
Mereka sampai dirumah kontrakan Indi. Indi masuk keruang tamu. Edwin mengikutinya dari belakang. Dan tanpa Indi sangka, Edwin memeluknya dari belakang.
Darah hangat mengalir membasahi seluruh urat nadi mereka. Bunga-bunga bermekaran didalam hati. Jangan tanya bagaimana detak jantung mereka. Sudah pasti sangat cepat berpacu bagai kuda.
Indi membiarkan dirinya berada dalam dekapan Edwin. Secara tidak sadar, dia merengkuh jari-jari tangan Edwin, menggenggamnya dengan erat. Tapi dia tidak bersuara, dia tidak ingin mempertanyakan apa maksud Edwin memeluknya. "Biarkan saja begini." pikirnya.
Hampir dua minggu mereka bersama, Edwin mulai mengerti. Kerasnya aliran darah dan kencangnya detak jantung yang selama ini dia rasakan setiap kali mengingat Indi sebelum mereka bertemu adalah reaksi tubuhnya terhadap cinta. Memang banyak wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Edwin, tapi belum pernah dia merasakan perasaan seperti ini. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana bisa dia mencintai seorang wanita tanpa pernah melihat bentuk matanya. Jika pepatah mengatakan, cinta berasal dari mata turun ke hati, itu tidak berlaku untuk Edwin.
Edwin menempelkan pipinya dipipi Indi. Halus, lembut, hanya itu yang bisa dia ungkapkan. Selebihnya hanya bisa dia rasakan tanpa kata. Demikian juga dengan Indi, dia menikmati kelembutan Edwin dan panasnya udara yang keluar dari hidung Edwin. Hanya satu centi dari ujung hidungnya.
Mereka sangat menikmati moment itu.
Edwin memutar tubuh Indi, namun Indi tidak berani menatap Edwin. Dia takut Edwin bisa membaca dimatanya, ada cinta yang mulai dia akui.
Mereka berhadapan. Tubuh tinggi Edwin membuat pandangan mata Indi hanya sampai di dadanya. Edwin melingkarkan kedua tangannya dileher Indi, sedangkan Indi memegang pinggang Edwin.
Dengan jari-jarinya, Edwin menarik dagu Indi penuh kelembutan sehingga mata mereka beradu. Benar saja, Edwin bisa membaca saat ini Indi merasakan apa yang sedang dia rasakan.
Edwin memiringkan kepalanya, bibirnya menyentuh bibir Indi. Sangat manis rasanya. Mereka menikmati kebersamaan mereka dalam diam.
Setelah lama, pelan-pelan Edwin melepaskan pelukannya. Sebagai laki-laki normal, dia takut tidak akan bisa menahan diri jika ini dia lakukan lebih lama.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh." Ucap Edwin.
"Tidak apa-apa, aku tidak lelah."
"Aku ada janji dengan teman-temanku. Aku pergi dulu, nanti sore aku kembali."
Tidak ada yang bisa Indi lakukan selain menyetujui apa yang Edwin katakan. Dia hanya mengangguk.
Edwin mengambil motornya dan pergi meninggalkan Indi.
Sepeninggal Edwin, Indi merebahkan tubuhnya disofa. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hubungannya selangkah lebih dekat dengan Edwin. Senyum indah merekah dibibir Indi. Ini akan menjadi memori yang tak terlupakan.
Tapi dia tidak boleh terhanyut dalam perasaannya, dia takut hal yang sama terjadi. Kejadian yang lalu, saat dia sedang berbahagia, tiba-tiba mendapat kabar bahwa Arga sudah ada yang memiliki. Itu akan menghancurkan hatinya lagi dan lagi. Baru saja, Edwin berusaha mengobati hatinya. Indi harus berhati-hati.
***
__ADS_1
Hari Senin datang. Mereka harus beraktifitas seperti biasa. Seperti beberapa hari sebelumnya, Edwin akan datang menjemput Indi dan mengantarkannya bekerja. Kemudian Edwin akan mengurus semua urusannya sampai tiba waktunya Indi pulang, dia akan menjemput Indi.
Semua ini atas keinginan Edwin. Padahal, Indi sudah menolaknya karena dia takut merepotkan Edwin. Tapi Edwin tetap datang setiap pagi. Mau tidak mau, dengan senang hati Indi berangkat bersama Edwin.
Tidak terkecuali hari ini. Edwin sudah menunggu. Selesai mengantar Indi, Edwin pergi kekantor agent untuk membawa surat pernyataan yang sudah ditanda tangani oleh kedua orang tuanya.
Edwin tidak seromantis Arga. Saat jam makan siang, Edwin tidak akan menelepon Indi. Dia akan mengirimkan pesan kapanpun dia mau. Jika pesan darinya mengganggu, Indi cukup mengabaikan pesannya. Edwin tidak pernah marah jika pesannya tidak dibalas. Perlakuan itu justru membuat Indi merasa lebih nyaman.
