
Sekarang sudah pukul 8.30 malam. Indi mulai memikirkan, malam ini Arga akan tidur dimana, mengingat Arga tidak punya saudara yang tinggal dikota itu. "Nggak mungkin kan Arga menginap dirumahku?" pikir Indi
Sambil menikmati angin malam dari atas motor, Indi dengan ragu-ragu membuka suara.
“Arga…malam ini, kamu mau tidur dimana? Nggak mungkin kan kamu pulang ke desa semalam ini?”
“Hmmm…gimana ya? Aku sih maunya nginep dirumah kamu sayang.”
DEG!
Indi kaget, matanya membelalak. Ingin rasanya dia lompat dari motor dan bersembunyi disemak-semak karena tidak tahu harus menjawab apa. Indi pikir Arga serius dengan perkatannya. Indi tidak mungkin mengijinkan Arga menginap dirumahnya.
Arga tahu Indi agak panik. Padahal sebenarnya, dia tidak ada niat sama sekali menginap disana. Mereka pacaran saja belum. Dia hanya menggoda Indi. Arga mencoba melihat muka Indi yang mulai memerah dari kaca spion sambil tersenyum puas. Tapi kalau seandainya diijinkan juga nggak akan nolak, haha!
“Hehe…nggaklah. Aku sudah bilang sama temanku, malam ini aku akan menginap disana. Kebetulan rumahnya juga tidak jauh dari rumahmu.” Arga tertawa renyah karena sudah berhasil membuat Indi kalang kabut.
Indi menarik nafas lega mendengar jawaban itu. Darahnya yang tadi naik memenuhi wajahnya, sekarang sudah pelan-pelan turun.
Setelah sampai didepan dirumah Indi, Arga berpamitan.
“Aku kerumah temanku dulu, besok pagi aku akan kesini lagi. Kamu libur kan?” Arga memegang tangan Indi yang berdiri disamping motor Arga, sedangkan dia masih duduk diatas motor.
"Kamu nggak mampir dulu?"
"Nggak usah, sudah malam. Kamu istirahat saja." ucapnya.
“Baiklah. Kamu hati-hati dijalan.”
“Kamu juga hati-hati dirumah. Nanti aku telepon kalau aku sudah sampai”
“He’em” Indi mengangguk senang.
Arga menggenggam tangan Indi dengan kedua tangannya. Dia memperhatikan setiap detail wajah Indi. Dengan satu tarikan nafas, Arga berhasil menenangkan dirinya yang sudah gugup.
“I love you” Dia menatap mata Indi seolah menunggu jawaban.
Jantung Indi tiba-tiba berdetak sangat kencang rasanya mau lepas. Dia menatap Arga dalam. Seolah tak percaya, pria itu mengucapkan kata-kata cinta didepan matanya, didengar langsung oleh telinganya. Ingin rasanya Indi pura-pura pingsan karena dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Mulutnya tertutup rapat, hanya matanya yang berbinar dan senyumnya yang mulai mengembang.
__ADS_1
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab.” Arga masih menatap matanya, membuat wanita dihadapannya salah tingkah.
“I….Iya. I love you too.” Indi melepaskan tangannya dari Arga. Dia berlari kedalam rumah. Jantungnya serasa mau copot, namun berhasil ditahan, sehingga yang jatuh hanya hatinya. Iya, dia jatuh hati. Jatuh hati pada laki-laki bernama Arga Wahyudinata.
Arga memandangi sampai bayangan Indi hilang dari penglihatannya. “Ahhhh….. aku bahagia sekali.” teriak Arga didalam hati. Penantiannya selama setahun ini berbuah manis. Mereka saling mencintai.
Setelah Indi masuk kedalam rumah dan menutup pintu, Arga memutar motornya dan melaju kerumah teman yang dimaksud.
***
“Ceklek” Indi membuka pintu ruang tamu. Disana ada Lia dan Doni, pacar Lia. Mereka tengah duduk santai berdua sambil ngobrol.
“Eh.. kak Indi sudah pulang. Ini kak, Doni bawa terang bulan kesukaan kakak.” Lia menyapa kakaknya.
“Iya, makasi.” Indi duduk didepan Lia, kemudian dia mengambil sepotong terang bulan dan langsung dilahapnya.
"Terimakasih ya Don." ucap Indi sambil menoleh kearah Doni.
“Kak Indi darimana?” Doni menyapa sopan.
