Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Telepon dari Ibu


__ADS_3

Malam ini, Indi mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Tanpa pikir panjang, Indi segera menerima


panggilan itu.


"Hallo.." jawabnya halus.


"Hallo... ini dengan Indi?" terdengar suara wanita paruh baya diseberang sana.


"Iya, saya dengan Indi. Ini dengan siapa?"


"Saya Bu Rika, ibunya Edwin. Kamu pacarnya Edwin kan?"


Indi sontak kaget mendengar kata-kata ibunya Edwin. Terlebih lagi, ibunya menelepon Indi dan mengatakan Indi pacarnya Edwin. Dari siapa beliau mendapatkan nomor Indi? Sudah pasti dari salah satu putranya. Tapi yang mana?


"Saya....saya temannya bu. Ad...ada yang bisa saya bantu?" Indi menjawab dengan terbata-bata. Dia sangat gugup. Dia hampir saja menjatuhkan ponselnya karena dia setengah panik.


"Tiga hari lagi kan Edwin sampai di Indonesia. Ibu akan menjemputnya di bandara. Kamu mau ikut?" tanya Bu Rika.


Indi sepertinya tidak bisa melanjutkan bernafas. Seketika tubuhnya membeku, mematung. Dia masih mencerna kata-kata Bu Rika. Bu Rika mengajaknya menjemput Edwin. Dia tidak salah dengar?


"Edwin tidak ada meminta saya untuk ikut menjemputnya bu." Kata Indi sopan.


"Iya, tapi ibu yang mengajakmu. Sekalian ibu ingin berkenalan denganmu." katanya.


Kali ini jantung Indi yang sepertinya mau copot. "Ibu ingin berkenalan denganku? Ibu ingin mengenalku sebagai pacarnya Arga atau Edwin?" pikiran Indi mulai tidak fokus.


“Bagaimana nak Indi?” Bu Rika menyadarkan Indi dari lamunannya.


"Nanti saya kabari bu, sepertinya saya harus bekerja hari itu." sahutnya dengan penuh keraguan.


"Baiklah... ibu tunggu kabarmu." Bu Rika kemudian memutus sambungan teleponnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Indi menarik kembali nafas yang dalam beberapa detik dia lupakan. “Bu Rika mengira kalau aku pacarnya Edwin. Edwin atau Ricky yang cerita pada ibunya? Sepertinya aku harus tanya pada Edwin apa maksudnya.” Indi menimbang-nimbang.


"Ed, tadi ibumu meneleponku." Indi mengabarkan ini pada Edwin melalui pesan singkat. Dia ingin melihat reaksi Edwin.

__ADS_1


"Ngapain ibuku nelpon kamu?"


"Dia memintaku untuk ikut kebandara jemput kamu."


"Ah ibuku ada-ada saja." katanya. Padahal Edwin akan merasa sangat senang jika Indi ikut menjemputnya.


“Kamu cerita apa saja tentang kita? Kok bisa ibumu meneleponku memintaku ikut menjemputmu?”


“Aku nggak pernah cerita apa-apa sama ibuku. Ibuku tahu kamu darimana?”


“Lho, kok kamu malah tanya aku. Aku pikir kamu yang memberikan nomor ponselku pada ibumu.” Ucap Indi memancing. Mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.


“Ricky mungkin. Aku memang pernah menceritakan tentangmu padanya. Dia kan memang usil.” Katanya.


“Jadi? Bukan kamu?” Indi mendengus kecewa. Dia sebenarnya ingin ikut menjemput Edwin. Tapi dia tak punya keberanian untuk bertemu dengan Bu Rika, ibunya Edwin.


“Bukan. Buat apa aku minta ibuku meneleponmu untuk ikut menjemputku. Aku bisa lakukan sendiri." ucapnya.


Melihat reaksi Edwin, Indi merasa dia tidak perlu ikut kebandara. "Sepertinya Edwin memang tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Dia bilang bisa melakukan sendiri, tapi dia tidak lakukan" pikirnya. Dia menyesal karena telah memikirkan kata-kata Ricky untuk lebih memilih Edwin dan membuatnya membuka sedikit hati untuk Edwin.


***


"Kamu sedang dekat dengan kakakku ya?" Arga bertanya langsung pada Indi melalui telepon.


"Kamu tahu darimana?" tanya Indi yang tidak terlalu kaget dengan pertanyaan Arga. Jika ibunya sudah tahu kalau Indi dekat dengan Edwin, bukan tidak mungkin Arga akan segera mengetahuinya.


