Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Putus


__ADS_3

Seorang pelatih renang segera mendekati Indi dan meraih tangannya. Membawanya ketempat yang lebih dangkal sampai Indi berhasil memijakkan kakinya. Dia benar-benar berterimakasih kepada pelatih renang yang telah menyelamatkan nyawanya yang hanya ada satu.


Seusai melepaskan tangan Indi, rupanya Edwin langsung berenang menuju ujung kolam yang panjangnya sekitar lima belas meter, sehingga Edwin tidak mendengar teriakan Indi. Dia berpikir Indi akan menggerakkan tangan dan kakinya didalam air untuk mengikutinya mengarungi kolam dengan kedalaman dua meter itu.


Edwin melihat Indi berdiri diujung sana tanpa tahu apa yang terjadi. Dia kembali mencari Indi dengan cara berenang.


"Tadi kamu hampir membuatku mati tenggelam," geram Indi ketika Edwin datang merengkuh jemarinya untuk mengajaknya berenang lagi.


"Maksudmu?"


"Tadi aku benar-benar hampir tenggelam. Bapak itu yang menyelamatkanku." Indi menunjuk seseorang yang sedang sibuk melatih seorang anak.


"Maaf, aku pikir kamu akan mengikutiku."


"Mana mungkin aku bisa mengikutimu, aku tidak bisa berenang," sadunya penuh haru.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu." Edwin menggenggam tangan Indi.


Indi memasang muka masam.


"Aku mau berendam disini saja, aku nggak mau kemana-mana. Berenanglah," perintah Indi.


Edwin berenang kesana kemari. Lia dan Doni juga asik berenang. Hanya Indi yang duduk santai.


Sesekali mereka bertiga istirahat dari renangnya dan mengambil foto. Banyak sekali pose mesra Indi dan Edwin yang diambil oleh Lia dan Doni secara diam-diam.


Setelah puas berenang, mereka kembali keruang ganti sambil membersihkan badan dan berganti pakaian, lalu mereka pulang kerumah Indi.


Malam ini berlalu begitu saja. Edwin menemani Indi sampai jam sepuluh, kemudian Edwin pulang kerumah kontrakannya. Seperti biasa, sebelum meninggalkan Indi, mereka akan berciuman dengan sangat hangat. Edwin mencium kening, pipi, hidung, dan bibir Indi. Bibir tipis Indi bagai candu yang membuat Edwin selalu rindu.


Terkadang, Edwin ingin menikmati bibir itu lebih dalam, tapi dia takut mereka akan melakukan hal yang lebih jauh yang tidak seharusnya mereka lakukan. Edwin harus menahan diri.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi Edwin berangkat kerumah Indi seperti biasa. Setiap hari, Edwin akan mengantarkan Indi kekantor. Indi berdandan diruang tamu sambil menunggu Edwin. Sesaat kemudian Edwin datang dan duduk didepannya.


"Sayang, aku mau kita putus," ucap Edwin tanpa basa-basi.


Indi melihat sekilas kearah Edwin.


"Kamu hanya bercanda kan?" jawabnya dengan sangat santai. Dipikirannya, Edwin tidak mungkin serius. Baru kemarin Edwin memberinya kejutan foto bertuliskan I Love You, tidak mungkin Edwin meminta putus begitu saja. Indi juga tahu, Edwin sangat mencintai dirinya.


"Tidak, aku serius."


"Tapi kenapa? Bukannya kamu mencintaiku?" Indi menghentikan aktifitas berdandannya. Dia menatap mata Edwin.

__ADS_1


"Iya aku mencintaimu tapi ada sifatmu yang tidak aku sukai."


"Sifatku yang mana? Tolong katakan supaya aku bisa memperbaikinya," ucap Indi lirih.


"Tidak perlu, kamu tidak perlu mengubah apapun. Kamu terima saja perpisahan ini. Jika kita memang jodoh, aku akan datang lagi kepadamu. Aku pasti datang lagi, perpisahan kita hanya sementara," Edwin meyakinkan.


Indi semakin tidak mengerti dibuatnya.


"Kalau aku tidak mau putus, bagaimana?"


"Aku tidak bisa bertahan dengan sifatmu itu, jadi aku harap kamu terima keputusan ini," jawab Edwin.


"Yang mana? Yang aku bilang kemarin aku dibantu bapak pelatih renang itu? Kamu cemburu karena itu?"


"Tidak ... bukan itu."


"Lalu apa? katakan padaku," bujuk Indi.


"Ada pokoknya. Sebaiknya kamu tidak perlu tahu."


Indi tahu Edwin tidak serius. Hati kecil Indi mengatakan bahwa Edwin sangat mencintainya.


"Aku harus berangkat kekantor sekarang. Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti malam," kata Indi.


"Aku tidak akan datang nanti malam. Pergilah kekantor, nanti kamu terlambat. Berangkat sendiri ya, aku tidak akan mengantarku hari ini," cakap Edwin kemudian pergi meninggalkan Indi dengan sejuta tanda tanya.


Didalam perjalanan menuju kantor, Indi memikirkan apa yang membuat Edwin tidak menyukainya. "Apakah Edwin benar-benar serius? Kejutan apa lagi yang sedang dia persiapkan?" batin Indi.


Jika pelatih renang itu bukan alasannya, lalu apa lagi? Indi tidak merasa melakukan kesalahan apapun.


