Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Bimbang


__ADS_3

"Selamat malam Indi, sedang apa?" tulis Edwin.


"Aku sedang bersantai." Balas Indi.


"Boleh aku telpon?"


" Iya boleh." Indi menjawab ragu-ragu.


Edwin kemudian melakukan panggilan video. Ini pertama kalinya Edwin menelepon Indi. Biasanya mereka hanya berkomunikasi melalui pesan singkat. Edwin terpesona melihat kecantikan Indi. Wajah Indi yang sangat natural tanpa make up membuat Edwin tidak ingin mengedipkan matanya. Sementara Indi juga terpana melihat ketampanan Edwin.


Edwin hanya satu tahun lebih tua daripada Arga. Artinya, Edwin dan Indi terpaut usia empat tahun. Sejenak, mereka sama-sama diam. Namun Indi segera memulai pembicaraan. Dia tidak boleh tergoda.


"Ada apa Ed?"


"Tidak ada apa-apa, kebetulan saja aku sedang libur. Aku kesepian di apartemenku sendirian. Apakah aku mengganggumu?


"Tidak juga, aku juga sedang santai." Sebelum mengijinkan Edwin meneleponnya, Indi sempat berpikir, mungkin lebih baik dia menerima panggilan Edwin daripada dia asik bergulat dengan pikirannya sendiri tentang Arga yang bisa membuatnya stress.


Sudah dua jam mereka menelepon. Banyak hal yang mereka ceritakan. Mereka berdua tampak antusias mendengarkan cerita masing-masing. Indi merasa sudah lebih akrab dengan Edwin. Merekapun berkomunikasi layaknya teman, bukan sebagai kakak dan calon adik ipar. Beberapa kali mereka tertawa bersama. Edwin sepertinya pintar melucu membuat Indi tak bisa menahan senyum dibibirnya.


"Kamu nggak ingin kerja kekapal pesiar Ed? Kan banyak orang bercita-cita begitu." Ucap Indi.


"Pengen sih, nanti kalau aku sudah pulang anterin aku ke agent ya untuk bawa surat lamaran."


"Tapi nanti kalau aku pulang ke Indo trus dapat pacar orang Indo, mungkin aku kerja di Indo aja." Lanjut Edwin. Sebenarnya Edwin memberikan kode pada Indi, tapi Indi tidak mengerti.


"Aku? Kenapa harus aku yang mengantarmu?"


"Kan kamu sudah lama tinggal dikota. Dan kamu pasti sudah hafal jalan disana. Pasti kamu tahu kantor-kantor agent kan?"

__ADS_1


"Iya sih, aku tahu beberapa. Baiklah, Nanti aku antar."


"Memangnya kapan kamu pulang?" sambung Indi.


"Bulan depan tanggal empat."


"Wow, itu sih lima belas hari lagi." Indi terperanjat. Dia tidak menyangka Edwin pulang secepat itu.


"Iya, kontrakku dua tahun disini dan sebentar lagi habis. Aku mau pulang dulu berlibur didesa sebelum kembali bekerja." kata Edwin.


Indi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


"Nanti kalau aku sudah pulang, aku boleh main kerumahmu yang dikota kan?" kata Edwin.


"Boleh sih kalau kamu mau." jawab Indi malu-malu.


Setelah tiga jam melakukan panggilan video, merekapun mengakhiri panggilan dan bersiap untuk tidur.


Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia anggap sebagai bercandaan. Edwin memintanya untuk mengantar dirinya ke agent-agent penyalur tenaga kerja kapal pesiar. Indi sudah terlanjur berkata iya. Dia harus benar-benar menepati janjinya.


***


Ricky Wahyudinata. Kali ini Ricky meminta pertemanan pada Indi disosial media. Indi membaca permintaan itu. Dia merasa pernah mengetahui nama ini. Tapi dilihat dari nama belakangnya, "Ah iya, Ricky adik kandung Edwin." Indi ingat, Edwin pernah menceritakan dia punya adik bernama Ricky. Indi kemudian menerima permintaan itu.


