Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)

Cinta Indira (Iparku Mantan Kekasihku)
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Malam itu, Edwin menginap dirumah temannya. Empat orang teman Edwin dari desa mengontrak sebuah rumah besar berisikan empat kamar tidur. Edwin dan keempat temannya yaitu Agus, Budi, Rama dan Wisnu memang sudah berteman baik dari kecil. Jadi dia tidak canggung-canggung untuk menginap disana.


Sebelum berangkat kekota, Edwin sudah menelepon temannya lebih dulu untuk mengabari mereka kalau dia akan mampir dan menginap. Teman-teman Edwin jelas sangat senang karena sudah dua tahun mereka tidak ketemu Edwin.


"Dari mana bro?" tanya Agus pada Edwin ketika dia membukakan pintu rumah. Dia bertanya-tanya darimana temannya tengah malam begini.


Edwin melihat mereka masih berkumpul diruang tamu.


"Habis ketemu cewek." Sahut Edwin cengengesan. Dia kemudian duduk dan bergabung dengan teman-temannya.


"Wah...habis bermesraan rupanya." teman-teman Edwin menggodanya.


"Nggak juga, cuma ngobrol aja."


"Cantik nggak?"


"Jelas cantiklah."


"Mana fotonya? tunjukin dong."


"Buat apa? nanti kalian ngiler." Edwin tersenyum sinis.


"Gaya banget. Mana fotonya?" Rama sedikit memaksa. Diikuti oleh teman-teman yang lain.


Akhirnya Edwin menunjukkan foto Indi pada mereka.


"Hmm...ini sih manis banget. Udah diapain aja ni cewek?" mereka antusias ingin mendengarkan cerita Edwin.


"Nggak ada, dia cewek baik-baik."


"Wah... payah. Cewek cantik kayak gini dibiarin lewat." Mereka mulai mengobrol mesum. Teman-teman Edwin tidak percaya Edwin tidak menyentuh Indi sama sekali. Bahkan tidak memeluk atau menggandeng tangannya.


"Tunggu deh... itu sepertinya orang yang sama yang ditemui Arga beberapa bulan lalu." Budi nyeletuk.


"Arga? Mereka ketemu dimana?"


"Dirumahnya trus mereka jalan-jalan sih katanya. Memangnya loe nggak tau Win?. Arga kan tergila-gila sama ini cewek. Arga aja udah ciuman sama ini cewek. Masak loe tadi nggak ngapa-ngapain?!" sambung Wisnu mengejek Edwin.


Edwin hanya diam. Dia baru ingat Indi pernah cerita kalau dia sedang dekat dengan Arga. Tapi Edwin tidak menanggapi serius cerita Indi. Dan setelah hari itu, mereka tidak pernah membahas tentang Arga lagi. Dia tahu Arga cowok playboy sama seperti dirinya. Tidak akan pernah mencintai wanita dengan sepenuh hati. Tapi ucapan teman Edwin menyadarkan dia, "Arga tergila-gila sama Indi? Apakah kali ini dia serius?"


"Ngomong-ngomong kalian tahu darimana adik gue tergila-gila sama ini cewek?"


"Dia sendiri yang cerita. Waktu mereka ketemu kan malamnya Arga menginap disini. Tapi itu sih udah lama, trus Arga nggak pernah datang lagi." Rama menjelaskan.


"Arga nggak pernah menemui Indi lagi? Bagaimana hubungan mereka sekarang?" Edwin merasa kasihan pada Indi kalau ternyata Arga hanya mempermainkan Indi. "Besok aku harus tanya Indi." pikiran Edwin merasa bersalah dan kasihan pada Indi.


"Gue duluan ya bro. Gue boleh tidur dikamar yang mana?" Tanya Edwin.


"Mana aja terserah loe. Anggap aja rumah sendiri seperti biasanya." Sahut Agus.


"Gue harap loe nggak sakit hati ya...." teriak Agus lagi.

__ADS_1


Edwin melangkah gontai menuju tempat tidur meninggalkan teman-temannya yang masih menonton pertandingan bola diruang tamu.


Edwin tak bisa memejamkan matanya. Bukan tidak mungkin Arga serius mencintai Indi. Indi berbeda dari wanita lain yang pernah Edwin ajak berkencan. Wanita lain hanya akan memamerkan kecantikan mereka dengan gaya yang glamour. Apalagi wanita yang tahu kalau Edwin bekerja diluar negeri, pasti mereka mengira Edwin punya banyak uang dan hanya akan memoroti Edwin. Tapi Indi berbeda.


Sebelum tidur, tak lupa Edwin mengirimkan pesan pada Indi supaya Indi tidak khawatir menunggu kabarnya.


"Selamat tidur gadis manis. Mimpi Indah ya..."


"Selamat tidur juga Edwin." balas Indi.


Indi memejamkan matanya dengan perasaan bahagia.


***


Keesokan harinya, Indi asik membersihkan rumah. Sudah menjadi jadwal rutin, setiap hari Sabtu pagi Indi akan membersihkan seluruh bagian rumah bahkan sampai ketempat yang tidak terlihat sekalipun. Seperti biasa, Lia akan duduk didekat Indi sambil bermain ponsel, tidak membantunya. Hanya menemaninya supaya Indi tidak kesepian. Tapi dengan begitu saja, Indi sudah senang.


