Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Masih mau nomor ponselku?


__ADS_3

Seketika Indi tersadar dari lamunannya. Kejadian kelam dan pahit setahun lalu, yang membuatnya putus dengan mantan kekasihnya yang temperamental itu masih terekam dengan sangat jelas dan kali ini bagaikan film yang terputar dibenaknya. Lelaki posesif yang membuatnya tidak berani memberikan nomor ponselnya pada Arga.


Walaupun awalnya Indi sangat bersedih dengan perpisahan mereka dan sangat menyayangkan penyebab kandasnya hubungan Indi dan Wiko yang selama ini dengan keras selalu dia coba pertahankan, namun pada akhirnya Indi senang bisa putus dengan Wiko. Dia mendapatkan masa mudanya kembali. Masa depannya kembali bersinar. Kebebasannya sudah tidak dirampas lagi oleh egoisme jiwa yang serakah. Dia bisa bebas menghubungi teman-temannya. Dia bisa pergi dengan saudara-saudaranya, sahabat-sahabat kantornya, dan teman-teman dekat lainnya, siapa saja. Dia bebas bicara dengan semua orang yang dikenalnya.


“Akkhhh ... ngapain aku mengingat itu lagi. Sudah nggak ada gunanya,” gumam Indi. Indi menarik nafas panjang dan memperbaiki posisi duduknya, mencoba melupakan apa yang baru saja melintas dipikirannya.


Kejadian setahun yang lalu, yang mungkin saja pahit dan meninggalkan trauma mendalam bagi Indi. Namun pahit tidak selalu buruk. Obat yang pahit mampu menyembuhkan penyakit. Begitu juga kejadian pahit yang pernah dialami, membuat Indi semakin tegar menjalani kehidupannya. Kejadian yang bisa membuatnya lepas dari rasa tertekan yang dia alami selama 3 tahun bersama Wiko.


Pasti ada hal baik yang terjadi dibalik sebuah tragedi. Indi sangat percaya itu.


Selama Indi melajang, tidak sedikit laki-laki yang mendekatinya. Indi perempuan yang cantik. Tingginya sekitar 160 cm, dengan berat 56 kg. Rambutnya lurus alami, panjang sampai ke punggung. Dengan sedikit warna dirambutnya, menambah pesona kecantikannya.


Apalagi ketika dia memakai seragam kerja, dia akan sangat mempesona. Balutan kemeja dengan rok selutut dan sepatu hak tinggi membuat banyak lelaki yang tak mampu berkedip melihatnya. Hanya saja, karena dia memegang sebuah jabatan, tidak ada teman kantornya yang berani mendekati dia.


Sekarang sudah satu tahun Indi melajang. Dia sudah menata kembali hatinya dari kehancuran yang dibuat Wiko. Indi sudah siap membuka hati untuk laki-laki lain. Tentunya dia akan lebih berhati-hati dalam memilih laki-laki yang akan menemani hari-harinya. Kembali dia memikirkan Arga. Foto laki-laki itu masih terpampang jelas dilayar laptopnya.


“Duhhh ... kamu ganteng banget sih.” Indi bergumam sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila saja.


Indi mengetik pesan disosial medianya untuk Arga, namun kembali dihapusnya. Dia ketik lagi, dihapus lagi. Begitu berkali-kali.


“Ahhhh ... kenapa aku jadi galau begini?” dia bergumam lagi sambil mengacak-acak rambutnya yang lembut.


Akhirnya dia memberanikan diri. “Kalau dibalas, syukur … tapi kalau nggak dibalas? mau ditaruh dimana mukaku? Bagaimana kalau dia sekarang sudah punya pacar dan mengacuhkanku?” Pikiran dan perasaannya kembali berperang memberikan pendapat yang berbeda.


“Ya sudah, kirim saja. Aku pernah mengecewakan dia. Kalau kali ini aku juga dikecewakan, anggap aja ini hukum karmaku.” Indi memantapkan hati, mencoba menyemangati dirinya.

__ADS_1


“Hallo Arga, apa kabar? Masih mau nomor ponselku?” Indi segera memencet tombol kirim agar dia tak lagi berubah pikiran. 


