
Saat sedang sibuk bekerja dikantor, tiba-tiba jantung Indi berdetak lebih cepat, darahnya serasa mengalir lebih deras. Dia tidak tahu kenapa bisa seperti ini. "Apa yang akan terjadi?" pikirnya. Dia hanya berdoa tidak ada hal buruk yang akan menimpanya.
Tiba-tiba muncul pesan dilayar ponsel Indi.
"Hallo Indi, sedang apa?"
Indi segera membuka ponselnya. Rupanya itu pesan dari Edwin. Betapa terkejutnya Indi membaca pesan dari Edwin. Tangannya mulai gemetar, tapi dia segera membalas pesan Edwin.
"Aku sedang bekerja kak."
"Oh... di Indo sekarang jam berapa?" tanya Edwin.
"Sekarang jam 2 siang. Ada apa kak?" Indi takut kalau-kalau Edwin ingin membahas hubungan Indi dengan Arga.
"Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja kerjaanmu. Kamu pasti sibuk" Edwin mengakhiri pembicaraan,
"Ada apa ya kira-kira Kak Edwin menghubungiku? Apa ini ada hubungannya dengan Arga? Apakah dia ingin menyampaikan hal penting? Indi kembali bekerja dengan penuh penasaran. "Kalau memang ada yang penting, Kak Edwin pasti akan menghubungiku lagi nanti." pikirnya.
***
Malam ini Indi dan teman-teman kantornya akan menghadiri pesta ulang tahun salah seorang teman mereka dikantor. Terlebih dulu, Indi memberi tahu Arga supaya tidak meneleponnya malam ini.
Belakangan ini Arga suka cemburu tidak menentu. Mungkin karena dia sangat takut kehilangan Indi.
"Sayang, aku sudah dirumah. Sekarang aku mau mandi dulu. Aku mau ke pesta ulang tahun temanku. Malam ini kamu tidur saja lebih dulu, tidak usah meneleponku." Indi mengirimkan pesan itu pada Arga.
"Jam berapa acara ulang tahunnya?"
"Sama siapa saja kamu kesana?"
"Sayang....."
"Sayang.... jawab pesanku!"
"Dimana acaranya?"
"Sayang.... kamu dimana?"
Selesai mandi, Indi melihat deretan pesan dari Arga. Dan puluhan panggilan tak terjawab. Indi segera membalas pesan Arga.
"Aku baru selesai mandi. Sekarang mau siap-siap dulu."
__ADS_1
Menerima balasan pesan Indi, Arga segera menelepon Indi.
"Ya..." Indi menjepit ponsel diantara pipi dan bahunya. Tangannya sibuk memilih-milih baju yang akan dipakai.
"Kamu mandi atau bertapa sih? Lama banget!" kata Arga ketus.
"Ih... kok kamu gitu. Kan aku udah bilang tadi aku mau mandi." Indi mencoba menjelaskan.
"Iya, tapi mandiin apa kamu hampir satu jam? atau jangan-jangan kamu mandi berdua. Sama siapa kamu?"
"Kamu kenapa sih? Apa salahnya aku mandi lama? Kan aku sambil nyuci baju yang aku pakai tadi."
"Kamu pasti sama cowok disana. Kamu sedang berdua. Ayo ngaku kamu sama siapa?" Arga mulai menyerang Indi dengan pertanyaan yang tidak-tidak.
"Iya, aku berdua. Sudah jelas sama Lia. Kamu salah makan apa sih hari ini? Kok tumben jutek gitu?" Indi agak kesal karena dia merasa dituduh Arga. Indi tidak mengerti dengan sikap Arga hari ini. Sejak siang tadi dia agak berbeda. Pada waktu istirahat makan siang tadi juga Arga menelepon sambil marah-marah. Mungkin saja dia sedang banyak pikiran urusan pekerjaannya. Atau dia sedang bermasalah dengan Hera dan melampiaskan pada Indi?
"Bohong....." ucap Arga.
"Kalau kamu masih marah-marah begini, atau tak percaya padaku, lebih baik tutup saja telponnya. Aku mau siap-siap, sudah terlambat." Sambung Indi ketus.
Sebenarnya Arga bersikap begitu karena dia terlalu rindu pada Indi, dan malam ini Indi tidak bisa menemaninya. Itu membuat Arga sedih. Terlebih ketika Indi tidak membalas pesannya dalam waktu yang cukup lama. Emosinya tidak terkontrol. Dia ingin Indi membatalkan acaranya, tapi itu pasti terlalu egois.
