
Edwin sudah bersiap-siap. Dia memilih penerbangan jam sepuluh pagi ke kota tempat tugu monas berada. Sesuai dengan kesepakatan semalam, Indi yang akan mengantarnya ke bandara.
Edwin akan menjemputnya terlebih dulu, Kemudian mereka akan berangkat bersama.
Seusai sarapan bersama dirumah Indi, mereka bersiap untuk berangkat. Indi sudah menggunakan pakaian kerja. Perjalanan ke bandara cukup jauh, dia memakai pakaian senyaman mungkin. Kali ini dia hanya memakai kemeja dan celana kain panjang, dilengkapi dengan sepatu pantofel berwarna hitam yang tidak terlalu tinggi. Pulang dari bandara, dia akan langsung kekantor.
Mereka berdua keluar dari ruang tamu. Indi mengunci pintu rumahnya dan berjalan mendekati Edwin yang sudah menunggunya di tempat parkir motor.
"Kamu cuma bawa koper sekecil itu? Memangnya akan cukup untuk tiga bulan?" Indi kaget melihat koper kecil Edwin ketika mereka keluar dari ruang tamu. Koper itu mungkin hanya bisa menampung sekitar tujuh pasang pakaian. Belum sepatu dan barang-barang lainnya. Koper itu diletakkan diluar, disebelah motor Edwin.
"Cukup kok. Koper ini isinya cuma baju saja. Barang-barang penting ada diranselku." Edwin menunjukkan ransel hitam yang bertengger dipunggungnya.
"Peralatan mandi?"
"Nanti aku beli saja disana."
"Bukannya itu nanti merepotkanmu?" Indi menyesal tidak membantu Edwin packing kemarin. Barang-barang Edwin berada dirumah temannya itu. Dimana sekarang Edwin juga sudah ikut membayar sewa kontrakan sehingga dia merasa bebas untuk datang kesana.
"Justru kalau aku bawa dari sini aku akan repot. Berat, koperku akan penuh. Aku cuma pergi ke Jakarta. Disana barang-barang seperti itu bisa aku dapatkan dengan mudah." sahut Edwin santai.
"Lalu bagaimana dengan sepatu?"
"Sepatunya sudah aku pakai, aku sudah membawa sepasang sandal untuk ganti disana."
"Hanya sepasang sepatu saja? Tidak diganti-ganti?"
"Untuk apa bawa banyak sepatu? Jakarta panas. Aku bisa sering mencucinya dan pasti akan cepat kering. Tenang saja." Edwin selalu mendapatkan alasan yang tepat.
Indi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Memang beda ya, laki-laki dan perempuan kalau bepergian." Indi mendengus. Ada kekhawatiran dimatanya. Takut Edwin akan kelabakan kekurangan pakaian. Dia pasti sibuk dengan pelatihan itu. Mana ada waktu untuk mencuci setiap hari.
"Iya, kamu tenang saja. Aku bisa mengurusnya." Edwin tersenyum.
Tak ada yang bisa Indi lakukan untuk mengubah pandangan laki-laki itu. Tapi Indi mengikuti saja. Edwin sudah biasa bertahun-tahun tinggal diluar negeri sendirian. Edwin benar, dia pasti bisa mengurus diri. Apalagi ini hanya tiga bulan.
Edwin mengendarai motor dan Indi dibonceng seperti biasa. Mata Indi sembab, sepertinya dia menangis semalam. Setelah Edwin pulang dan mengatur rencana mereka hari ini, rupanya Indi benar-benar tidak bisa lagi menahan air matanya. Dinding pertahanannya runtuh juga. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia sangat sedih.
Hari ini, dia tidak menatap Edwin sedikitpun. Dia tidak mau Edwin tahu dia mencurahkan air mata atas kepergiannya selama tiga bulan.
Mereka melewati jalan toll. Pemandangan laut disekitar jalan itu sama sekali tidak menarik hati Indi. Pemandangan indah itu tertutup oleh kabut dihatinya. Memikirkan rindu ini akan semakin berat.
Sampai dibandara, Edwin mencari parkir khusus kendaraan roda dua. Kemudian mereka berjalan beriringan. Edwin menggeret koper dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Indi. Mereka berjalan menuju keberangkatan domestik.
"Ini sudah jam setengah sembilan. Kamu tinggalkan saja aku. Nanti kamu terlambat kerja." ucap Edwin sambil melihat jam ditangannya.
"Tidak apa-apa, aku sudah minta ijin sama managerku untuk datang kekantor lebih siang hari ini. Aku akan menunggumu sampai kamu check in."