Secepat kilat dia menutup wajahnya dengan bantal karena dia terlalu malu dengan apa yang baru saja dia lakukan.


***


Arga sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mendengar ponselnya bunyi, Arga membiarkannya begitu saja. Hanya nada pesan, Arga akan membacanya nanti saja. Dia sedang asik bercengkrama sambil bermain catur. Dia tidak ingin konsentrasinya terganggu.


Sementara Indi sudah kalang kabut karena pesan yang dikirim kepada Arga tak kunjung dibaca.


"Bagaimana ini? apa dia sudah tidak mau membaca pesanku?" Indi bingung sendiri.


"Bagaimana cara menghapusnya supaya dia tidak tahu aku pernah mengiriminya pesan?" Indi menggigit-gigit bibirnya. Pertanda dia sudah sangat gugup.


Tiga puluh menit berlalu, Arga sudah menyelesaikan satu seri permainan caturnya. Dia menang. Mereka tertawa sambil menyusun kembali anak-anak caturnya sesuai dengan posisi masing-masing. Disela-sela jeda permainan, Arga mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang tadi diterimanya.


Deg!


Arga kaget melihat nama Indira Kumalasari muncul dilayar ponselnya. Perasaannya mendadak tak menentu.


“Bukannya dulu wanita ini melarangku untuk menghubunginya? Kenapa sekarang dia menghubungiku? Apa dia sudah putus dengan pacarnya? Atau dia ingin selingkuh?” Arga mengernyitkan dahinya. Dalam hati dia sangat senang menerima pesan dari Indi, dia merasa mendapatkan kesempatan kedua untuk mendekati wanita cantik yang dia dambakan. Tanpa dia sadari, senyum manis menghiasi bibirnya.


Tak berselang lima menit, pesan Indipun mendapatkan balasan.


“Hallo Indi, aku baik-baik saja. Memangnya pacarmu nggak marah kalau kamu kasi nomor ponselmu ke aku? Bukannya kamu yang melarangku menghubungimu?" balas Arga.

__ADS_1


Bagai hujan dimusim kemarau, Kegalauan Indi memudar. Pesannya mendapat balasan. Paling tidak, Arga tidak menanggapi dengan ketus. "Ternyata dia nggak melupakan jawabanku dulu.” Indi tersenyum kaku.


“Hmm … aku sudah putus dengan pacarku itu. Sekarang aku sudah nggak punya pacar lagi.” Indi membalas dengan cepat.


“Yang benar? Aku takut nanti tiba-tiba aku dibunuh pacarmu.” Arga mencoba mencari celah kalau-kalau Indi berbohong.


“Kalau kamu nggak percaya, kamu cek saja profilku. Sudah setahun aku putus.” Jantung Indi berdebar dengan sangat kencang. Dia takut Arga malah akan berpikir kalau Indi adalah perempuan tidak baik karena menghubungi laki-laki lebih dulu.


Setelah melewati beberapa percakapan, akhirnya merekapun bertukar nomor ponsel. Arga dan juga Indi sangat bahagia. Indi tidak tahu apakah ini cinta atau hanya perasaan kagum saja.


Secepat kilat Arga menyimpan nomor Indi. Indi masih larut dalam kebahagiaannya, masih menatap wajah tampan Arga didepan laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor yang tidak dikenalnya.


“Hallo … ini siapa?” Indi menjawab. Suaranya sangat lembut membuat Arga hampir terhanyut dalam perasaannya.


“Hallo Indi, ini aku Arga. Aku cuma memastikan kalau ini benar-benar kamu dan aku tidak


sedang dalam jebakan.” Arga terdengar sarkas.


“Hmm…ini aku, benar-benar aku”


“Oke … kita lanjutkan lagi pembicaraan kita nanti malam. Aku akan menelponmu. Sekarang aku sedang bersama teman-temanku. Aku nggak enak kalau mereka dengar. Jangan lupa simpan nomor ponselku.” Arga segera menutup panggilan ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


Indi tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengekspesikan kebahagiaannya. Dia hanya memeluk guling dan menggigitnya dengan gemas sampai dia tertidur pulas.


^Happy reading, jangan lupa like, vote dan tandai sebagai favourite ya.. supaya dapat notif kalau author ada update^

__ADS_1


__ADS_2