
Arga benar-benar merasa bersalah telah memperlakukan Indi dengan kasar seperti itu. Bukan kasar secara fisik, tapi kata-kata. Sebenarnya dia sedang bingung dengan apa yang harus dilakukan. Dia sangat ingin mengakhiri semuanya dengan Hera. Namun, setiap kali dia mencoba memutuskan hubungannya dengan wanita itu, Hera selalu saja mengancam akan bunuh diri. Jika itu benar terjadi, dirinya pasti akan dalam masalah. Namanya akan terseret-seret dalam pemberitaan sebagai sebab atas kematian Hera. Dia akan dituduh mencemarkan nama baik sekolah tempatnya bekerja. Terlebih lagi ayahnya Hera adalah seorang polisi. Dia belum siap menghadapi semuanya. Namun, dia tetap akan mencoba untuk berbicara baik-baik dengan Hera.
Indi menonton pertunjukan seni sambil memikirkan Arga. Indi juga merasa bersalah terlalu keras pada Arga. Namun, trauma masa lalu rupanya belum sembuh benar. Ketika dia mendengar sebuah larangan, otaknya akan bereaksi untuk menolak. Tidak terkecuali hari ini.
Indi ingin minta maaf. Dia tidak mau masalah ini menjadi berlarut-larut. Sesampainya dirumah, dia segera mengambil ponselnya. Dia hendak mengirim pesan pada Arga.
"Sayang, maafkan aku jika sikapku tadi menyakitimu." Indi membaca pesan yang diterima dari Arga dua menit yang lalu.
Indi tersenyum. Rupanya Arga sudah mengiriminya pesan lebih dulu.
"Iya sayang, aku juga minta maaf."
Arga tahu Indi tidak bisa menyimpan kemarahannya dalam waktu lama. Apalagi kepada orang yang disayanginya. Ya, Arga benar. Indi selalu buta karena cinta.
Arga segera menelepon Indi. Mereka melakukan panggilan video.
"Bagaimana tadi pertunjukannya?"
"Umm..bagus banget. Seandainya saja tadi kamu ada disini." Indi mengangkat jempol kanannya. Tapi dia terlihat sedih karena dia sangat ingin Arga berada didekatnya.
Arga mengerti kesedihan Indi. Dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menemani kekasihnya.
"Maafkan aku lagi. Kamu nggak usah sedih. Ayo ceritakan padaku, bagaimana pertunjukan tadi?" Arga menghibur Indi.
Indi menceritakan acara kesenian tadi dengan antusias.
Arga menikmati cerita Indi. Obrolan mereka diselingi beberapa tawa. Arga ingin membuat Indi bahagia.
"Aku tahu sekarang kamu sedang rindu padaku." ucap Arga sambil memamerkan deretan gigi putihnya..
"Kata siapa?" Indi menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Kata hatiku." jawabnya penuh percaya diri.
"Itu kan kata hatimu, bukan kataku." Indi menyembunyikan senyumnya yang manis. Sebenarnya dia hanya terlalu malu mengakuinya. Dia sangat rindu pada Arga.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau mengaku, aku saja yang mengaku. Aku rindu, sangat rindu." Arga menatap Indi dalam-dalam. Seandainya Indi ada didepannya. Pasti sudah dia rengkuh tubuh itu dan dia hujani perempuan istimewa itu dengan ciuman hangat penuh cinta.
Jantung Indi berdebar. Dia merasakan kerinduan Arga.
"Aku juga rindu." sahutnya.
Arga merasa melayang keudara mendengarkan ucapan Indi.
Puas bermesraan, Indi kemudian memulai obrolan yang serius.
"Sayang, kapan kamu akan kesini lagi?"
Mendengar pertanyaan itu, Arga ingin segera datang kekota. Tapi dia tidak bisa. Banyak sekali hal yang membuatnya belum bisa pergi kekota menemui Indi.
"Bagaimana hubunganmu dengan Hera?"
Arga diam beberapa menit. Tak sanggup dia menjelaskan. Indi memandangi wajah Arga melalui layar ponselnya.. Dia melihat sepertinya Arga sedang berpikir.
"Kalau kamu tidak bisa meninggalkan dia, aku ikhlas kamu tinggalkan. Walaupun aku mencintai kamu" ucap Indi lagi.
