
Setahun berlalu, Arga sama sekali tidak pernah menghubungi Indi. Arga ingin menghubungi Indi, namun dia terlalu takut. Setiap kali dia ingin menghubungi Indi, dia selalu mengurungkan niatnya. Arga bukan takut pada perempuan, tapi setelah dia mendapatkan balasan pesan hari itu dari Indi, Arga berusaha mendekati Lia untuk mendapatkan informasi tentang Indi. Dari Lia, Arga tahu bagaimana tabiat kekasih Indi. Arga memang kecewa dengan balasan Indi. Tapi dia bisa maklum kenapa Indi melakukan itu.
"Putuskan saja pacarmu dan pacaran denganku." Sesekali Arga ingin mengirim pesan bertuliskan seperti ini untuk Indi. Namun dia tidak mau Indi menjadi korban hanya karena kecerobohannya mengirimkan pesan pada Indi.
Mendengar cerita Lia, membuat Arga semakin tertarik pada Indi dan yakin bahwa Indi adalah wanita yang selama ini dicarinya. Lia juga mengaku pada Arga kalau dia sering menceritakan tentang dirinya pada Indi dan Indi selalu menanggapi dengan senyuman. Hal itu jelas saja membuat Arga senang. Tapi Indi sudah dimiliki orang lain. Arga hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Sejak Lia lulus dari SMA, Arga seperti kehilangan jejak. Dia tidak tahu lagi, kemana dia dia harus mencari kabar tentang Indi. Sebelumnya, dia sering memantau halaman sosial media Indi. Tapi belakangan ini Indi juga jarang memperbarui halamannya. Arga hampir tidak tahu lagi kabar Indi. Tapi wanita itu masih tetap mengisi hatinya yang kosong.
Sekarang, Indi sudah putus dengan pacarnya itu. Indi merasa mungkin dia harus mulai menjalin komunikasi dengan Arga. Laki-laki yang pernah memberi sinyal padanya, dan diam-diam pernah dia kagumi. Mungkin dia pernah menyakiti Arga. Apakah Arga tidak menyimpan dendam padanya? Apa tidak memalukan kalau harus menghubungi lebih dulu? Apakah dia nanti akan membalas kalau Indi mengiriminya pesan? Banyak pertanyaan terbesit dikepala Indi.
Indi mulai membuka profil Arga dihalaman facebooknya. Melihat foto Arga, Indi seperti terhipnotis oleh ketampanan Arga. Ingin sekali dia menghubungi Arga. Mungkin untuk sekedar mengetahui kabarnya. Arga telah berhasil membuat pikirannya tidak karuan. Tapi dia terlalu bingung. Indi menopang pipi kiri dengan tangan kirinya dengan siku yang menempel dilututnya. Tangan kanannya memegang keyboard laptop namun tidak ada pergerakan. Tatapannya kosong. Pikirannya mulai menerawang kemana-mana.
***
“PLAK. Kenapa kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?” Wiko membentak sambil menampar Indi dengan sangat keras.
__ADS_1
Indi seperti tidak siap menerima tamparan itu.
“Aku tidak menghubunginya! Tapi dia yang menghubungiku.” Indi membela diri, dia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan hebat itu.
“Sama aja! Untuk apa dia ngajakin kamu nonton kalau kamu tidak memberikan sinyal?” Wiko sangat marah. Suaranya juga sangat keras. Sepertinya dia sudah terbakar api cemburu dan tak ada yang bisa meredamnya.
“PLAK ... PLAK ....” Wiko menampar dan memukul Indi berkali-kali. Indi jatuh tersungkur dan tidak bisa melawan Wiko lagi. Wiko laki-laki berotot. Badannya besar, tenaganya sangat kuat. Indi hanya mampu menangis sambil berusaha membela diri. Mata dan bibirnya berdarah akibat pukulan Wiko.
“Dia ngajak aku nonton, tapi kami tidak berdua saja. Dia juga pasti mengajak teman-teman yang lain. Lagipula, aku belum menerima ajakannya. Kenapa kamu menyalahkan aku?” Indi masih tetap membela diri. Tangisnya semakin keras menahan sakit dan juga kekecewaannya pada Wiko. Laki-laki itu tidak pernah melihat dari dua sisi, dia terlalu posesif. Tidak pernah mau meminta ataupun mendengarkan penjelasan lebih dulu.
