
Malam ini, Arga harus menemani Hera yang masih terguncang jiwanya karena permintaan putus dari dirinya. Entah sampai jam berapa. Biasanya, Arga harus menunggu sampai Hera tidur barulah dia bisa pulang.
Arga mengirimkan pesan pada Indi, supaya Indi tidak khawatir kalau malam ini dia tidak bisa menelepon Indi.
"Sayang, sepertinya malam ini aku tidak bisa menelepomu. Maafkan aku." tulis Arga.
Indi menarik nafas panjang. "Pasti dia sedang bersama Hera lagi." pikir Indi.
"Mulai sekarang, kamu tidak usah berusaha untuk putuskan hubunganmu dengan Hera. Aku yang akan mundur." balas Indi.
Seperti biasa Arga akan menolak permintaan Indi untuk meninggalkan dirinya. Dia menjadi laki-laki paling bodoh karena tidak bisa membuat dirinya putus dengan Hera dan memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya.
"Apa ini karena kakakku?" Arga membalas pesan Indi. Arga sangat kesal mendapat jawaban itu dari Indi. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku memang dekat dengan kakakmu. Aku tidak tahu aku mencintainya atau tidak. Aku merasa nyaman berkomunikasi dengan dia. Tapi aku mundur bukan karena kakakmu. Ini karena waktu yang aku berikan padamu sudah habis. Empat bulan sudah cukup waktuku menunggu. Aku sudah lelah. Kita berdua menderita. Maafkan aku." tulisnya.
"Bilang saja kamu cinta sama kakakku."
"Terserah apa katamu. Aku disini menahan rindu. Rindu ini sangat menyakitkan untukku. Untuk apa kita menjalani hubungan seperti ini?" Indi menangis. Sebenarnya bukan ini yang dia inginkan. Dia berharap bisa bersama dengan laki-laki yang dia cintai, Arga.
"Indi, tolong kasi aku waktu lagi. Aku mohon. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."
"Arga aku tahu. Kamu tidak perlu lagi mengatakan kamu mencintaiku. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah membuktikannya. Salah satu dari aku atau Hera pasti menderita karena cinta segitiga ini. Kembalilah padaku saat kamu sudah tidak bersama Hera lagi. Aku juga mencintaimu." balas Indi.
Batin Indi menangis. Sangat berat bagi Indi untuk menulis itu semua. Dia tidak ikhlas melepaskan Arga untuk wanita lain. Tapi kalau Arga tidak bisa tegas dan membuat keputusan untuk hubungan mereka, maka dirinya yang harus tegas kepada dirinya sendiri. Dia harus kuat.
"Aaaarrrgggghhh...." Arga mengerang, dia sangat marah dan sedih. Hera yang sedang tidur dalam pelukannya terhempas begitu saja. Arga segera pergi meninggalkan rumah Hera. Dia begitu sakit hati.
Dijalan menuju rumahnya, Arga menangis. Laki-laki tegar dan dingin itu menitikkan air mata.
__ADS_1
Arga memutuskan untuk memutar kendaraannya dan pergi kerumah temannya, kemudian menginap disana.
Beberapa kali dia mencoba menghubungi Indi, tapi tidak diangkat. Terang saja, ini sudah jam sebelas malam. Indi kemungkinan sudah tidur. Hatinya semakin tidak tenang.
Sementara Indi terus saja menangis. Dia tidak mempedulikan panggilan dari Arga. Dia takut, jika dia menerima panggilan itu, dia akan berubah pikiran dan kembali menjalani cinta segitiga yang tak berujung. "Aku harus kuat, aku harus bisa melupakan Arga." Indi menyemangati dirinya.
***
Hari ini adalah tanggal empat yang dimaksud Edwin. Pesawat yang ditumpanginya mendarat jam tujuh malam hari ini. Indi berdiri dijendela ruang tamu, melihat langit kearah bandara. Tampak kelap kelip lampu pesawat dari kejauhan. "Apakah itu pesawat yang ditumpangi Edwin?" pikirnya. Indi sudah memutuskan dan mengabarkan pada Bu Rika kalau dia tidak ikut menjemput Edwin.
