidak henti-hentinya menangis. Ibu mana yang tidak sakit hati mengetahui kondisi anaknya seperti itu.
Ibu Indi memang tidak pernah bertemu Wiko. Tapi firasat Ibu Indi sudah tidak baik dari awal beliau tahu kalau Indi berpacaran dengan Wiko. Berkali-kali ibunya meminta Indi untuk putus, sama seperti permintaan sahabatnya. Tapi Indi tidak pernah melakukannya.
Melihat kondisi Indi penuh luka, ibunya semakin bersedih. Sepertinya Ibu Indi ingin melakukan hal yang sama pada Wiko. Beliau ingin membuat Wiko babak belur. Sayangnya hukum berlaku dinegeri ini. Biarkan hukum saja yang bekerja untuk memberinya keadilan.
***
Keesokan hari, didampingi oleh paman Indi dan beberapa keluarga, mereka melaporkan Wiko kekantor polisi dengan tuduhan penganiayaan. Indi ikut mendampingi keluarganya. Polisi meminta Indi menceritakan kronoligis kejadiannya. Indipun menceritakan kepada polisi apa yang terjadi dengan sejujur-jujurnya. Dia juga menceritakan apa yang membuat Wiko sampai semarah itu.
Polisi segera melakukan pemanggilan terhadap Wiko. Indi diminta mengantar polisi kekediaman Wiko untuk kemudian dibawa kekantor polisi dan dimintai keterangan.
Wiko mengakui semua perbuatannya. Menyesal? Mungkin. Tapi kini dia harus mendekam dipenjara untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Tidak cukup sampai disitu, kemudian, atas permintaan orang tua Indi, Wiko dan Indi menandatangani sebuah perjanjian diatas materai 6000, yang disaksikan oleh polisi, orang tua Indi dan orang tua Wiko. Sebuah perjanjian bahwa Indi dan Wiko tidak akan pernah bertemu lagi, tidak akan pernah menjalin hubungan dalam bentuk apapun. Bila salah satu dari mereka melanggar perjanjian tersebut, baik Indi maupun Wiko harus siap mendekam dipenjara.
*Terimakasih sudah membaca. Terimakasih sudah like, vote dan comments. Terimakasih juga sudah menambahkan sebagai favourite. Semoga terhibur*