
"Pulang jam berapa kamu semalam? Kenapa tidak menghubungiku?" Pesan dari Arga dipagi hari seperti biasanya.
Hari ini Sabtu. Indi libur dikantornya. Karena semalam baru tidur jam empat pagi, Indi merasa sangat mengantuk. Indi merasa tidak perlu bangun pagi dihari liburnya. Dia tidak menyalakan alarmnya.
Lia melihat kakaknya tidur pulas. Dia tahu Indi pasti sangat capek. Terlihat dari lingkaran hitam dibawah kelopak matanya. Dia juga tahu Indi juga lelah bekerja keras untuk membantu biaya kuliahnya. Lia tidak membangunkan Indi walaupun ponsel Indi berdering beberapa kali.
Lagi-lagi Arga tidak bisa mengendalikan diri ketika pesan yang dia kirimkan tidak mendapat balasan. "Kemana Indi? Apa dia masih marah padaku?" gumamnya.
"Sayang, kamu kemana? Kamu masih marah?"
"Sayang, balas pesanku. Tolong jangan menghukumku lagi."
Tidak satupun pesannya mendapat balasan. Mungkin ada sepuluh pesan yang dia kirim dalam dua jam terakhir.
Pikiran Arga mulai tidak karuan. Kemudian dia segera menelepon Indi.
Indi mendengar ponselnya berbunyi. Dia samar-samar melihat nama yang muncul dilayar. Dia segera menerima panggilan itu.
"Hmmm...." Indi menjawab diujung telepon dengan suara berat.
"Kamu belum bangun sayang?" Mengetahui ternyata Indi belum bangun, membuat Arga sedikit lega. Paling tidak pesannya tidak berbalas bukan karena Indi sedang marah padanya.
"Mmm...iya, aku baru bangun. Jam berapa ini?" jawab Indi dengan nada memaksa bersuara.
"Ini sudah jam delapan pagi. Dasar pemalas." Arga tersenyum kecil menggoda Indi.
"Aku mengantuk sekali. Hoahm...." Indi menggeliat sambil berusaha membuka matanya.
"Kamu pulang jam berapa semalam? Tumben jam segini kamu belum bangun. Tak satupun pesanku kamu balas." Arga komplain.
"Jam dua pagi. Nanti aku balas pesanmu. Aku buka mata dulu" jawab Indi santai. Dia tidak mempedulikan ocehan Arga.
"Sayang, aku tidak suka kamu pergi sampai pagi seperti itu. Lain kali boleh tidak kamu tidak usah ikut?!"
Indi terperanjat mendengar kata-kata itu. Dia merasa dejavu. Indi paling tidak suka larangan tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh pergi? Mereka teman-teman kantorku."
"Iya... tapi, aku melihat foto-fotonya disosial media. Temanmu menandaimu, kalian terlalu akrab."
"Kamu cemburu?"
"Iya, aku cemburu. Aku tidak suka kamu dekat dengan mereka."
"Arga....mereka hanya teman-temanku. Kalau kamu melarangku pergi dengan mereka, berarti kamu tidak percaya padaku." ucap Indi.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas tentang ini. Aku tidak mau kita bertengkar lagi, okey?!. Lagipula aku baru bangun, moodku belum tercemar." Indi mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau pembatasan berteman terjadi lagi. Dirinya juga sudah cukup dewasa untuk mengetahui dan memilah mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dia juga tidak mau ribut karena masalah sepele. Indi selalu berusaha menjaga kesetiaannya.
Beda halnya dengan Arga. Dia tidak biasa dengan kehidupan sampai larut malam seperti itu. Arga sangat kesal tidak dipedulikan oleh Indi. Dia tidak ingin melarang Indi, dia hanya tidak ingin kehilangan Indi. Itu saja. Tanpa dia sadari, sikapnya ini akan menjadi boomerang yang bisa saja membuat Indi merasa bosan dengannya dan menjauhinya.
Doni datang kerumah Indi. Dia mengatakan kalau malam ini akan ada pentas dipanggung seni dekat rumah Indi. Doni mengajak Lia pergi. Otomatis Lia juga akan mengajak Indi. Akhirnya Doni, Lia, Indi, Kak Maria dan pacar Kak Maria sepakat untuk pergi bersama.
"Hanya aku yang tidak berpasangan." Gumam Indi sedih. Seandainya saja disana ada Arga, dia pasti akan sangat bahagia.