Seharian ini hatinya tidak tenang. Pekerjaan yang banyak menuntutnya untuk berkonsentrasi. Tapi, dia tidak bisa. Bayangan Edwin dan kesalahannya yang membuat Edwin tidak menyukainya terus saja melintas dibenaknya.


Sesekali dia menghela nafas berat ketika pikirannya sepertinya buntu dipenuhi oleh Edwin.


Perasaan Indi berkecamuk, memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Keyakinan bahwa Edwin sangat mencintainya, membuatnya kuat menjalani hari ini. Tanpa terasa ini sudah jam lima sore, waktunya pulang dari kantor.


Edwin tidak ada menghubunginya sama sekali. "Apa yang mengubah Edwin?" Hal itu belum terpikirkan oleh Indi.


Indi menuju parkir motor. Dia bingung kemana dia harus pergi sekarang? Kerumahnya atau kerumah Edwin? Indi memang belum pernah kesana, tapi Edwin pernah memberinya alamat rumah itu. Indi bertekad akan mencari tahu. Jika Edwin tidak datang, maka tidak ada salahnya Indi yang datang. Yang penting mereka bertemu.


Indi menelusuri jalan dikota itu. Dia mengikuti petunjuk jalan yang sudah terpasang rapi disetiap persimpangan. Ternyata tidak susah. Dia berhasil menemukan rumah nomor 94 di alamat yang diberikan Edwin beberapa waktu lalu.


Indi pergi sendirian. Dia melihat rumah itu dari luar pagar. Sepertinya memang benar, itu rumah yang disebutkan Edwin dari ciri-cirinya.


Indi mengetuk pintu pagar. Seorang laki-laki keluar membukakan pintu.

__ADS_1


"Cari siapa?" tanya laki-laki itu. Dia adalah Agus, teman Edwin yang tinggal serumah dengannya.


"Saya cari Edwin, ada?"


"Oh, Edwin ada. Silahkan masuk."


Indi berjalan mengikuti Agus keruang tamu. Secerca harapan muncul didepannya. Dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai.


"Duduk disini dulu ya, saya panggilkan Edwin," ucap Agus kemudian berlalu.


Agus menaiki anak tangga menuju kamar Edwin dan Indi duduk disofa menunggu Edwin.


"Edwin, ada yang nyari elu tuh diluar," teriak Agus sambil membuka pintu kamar Edwin tanpa permisi.


"Siapa?" tanya Edwin yang sedang asik bermain game dikamarnya bersama Rama dan Budi.


"Entahlah, gue lupa nanyain namanya. Yang pasti cewek cantik sih."


Edwin sudah menduga pasti Indi yang datang. Dia segera berjalan menuruni anak tangga menemui wanita yang sangat dia rindukan.


"Hey Indi, ada apa mencariku?" sapa Edwin kemudian duduk disofa didepan Indi.


Indi sedikit kaget karena sejak mereka jadian, Edwin tidak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan Indi. Biasanya Edwin akan memanggil sayang, sayangku, cintaku, kekasihku, atau apapun terserah Edwin yang selalu menyejukkan hati Indi.


"Aku hanya ingin melanjutkan obrolan kita tadi pagi," sahutnya sambil menundukkan kepala.


"Bukannya tadi pagi sudah jelas?" sambung Edwin dengan nada datar.


"Tidak, semuanya belum jelas. Kamu belum mengatakan penyebabnya. Kamu belum menjelaskan apa salahku."


"Tidak ada yang salah denganmu. Aku mencintaimu. Jika kita berjodoh, aku akan mencarimu lagi," ucap Edwin. Dia sudah sangat tidak tahan untuk mengatakan pada Indi bahwa dia sangat mencintai Indi.


"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu ingin kita putus? Aku tidak mengerti," jelas Indi. Kali ini tampak kesedihan dimatanya. Dia sudah tidak setegar tadi pagi. Sikap Edwin seharian ini menunjukkan mungkin Edwin benar-benar ingin putus. Tapi Indi ingin Edwin memberitahu Indi apa penyebab sebenarnya.


Edwin mendekati Indi dan memeluknya. Sepertinya dia tidak tega melihat Indi menderita. "Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa aku menyakiti wanita yang sangat aku cintai?" pekik Edwin dalam hati.


Indi membalas pelukan Edwin tanpa rasa canggung. Berada dalam dekapan laki-laki itu membuatnya sangat nyaman. Air matanya mulai menetes tanpa dia sadari. Dia tidak sanggup bila harus berpisah dengan laki-laki yang sangat dicintainya.


"Sebaiknya sekarang kamu pulang saja dan istirahatlah," ujar Edwin.


"Tidak, jika kamu belum menjelaskan, aku tidak akan pergi."


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Aku sangat mencintaimu." Edwin sebenarnya tidak kuat menjalani hari-hari tanpa Indi. Tapi apa yang mendasari Edwin melakukan ini semua? Pasti ada sesuatu yang belum bisa dia ceritakan pada Indi.


"Sekarang pulanglah. Aku akan mengantarmu," sambung Edwin.

__ADS_1


Indi setuju, kemudian mereka bergegas menuju rumah Indi.


*Terimakasih sudah membaca, terimakasih sudah memberi like dan comments. Semoga suka dengan jalan ceritanya. Kalau sudah suka, jangan lupa di favourite ya..*


__ADS_2