“Emm…hehe… habis kencan.” Indi tersenyum malu.
Sebenarnya Indi cuma menghindar dari mereka. Indi tahu mereka pasti akan menghujani Indi dengan sejuta pertanyaan.
"Kak Indi, cerita duluuu......" Lia berteriak, namun tak digubris Indi.
Indi merebahkan tubuhnya dikasur. Dia mulai melamun lagi, mengingat apa yang baru saja terjadi. Senyumnya tidak bisa lepas dari bibir manisnya. Lamunannya mulai kemana-kemana. Kapan Arga akan meminta dirinya untuk menjadi pacar Arga? Terus, kalau Arga beneran mengatakan hal itu, apa yang akan menjadi jawabannya? Tentu saja Indi tidak akan menolak.
“Tapi, kenapa tadi Arga nggak ada bilang apa-apa ya? Kalau dia bilang I Love you tadi itu apa itu artinya dia nembak? Trus, aku bilang I love You too apa itu artinya jadian? Huaaaaa……. Apa yang harus aku katakan kalau ketemu lagi besok?” Indi tak sanggup memikirkan semuanya lebih jauh.
"Jelas saja, Arga belum sempat menembakku. Aku keburu lari." Indi menertawakan dirinya sendiri. Seandainya dia tidak lari, mungkin Arga sudah menembaknya dan mereka jadian.
Lia masuk kamar. Mereka memang tidur dikamar yang sama walaupun dirumah itu ada dua buah kamar tidur. Mereka lebih senang tidur bersama.
“Doni sudah pulang?” tanya Indi.
"Sudah kak. Sekarang ceritakan kak Indi kemana aja tadi? Gimana kencannya? Arga nyebelin nggak? Nyebelin kan? Trus, gimana perasaan kakak? Apa dia terlihat senang? Huh... nggak mungkin dia nggak senang kencan dengan perempuan secantik kakak. Awas saja dia...."
__ADS_1
"Hush... kalau nanya satu-satu." Indi memotong perkataan Lia yang terus saja nyeroscos tanpa titik koma.
"Hehe... iya.. maaf." Lia nyengir.
"Sekarang Kak Indi cerita, aku sudah siap mendengarkan." Lia duduk bersila diatas kasur. Sebuah bantal menutupi pahanya. Dagunya sudah ditopang oleh tangan kirinya.
Indi juga duduk didepan Lia dengan pose yang sama.
"Tadi kakak.... " Indi tidak menyelesaikan ucapannya. Matanya menghadap ke langit-langit kamar, bibirnya penuh senyuman.
"Tadi kakak kenapa? Ayo cerita..." Lia menarik wajah Indi agar menghadapnya.
"Nggak ah.. kakak nggak mau cerita. Kamu kepo haha" Indi menutup wajah Lia dengan bantal. Kemudian dia merebahkan badannya dan berbalik membelakangi Lia.
"Kak Indiii.... ayo cerita" Lia menggoyang-goyangkan tubuh Indi mengharapkan Indi menceritakan pertemuan pertamanya.
"Pokoknya, kakak bahagia. Gurumu itu tidak semenyebalkan yang kamu ceritakan. Cerita lanjutannya besok aja lagi. Kakak mau tidur." Indi membiarkan adiknya penasaran.
"Hmm... Kak Indi nggak seru. Oke, aku tunggu besok." ucap Lia sambil menarik selimut. Bersiap untuk tidur.
Namun, Indi tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Arga terus saja melintas dibenaknya. Sesekali dia ambil ponsel pintarnya, melihat kalau Arga mengiriminya pesan.
Ting...
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi.
Indi segera membuka ponselnya.
"Sayang, maaf membuatmu menunggu. Tadi aku ngobrol dengan teman-temanku. Kamu sudah tidur?"
"Belum..aku belum tidur." jawabnya.
"Terimakasih sudah menemaniku hari ini." tulis Arga.
"Sama-sama" balasnya.
"Sebaiknya sekarang kamu tidur. Selamat tidur sayang. Sampai jumpa besok." Arga bersiap untuk tidur. Demikian juga dengan Indi. Dia meletakkan ponselnya diatas meja dan segera memejamkan matanya.
__ADS_1
~Terimakasih sudah membaca. Terimakasih sudah like, vote dan comments. Terimakasih sudah ditandai sebagai favourite. Semoga terhibur 😉😚😘😘~