"Kamu habis menangis? Kenapa matamu bengkak?"
Indi mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak, aku tidak menangis. Mungkin ada serangga yang menggigitnya." ucap Indi tanpa menoleh kearah Edwin.
"Indi, lihat aku. Kamu habis menangis. Kenapa kamu menangis?" Edwin tahu mata itu lelah mengeluarkan air mata. Apakah ini karena dirinya? Edwin juga tak yakin. Tapi Edwin bukan laki-laki yang suka terbawa perasaan. Dia tidak akan memaksa Indi untuk mengaku.
"Ya sudah, aku harus segera masuk. Kamu berangkatlah kekantor. Hati-hati dijalan." Edwin mengusap kepala Indi dengan lembut. Memperlakukannya seperti gadis kecil.
Indi hanya mengangguk. Dia memperhatikan sampai Edwin benar-benar masuk kemudian Indi meninggalkan bandara.
__ADS_1
***
Setiap hari, Edwin akan memberinya kabar. Mereka akan bercerita tentang kehidupan Edwin selama berada di Jakarta dan bagaimana hari-hari Indi. Indi tidak se-sedih yang dia bayangkan sebelumnya. Walaupun mereka tidak bertemu, tapi jiwa Edwin ada disekitarnya. Selalu melindunginya, memberinya perhatian, meskipun seperti biasa, perhatian itu tidak pernah ia tunjukkan secara langsung. Edwin adalah laki-laki yang cuek dan sangat jarang memikirkan perasaan orang lain. Bukan karena dia egois, tapi memang susah baginya untuk masuk kedalam perasaan orang lain.
Ini sudah hari ke sepuluh mereka berpisah. Mereka jarang berkomunikasi via telepon. Lebih banyak melalui pesan singkat. Karena Edwin harus tinggal sekamar dengan beberapa temannya. Dihari pertama pelatihan, Edwin berkenalan dengan beberapa peserta yang juga berasal dari luar kota. Kemudian mereka memutuskan untuk tinggal bersama untuk menghemat biaya selama berada di ibukota.
Edwin merasa risih bila teman-temannya mendengar percakapannya dengan Indi. Maka dari itu dia memilih untuk berkomunikasi melalui pesan singkat. Indi sangat mengerti keadaan itu.
Mereka sudah menceritakan kejadian hari ini. Hari-hari Edwin sangat melelahkan. Banyak test yang harus dia jalani. Selain test tertulis, dia juga banyak mendapatkan test fisik. Seperti berenang, melakukan penyelamatan seandainya ada korban tenggelam, bagaimana melakukan pertolongan pertama dan sebagainya.
Seperti biasa, Indi akan mendengarkan cerita-cerita Edwin sambil merebahkan tubuhnya dikasur.
Sesekali rahangnya melebar dan pipinya mengembung membaca pesan Edwin. Namun terkadang, dia ikut merasakan kelelahan yang Edwin rasakan.
"Hari ini tanggalnya cantik ya. Bagus untuk jadian." Tulisan Indi ini membuat Edwin terpukau. Indi berani jujur, pikirnya. Edwin mengerti maksud Indi mengajaknya jadian, meresmikan hubungan mereka.
Hari ini adalah tanggal Sebelas Nopember. Jika ditulis dengan angka menjadi 11-11. Sebagai seorang wanita romantis, hal-hal unik seperti itu tidak akan luput dari pandangan perasaannya.
"Sebenarnya sejak beberapa hari bersamamu, aku sudah menganggapmu sebagai pacarku." balasan pesan dari Edwin.
Indi merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca. Ternyata selama ini Edwin menganggapnya pacar? Lalu kenapa Edwin tidak pernah mengucapkan cinta dan memintanya secara langsung untuk menjadi pacarnya? Kadang-kadang sikap Edwin memang agak aneh. Tapi Edwin terlalu menyenangkan untuk dikategorikan sebagai orang aneh.
"Jadi?"
"Kita jadian sayangku." Tulis Edwin meyakinkan.
Indi sangat bahagia membaca barisan huruf yang dirangkai Edwin. Seandainya Edwin ada didepannya, ingin sekali dia memeluk Edwin dan mengulang ciuman yang pernah Edwin berikan seperti waktu itu.
Edwin menaruh ponselnya. Senyum itu tidak lepas dari bibir merahnya. Dia tahu, dia baru saja membuat seorang wanita bahagia. Wanita yang sudah mulai dicintainya dengan tulus.
__ADS_1
*Terimakasih sudah membaca. Terimakasih sudah like, comment dan vote. Terimakasih sudah menandai sebagai favourite 😚😘*