Hari ini, Edwin tumben menelepon Indi saat Indi sedang berada dikantor.
Dengan antusias Indi menerima panggilan itu, walaupun dia sedang bekerja.
"Hallo...." sapa Indi penuh senyuman.
"Indi, kamu lagi sibuk nggak?"
"Lumayan, kenapa?"
"Nanti kamu pulang jam berapa?"
"Nanti aku jemput kamu jam lima. Habis itu tolong antar aku ke travel agent ya."
"Untuk apa kesana?"
"Aku harus ke Jakarta minggu depan."
Bagaikan disambar petir, hati Indi terguncang. Dia tidak membayangkan bagaimana jika Edwin pergi dari hidupnya.
"Jakarta? Untuk apa ke Jakarta?"
"Aku harus mengikuti pelatihan untuk memenuhi standard bekerja di kapal pesiar. Nanti malam kita sambung lagi ceritanya ya. Sekarang kamu bekerja saja dulu."
Mata Indi tampak berkaca-kaca. Tapi dia berusaha untuk menahan air matanya. Dia sedang berada dikantor.
***
Sudah jam lima sore. Edwin sudah menunggu didepan kantor Indi yang megah. Para security rupaya sudah mengenal Edwin sebagai kekasih Indi karena sudah sering datang untuk mengantar dan menjemput Indi.
__ADS_1
"Saya panggilkan Ibu Indi ya Pak. Mohon tunggu sebentar." kata seorang security pada Edwin. Mereka memperlakukan Edwin dengan sangat sopan karena Indi adalah salah satu orang penting diperusahaan itu.
"Tidak usah pak, saya sudah kirim pesan." kata Edwin.
"Baiklah." Security itupun duduk kembali diposnya.
Indi keluar dari pintu utama. Dia langsung menuju tempat biasa Edwin menunggunya. Dia berjalan bersama dengan wakil direktur operasional yang sedang berjalan untuk pulang juga.
"Is he your boyfriend? (Apakah dia pacarmu?)" tanya wakil direktur begitu melihat Edwin yang berdiri disamping motornya melambaikan tangan kearah Indi.
Wakil direktur operasional dikantor Indi adalah seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris. Namanya Claire. Claire sudah menikah dengan seorang laki-laki berkebangsaan Indonesia dan mereka menetap di Indonesia. Mereka juga sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik, dia baru berusia dua tahun.
"No, he is my friend. (Bukan, dia temanku.)" Sahut Indi sambil tersenyum.
"He's so handsome and tall. You suit him. (Dia sangat tampan dan tinggi. Kamu cocok dengannya.)" imbuh Claire. Claire menyenggol bahu Indi sambil tersenyum. Dia bermaksud untuk menggoda Indi.
Hubungan Indi dan Claire memang dekat. Lebih dari sekedar assistant manager dan wakil direktur.
"Soon, he will be my boyfriend. (Sebentar lagi, dia akan jadi pacarku.)" Indi mengerlingkan matanya pada Claire.
"Ahhh...I'm so happy for you. I wish you all the best. (Aku turut berbahagia. Aku berharap yang terbaik untukmu.) Claire menepuk-nepuk pundak Indi. Tampak pancaran kebahagiaan yang tulus dimata Claire. Sebelumnya, Claire pernah mengetahui kisah cinta Indi dengan Wiko. Kali ini, dia benar-benar ingin Indi bahagia bersama laki-laki yang berdiri diujung sana.
Edwin hanya tersenyum dari jauh melihat mereka bercengkrama tanpa tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi dia bisa menduga, sepertinya mereka membicarakan dirinya karena Indi dan Claire beberapa kali menoleh kearahnya diikuti dengan senyuman.
"What's his name? (Siapa namanya?)"
"Edwin." Sahut Indi singkat.
"Have a nice evening with Edwin. See you tomorrow. (Semoga soremu menyenangkan dengan Edwin. Sampai jumpa besok.)" ucap Claire.
Kemudian mereka berpisah. Claire menuju parkir mobil dan Indi melangkah menghampiri Edwin yang sedari tadi sudah dengan sabar menunggunya.
"Kenapa senyum-senyum?" Indi membuyarkan lamunan Edwin yang terpesona melihat senyum Indi saat berbicara dengan Claire.
"Tidak...tidak apa-apa." Edwin naik keatas motornya dan disusul oleh Indi. Setelah membicarakan tujuan travel agent terdekat, Edwin segera menyalakan motornya dan mereka berangkat.
*Selamat membaca, silahkan like, comments, vote dan tandai sebagai favourite yaaaa...😍*
__ADS_1