Indi menutup sambungan telepon itu dan mulai berdandan. Kemudian dia pergi bersama teman-temannya.
Indi mengenal semua orang yang hadir karena Evelyn, teman Indi yang berulang tahun hanya mengundang rekan-rekan dikantornya saja. Mereka berbaur sambil bercengkrama. Indi bisa melupakan Arga sejenak.
Ada yang asik minum minuman keras, ada yang bercengkrama, ada yang bermain game, swafoto bersama dan banyak sekali kegiatan. Dia bermain game melempar bola pingpong kedalam gelas. Ada yang bermain menumpuk kaleng-kaleng minuman, dan banyak lagi permainan lainnya. Yang kalah harus minum. Jika Indi kalah, dia hanya akan minum soft drink saja. Sesekali Indi ngobrol dengan teman-teman yang jarang dia temui diluar kantor. Kali ini membicarakan urusan pribadi, bukan urusan pekerjaan. Indi dan teman-temannya sangat menikmati pesta itu.
"Terimakasih sudah datang teman-teman" Ucap Evelyn setengah mabuk. Evelyn mencium pipi temannya satu persatu. Budaya barat memang sudah lazim dalam pergaulan mereka. Namun Indi masih tetap gadis lugu dari desa, dia sama sekali tidak menyentuh minuman keras.
***
Sudah jam dua pagi. Indi dan keempat sahabatnya, Alex, Ani, Dinda dan Karen melaju pulang dengan mobil yang dikendarai Alex.
Sesampainya dirumah, Indi langsung menuju kamar mandi, membersihkan wajahnya kemudian bersiap-siap untuk tidur. Lia sepertinya sudah tertidur pulas, tidak menyadari kedatangan Indi.
Indi membaringkan badan dikasur. Jam tidurnya sudah lewat. Tidak biasanya dia tidur subuh seperti ini. Indi mengantuk, tapi tidak bisa memejamkan matanya.
Indi mengambil ponselnya dan membaca-baca pesan WhatsAppnya dengan Arga untuk membuatnya mengantuk. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, darahnya terasa mengalir deras lagi.
Ting... ponsel Indi berbunyi.
__ADS_1
"Masih online aja, kamu belum tidur?"
Pesan itu lagi-lagi dari Edwin.
"Aku baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman" jawabnya. Indi bingung, kenapa Edwin setiap hari mengiriminya pesan sejak mereka berteman disosial media. Dan sebelum kemunculan pesan dari Edwin, jantungnya pasti berdetak kencang disertai darah yang mengalir deras.
"Oh...dimana pesta ulang tahunnya?"
"Di Restaurant Mawar dipinggir pantai kak"
"Kalau nggak salah, di Indo sekarang jam 2.30 pagi kan? Kamu nggak ngantuk?"
"Ngantuk, tapi belum bisa tidur. Kenapa kak?"
"Nggak apa-apa. Jangan panggil aku kakak, panggil saja Edwin." pinta Edwin.
"Baiklah"
"Oiya, kalau aku chat sama kamu, apa nggak ada yang marah?" Edwin memancing. Sebenarnya ingin bertanya "kamu sudah punya pacar belum?" dengan cara halus.
"Marah? nggak akan ada yang marah kok." jawab Indi bingung.
"Pacar kamu misalnya?"
Arga melarang Indi menceritakan hubungan mereka pada Edwin. Jadi karena bingung dan tidak mau dicerca pertanyaan tentang siapa pacarnya, Indi menjawab sembarangan.
"Aku nggak punya pacar" kata Indi.
"Duh...bicara apa aku?" Gumam Indi dalam hati, dia memukul-mukul dahinya, menyesali jawabannya.
Edwin senang sekali mendapat jawaban begitu. Dia merasa mendapat lampu hijau untuk mendekati Indi.
"Kalau mantan ada kan?" Edwin mengorek-ngorek informasi.
Setengah jam berlalu, sepertinya obrolan mereka sudah mengarah kepada Edwin melakukan pdkt pada Indi.
"Nanti kalau aku pulang ke Indo, boleh nggak aku main kerumahmu?" kata Edwin.
Walaupun Arga melarang, tapi sebaiknya Indi jujur. Daripada Edwin berharap lebih jauh. Perasaan Indi mulai tidak tenang.
"Edwin, maaf....sebenarnya aku sedang dekat sama adikmu" Indi memberanikan diri untuk jujur.
__ADS_1
***Happy reading^,^. Terimakasih sudah like, comments, vote dan menandai sebagai favourite 😍***