
Indi masuk kamar. Dia ingin menenangkan diri. Segera dia menengguk segelas besar air putih untuk meredakan kecewanya. Tapi tidak bisa, dia terlanjur kecewa. Marah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Sama sekali dia tidak pernah menyangka kebahagiaan yang baru saja mereka ciptakan sudah dilebur begitu saja oleh ketidakjujuran Arga.
Lia paham betul sifat kakaknya. Dalam keadaan begini, Indi hanya perlu dibiarkan menyendiri. Musik adalah teman baiknya. Dan benar saja, suara musik sudah sayup-sayup terdengar dari dalam kamar. Indi mulai menangis. Indi menelungkupkan wajahnya dibawah bantal. Dia membiarkan dirinya hanyut dengan perasaannya, kemudian menangis sekencang-kencangnya. Dadanya sesak dipenuhi rasa kecewa. Tapi dia tahu, air mata mampu menghapus sedikit lukanya.
Semalaman ini Arga tidak menghubungi Indi. "Pantas saja Arga sering menghilang. Rupanya dia kencan dengan kekasihnya." Indi mulai menghubung-hubungkan setiap kejadian.
Indi mencoba membuka profil Hera melalui akunnya, tapi tidak bisa ditemukan. Akun Indi sudah diblokir dari akun Hera. Pasti Arga pelakunya. Pria itu cukup cerdik. Dia ingin menghilangkan jejak supaya Indi maupun Hera tidak bisa mencium bau busuk perselingkuhannya.
Selama ini, Indi selalu berpikir positif tentang Arga. Dia tidak pernah ingin mengekang Arga. Ternyata dia salah besar. Seringkali Arga mengaku pergi dengan teman-temannya atau ada kesibukan sehingga tidak bisa menghubunginya melalui telepon, Indi selalu percaya.
"Hufft.... baru juga jadian. Belum sehari" batin Indi. Semakin keras Indi menangis, semakin tenang perasaannya. Indi membiarkan dirinya terlelap dalam alunan suara indah yang membuatnya sedikit lebih tenang. Itulah musik.
***
Senin pagi, seperti biasa Arga akan menyapa Indi melalui pesan-pesan singkat seperti hari-hari biasanya, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mulai dari bangun pagi, sampai waktunya Indi berangkat bekerja. Namun kali ini, tidak ada satupun pesan Arga yang mendapatkan balasan.
Arga mulai khawatir. "Apa yang salah dengan pertemuan kemarin? Kenapa Indi tiba-tiba berubah?" biasanya Arga tidak memerlukan waktu lebih dari lima menit untuk menunggu balasan pesan dari Indi. Tapi ini sudah dua jam. Arga mencoba meneleponnya, tapi panggilannya selalu ditolak.
Saat istirahat siang, Arga juga mengirimkan beberapa pesan pada Indi. Namun lagi-lagi tidak ada pesan yang berbalas. "Apakah dia menyesal bertemu denganku? apakah ternyata aku tidak memenuhi kriteria laki-laki yang dia idamkan? Lalu kenapa kemarin dia membalas setiap perkataan cintaku dan terlihat sangat bahagia?" Arga mulai risau. Dia sama sekali tidak curiga Indi tahu tentang Hera. Tapi Arga harus bersabar menunggu malam datang untuk bisa menelepon Indi.
Malam itu, Arga menelepon Indi. Momen ini sudah ditunggunya sejak tadi siang.
Indi merasa sudah cukup dia diam menghukum Arga seharian. Dirinya juga butuh penjelasan tentang Hera.
"Hallo...." Indi mengangkat panggilan dari Arga.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya kamu mau mengangkat teleponku. Kemana saja kamu seharian ini?" Nada suara Arga sedikit bergetar. Antara dia senang atau khawatir, tidak bisa dibedakan.
"Aku....aku melakukan aktifitas seperti biasa" Indi menjawab dingin.
"Kenapa kamu tumben dingin seharian ini? Kamu ada masalah? Tidak satupun pesanku kamu balas. Aku khawatir" ucap Arga.
