
“Selamat pagi, kamu sudah bangun?” Arga mengirimkan pesan pada Indi jam 6 pagi seperti biasanya.
Indi segera membuka matanya. Dia tahu bunyi pesan yang masuk diponselnya pasti dari Arga.
“Iya sudah …” jawabnya sumringah sambil menggosok-gosok matanya.
“Kerja jam berapa hari ini?” Arga berbasa-basi.
“Jam 9 seperti biasa. Kamu sudah siap2 berangkat ke sekolah?” Indi bertanya balik.
Setengah jam berlalu, mereka masih tetap bercakap-cakap dengan obrolan ringan yang bisa dibilang tidak penting tapi penuh makna bagi mereka yang sedang dimabuk cinta.
Lia duduk disamping Indi. Dia sedang siap-siap untuk ke kampus. Namun ada yang agak aneh menurutnya. Tak biasanya dia melihat kakaknya senyum sebahagia itu. Apalagi masih pagi, saat dia baru saja membuka matanya.
“Pagi-pagi udah senyam-senyum aja …” Lia mengganggu Indi.
“Hmm…biarin. Memangnya nggak boleh?” Indi menjulurkan lidahnya.
“Punya gebetan baru ya??? Kok nggak cerita??” Lia mengorek-ngorek informasi sambil memakai maskara di bulu matanya.
Tapi tebakan Lia sangat tepat. Belakangan ini Lia sibuk membuat tugas kampus bersama teman-temannya. Kadang-kadang Lia sampai rumah ketika Indi sudah tidur. Maka dari itu, Indi belum sempat menceritakan apapun pada Lia.
Indi tersenyum manis dan bangkit dari tidurnya. Dia menghadap Lia yang sedang dandan didepannya.
“Eh .. eh … tahu nggak, kakak sekarang lagi dekat sama Arga lho ….” Dari nada bicaranya saja sudah ketahuan apa yang dirasakan Indi saat ini.
Lia tersentak kaget dan menutup botol maskaranya.
__ADS_1
“Hah? Arga? Mantan guruku? Si Cungkring yang menyebalkan itu?” Lia menyerang Indi dengan banyak pertanyaan.
Lia memang suka memanggil Arga dengan sebutan cungkring. Karena Arga terlalu tinggi, kurus dan kurang berotot. Tingginya sekitar 170 cm, dengan berat yang tidak lebih dari 50 kg. Panggilan itu sangat cocok untuknya. Mencerminkan tubuhnya yang kurus kering.
“Iya, si cungkringmu yang menurutmu menyebalkan itu. Yang selalu kamu anggap berusaha menyiksamu. Tapi dia ganteng banget tau ….” Indi melompat dari kasurnya, mengacak-acak rambut Lia yang sedang bercermin, lalu melaju kekamar mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
“Idih … kayak pernah ketemu aja .…” Lia sedikit berteriak karena Indi sudah menutup pintu kamar mandi. Suara dengan nada sedang tidak akan didengarnya.
"Nanti malam Kak Indi cerita ya bagaimana bisa begitu." Lia melanjutkan dandanannya yang belum selesai.
"Iya, pasti." Indi menyahut sambil mengambil handuk dan bersiap untuk mandi.
Setelah semuanya siap, Lia pamit pada Indi dan berangkat kekampus. Disusul oleh Indi berangkat kekantor.
***
Beberapa hari bersama Arga rupanya bisa membuat Indi melupakan luka-luka lama dan traumanya pada laki-laki. Ya, walaupun yang dibilang Lia ada benarnya juga. Kadang-kadang Arga menyebalkan. Tapi perhatian-perhatian kecil Arga membuat Indi mabuk kepayang. Perhatian yang sepertinya tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
“Kamu sudah makan siang?”
“Baru aja selesai. Kamu sudah makan?” Seperti biasa Indi membalas pesan-pesan Arga sesegera mungkin setelah dia menerimanya.
"Sudah. Kamu makan apa hari ini?"
"Aku makan gado-gado"
"Trus sekarang kamu lagi ngapain? Udah siap-siap balik kerja lagi?"
__ADS_1
"Ini aku sedang istirahat sambil ngobrol sama teman-teman." Indi tetap membalas pesan dari Arga sambil sesekali dia tertawa bersama sahabat dan teman-teman lainnya.
