
Hari sudah gelap, sama seperti malam-malam biasanya, ini waktunya Arga menelepon Indi. Melepas kerinduan mereka setelah seharian bekerja.
“Hallo ...” Indi menyahut dengan suara lembut dan senyum yang tak bisa dia sembunyikan dari bibir manisnya.
“Sayang, kamu sudah tidur?” Arga memulai pembicaraan.
Selama beberapa minggu berkomunikasi, Arga sudah biasa memanggil Indi dengan panggilan sayang. Indi sangat tidak keberatan walaupun mereka belum memutuskan mau dibawa kemana hubungan mereka. Teman tapi mesra? Karena mereka belum sama sekali mengeluarkan pernyataan untuk pacaran. Bahkan belum pernah menyatakan cinta.
“Belum ... aku masih ... masih ... itu ... masih ... nonton tv.” Indi tampak mencari-cari alasan kenapa dia belum tidur. Padahal kenyataannya dia belum tidur karena menunggu telepon dari Arga. Namun dia sangat malu untuk mengatakannya. Tidak mungkin dia mengatakannya.
“Kenapa ketakutan begitu? Nonton acara apa?" tanya Arga.
“Nggak apa-apa ... mmm.... aku hanya nonton … emmm … itu … acara lawak." Indi terbata-bata karena gugup, takut ketahuan alasan sebenarnya kenapa dia belum tidur.
"Oh, adikmu dimana?”
"Lia, dia ada disebelahku. Kenapa?” Indi masih terlihat gugup karena sebenarnya dia hanya membiarkan tvnya menyala begitu saja, entah apa acara yang ada ditv dia tidak tahu. Dari tadi dirinya hanya sibuk memainkan ponselnya sambil menunggu telepon dari Arga.
“Apa dia tau hubungan kita?” Arga bertanya lagi.
“Iya, dia tahu hubungan kita. Aku menceritakan semuanya pada Lia”
Indi dan Lia memang sangat dekat. Tidak ada satu rahasiapun diantara mereka.
“Aduh, kenapa? Aku kan jadi malu. Apalagi adikmu kenal aku, dia pasti sedang meledekku sekarang.”
Mendengar namanya disebut, Lia segera mengambil ponsel dari tangan Indi dan menghidupkan pengeras suara supaya mereka berdua bisa mendengar suara Arga.
“Ya, aku tau hubungan kalian. Awas saja Pak Cungkring berani menyakiti kakak kesayanganku.”. Lia menyerobot, mengancam Arga sambil tertawa.
"Kalau aku berani? kamu mau apa?"
"Tunggu saja, nanti jurus lolipopku yang akan menyerangmu." Lia tertawa terbahak-bahak. Sedangkan terdengar suara Arga seperti mendengus.
__ADS_1
“Iya ... aku tidak akan menyakiti kakakmu."
"Janji ya!" seru Lia.
"Aku janji.” Arga sedikit berteriak, namun terdengar serius.
“Berikan ponselnya pada kakakmu,” kata Arga.
"Iya ..." Lia berteriak dan segera menyerahkan ponselnya pada Indi.
“Jurus lollipop? Apa itu?” Indi bertanya pada Arga penasaran.
“Hmm … kamu tanya sajalah sama adikmu,” jawab Arga ketus.
Rupanya dulu sewaktu masih di SMA, Lia dan teman-teman genknya suka duduk berderet didepan kelas sambil menghisap lollipop. Mengetahui Arga jijik melihat hal itu, setiap Arga dan teman-temannya datang hendak mengganggu atau menjahilinya, mereka akan dengan kompak mengambil lolipop dari saku mereka dan menghisapnya didepan Arga. Rupanya hal itu mampu membuat Arga kabur. Ada-ada saja…
Setelah beberapa obrolan yang berbasa-basi dan agak kurang penting, Arga mulai agak serius.
“Ketemu? kapan?” Indi sebenarnya sangat senang, tapi dia tidak kalah gugup. Dan dia berusaha menyembunyikan rasa bahagianya dari Arga. Sudah hampir sebulan dia menunggu Arga mengajaknya bertemu.
“Hari Sabtu ini aku akan kekota.” Arga berkata dengan sangat mantap.