"Kamu khawatir? Kamu yakin kamu khawatir padaku? Sewaktu kamu pulang dari rumahku kemudian kamu menghilang, kamu pikir aku tidak khawatir? Kemana kamu semalam?" Indi membalikkan perkataan Arga. Kesedihan kembali memenuhi dadanya. Dia ingat foto yang ditunjukkan Doni padanya. Didepan matanya tampak bayangan foto itu. Sangat jelas. Arga duduk disebuah kursi kayu dan Hera duduk dipangkuan Arga. Tangan Hera menggelayut dilehernya. Hidung mereka hampir beradu, sedikit lagi, bibir mereka bertemu.
"Maafkan aku. Aku.....Aku...." Arga tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin dia mengatakan pada Indi bahwa malam itu dia bersama Hera.
"Baik, aku akan memaafkanmu. Tapi ceritakan semuanya padaku." Indi memancing.
"Ceritakan? apa? Cerita apa yang ingin kamu dengar dariku?" Arga tidak mengerti maksud Indi.
Jantung Arga berdetak kencang, Dia ketakutan. "Apa yang sebenarnya dia ketahui?" Arga mulai curiga kalau Indi mengetahui sesuatu tentang Hera. Tapi dia tidak mau salah bicara. Mungkin ada hal lain yang Indi maksud.
"Sayang, bukankah baru kemarin kita jadian. Seharusnya hari ini kita berbahagia, Tapi kenapa kamu malah menangis?" Arga berusaha menghibur.
"Bagaimana kita bisa bahagia kalau hubungan kita tidak didasari kejujuran? Bahkan aku mengetahuinya di hari pertama kita jadian." Tangis Indi semakin keras. Sepertinya kali ini Indi memang ingin menunjukkan pada Arga betapa hatinya sangat terluka.
"Maksud kamu apa?" Arga semakin tidak mengerti.
"Hera." Indi menyebut satu nama yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.
"Ternyata benar, Indi tahu tentang Hera." Arga tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi dia merasa, dia harus jujur pada Indi.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf" suara panik Arga mulai melemah.
"Aku bisa jelaskan" Arga berkata pelan, mencoba menenangkan Indi yang masih terisak.
"Aku... aku mohon berhentilah menangis. Dengarkan aku sebentar saja." Arga memohon dengan suara lembut. Indi menghentikan tangisnya. Namun dia masih tetap terisak pelan.
"Aku sudah siap mendengarkan." jawab Indi sambil menghapus air matanya. Walaupun kenyataan yang akan diketahuinya pasti sangat menyakitinya, namun Indi lebih baik mendengarkan sebuah kejujuran daripada kebahagiaan dalam sebuah kebohongan.
"Aku perlu waktu untuk melepaskan dia. Aku masih mencari waktu yang tepat. Aku memang menjalin hubungan dengan dia, tapi aku tidak mencintainya. Kamu tahu aku mengagumimu sudah sangat lama. Dan saat kamu mengatakan padaku jangan menghubungimu lagi, aku merasa tidak ada harapan bersamamu. Jadi aku menerima cinta Hera untuk berusaha melupakanmu. Tapi ternyata kamu datang lagi memberikanku kesempatan, kamu membuka pintu hatimu untukku dan kesempatan bersama denganmu tidak akan datang dua kali. Sebelum kamu bersama orang lain lagi, aku harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Arga menjelaskan panjang lebar dengan nada yang sangat pelan.
"Tolong sayang, aku janji...beri aku waktu" lanjutnya.
Indi tak dapat membendung air matanya lagi. Dia menangis sesegukan. Dalam hatinya, dia sedikit merasa bersalah. Ini terjadi karena dirinya pernah menutup pintu hati untuk Arga.
"Tapi....apakah kamu benar-benar mencintaiku?" ucap Indi sedih.
"Iya sayang, aku sangat mencintaimu" jawab Arga penuh semangat.
"Lalu bagaimana dengan Hera?"
"Aku hanya meminta waktu padamu untuk berpisah dengannya. Aku tak sanggup hidup tanpamu lagi." Arga meyakinkan Indi.
Indi memaafkan Arga. Dengan syarat ketika waktunya tiba, Indi hanya ingin memiliki Arga seorang diri. Namun jika waktu itu tak kunjung datang, dia ikhlas jika harus berpisah dengan Arga. Entah sampai kapan dia harus menunggu.
~*****Enjoy yaaa***~**
__ADS_1