"Sudahlah kamu tidak perlu mengelak. Kamu cinta kakakku kan?" Arga sudah mulai agak marah.


"Aku dan kakakmu tidak ada hubungan apa-apa. Aku cinta kamu, tapi kamu sendiri masih dimiliki orang lain." Jawaban Indi membuat Arga merasa bersalah


"Maafkan aku..." kata Arga.


"Sampai kapan? Sampai kapan lagi aku harus menunggu?"


Arga tidak menjawab pertanyaan Indi.

__ADS_1


"Apa kamu mencintai kakakku?" tanya Arga dengan nada kesal.


"Aku tidak tahu." jawab Indi. Indi memang bingung dengan perasaannya. Edwin terlalu baik dan dia selalu merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan Edwin tapi dia terlanjur memberi tanda dihatinya bahwa hati itu adalah milik Arga.


"Tuh kan, kamu cinta kakakku."


"Aku bilang aku tidak tahu. Mungkin ketika kamu sudah putus dengan Hera aku tahu jawabannya." Indi menegaskan. Kemudian mereka bertengkar lagi seperti hari-hari sebelumnya.


Pertengkaran itu membuat Arga sangat kesal. Jawaban Indi membuatnya tidak puas. Arga ingin Indi menjawab tidak, Indi tidak mencintai Edwin, bukan tidak tahu. Kalau Indi menjawab tidak tahu, bisa saja Indi mencintai Edwin. Kalau saja Edwin bukan kakak kandungnya, kakak yang selalu menyayanginya, kakak yang membuatnya menjadi sarjana, membuatnya meraih cita-citanya sebagai seorang guru, mungkin sudah dia hajar laki-laki bernama Edwin itu.


Arga mengurung diri dikamar. Terlebih lagi dia tahu, dalam beberapa hari Edwin akan berada di Indonesia. Edwin pasti akan menemui Indi. Edwin pasti akan merebut Indi. Arga tidak sanggup memikirkan itu. Hatinya mulai didatangi rasa sakit, perih.


Dia segera pergi menemui Hera. "Aku harus segera mengakhiri ini dengan Hera. Kemudian datang pada Indi dan memiliki dia seutuhnya." pikir Arga.


***


"Her, maafkan aku. Kali ini aku benar- benar sudah tidak bisa lagi mempertahankan hubungan kita." Kata Arga begitu Hera membukakan pintu rumah untuknya.


"Apa? Sudah kubilang berkali-kali aku nggak mau kita putus. Lebih baik aku mati." Hera mulai terisak dan dengan cepat tangannya mengambil gunting dimeja sebelah pintu.


"Pemandangan ini lagi." Arga mendengus kesal. Hera menangis lebih keras sehingga menyita perhatian tetangganya.


"Tenang Hera, tenang..."perintah Arga.


"Bagaimana aku bisa tenang, kamu selalu minta putus dariku. Kamu tarik kata-katamu, atau gunting ini akan menancap diperutku." Hera mengancam.


"Kamu tenang dulu." Pelan-pelan Arga mengambil gunting dari tangan Hera. Hera memeluk Arga dengan sangat erat. Pikiran Arga melayang pada Indi, Indi, Indi. Dia bahkan tidak bisa membalas pelukan Hera.


“Kenapa kamu selalu ingin putus denganku? Apa salahku?” Hera menyandarkan kepalanya didada Arga.


Hera terus saja sesegukan memeluk Arga. Dia tidak ingin melepaskan Arga. Dia sangat mencintai Arga. Arga adalah guru yang paling tampan disekolah itu. Memiliki Arga membuatnya merasa bangga.


Arga hanya diam saja. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Hera. “Kamu tidak salah apa-apa. Yang salah adalah hatiku. Aku tidak bisa mencintaimu. Aku mencintai wanita lain.” Kata-kata itu sudah berada diujung lidah Arga dan siap untuk mengudara sampai ketelinga Hera. Namun Arga menahan diri jangan sampai dia benar-benar mengucapkannya. Hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Hera bisa saja akan mencari tahu tentang Indi dan mencelakainya.


Arga menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya. Sepertinya dia harus lebih banyak bersabar. "Hari ini aku gagal lagi. Aku tidak lebih dari seorang pengecut. Akulah pecundang sejati." gumam Arga dalam hati.

__ADS_1


*Happy reading xox*


__ADS_2