
Indi ingat, Edwin sedang tidur dikamar sebelah. Dia berdiri tertegun didepan kamar itu, menggigit-gigit bibirnya sambil menimbang-nimbang.
"Aku bangunin atau biarin aja ya?"
Ini sudah jam tujuh pagi. Edwin tidak pernah bangun se-siang itu. Biasanya dia selalu bangun lebih dulu daripada Indi.
"Kayaknya dia terlalu capek. Biarin aja deh." Indi beranjak meninggalkan tempatnya berdiri, dan menuju kedapur untuk memasak sarapan mereka.
"Kamu mau ngintip ya?" Indi menghentikan langkahnya, kemudian memutar kepalanya. Suara nakal itu berasal dari depan kamar mandi.
"Kamu ... kamu sudah bangun rupanya?" Indi sangat malu sekali. Ternyata Edwin sudah bangun dan memperhatikannya.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?" tanya Indi yang mulai gelagapan karena aksinya ketahuan.
"Sejak kamu berjalan kearah kamar itu." Edwin tersenyum sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Ketika Edwin keluar dari kamar mandi, Edwin melihat Indi berjalan kearah kamar yang ditempatinya semalam. Edwin memperhatikan gelagat Indi. Beberapa kali Edwin melihat Indi hendak mengetuk pintu, tapi dia turunkan lagi tangannya. Sesekali Indi mencoba melihat dari celah pintu. Lebih tepatnya mengintip seperti yang Edwin tuduhkan. Edwin tersenyum dan terus memperhatikan kekasihnya.
***
Edwin enggan meninggalkan rumah Indi. Kebetulan ini hari Sabtu, dan Indi sedang tidak bekerja. Dia memilih untuk menemani Indi seharian ini dirumah.
Rumah itu terletak dipinggiran kota. Sisi kirinya adalah deretan perumahan yang padat dan sisi kanannya adalah hamparan persawahan.
Menjelang sore, mereka duduk diteras. Hamparan sawah membuat mereka bisa menatap kejauahan. Dari sana, mereka bisa memperhatikan bagaimana matahari terbenam. Dan dari sana pula, angin sepoi-sepoi itu berasal.
Seperti biasa, Indi akan mengeluarkan isi kulkasnya yang sudah mirip perbekalan camping selama satu minggu. Ditemani teh manis buatan Indi, mereka mencairkan deposito rindu mereka selama sebulan ini.
"Seharusnya malam ini aku menghadiri staff party yang diadakan kantorku," ucap Indi.
"Trus?"
"Aku ingin datang. Tapi kita baru saja bertemu setelah sebulan."
"Nggak apa-apa, kamu pergi saja. Itu acara penting buat kamu. Kita bisa bertemu lagi besok."
"Umm ... bagaimana kalau kamu ikut? Mumpung kamu sudah ada disini."
"Memangnya boleh?"
"Tentu saja boleh. Teman-temanku pasti akan senang kalau aku mengenalkanmu pada mereka," jawabnya sumringah. Matanya berbinar-binar.
__ADS_1
"Dimana dan jam berapa acaranya?"
"Acaranya mulai jam tujuh malam, di Restoran Anggrek Bulan."
"Kalau kamu mengijinkan, aku akan ikut." Edwin menerima tawaran Indi. Tentu saja Edwin akan dengan senang hati mendampingi Indi kemanapun dia pergi.
Setiap akhir tahun, kantor Indi mengadakan acara gathering. Acara pesta yang biasanya dihadiri oleh semua orang yang bekerja dikantor itu, dari kedua cabang yang ada di kota yang sama. Dari direktur sampai cleaning service semuanya diundang.
Biasanya, acaranya diadakan bulan Desember, menjelang hari raya Natal. EO akan mencari tempat di hotel atau di restoran mewah. Tahun ini EO memilih tempat di sebuah restoran yang tidak terlalu megah, tapi sangat cantik.
"Baiklah, kalau begitu kita harus siap-siap. Jam enam kita harus sudah berangkat. Sekarang sudah jam empat. Tahu kan kalau cewek dandan pasti lama?!" Indi tersenyum paksa mengakui fakta yang dia utarakan.
"Ya sudah, kalau gitu aku kembali kerumah temanku dulu. Pakaian apa yang harus aku pakai?"
"Pakai kemeja, celana panjang dan sepatu saja cukup."
"Baiklah, nanti jam enam aku jemput." Edwin bersiap-siap meninggalkan Indi.
Indi menganggukkan kepalanya.
***
Dipintu masuk terdapat sebuah papan tulis kecil berwarna hitam, berhiaskan kapur tulis warna warni membentuk kata "Xilo private party, tidak terbuka untuk umum."
Dua orang staff EO berjaga didepan untuk mendata siapa saja yang masuk. Nama Indi sudah tertulis dideretan nomor sepuluh. Ada sekitar 250 nama disana. Indi menandata
ngani daftar kehadiran. Karena Indi menggandeng Edwin, Edwin boleh ikut masuk. Setiap orang memang diperbolehkan membawa satu orang pasangan.