Mereka sedang berkumpul di pantry kantor. Tempat itu lumayan luas, memang disediakan untuk tempat makan siang staff. Meja makan berjejer rapi. Semuanya lengkap diruangan itu. Ada mesin pemanas makanan, kulkas, bahkan tv kabel juga disediakan disana untuk menemani istirahat siang mereka.
Biasanya setelah makan, mereka akan duduk disana menghabiskan waktu istirahat mereka sambil membicarakan hal-hal diluar pekerjaan. Beberapa akan asik dengan ponselnya dan tidak memperhatikan orang-orang disekitar, beberapa akan mengobrol santai dan beberapa akan sibuk berebut channel televisi.
“Oh ... teman-temanmu ada berapa orang? Cewek apa cowok?”
“Teman-teman kantorku banyak. Ada cewek ada cowok. Kenapa?”
“Kamu jangan dekat-dekat dengan yang cowok-cowok, oke?!. Sekarang aku harus kembali ke kelas untuk mengajar. Nanti malam kalau kamu sudah pulang kerja aku telepon. Bye ....” Arga menutup percakapan dan memasukkan ponselnya kedalam tas tanpa menunggu jawaban Indi karena dia sudah hampir terlambat keruang kelas.
“Idih ... belum juga apa-apa sudah ngelarang-ngelarang. Apa dia cemburu? Apa dia suka padaku?” gumam Indi sambil tersenyum.
Tapi Indi tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Indi tidak mengindahkan permintaan Arga. Dia tidak mau hal yang sama terulang kembali. Yaitu pembatasan pertemanan. Dia meletakkan ponselnya diatas meja dan melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya.
Arga memang sedikit cemburuan. Dia tidak suka wanita yang disukainya dekat dengan pria lain. Dia takut kalah saing, dia takut wanitanya direbut. Apalagi tidak mudah baginya untuk mendapatkan Indi. Tapi dia juga tidak seganas Wiko. Arga masih jauh lebih lembut mencintai perempuan.
Cinta?
Arga sebenarnya bingung dengan perasaannya. Disatu sisi dia mengagumi Indi dari cerita-cerita yang dia dengar. Walaupun mereka belum pernah bertatap mata secara langsung. Namun orang-orang yang bercerita tentang Indi adalah orang-orang yang mengenal Indi cukup lama. Terlebih lagi, beberapa minggu dekat dengan Indi membuat hatinya merasa nyaman.
Namun disisi lain, dia sudah menjalin hubungan dengan Hera, salah satu teman mengajarnya. Dia tidak ingin Indi tahu tentang hal ini. Arga tidak pernah menceritakannya pada Indi. Tidak banyak yang tahu tentang hubungan Arga dan Hera. Hanya orang-orang terdekat saja yang mendengar kabar ini. Itupun dari Hera, karena dia sangat bangga bisa berpacaran dengan Arga. Arga sangat merahasiakannya. Mungkin karena perasaannya tidak sepenuhnya pada Hera.
Arga menerima cinta Hera beberapa bulan yang lalu ketika dirinya sedang sedih karena kehilangan akses untuk mengetahui kabar dari Indi. Hera sudah lama menyatakan cinta padanya. Arga berharap berpacaran dengan Hera akan membantunya melupakan Indi. Tapi ternyata dia salah. Semuanya tidak terjadi. Dia tetap tidak mampu melupakan Indi.
Tiba-tiba mendapatkan lampu hijau dari Indi, Arga tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki perempuan itu. Begitu nanti dirinya resmi jadian dengan Indi, mungkin dia akan segera memutuskan hubungan cintanya dengan Hera. “Laki-laki macam apa aku? Kenapa pikiranku sejahat itu?” Arga tidak mengerti dengan isi hatinya. Kepalanya hanya dipenuhi oleh Indi.
__ADS_1
Arga memang sangat mengagumi Indi. Bahkan saat sedang bersama Hera, tidak jarang dia memikirkan Indi. Beberapa kali Arga hampir salah menyebut nama Hera. Dia harus benar-benar berhati-hati jika tidak ingin celaka.
^***Selamat membaca*...Boleh kritik dan saran untuk author dikolom komentar yaa 😉**^