Kali ini Indi merasa kepalanya sedikit pusing. Dunia rasanya sudah berputar-putar. Segera dia duduk supaya dia tidak pingsan. Dia tidak mau terlihat lemah dan seolah mengharapkan belas kasihan. Darah segar mengalir dari hidungnya. Indi segera menutup hidungnya dengan kedua tangannya untuk menghentikan darahnya.
“Lebih baik aku pergi. Semakin lama aku disini, bisa-bisa kamu mati ditanganku.” Sambung Wiko dengan nada sangat tinggi sembari mengambil jaket dan helmnya, kemudian meninggalkan rumah Indi dengan luka-lukanya.
Indi mengambil tisu dan membersihkan darah dihidungnya. Indi tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Dia hanya bisa menangis. Dia merasakan sakit jiwa raga. Itulah yang selalu Wiko lakukan pada Indi jika ada hal-hal yang membuatnya marah. Bahkan hal sepele sekalipun bisa berujung dengan penganiayaan seperti itu.
__ADS_1
Laki-laki yang dimaksud adalah Alex. Dia adalah teman baik Indi dikantor. Walaupun mereka berbeda divisi, namun mereka sangat akrab. Bukan hanya dengan Indi, tapi juga dengan teman-teman lainnya. Kadang-kadang selesai bekerja, mereka berlima akan kumpul di cafe depan kantor mereka. Ya, mereka sahabat baik berlima. Ada Alex, Dinda, Karen, Ani dan Indi. Alex satu-satunya laki-laki dalam persahabatan itu. Mereka akan ngopi bareng disana sambil bercerita mengenai hal-hal diluar pekerjaan. Alex memang tertarik pada Karen. Namun, perasaan mereka, sahabat yang mungkin hampir seperti saudara. Ada saja hal-hal yang bisa mereka tertawakan.
Siang itu, ketika Indi sedang bersama Wiko, tiba-tiba muncul pesan singkat diponsel Indi.
"Ndi, nanti sore nonton yuk ada film bagus," tulis Alex.
Indi sudah sangat sering menceritakan tentang Alex dan bagaimana hubungan mereka pada Wiko. Siapa saja sahabat-sahabatnya, namun Wiko tidak pernah tertarik untuk mendengarkan. Walaupun yang mengiriminya pesan adalah salah satu dari tiga sahabat perempuannya, hasilnya juga akan sama saja. Siapapun yang mengirim pesan, Wiko pasti akan tetap marah. Karena dia tahu, kalau pesan datang dari salah satu dari lima serangkai itu, mereka pasti akan pergi berlima. Dan pasti akan ada Alex disana. Wiko tidak suka.
Keempat sahabat Indi sudah sering menyarankan Indi untuk putus saja dengan Wiko. Mereka tidak tega melihat sahabatnya menderita seperti itu. Namun Indi selalu bersikeras untuk mempertahankan hubungan ini.
Ketika Wiko marah, sering kali Indi mengalah, dia memilih untuk tidak pergi bersama teman-temannya untuk menghindari masalah dengan Wiko dan harus menebus kesalahan dengan mentraktir sahabatnya itu keesokan harinya dikantor.
Melihat tanda pesan muncul, Wiko dengan cepat mengambil ponsel Indi dan membacanya sebelum Indi sempat menyentuh ponselnya. Kemarahannya tak terelakkan lagi melihat si pengirim pesan adalah Alex. Laki-laki yang dibencinya. Yang Wiko anggap sebagai saingannya. Hal itu sontak membuat Wiko membabi buta. Indi belum sempat menjelaskan apa-apa pada Wiko. Hati Wiko sudah tertutup. Diapun tidak segan menganiaya wanita yang dicintainya. Apa dia memang cinta? Kenapa tega menyakiti kalau memang cinta? Entahlah... yang jelas mereka membangun komitmen sebagai sepasang kekasih.
~Happy reading ^.^~
__ADS_1