Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Persamaan Nasib


__ADS_3

"Adikku yang mana?" Edwin penasaran.


"Memangnya kamu punya berapa adik?"


"Ada dua. Keduanya laki-laki."


"Oh... Aku dekat dengan Arga. Tapi tolong kamu jangan pernah tanya dia karena dia melarangku untuk memberitahu kamu tentang hubunganku dengan dia."


"Memangnya kenapa?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi dari awal dia berpesan supaya aku tidak pernah memberitahukan apa-apa tentang aku dan dia padamu. Apalagi belakangan ini dia suka marah-marah padaku. Aku takut kalau dia tahu aku menceritakan ini padamu, dia bisa marah besar. Jadi tolong ya, kamu pura-pura saja tidak tahu."


"Iya, kamu tenang saja. Aku tidak akan berkata apa-apa padanya."


"Ya sudah. Kalau kamu sedang dekat dengan Arga, kamu lanjutkan saja." tulis Edwin lagi.


Edwin sebenarnya kecewa. Tapi tidak mungkin dia merebut seorang wanita dari adik kandungnya.


"Tapi... Masalahnya Arga sudah punya pacar." lanjut Indi.

__ADS_1


"Setahuku, Arga sudah putus dengan pacarnya beberapa waktu lalu. Namanya Prisya." kata Edwin.


"Bukan yang itu, pacarnya namanya Hera. Dia teman mengajarnya disekolah. Arga sudah mengaku kalau dia pacaran dengan Hera, tapi dia bilang dia mencintaiku. Aku jadi tidak tahu harus berbuat apa." Indi mengirim pesan itu pada Edwin dengan perasaan sedih. Dia terlalu berharap Arga akan menjadi miliknya, seutuhnya.


"Kalau perempuan yang kamu sebutkan itu, aku tidak tahu. Karena setahuku pacarnya namanya Prisya dan mereka sudah putus. Tapi begitulah, kami memang tidak pernah mencampuri urusan masing-masing. Kalau kamu memang cinta sama dia, kamu lanjutkan saja." kata Edwin meyakinkan.


"Ngomong-ngomong, kamu dikota tinggal sama siapa?"


Edwin sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas tentang Arga. Bagaimapun juga Arga adalah adik kandungnya. Edwin bersaudara bertiga. Edwin adalah yang tertua, kemudian Arga, dan Ricky Wahyudinata.


Mereka tidak pernah mencampuri urusan satu sama lain. Itu yang membuat mereka selalu rukun, walaupun mereka terlihat dingin dan cuek.


Namun Edwin sangat menyayangi saudara-saudaranya. Begitu pula dengan Arga dan Ricky. Mereka saling menyayangi. Jika salah satu tahu saudaranya sedang kesusahan, dengan segenap hati mereka akan berusaha membantu. Mereka tidak akan mengeluarkan banyak kata untuk berjanji, tapi mereka akan lakukan.


Edwin bekerja keluar negeri untuk membantu perekonomian keluarga. Dia adalah tulang punggung utama. Dia sudah berhasil membuat adik-adiknya menjadi sarjana dengan keringatnya. Dia juga baru saja membangun rumah yang lebih layak untuk ditempati orang tua dan adik-adiknya. Rumah berlantai dua dengan empat kamar didalamnya. Dia sudah lelah mendengar orang tua, adik-adiknya dan termasuk dirinya dihina para tetangga karena keadaan ekonomi mereka.


"Punya tiga anak, paling-paling mereka hanya bisa lulus SMP saja. Jangankan kuliah, SMA saja pasti tidak mampu." Seperti itu bisik-bisik tetangga. Atau "Anaknya tiga tapi nggak punya rumah, nanti anaknya besar mereka akan tidur dikandang ****". Kadang-kadang "Pekerjaan yang paling pas untuk anak-anaknya nanti tidak lebih dari seorang tukang bangunan. Mana mungkin lulusan SMP bisa menjadi pegawai." Dan banyak lagi kata-kata menyakitkan lainnya.Edwin sebenarnya tidak mempedulikan kata-kata tetangganya. Tapi ibunya sangat sakit hati mendengar perkataan mereka. Tidak jarang ibunya datang dari pasar dan menangis. Edwin ingin menghapus semua luka dihati ibunya. Dia sangat menyayangi orang tuanya. Edwin bangkit dari semua keterpurukan dan harus memperbaiki kehidupan keluarganya. Setelah lulus dari diplomanya, Edwin mengadu nasib. Keinginan untuk membahagiakan orang tuanya membuatnya bertahan bertahun-tahun bekerja keras dinegeri orang.


