Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Karena Hujan


__ADS_3

Indi memeluk pinggang Edwin disepanjang jalan dari rumah Edwin menuju rumahnya. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan laki-laki yang sudah mengisi hatinya selama beberapa bulan belakangan ini.


Beberapa saat berkendara, mereka sampai dirumah Indi. Indi dan Edwin duduk diteras walaupun hari sudah semakin gelap.


Indi menarik nafas lelah.


“Aku nggak mau kita putus,” rengeknya sambil menundukkan kepala.


Edwin menarik wajah Indi dan menatap matanya. Dia melihat ada kesedihan yang begitu dalam dikedua bola mata cantik itu. Tiba-tiba Edwin merasa menjadi orang yang paling bodoh karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik Indi.


Keputusan Edwin untuk meminta pisah dengan Indi hanyalah untuk sementara. Ada sesuatu yang membuat Edwin melakukan itu, tapi dia tidak bisa mengungkapkan alasan yang sebenarnya pada Indi. Tidak benar jika dia berkata ada sikap Indi yang tidak dia sukai. Tidak ada satupun sikap Indi yang tidak dia sukai. Semua orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi kekurangan Indi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kelebihannya.


Sejenak terbesit dikepala Edwin, bagaimana jika Indi menerima perpisahan ini dan Indi mengira bahwa ini memang keinginan Edwin dari lubuk hatinya? Bagaimana jika saatnya Edwin harus kembali pada Indi, tapi Indi sudah menemukan pengganti dirinya? Bagaimana jika Indi tidak akan pernah mau menerimanya kembali? Walaupun saat ini Indi sangat mencintanya, tapi bukan tidak mungkin perasaannya berubah jika perpisahan ini benar-benar terjadi.


Ditatapnya mata yang penuh dengan kristal-kristal bening yang siap membasahi pipi Indi. Semakin dirasakan apa yang sedang Indi rasakan saat ini. Betapa jahatnya dia, tega menyakiti seorang wanita untuk sesuatu yang tidak pasti.


Semakin dia tatap mata indah itu, semakin dia dihantui rasa bersalah. Dadanya semakin sesak. Dia tidak sanggup lagi memikirkan semuanya. Bagaimana bisa seorang playboy seperti dirinya kasihan dan memikirkan perasaan seorang wanita. Belum pernah dia melakukan itu sebelumnya.


Edwin meraih tangan Indi dan menarik tubuh itu kepelukannya.


“Iya, aku tarik semua kata-kataku itu. Maafkan aku,” ujarnya dengan penuh perasaan bersalah.


“Maksud kamu?" tanya Indi setengah tidak mengerti.


“Aku tidak mau kehilanganmu. Bagaimana bisa aku mengatakan putus padamu? Aku sangat mencintaimu. Kita tidak putus, Kita tidak mungkin putus,” ungkap Edwin pelan sambil mengelus-elus pipi Indi.


Segera dia mendaratkan bibirnya dibibir manis wanita cantik dihadapannya.


Indi merengkuh kedua bahu Edwin dan mencengkramnya dengan lembut. Dia tidak membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Indi tidak membiarkan Edwin melepaskan ciuman itu.


"Terus cium aku," bisiknya sambil terus menikmati manisnya perpaduan cinta mereka.


Edwin menganggukkan kepala pelan. Dia merangkum wajah Indi dan terus saja mengecupnya. Lama-lama sentuhan itu menjadi semakin panas. Lidah mereka bertaut, mata mereka saling menatap satu sama lain. Energi cinta mengalir memenuhi seluruh ruang dihati mereka. Tangis Indi mulai memudar berganti menjadi senyum kebahagiaan.


"Apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Indi disela-sela aktifitas mereka.

__ADS_1


"Tentu saja," ucap Edwin.


"Sekarang apa kamu mau mengatakan, sikapku yang mana yang tidak kamu sukai?"


"Tidak ada, kamu sangat sempurna. Aku mencintaimu, Indira. Maafkan aku," tegas Edwin.


Indi tersenyum dan menengadahkan wajahnya, menunggu sentuhan lembut dibibirnya dari Edwin.


Jelas saja Edwin mengerti dan mendaratkan beberapa ciuman lagi.


"Sudah, jangan dilanjutkan lagi. Aku takut ciuman ini akan berakhir dengan sesuatu yang lebih." Edwin mengecup kening, pipi, dan bibir Indi sekali lagi. Kemudian dia melepaskan pelukannya. Begitu juga dengan Indi, dia melepaskan tangannya dari leher Edwin. Indi mengerti maksud Edwin. Dirinya juga belum siap untuk itu. Mereka harus menghentikan kemesraan manis ini.


***


Dalam dua minggu kedepan, kantor Indi tutup dalam rangka liburan akhir tahun. Edwin berniat mengajak Indi untuk  jalan-jalan. Tapi, sebelum itu mereka akan menghabiskan beberapa hari di desa terlebih dahulu. Edwin ingin mengenalkan Indi pada keluarganya, keluarga besarnya.


Hari pertama, Indi akan pulang kerumah orang tuanya. Kemudian dihari ketiga, Indi akan datang kerumah Edwin, untuk berkenalan dengan keluarga besar Edwin dan kembali kekota saat hari menjelang sore.


