
"Jatuh kepada ..." William mengulangi ucapannya.
"Marina Astinugraha ...." Suara lantang Claire membuat hampir tiga ratus pasang tangan bersorak.
Marina berjalan menaiki panggung. Dia adalah seorang staff dibagian personalia. Marina memang pantas menerima penghargaan itu karena tidak pernah sekalipun dia terlambat datang kekantor ataupun ijin maupun cuti sakit selama setahun penuh.
Ada sepuluh kategori penghargaan yang akan dimenangkan oleh sepuluh dari sekitar dua ratus staff yang ada.
Sembilan penghargaan sudah diumumkan. Yang menerima penghargaan adalah staff-staff yang berdedikasi tinggi pada perusahaan.
"Sekarang, kami akan mengumumkan penghargaan terakhir. Yaitu the best employee of the year," tegas William dalam bahasa Inggris.
"Staff ini selalu mempunyai solusi yang baik untuk perusahaan dan memajukan perusahaan dengan maksimal. Untuk memberinya sebuah apresiasi, mari kita panggilkan Indira Kumalasari. Silahkan naik keatas panggung." Claire memanggil nama Indi dengan suara yang sangat lantang.
Indi berdiri. Semua mata tertuju pada langkah kakinya menuju panggung. Tepuk tangan tiada henti dari ujung kanan sampai ujung kiri. Dari depan sampai belakang panggung. Bahkan staff restoran ikut memadukan kedua telapak tangan mereka untuk menjadi sebuah irama.
Claire dan William serempak mengalungkan sebuah medali dan menghujani Indi dengan ucapan selamat. Mereka juga menyerahkan sebuah kotak kado dan amplop berisikan uang tunai sebagai hadiahnya.
Claire meminta Indi untuk menyampaikan pidato singkat dalam bahasa Inggris. Dalam pidatonya, dia sempatkan diri untuk mengucapkan terimakasih kepada orangtuanya karena telah menjadikannya wanita kuat.
Edwin tetap duduk dikursinya, menatap Indi dengan sangat bangga. Jari-jarinyapun beradu menambah riuhnya suasana. Edwin tidak pernah tahu bahwa Indi sehebat itu. Dia mendapatkan penghargaan menjadi staff terbaik tahun ini. Edwin juga tidak pernah tahu bahwa Indi selalu mendapatkan penghargaan setiap tahunnya. Dan dari pidatonya Edwin paham bahwa Indi sangat menghormati orangtua. Semakin bergetar hati Edwin. Membuatnya yakin bahwa Indi memang wanita terbaik yang pernah dia kenal selama ini.
Indi turun dari panggung, kembali menghampiri Edwin yang tidak henti memandangnya. Sahabat-sahabatnya datang menghampiri Indi untuk mengucapkan selamat. Indi mengenalkan Edwin kepada para sahabatnya kemudian mereka duduk bersama.
"Selamat ya sayang," ucap Edwin memandang Indi penuh senyuman.
"Terimakasih," jawab Indi dengan mata penuh kebahagiaan.
Pengumuman penghargaan sudah selesai. Acara terakhir sekaligus penutup adalah live musik. Satu set alat musik sudah siap diatas panggung. Seorang vokalis juga siap mengalunkan nada-nada sesuai dengan musik yang dimainkan. Peserta boleh ikut naik keatas panggung dan bernyanyi bersama.
Semua hadirin berdiri dan mulai ikut bernyanyi. Begitu juga Edwin dan Indi. Semua yang hadir sangat menikmati pesta malam ini sampai acara selesai. Kemudian mereka pulang kerumah masing-masing.
***
Hari Minggu, Indi dan Edwin janjian akan pergi ke kolam renang. Tidak hanya mereka berdua, tapi juga akan ada Lia dan Doni.
Indi memang tidak bisa berenang, tapi pergi dengan Edwin, berendam saja sudah cukup.
Mereka akan menyewa kolam renang disebuah hotel. Kolam itu memang disewakan untuk umum. Tidak terlalu mahal, tapi tempatnya sangat nyaman. Maka dari itu banyak orang tua mengajak anak-anak mereka untuk latihan renang di kolam itu.
__ADS_1
Edwin datang menjemput Indi. Ketika dia sampai, Indi sudah siap. Kali ini Edwin terlambat tiga puluh menit. Tidak biasanya dia begitu, Edwin terkenal selalu tepat waktu.
"Maafkan aku terlambat, ada sesuatu yang harus aku siapkan tadi.” Edwin langsung duduk disofa ruang tamu.
“Tidak apa-apa,” sahut Indi santai.
“Kamu bisa bantu nyalakan laptopku nggak? Aku harus melakukan sesuatu," pinta Edwin sembari mengeluarkan laptop dari tas ranselnya dan menyerahkannya pada Indi.
“Kenapa tidak nanti saja saat kita sudah kembali dari kolam renang?”
“Tidak bisa, harus sekarang.” Kemudian Edwin bermain dengan ponselnya. Kelihatannya dia sangat sibuk. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus dia selesaikan sekarang juga.