Sudah dua hari baik Arga maupun Edwin tidak ada yang menghubungi Indi. Dia juga tidak ingin menghubungi mereka lebih dulu. Jika memang mereka cinta, mereka pasti akan menghubungi Indi. Tapi ada yang kosong dalam hatinya. Ada kerinduan yang dalam. Entah itu untuk Arga atau Edwin, dia tidak tahu.
"Ternyata Arga tak melakukan usaha apa-apa. Sampai hari ini dia tidak menghubungiku. Mungkin dia memilih Hera. Aku yang sudah mengambil keputusan ini. Aku harus bisa melupakan dia." Indi kembali menangis. Sesekali dia baca lagi pesan-pesan Arga beberapa bulan lalu saat mereka sedang hangat-hangatnya dengan percintaan mereka. Betapa bahagianya mereka waktu itu. Kini semuanya sudah sirna karena ketidak jujuran. Malam ini Indi tidur beralaskan air mata.
"Kak Indi, Kak Edwin sudah dirumah tuh." Ricky menghubungi Indi keesokan harinya.
"Oh ya, sedang apa dia?" Indi penasaran.
"Lagi main-main saja dengan laptopnya. Telepon aja dia kak" jawab Ricky.
"Nggak ah, biarin aja." Indi tidak mau mengganggu Edwin.
Sementara Arga sibuk dengan perasaannya sendiri. Sudah beberapa hari Hera menyita ponsel Arga. Hera curiga, kenapa Arga selalu saja meminta putus dari dirinya. Dia bertanya-tanya apakah ada perempuan lain dibalik ini semua. Namun karena Indi juga tidak pernah menghubungi Arga selama beberapa hari ini, Hera tidak bisa menemukan bukti apa-apa.
Arga merasa dirinya sangat lemah. Untuk mengambil ponselnya kembali dari Hera saja dia tidak mampu. Sebenarnya bisa saja dia menghubungi Indi melalui sosial media dari laptopnya. Tapi nanti pesan itu pasti muncul diponselnya dan akan dibaca Hera.
Dia ingin meminjam ponsel temannya, tapi Arga tidak hafal nomor ponsel Indi. Arga terus memutar otak supaya bisa memberi kabar pada gadis yang dicintainya.
Hari sudah sore. Edwin menelepon Indi. Indi senang akhirnya Edwin memberinya kabar.
__ADS_1
"Indi, aku sudah di Indonesia. Sekarang aku ada didesa. Hari Jumat, dua hari lagi aku akan kekota. Aku mau ketemu kamu."
"Ketemu?" Indi masih bingung dengan sikap yang harus diambilnya.
"Iya, aku mau ketemu kamu. Nanti kamu kirimkan alamatnya, aku akan datang kerumahmu."
Indi belum sempat menjawab iya atau tidak, Edwin sudah menutup panggilan teleponnya. Edwin bahagia. Sedangkan Indi merasakan kekacauan dihatinya. Kemana Arga? Kenapa tidak pernah menghubunginya? Apakah Arga benar-benar menuruti keinginannya dan membiarkan dirinya mundur begitu saja?
"Hah...payah...!!!" Indi menarik nafas panjang. Edwin sudah menutup panggilan sebelum dia sempat menjawab. Itu pasti akan dianggap iya oleh Edwin. Mau tidak mau, Indi mengirimkan alamat rumahnya.
"Ric, kemana Arga?" Indi mengirim pesan pada Ricky.
"Aku nggak tahu kak Arga kemana. Sudah dua hari dia nggak pulang." balas Ricky.
"Dia nggak ada menghubungi kamu?"
"Nggak ada. Kami memang biasa begitu. Nggak tahu urusan masing-masing." kata Ricky.
"Ngapain Kak Indi nanyain Kak Arga?" tanya Ricky lagi.
"Sudah dua hari dia nggak menghubungiku. Aku bingung." jawab Indi jujur.
"Kak Indi nggak usah bingung. Sudah kubilang, lebih baik Kak Indi sama Kak Edwin saja. Apalagi dia sudah bilang akan datang kerumah Kak Indi." Ricky meyakinkan calon kakak iparnya.
Indi duduk termenung. Dia benar-benar bingung. Apakah harus mengikuti kata-kata Ricky atau tidak.
"Mungkin Arga sudah bisa melupakanku. Akupun harus benar-benar belajar melupakan dia." gumam Indi dalam hati.
*Happy reading*
__ADS_1