Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Pulang Ke Desa


__ADS_3

Siang ini Edwin berencana pulang ke desa. Setelah tes wawancara kemarin, tadi pagi dia mendapat telepon dari kantor agent. Ada surat yang harus ditanda tangani oleh kedua orang tua Edwin. Surat itu berupa surat pernyataan bahwa kedua orang tuanya mengijinkan Edwin berangkat keluar negeri.


Dari rumah temannya tempat Edwin menginap beberapa hari ini, dia melaju ke kantor agent sendirian. Setelah dia mendapatkan surat yang dimaksud, dia langsung menuju kerumah Indi untuk memberi tahu Indi rencananya pulang ke desa.


Indi sedang menyapu halaman ketika Edwin datang.


Senyum sumringah menghiasi bibirnya yang tipis.


"Pagi sekali sudah datang." Indi menyapa dengan hati riang gembira sambil terus melanjutkan membersihkan halaman rumahnya.


"Siang ini aku mau pulang ke desa." Edwin duduk diteras rumah sambil memandangi Indi yang masih sibuk.


Indi menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Edwin.


"Untuk apa?" tanya Indi menahan sedih. Dia sudah mengambil cuti tiga hari untuk menemani Edwin. Dan ini baru hari kedua. Kalau Edwin pulang ke desa, percuma saja dia tidak bekerja.


"Ada surat yang harus ditanda tangani kedua orang tuaku."


"Berapa lama kamu akan berada di desa? Pulangnya harus hari ini?"


"Aku tidak tahu berapa lama. Tapi aku tidak mau menunda-nunda. Lebih cepat aku mendapatkan tanda tangan mereka akan lebih baik. Semuanya berjalan sangat lancar. Bahkan lebih cepat dari yang aku bayangkan. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini." ucapnya sambil seolah meminta ijin pada Indi untuk meninggalkannya beberapa hari didesa.


"Kamu hari ini kerja jam berapa? Kenapa belum siap-siap?" Edwin menoleh jam tangannya, ini sudah hampir jam sembilan pagi. Rupanya Edwin tidak tahu kalau Indi sedang cuti.


Indi menarik nafas untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Aku cuti." sahutnya.


"Lho, cuti berapa hari? Kok aku nggak tau? Aku pikir cuma sehari kemarin saja kamu cuti." Edwin agak kaget. Dia tidak berpikir Indi mengambil cuti lebih dari satu hari.


"Tiga hari, kemudian dilanjutkan dengan dua hari akhir pekan. Jadi aku libur selama lima hari dan ini hari kedua."

__ADS_1


Edwin tersenyum. Dia tahu Indi pasti mengambil cuti untuk menemaninya. Tapi seperti biasa, Edwin tidak mau berlagak sok tahu. Dia tetap bertanya pada Indi.


"Ada acara apa kamu ambil cuti?"


Indi tiba-tiba kebingungan. Dia tidak memikirkan alasannya. Tidak mungkin dia mengatakan pada Edwin kalau dia mengambil cuti untuk menemani Edwin. Kemudian Indi melanjutkan menyapu halaman supaya Edwin tidak tahu kalau dia sedang bingung.


"Aku hanya mengambil jatah cutiku yang belum pernah aku ambil dari awal tahun." katanya. Indi bernafas lega. "Semoga Edwin percaya" gumamnya dalam hati.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu ikut kedesa?" Edwin sangat bersemangat.


Indi kaget mendengar perkataan Edwin. Dia belum siap kerumah Edwin. Tapi tawaran Edwin boleh juga. Dengan begitu mereka tetap bisa bersama.


"Maksudmu?" tanya Indi seolah tidak mengerti.


"Kita pulang ke desa sama-sama. Aku kerumahku, kamu kerumahmu. Kan rumah orang tuamu dekat dengan rumahku." jawabnya santai.


Indi merasa malu karena dia berpikir Edwin akan mengajaknya kerumah Edwin. Mendengar kata-kata Edwin, Indi merasa lebih tenang. Dia tidak berpikir sampai kesana. "Betapa pedenya aku." Sudah dua kali dia dibuat ge-er oleh Edwin.


"Yuk kita berangkat." kata Indi.


"Kamu biasanya lewat jalur mana?" tanya Edwin sambil memakai kembali sepatunya.


"Biasanya sih jalur selatan. Tapi sekarang kita harus lewat jalur utara kan?" jawabnya.