Indi menerima permintaan Edwin untuk datang kerumahnya. Edwin akan mengajaknya untuk menemui paman, bibi dan sepupu-sepupu Edwin yang rumahnya tidak jauh dari rumah Edwin. Ayah Edwin mempunyai lima orang saudara laki-laki dan seorang adik perempuan. Oleh karena itu, Edwin memiliki banyak sepupu.


Mereka berangkat pagi-pagi buta. Diperjalanan, mereka menikmati pemandangan sawah, gunung, dan matahari terbit dikejauhan. Sangat Indah sekali. Hingga tidak terasa, mereka sampai dirumah Edwin.


Ketika Indi hendak berpamitan untuk pulang kerumah orang tuanya, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Indi terpaksa menghentikan langkahnya dan tetap tinggal dirumah Edwin sampai hujan reda.


"Kalau kamu mau tidur siang, tidur saja dikamar ibu," ucap Bu Rika.


"Tidak apa-apa bu, saya duduk disini saja," jawab Indi sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain-main dengan sosial media untuk membunuh waktu. Dia sedang duduk diruang tamu, menemani Edwin yang sedang asik bermain game dengan adik bungsunya, Ricky.


Tak terasa, dua jam sudah menunggu tapi hujan tak kunjung reda. Petir dan halilintar menyambar membuat Indi tak bisa meninggalkan rumah Edwin walaupun memakai jas hujan. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Perlahan-lahan matanya tertutup. Sesekali teriakan Edwin atau Ricky yang terlalu bersemangat dengan pertarungan game mereka membuat Indi terjaga.


Indi mendengar suara dari luar ditengah-tengah derasnya guyuran hujan. Dia memang tidak bisa mendengarkan dengan jelas, namun dia bisa tahu ada orang yang sedang bercakap-cakap diteras. Tampak seseorang sedang membuka jas hujannya.


"Argakah itu?" batin Indi. Jantungnya berdegup kencang, mulai tidak karuan.


"Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa dengan Arga? Kenapa aku tidak memikirkan kalau tiba-tiba dia akan datang? Bagaimana sekarang? Harus lari kemana aku?" pikirannya beradu. Indi mulai panik.

__ADS_1


Kemudian dia mendengar suara lain.


"Oh, mungkin itu bukan Arga. Mungkin ayah Edwin dan ibunya," tungkas Indi tersenyum lega.


"Ceklek," suara pintu luar terbuka.


Seorang perempuan masuk keruang tamu.


"Siapa dia?" Hanya hati Indi yang mampu berbicara. Ujung matanya memperhatikan wanita itu, namun dia berpura-pura tidak melihat.


Semenit kemudian, sosok laki-laki kurus masuk kedalam ruang tamu.


Ekor mata Indi tahu kalau itu Arga. Indi tidak berani menatapnya. Tapi, siapa perempuan itu? Hera?


Indi sedikit agak lega. Paling tidak, Arga tidak akan membahas hubungan mereka jika Hera sedang berada disana.


"Indi ..." sapa Arga. Dia sedikit kaget melihat Indi duduk diruang tamu rumahnya. Dia tahu, pasti Indi datang bersama Edwin. Ingin sekali rasanya Arga memeluk wanita itu. Tapi dia benar-benar harus menahan diri jika dia tidak ingin terjadi kekacauan dikeluarganya.


"Eh ... Arga," jawab Indi dengan nada yang sangat kikuk. Seandainya ada plastik hitam, mungkin Indi ingin memasukkan kepalanya kedalam plastik itu supaya Arga tidak bisa memperhatikan wajahnya yang merah seperti kepiting rebus karena perasaan canggungnya. Inilah pertemuan pertama mereka setelah jadian sampai mereka putus.


Indi memang sudah tidak mencintai Arga lagi karena dia sudah mempunyai kekasih yang lebih baik daripada Arga. Tapi dia hanya belum siap untuk bertemu dengan mantan kekasihnya. Bagaimanapun juga, mereka pernah saling mencintai, pernah merasakan dekapan hangat dalam sebuah pelukan.


"Hujan deras ini membuat kita bertemu lagi. Semua karena hujan!" pekik Indi dalam hati.


"Siapa dia sayang?" tanya perempuan yang datang bersama Arga.


"Oh ... kenalkan, dia namanya Indi. Pacarnya kak Edwin, kakakku,"


Perempuan itu mendekatkan diri.


"Halo Kak Indi, aku Hera, pacarnya Arga," ucap Hera sambil menyodorkan tangan kanannya kearah Indi dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


Indi memandangi tangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Jadi ini, wanita yang sudah menjadi kekasih Arga sebelum aku? Apakah dia tahu aku pernah berhubungan dengan pacarnya?" Ada sedikit perasaan bersalah dihatinya, ada rasa kasihan pada Hera.

__ADS_1


"Indi ... namaku Indi," ungkap Indi dan menjabat tangan Hera.


*Maaf ya, updatenya lama. Author ada sedikit kesibukan. Ditunggu terus kelanjutan kisahnya ya... Semakin seru. Terimakasih kepada semua pembaca yang sangat setia. Lots of love for you guys*


__ADS_2