Indi menerima laptop berukuran sembilan belas inch tersebut, kemudian duduk disebelah Edwin. Dia segera membuka laptop itu dan menekan tombol power seperti yang diperintahkan oleh Edwin. Indi menunggu sampai layarnya benar-benar menyala sebelum memberikan laptop itu pada Edwin.
Betapa terkejutnya Indi saat laptop sudah menyala sempurna, Indi melihat wallpaper dilaptop Edwin dipenuhi oleh foto-foto dirinya dan Edwin. Ada sekitar sepuluh foto dirinya dengan berbagai pose yang dia tidak tahu entah kapan Edwin mengambil gambar-gambar tersebut. Dibagian tengah foto itu terdapat tulisan dengan bentuk huruf dan warna yang cantik “I Love You Indira Kumalasari.” Bentuk hati juga menghiasi layar tersebut.
Indi mengulum senyum. Sesekali dia menoleh kearah Edwin. Lagi-lagi Edwin menyiapkan kejutan sederhana yang sempurna. Edwin tidak sedang mengerjakan sesuatu. Dia hanya ingin menyalakan laptop itu dan melihat wallpaper dilaptopnya. Manis sekali rasanya cinta ini.
“Kapan foto-foto ini kamu ambil? Kenapa aku tidak tahu sama sekali?”
“Bagaimana? Kamu suka?” Edwin menjawab pertanyaan Indi dengan pertanyaan.
Edwin senang Indi menghargai apapun hal kecil yang dia lakukan. Edwin mendekati Indi dan segera memeluknya.
“I Love you,” ucap Edwin sambil mengusap rambut Indi.
“I Love you too,” balas Indi. Dia sangat bahagia dengan semua ini.
“Terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih sudah menerima semua kekuranganku.” Edwin mendaratkan kecupan hangat dikening dan bibir Indi.
Indi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih juga sudah membuat ini bahagia,” ucapnya sambil mengambil tangan Edwin dan menaruh tangan itu didadanya supaya Edwin bisa merasakan aliran cintanya.
Edwin mengecup bibir Indi sekali lagi.
“Ayo berangkat, sudah sore nih.” Lia masuk keruang tamu. Rupanya Lia dan Doni sudah menunggu lama diluar.
Indi dan Edwin sedikit malu karena kemesraan mereka baru saja disaksikan oleh Lia.
__ADS_1
“Iya, tunggu,” sahut Indi.
Mereka berempat berangkat menuju kolam renang yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
***
Mereka sampai dikolam renang ketika hari sudah menjelang jam tiga sore. Jika datang sebelum itu, mereka akan terbakar oleh sinar matahari.
Indi dan Lia pergi kekamar ganti cewek, sedangkan Doni dan Edwin pergi kekamar mandi cowok.
Mereka berempat mulai menceburkan diri kedalam kolam seluas tujuh puluh lima meter persegi. Lantai dasarnya dibuat miring dengan kedalaman bervariasi. Mulai dari tiga puluh centimeter sampai dua meter. Kolam itu sudah dipenuhi oleh anak-anak yang sedang belajar berenang dan beberapa orang dewasa yang menikmati hari libur mereka.
“Aku disini saja,” ucap Indi sambil duduk didasar kolam dengan kedalaman kira-kira lima puluh centimeter itu.
“Sini, aku ajari kamu berenang.” Edwin menarik tangan Indi.
Mula-mula Edwin memegang tangan Indi didalam kolam. Dia hendak mengajari Indi berenang.
"Pegang tanganku, ikuti aku dan jangan biarkan kakimu menyentuh lantai dasar kolam renang ini," ucap Edwin sambil pelan-pelan berjalan mundur ketempat yang lebih dalam.
"Jangan sampai ketempat yang dalam, aku takut," rengek Indi.
"Tidak akan ada apa-apa, ada aku disini."
Indi mengikuti langkah Edwin sambil berpegangan. Dia mulai menggerak-gerakkan kakinya seperti katak.
“Enak sekali rasanya kalau bisa berenang,” ucapnya.
“Iya, lakukan terus,” teriak Edwin lembut menyemangati Indi.
Pelan-pelan Edwin berjalan mundur, Indi mengikuti dengan gerakan seperti orang yang sedang berenang. Namun, tangannya masih tetap dipegang Edwin.
Ketika berada dikedalaman yang lebih dari 160 cm, Edwin perlahan melepaskan tangan Indi, berharap dengan begitu Indi cepat bisa berenang.
"Tolong ... tolong ...," teriak Indi ketika kakinya sudah tidak bisa menyentuh lantai dasar kolam.
Indi sudah tidak dapat menguasai tubuhnya. Dia mencoba menyentuh lantai dasar kolam untuk berdiri, tapi tidak sampai. Kedalaman kolam sudah melebihi tinggi badannya. Semakin dia ingin bergerak mundur, air kolam semakin membawanya ke air yang lebih dalam.
“Tolong … tolong …,”teriaknya terus menerus.
__ADS_1
*Terimakasih sudah membaca, terimakasih sudah menghujani novel ini dengan like dan comments. Terimakasih sudah menandai sebagai favourite. Semoga terhibur*