Dari kota ada dua jalur yang bisa dilewati Indi untuk sampai kerumah orang tuanya. Ada jalur utara dan jalur selatan. Jika lewat jalur selatan, Indi akan berkendara dipesisir pantai. Hamparan laut lepas akan menjadi saksi perjalanannya. Jika dia lewat jalur utara, hamparan sawah dan gunung yang akan mengiringinya. Tapi jika lewat jalur utara, dia akan melewati rumah Edwin sebelum sampai kerumah orang tuanya. Memang jalur utara sedikit lebih jauh. Dia harus berkendara kurang lebih setengah jam lebih lama jika melewati jalur utara. Maka dari itu Indi sangat jarang lewat jalur itu. Tapi Karena mereka pergi berdua dan tidak mungkin Indi mengajaknya mampir kerumah orang tuanya, mereka harus melewati jalur utara.


"Baiklah." Edwin berjalan kearah motornya.


"Edwin, kita pakai motorku saja ya." Indi mendekati Edwin sembari menyerahkan kunci motornya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti kan kamu akan sampai dirumah lebih dulu.Trus aku harus pulang sendiri. Kalau aku datang dengan motor orang lain, bapakku bisa marah." katanya.


"Motormu taruh disini saja. Aman kok." sambung Indi.


Tanpa berpikir panjang Edwin memperbaiki posisi parkir motornya dan mengambil motor Indi. Kemudian mereka melaju menuju kampung halaman.


***


Edwin mengemudi motor matic Indi, sedangkan Indi duduk dikursi penumpang. Mereka terlihat sangat akrab. Tidak ada perasaan malu dan canggung. Beberapa kali Indi memegang pinggang Edwin saat mereka berpapasan dengan truk besar. Edwin justru sangat senang dengan tingkah Indi seperti itu. Dia tidak henti-hentinya tersenyum.


Setiap melihat hal aneh dijalan, mereka tertawa bersama. Mereka seperti kekasih yang sudah lama bersama. Edwin juga mengendarai motornya dengan santai.


Sudah satu setengah jam mereka berkendara. Sebentar lagi mereka sampai. Perasaan Indi mulai kacau.


"Sebentar lagi sampai, aku akan ketemu Arga.  Apa yang harus aku katakan padanya? Kenyataannya dia akan melihatku datang bersama Edwin. Aku memang belum tahu apakah aku mencintai Edwin atau tidak. Tapi aku merasa bahagia berada didekat laki-laki ini. Bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Arga?" pikirnya.


"Bagaimana jika aku bertemu dengan Bu Rika yang pernah mengatakan ingin berkenalan denganku?" Indi mulai kebingungan. Lagi-lagi sibuk dengan pikirannya. Sampai dia tidak sadar, ternyata mereka sudah sampai.


Edwin menghentikan motornya didepan sebuah gang. Kemudian dia turun dari motor. Indi menatap Edwin menunggu perintah untuk turun dan mengikutinya. Beberapa menit mereka saling berpandangan. Edwin tidak juga memintanya untuk turun. Indi tetap menunggu. Indi tidak punya keberanian untuk membuka suara.


"Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu pulang saja." ucap Edwin.


"Maksudmu? Aku nggak disuruh mampir?" Indi hanya mampu berkata dalam hatinya. Dia tidak cukup berani untuk mengucapkan itu pada Edwin. Dia menatap Edwin dengan tatapan heran penuh tanya.


"Hati-hati dijalan ya." Edwin melambaikan tangannya dan berbalik arah menapaki jalan di gang rumahnya.


Indi mengamati sampai Edwin masuk kesebuah gerbang rumah, dan itulah rumahnya. Hanya Lima puluh meter dari jalan raya.


Lelah dengan kebingungannya, Indi tancap gas untuk segera pergi dari sana menuju rumah orang tuanya yang hanya setengah jam dari rumah Edwin.


"Lagi-lagi aku ge-er. Aku pikir Edwin akan mengajakku mampir. Aku sudah ketakutan akan ketemu Arga atau ibunya. Hhhh... ternyata tidak terjadi apa-apa. Dasar Edwin, cuek sekali pria itu. Tidak mengerti perasaan wanita. Masa aku nggak disuruh mampir?" Indi bicara sendiri sambil tetap memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


~Happy reading ^.^~


__ADS_2