Baik Edwin maupun Indi sama-sama menceritakan pengalaman pahit mereka tanpa ada rasa sungkan. Tidak ada satupun cerita yang mereka tutup-tutupi ataupun mereka rekayasa. Bagaimana miskinnya keluarga Edwin. Bahkan rumahnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Sejak kecil dia sudah harus bekerja keras untuk membantu ibunya.

__ADS_1


Edwin tidak malu sama sekali menceritakan semua itu pada Indi. Indi juga menceritakan masa kecilnya dimana dia dididik secara militer oleh ayahnya, walaupun ayahnya bukanlah seorang tentara. Sejak kecil dia harus membantu orang tuanya. Mengerjakan pekerjaan rumah sudah biasa untuknya. Menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring, membersihkan rumah, sudah bukan dianggap pekerjaan untuk Indi. Itu hanyalah rutinitas. Setiap hari Indi harus berjalan kaki menapaki bukit untuk mencari air bersih, kayu bakar, atau hanya mencari sayur-sayuran dikebun yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Bukan karena mereka terlalu miskin. Tapi ayah Indi tidak ingin anak-anaknya merasa semuanya mudah. Didikan itulah yang membuat Indi sangat kuat, tegar dan juga disiplin.


Edwin salut pada Indi. Dia seorang wanita tapi dia juga pekerja keras. Dia membantu biaya kuliah Lia untuk meringankan beban orang tuanya. Sebenarnya, Edwin tidak ingin melihat perasaan Indi digantung oleh Arga.. Namun Edwin bukan laki-laki yang suka mengintimidasi atau mempengaruhi orang. Dia akan membiarkan Indi menentukan perasaannya sendiri.


Dia juga belum terlalu mengenal Indi. Mereka belum pernah bertemu. Edwin hanya ingin dekat dengan Indi.  Ada persamaan nasib yang membuat obrolan mereka nyambung. Mereka sama-sama putus setahun yang lalu, dibulan dan tahun yang sama. Pacar Indi melakukan penganiayaan, dan pacar Edwin melakukan perselingkuhan ketika ditinggalnya bekerja ke luar negeri. Pernah gagal dengan pasangan yang serius membuat Edwin berhati-hati memilih pasangan. Edwin tidak ingin melibatkan perasaan cinta pada Indi.


Namun, ada satu hal yang tidak Edwin mengerti. Setiap kali dia teringat Indi, jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir deras. Saat dia merasa seperti itu, dia akan segera menghubungi Indi. Mengobrol ringan dengan Indi membuat denyut jantungnya kembali normal.


Obrolan mereka berlangsung panjang. Indi tampak antusias menyimak setiap bait dari cerita Edwin. Dia juga tampak kagum pada Edwin karena ketulusan hatinya menyayangi keluarga dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Hingga Indi tidak sadar, dia sudah terlelap dengan ponsel diitangannya.


Mendapati pesannya tak berbalas, Edwin melihat jam ditangannya. Saat ini menunjukkan pukul 12 malam dinegara Edwin berada, berarti di Indonesia sekarang sudah jam 4 pagi.


Edwin menatap foto profil Indi, dia menarik nafas panjang sambil tersenyum.


"Kamu pasti sudah ketiduran. Pasti kamu hanya pura-pura tidak mengantuk kan supaya bisa ngobrol denganku?" ucap Edwin sambil mengelus wajah Indi dilayar ponselnya.


"Selamat tidur" ucap Edwin dalam hati.


~*****Happy reading. Jangan lupa like dan vote ya teman-teman readers, dan nantikan kisah selanjutnya***~**

__ADS_1


__ADS_2