"Hallo Kak Indi, aku Ricky. Aku dengar kakak sedang dekat dengan kakakku ya." tanpa basa-basi Ricky bertanya pada Indi.


Ricky berusia 21 tahun, satu tahun lebih muda daripada Indi.


"Baguslah, dia sudah tahu aku dekat dengan kakaknya. Setidaknya, dia tidak akan ikut-ikutan mendekatiku." pikir Indi diiringi dengan tawa geli. Dia tidak bisa memikirkan bagaimana jika tiga bersaudara memperebutkannya.

__ADS_1


"Iya, kamu tahu darimana?" Indi membalas.


"Aku dengar Kak Edwin cerita sama ibu." katanya.


"Oh Edwin, bukan Arga?" Indi kecewa.


"Memangnya kakak sedang dekat dengan kakakku yang mana?"


"Hmm... susah untuk diceritakan. Aku pacaran dengan Arga, tapi Edwin juga mendekatiku." Entah kenapa Indi merasa percaya untuk menceritakan ini pada Ricky.


"Wah... Kak Arga bahkan tidak pernah menceritakan apapun."


"Tapi, kalau aku jadi kak Indi, aku pasti akan memilih Kak Edwin." lanjut Ricky.


"Kenapa?" Indi penasaran. Adik kandung mereka berkata seperti itu.


"Kak Edwin lebih baik daripada Kak Arga. Kak Edwin lebih sabar, lebih menyenangkan. Sedangkan Kak Arga suka marah. Kakak lebih cocok sama Kak Edwin." katanya.


“Kakak pasti akan lebih bahagia dengan kak Edwin.”


Disamping mengetahui kalau Edwin memang lebih lembut daripada Arga, Ricky juga tahu kalau Arga sudah mempunyai pacar. Tidak mungkin Ricky menceritakan pada Indi kalau Arga sering mengajak Hera datang kerumah mereka. Tapi sebenarnya, itu adalah permintaan Hera yang selalu ingin ikut kemanapun Arga pergi. Itulah kenapa sampai empat bulan, Arga tidak pernah bisa menemui Indi. Arga hanya bisa mencuri-curi waktu untuk mengirim pesan pada Indi. Dan meneleponnya ketika malam datang.


Indi merenung. Kenapa adik kandung mereka bicara seperti itu? Tapi perkataan Ricky ada benarnya juga. Lima bulan mengenal Arga, Indi sering telibat cekcok dengan Arga. Bahkan kadang karena hal sepele. Sewaktu Indi menonton pertunjukan seni itu misalnya. Atau pada waktu Indi menghadiri pesta ulang tahun temannya. Banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang membuat mereka bertengkar dalam beberapa bulan terakhir ini.


Sedangkan empat bulan berkomunikasi dengan Edwin, setiap hari tidak pernah terlewatkan, mereka tidak pernah sama sekali ada masalah. Dia bisa bebas bercerita tentang apapun kepada Edwin. Edwin tidak akan pernah marah. Seandainyapun Edwin merasa tidak suka, dia akan mengatakannya baik-baik. Tidak pernah dia melibatkan emosi.


"Apa yang harus aku lakukan?" pikirnya.


"Ah, tapi buat apa aku memikirkan ini. Edwin kan tidak pernah mengatakan apapun." Indi tidak mengerti dengan perasaannya. Dia merasa sangat nyaman ketika berkomunikasi dengan Edwin. Namun, sebelum Ricky mengatakan ini, Indi tidak menyadari perbedaan sifat mereka dan dia juga tidak menyadari perasaanya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah menjadi kekasih Arga. Aku tidak mungkin meninggalkan Arga begitu saja demi Edwin. Jika saja Arga bisa segera putus dengan Hera, aku tidak akan sebimbang ini." Indi merenung. Tujuan awalnya berteman dengan Edwin disosial media adalah untuk berkenalan sebagai calon adik ipar dengan calon kakak iparnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau mereka mungkin akan terlibat cinta.


~*****Enjoy the story***~**


__ADS_2