Indi dan Edwin terpukau melihat tampilan design interior tempat itu. Meja dan kursi berjejer rapi. Diujung sana tampak sebuah panggung yang sepertinya hanya bersifat sementara. Hiasannya minimalis, tapi sangat rapi dan menarik. Dibagian kanan terdapat meja besar penuh berisi makanan dan minuman. Disetiap sudut terdapat vas bunga, menambah kenyamanan tempat itu.
Suasana pesta ini sangat cocok dengan penampilan Indi. Dia memakai dress berwarna biru tua. Didepan, panjangnya sampai dilutut dan dibelakang panjang sampai dibetis. Bahan kainnya sangat halus sehingga mampu mengikuti bentuk pinggang Indi yang ramping. Rambutnya digerai dan dicurly bagian bawahnya saja. Cantik sekali. Sepatu hak tinggi juga berkontribusi pada penampilan sederhana yang mempesona itu.
Edwin memakai celana kain berwarna coklat, sepatu berwarna hitam dengan warna putih dibagian bawahnya, serta kemeja lengan panjang warna senada dengan dress Indi. Padahal mereka tidak janjian, kebetulan sekali.
Hampir setengah dari jumlah kursi sudah berisi penghuni.
Indi menatap liar keseluruh ruangan, berharap menemukan keempat sahabatnya.
"Hai Indi," sapa Evelyn. Dia adalah staff di bagian keuangan. Evelyn datang bersama kekasihnya, seorang pria dari Australia.
"Hey Evelyn," Indi dan Evelyn cipika-cipiki.
__ADS_1
Mereka saling mengenalkan pasangan mereka masing-masing.
"Gabung yuk, kita duduk satu meja." Evelyn menarik tangan Indi. Mereka mencari tempat didekat DJ memainkan musiknya. Dipojok kiri ruangan.
Disepanjang jalan menuju meja, Indi dan Evelyn sibuk menyapa rekan kerja yang lain. Bahkan para satpam dan cleaning service yang sudah hadir pun tak luput dari sapaan mereka. Indi dan Evelyn memang terkenal sangat ramah.
"Wow, Indi ... this handsome man is finally yours? (Wow, Indi ... pria tampan ini akhirnya sudah jadi milikmu?)" Claire menghampiri Indi dan berbisik ditelinganya.
Indi tersenyum.
"Hmm ... yeah. He's my boyfriend now. (Hmm ... ya. Dia pacarku sekarang.)" Indi tersenyum bangga.
"Won't you introduce him to me? (Tidakkah kamu ingin mengenalkan dia padaku?)"
"Oh ya, of course. (Oh ya, tentu saja)"
Indi mengenalkan Edwin pada Claire. Claire mengenalkan Edwin pada suaminya. Mereka bercakap-cakap. Kebetulan Edwin bisa berbahasa Inggris dengan fasih, jadi tidak ada kendala bagi mereka.
Acara dimulai. Acara pembukaannya adalah tarian daerah dan tarian modern. Mereka tampak menikmati acara itu.
Acara selanjutnya adalah makan malam. Semua hadirin menikmati makanan yang sudah disiapkan. Makanan khas Indonesia dan makanan barat semuanya tersedia. Semuanya bebas memilih makanan apa dan sebanyak apapun yang mereka inginkan.
Berbagai macam makanan penutup juga lengkap. Mulai dari aneka jajanan basah khas Indonesia, cake dan satu freezer penuh es krim beraneka rasa tinggal ambil saja.
Makanan disana sangat enak. Terang saja, standard restaurant dan dimasak oleh beberapa koki handal.
Selesai makan, dilanjutkan dengan acara kuis. Seseorang akan memainkan musik, dan para peserta harus menebak judul lagunya. Indi ada dibarisan terdepan. Musik adalah jiwanya, sudah pasti dia bisa menjawab judul lagu dengan benar.
Untuk setiap jawaban yang benar, peserta akan mendapatkan hadiah. Hadiahnya tidak seberapa, tapi cukup membuat mereka bahagia. Ada payung, cangkir, atau gantungan kunci yang bertuliskan logo perusahaan mereka.
Setelah itu dilanjutkan dengan kuis-kuis lainnya. Namun karena peserta yang sudah mendapatkan hadiah tidak boleh ikut lagi, Indi hanya duduk saja disebelah Edwin sambil memegang payung hadiahnya.
Puas bermain kuis, mereka melanjutkan ke acara utama. Inilah acara yang ditunggu-tunggu. Pengumuman awards untuk semua karyawan.
William dan Claire selaku direktur dan wakil direktur operasional mendapatkan kehormatan untuk mengumumkan penghargaan tersebut.
Penghargaan ini sudah diseleksi dari beberapa bulan sebelumnya. Setelah memberikan pidato singkat, William dan Claire mengumumkan dalam bahasa Inggris.
"Pertama, kami akan membacakan penghargaan untuk staff yang paling ontime selama satu tahun terakhir. Penghargaan jatuh kepada ..." William memberikan jeda pada kalimatnya. Suaranya lantang, membuat jantung pendengarnya berdebar-debar.
*Terimakasih sudah membaca, terimakasih sudah menghujani novel ini dengan like, vote dan comments. Terimakasih sudah menandai sebagai favourite. Semoga terhibur 😘*
__ADS_1