"Kak Indi, gimana hubungan kakak sama Pak Cungkring? Apa dia menyakiti kakak?"


"Entahlah, dia belum juga putus dengan Bu Gurumu itu. Kakak sudah bilang sama dia, kakak menyerah saja."


"Sepertinya sih memang lebih bagus begitu kak. Daripada kakak sakit hati lagi. Trus dengan kakaknya Pak Cungkring, gimana?"


"Ya...kakak suka sih sama dia. Dia tampan dan baik. Tapi kakak takut memberikan hati terlalu cepat. Belum tahu kan dia punya pacar atau nggak. Ngakunya sih, enggak." Indi bicara santai sambil membersihkan kaca ruang tamu.


Tiba-tiba ponsel Indi berbunyi. Panggilan dari Edwin.


"Hallo..." Indi menjawab.


"Nggak ngapa-ngapain. Cuma bersih-bersih rumah aja."


"Wah rajin banget." Edwin memuji.


"Hhmm... biasa aja." Indi berusaha menyembunyikan senyumnya.


"Nanti malam ada acara nggak?"


"Nggak ada, kenapa memangnya?"


"Aku main kerumahmu ya..."


"Umm... boleh."


Indi sangat senang Edwin akan datang lagi malam ini. Cepat-cepat dia membersihkan rumahnya.


"Telepon dari siapa kak?" tanya Lia.


"Dari Edwin." Indi menjawab tanpa menoleh Lia. Dia asik mengelap meja.


"Apa katanya?"


"Dia mau kesini." Indi mengulum senyum. Lia bisa melihat kakaknya sangat senang.

__ADS_1


"Aku cuma berdoa aja, supaya Kak Indi mendapatkan yang terbaik." Lia ingin kakaknya bahagia.


Indi berbalik memeluk Lia.


"Adik kecilku sudah semakin dewasa." katanya.


Selesai membersihkan rumah, Indi segera mandi kemudian dia terlentang santai disofa ruang tamunya sambil membaca majalah wanita. Tampak beberapa pot kaktus kecil nan indah menghias meja ruang tamunya.


Dinding ruang tamu dihiasi foto keluarga mereka. Namun bingkai lain didominasi Lia.


Satu jam kemudian Edwin datang. Melihat pintu ruang tamu terbuka, Edwin langsung masuk.


"Hai Ndi...Sudah selesai bersih-bersihnya?" Kemudian Edwin duduk disofa tanpa menunggu perintah dari Indi.


"Eh hai... udah lama?" Indi memperbaiki posisinya dan duduk berseberangan dengan Edwin.


"Sudah satu jam aku disini. Masak kamu nggak sadar?"


"Dasar kamu ya... suka bercanda" Indi merungut. Sedangkan Edwin tertawa terkekeh melihat muka masam Indi karena merasa dijahili.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Indi.


"Belum. Kamu mau makan? Ayo kita keluar." Ajak Edwin.


"Aku tadi pagi masak sih. Kalau kamu mau makan bareng disini, ayo." Indi takut-takut mengajak Edwin makan dirumahnya. Edwin sudah biasa tinggal diluar negeri. Dia takut masakan rumahannya tidak akan sesuai selera Edwin.


"Kalau kamu mengundangku makan siang bersama, kenapa tidak?"


Indi tersenyum Edwin menerima ajakannya. Mereka menuju meja makan. Indi segera menata makanan untuk mereka.


"Adikmu kemana?" mata Edwin melihat kanan kiri.


"Dia tidur." jawab Indi sambil menyendok nasi untuk dirinya.


"Kamu nggak bangunkan dia suruh makan?" Edwin bertanya, tapi dalam hatinya dia berharap Indi tidak membangunkan adiknya, supaya mereka bisa makan berduaan.


"Biarin aja. Nanti juga dia akan bangun sendiri kalau lapar. Kamu ambil sendiri ya." Indi masih merasa canggung jika dia harus melayani Edwin.


Edwin mengambil makanan yang terhidang dan melahapnya.


"Masakanmu enak."


Indi tersenyum puas masakannya dipuji Edwin.


"Aku sangat rindu masakan rumahan seperti ini. Nanti kalau aku punya istri bisa masak begini, pasti tiap hari bisa makan enak."


Mendengar ucapan Edwin, Indi tersentak. Dia mengangkat wajahnya mencuri pandang pada Edwin. Menerka apakah ucapan itu untuknya. Namun ekspresi wajah Edwin terlihat biasa saja. Edwin memang pandai menyembunyikan ekspresi padahal dia sedang memberi kode pada Indi. Lagi-lagi Indi menjadi tidak mengerti.


Maklum saja, ini baru pertemuan kedua mereka. Indi belum bisa menyelami isi hati Edwin.


"Sepertinya dia tidak sedang berkata begitu untukku." gumam Indi dalam hati kemudian melanjutkan makan siangnya.

__ADS_1


~Selamat membaca. Jangan lupa like, vote dan komen ya~


__ADS_2