Arga tinggal didesa bersama orang tuanya. Rumah Arga tidak jauh dari desa rumah orang tua Indi. Hanya tiga puluh menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan sekolah tempat Arga mengajar dan Indi mendapatkan ijazah SMAnya dulu berada ditengah-tengah antara rumah mereka, hanya lima belas menit perjalanan.
Sedangkan kota tempat Indi tinggal berjarak sekitar delapan puluh kilometer dari desa Arga. Itu membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Namun karena kesibukan masing-masing, mereka belum sempat untuk bertemu. Sekaranglah waktunya.
Mendengar Arga mengatakan dirinya akan menemui Indi hari Sabtu, dan itu tiga hari lagi, Indi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan kebahagiaannya, gugupnya, malu, semuanya bercampur jadi satu.
“Kamu serius? Kamu akan datang kekota?” Indi meyakinkan.
“Iya, aku akan datang. Kita harus segera bertemu. Kemudian kita akan bisa memutuskan hubungan kita kearah yang lebih serius."
“Hmm ... Baiklah. Aku tunggu kamu datang,” jawab Indi.
__ADS_1
“Sekarang sudah jam sembilan malam. Kita tidur dulu. Nanti jam tiga pagi aku akan telepon kamu lagi. Aku mau nonton bola. Hari ini club kesayanganku bertanding. Seperti biasa, kamu harus menemaniku.”
“Oke bos,” bisik Indi.
"Selamat malam, semoga tidur nyenyak," salam Arga sebelum dia menutup panggilan teleponnya.
Selama sebulan ini, Indi memang sering dibangunkan jam tiga pagi untuk menemani Arga menonton pertandingan bola ditelevisi. Biasanya mereka akan menelepon dari jam tiga sampai jam lima pagi. Kadang-kadang tidak ada yang mereka bicarakan saat menelepon karena Arga akan fokus dengan pertandingan yang dia tonton. Namun saat Arga sewaktu-waktu memanggil Indi, dan dia masih setia diseberang telepon, itu sudah cukup membuat Arga senang. Dia merasa Indi ada disampingnya.
Indi juga senang menemani Arga. Walaupun sebenarnya dia tidak suka pertandingan bola dan begadang seperti itu akan membuatnya ngantuk saat dia dikantor keesokan harinya. Sesekali dia akan ketiduran dan suara teriakan Arga ketika team kesayangannya mencetak goal akan membangunkannya. Kadang-kadang Arga tahu Indi ketiduran. Arga akan membangunkan Indi dengan memanggil-manggil namanya. Jika Indi tetap tidak menjawab, Arga akan menutup panggilannya dan akan menghubunginya lagi. Nada dering diponsel Indi pasti akan membangunkan Indi.
Walaupun begitu, Indi tidak pernah keberatan menemani Arga. Kata-kata manis Arga dihidupnya bagaikan kafein yang akan mengusir rasa kantuknya.
"Bagaimana pertandingan tadi, bagus kan? team kesayanganku menang lho." Arga membahas pertandingan bola tadi.
"Iya bagus," jawab Indi menerka-nerka. Padahal dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Terimakasih ya sudah menemaniku nonton bola. Sekarang kamu boleh tidur lagi," kata Arga setelah pertandingan bolanya selesai.
"Iya, sama-sama," sahut Indi lesu. Dia benar-benar mengantuk.
"Aku juga akan tidur lagi, satu jam lagi." Arga tidak ingin terlalu mengantuk saat mengajar murid-muridnya nanti. Dia masih punya waktu untuk tidur sampai jam enam pagi.
"Jangan lupa atur alarm, nanti tidurmu kebablasan," sambung Indi.
"Siap Nona. Sampai ketemu hari Sabtu. Nanti kamu temani aku menonton bola secara langsung disana." Arga menggombal.
"Emm ..." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Indi sudah tidak mampu berbicara lagi. Jiwanya sudah siap untuk pergi kealam mimpi.
"Selamat tidur," ucap Arga.
Dalam keadaan setengah sadar, Indi masih sempat meletakkan ponselnya diatas meja. Kemudian dia menarik selimut untuk menutupi kaki hingga lehernya. Dia juga memperbaiki posisinya, dan dengan segera menutup kembali sepasang mata yang melekat diwajahnya.
~Selamat membaca. Jangan lupa like dan vote yaah.. Supaya author tambah semangat menulisnya~
__ADS_1