"Sayang, Doni mengajak aku untuk menonton pertunjukan malam ini. Acaranya mulai jam tujuh malam. Aku sangat suka pertunjukan seni disana. Ada tarian tradisional yang diiringi beberapa lawakan. Aku, Kak Maria, pacarnya, Lia dan Doni akan pergi."
"Coba saja ada kamu disini, aku pasti akan sangat senang." Indi mengirim dua pesan untuk Arga.
Satu jam kemudian Arga baru membaca pesan Indi.
"Sayang aku baru selesai main tenis dengan teman-temanku." balas Arga.
"Ini malam minggu. Seharusnya kita menelepon. Apakah kamu akan tetap pergi?" Arga mengirim pesan lagi. Arga berharap kali ini Indi benar-benar akan mengubah keputusannya dan tidak pergi. Ini malam Minggu, Arga ingin Indi menemaninya lewat telepon.
"Ya, aku akan tetap pergi. Walaupun nanti aku harus siap-siap iri melihat mereka bermesraan." kata Indi menyindir karena Arga tidak bisa menemaninya.
__ADS_1
Sudah jam enam sore, artinya sebentar lagi Indi akan pergi bersama saudara-saudaranya. Arga mulai risau. Dia membayangkan malam ini Indi tidak akan menemaninya lagi. Seperti biasa, saat apa yang dia inginkan tidak terjadi, dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Arga menelepon Indi. Berharap Indi akan berubah pikiran.
"Kamu jadi pergi?" sapa Arga begitu Indi menerima panggilan teleponnya.
"Iya, jadi. Sebentar lagi berangkat."
"Sayang, temani aku. Jangan pergi." pinta Arga.
"Nanti kita masih bisa saling berkirim pesan. Kamu tenang saja. Dan kali ini nggak akan sampai terlalu malam. Mungkin sampai jam sepuluh saja, aku akan pulang." jelas Indi.
"Kenapa sih kamu nggak ngerti perasaanku? Kamu pilih aku atau tontonan itu?" Arga mengancam dengan nada agak tinggi. Sebenarnya dia tidak melarang Indi menonton. Seandainya dia bisa menemani, mereka pasti akan menonton bersama. Dia hanya ingin Indi menemaninya.
"Kamu kenapa seperti anak kecil sih? Masa aku cuma duduk diam dirumah menunggu telponmu saja." Kita kan bisa menelpon darimana saja." Indi sedikit kesal karena Arga selalu saja tidak mengijinkannya.
"Bukan begitu. Tapi nanti kamu disana akan ketemu banyak orang. Trus kalau ada cowok yang tiba-tiba suka sama kamu gimana?" Arga mulai ngelantur, karena sebenarnya bukan itu alasannya melarang Indi pergi,
"Kalau kamu nggak mau aku disukai laki-laki lain, kamu datang kesini sekarang trus temani aku pergi." Indi menantang.
Itu tidak mungkin dilakukan Arga. Ini sudah jam enam sore. Kalau dia berangkat sekarang, dia akan kemalaman dijalan. Didesa sangat dingin. Pergi jauh jam segini akan membuatnya beku dijalan.
"Pokoknya kamu jangan pergi, titik." Ucap Arga tidak mau kalah.
"Maaf, aku tidak suka dibatasi. Kalau aku bisa memilih, aku akan memilih tontonan itu bersamamu. Kamu sendiri juga tidak bisa berada disini untuk membuatku memilih itu. Lagipula aku sudah janji dengan saudara-saudaraku. Tidak ada alasan bagiku untuk membatalkannya." Indi tidak mau mengikuti kemauan Arga untuk membatalkannya. Bukan karena dia ingin menjadi pembangkang. Tapi dia berkaca dari pengalamannya terdahulu. Betapa tersiksanya tidak boleh berhubungan atau pergi dengan siapapun karena dilarang oleh seseorang yang baru berstatus pacar.
"Kak Indi, ayo kita berangkat." Terdengar suara Lia memanggil Indi.
"Tunggu sebentar, kakak kedepan sekarang." Indi nampak menjawab panggilan Lia.
"Sudah ya.. aku berangkat dulu. Nanti aku telpon kamu lagi." kata Indi kemudian menutup panggilan teleponnya tanpa memberi kesempatan pada Arga untuk menjawab.
"Haisss.... lagi-lagi dia pergi." Arga mendesah seraya membanting ponselnya dikasur. Dia sangat kesal.
__ADS_1
~**Happy reading~**