"Tidaaaakk.... jangan!!! Bukan kamu yang seharusnya pergi dari hidupku." Arga mulai buka suara. Kata-katanya terdengar lantang.
"Lalu?"
"Aku mohon sayang, aku mohon aku akan penuhi janjiku untuk bersama denganmu, hanya ada kamu dan aku saja, tidak ada orang lain diantara kita."
"Sepertinya kamu masih belum bisa memutuskan. Baiklah, aku akan beri kamu waktu." Indi tidak bisa memaksa. Karena bagaimanapun juga, Hera yang mencintainya lebih dulu. Mungkin Indi yang sepantasnya dibenci oleh Hera karena sudah menjadi orang ketiga. Tapi, sampai kapan dia mampu bersabar? Indi juga hanyalah wanita biasa yang hatinya mudah rapuh karena seorang laki-laki.
__ADS_1
"Sayang, terimakasih banyak atas pengertianmu. Terimakasih banyak atas waktu yang kamu berikan. Sebentar lagi sayang. Kita akan berdua." Arga berjanji. Arga sangat bersyukur mendapatkan pacar sebaik Indi. Indi begitu pengertian.
***
Empat bulan sudah berlalu. Arga dan Indi masih juga belum bertemu lagi. Pertemuan mereka baru satu kali, pada saat mereka jadian. Itu saja. Oh tidak, dua kali. Sehari sebelumnya juga ketika mereka jalan-jalan. Selebihnya mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau panggilan video saja.
"Seandainya saja waktu itu aku tidak menghubungi Arga, aku tidak akan menjadi orang ketiga diantara mereka." Indi bergumam sendiri.
"Tapi, seandainya waktu itu Arga mengaku dia sudah punya pacar semua ini tidak akan terjadi." Gumam Indi lagi.
Apapun itu, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjur. Mungkin sudah saatnya Indi menyerah. Karena belum juga ada keputusan apa yang akan diambil Arga. Indi memikirkan baik-baik keputusannya. Apakah empat bulan sudah cukup untuk Arga? Apakah ini tidak terlalu cepat? Jika dia mundur dan menyerah pada hubungan ini, mungkin Arga bisa fokus pada Hera. Arga akan bahagia bersama Hera. Dan dirinya? Entah bagaimana dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Paling tidak, jika dia membiarkan Arga dan Hera bahagia, hanya ada satu hati yang tersakiti. Yaitu hatinya. Sekarang, harus ada tiga hati yang terluka. Dua hati yang merasa dipermainkan dan satu hati yang kebingungan mencari tempat ternyaman.
Arga tidak pernah menceritakan tentang sikap Hera menanggapi permintaan putus dari Arga. Hera akan menangis menjerit-jerit, kemudian mengancam bunuh diri dan melempar barang-barang sampai semua tak berbentuk. Dia merasa tidak perlu menceritakan ini pada Indi. Jika dia menceritakan ini, dia takut Indi akan menganggapnya hanya mencari-cari alasan saja untuk menunda mengambil keputusan. Arga benar-benar tidak mencintai Hera sama sekali.
Setahun yang lalu, Hera datang mendekati Arga. Arga merasa hatinya kosong dan tidak mendapatkan jalan masuk kedalam hati Indi, mencoba untuk membuka pintu hatinya untuk Hera. Selama itu, dia berusaha mencintai Hera tapi dia tidak bisa. Arga tidak pernah menyangka Tuhan akan memberikan kesempatan kedua baginya untuk mendekati Indi.
Namun tanpa penjelasan Arga, yang ada diipikiran Indi, Arga belum siap berpisah dengan Hera karena dia masih mencintai Hera.
"Aku lelah menjalani hubungan seperti ini. Mungkin sudah saatnya aku menyerah dan membiarkan Arga bahagia bersama Hera." Indi mengeluh lagi.
Saat dia sedang sibuk dengan perasaannya sendiri, tiba-tiba jantungnya kembali berdetak kencang, darahnya mengalir deras. Tapi, kali ini Indi sudah tahu apa yang akan terjadi. Sebentar lagi, dia akan menerima pesan dari Edwin.
Dan benar saja, lima menit kemudian, nama Edwin muncul dilayar ponselnya.
~**Happy reading~**
__ADS_1