
Edwin berangkat kekota. Dia langsung menuju rumah Indi. Mereka sudah janji akan bertemu jam tujuh malam ini.
Indi kembali merasa deg-degan. Dia berpenampilan biasa saja, dia juga tidak memutar lagu seperti pada waktu ketemu Arga dulu. Edwin adalah orang special yang disambutnya dengan cara yang sangat sederhana. Bukan karena dia tidak suka pada Edwin. Tapi dia merasa kalau Edwin memang cinta, Edwin akan menyukai dirinya dengan penampilan apapun.
Ketika Indi merasakan jantungnya berdetak kencang, dia tahu Edwin sudah dekat. Mereka bagai mempunyai kekuatan telepati. Edwin maupun Indi bisa merasakan ketika mereka saling memikirkan. Indi tidak pernah punya kekuatan perasaan seperti ini dengan laki-laki manapun sebelumnya. Bahkan dengan Arga, laki-laki yang dicintainya. Apakah ini yang disebut memiliki ikatan batin?
Tidak sulit bagi Edwin untuk menemukan alamat yang Indi berikan. Dia langsung memberi kabar pada Indi begitu dia sampai didepan rumah Indi.
"Hallo Indi, aku sudah didepan rumahmu." Edwin mengirimkan pesan singkat.
Indi segera membuka pintu gerbang rumahnya dan menyambut kedatangan Edwin dengan penuh sukacita. Indi mempersilahkan Edwin masuk.
Edwin sangat tampan. Namanya saudara kandung dengan Arga, mereka memiliki banyak kemiripan. Kurus, tinggi, tampan. Memang Arga lebih tampan, tapi Edwin lebih tinggi dan lebih maskulin. Tingginya sekitar 182cm. Dibandingkan dengan Indi yang hanya 160cm, Indi hanya sebahunya Edwin.
Edwin datang memakai baju kaos warna hijau tua, celana pendek kotak-kotak, topi hitam dan sandal selop kesayangannya.
Indi juga cantik malam ini. Walaupun dia hanya memakai baju kaos rumahan dan celana pendek saja, namun kecantikannya mampu menghipnotis Edwin.
Tidak ada jalan-jalan, mereka hanya duduk diteras rumah Indi. Hanya jantung mereka yang berpacu sangat keras ketika mereka berdekatan. Namun Indi dan Edwin tampak santai, tidak ada yang terlihat gugup. Apakah ini karena tidak ada cinta diantara mereka? Tidak, bukan begitu. Tampak binar cahaya cinta mengelilingi mereka.
Beberapa jam ngobrol berdua, Edwin mengajak Indi untuk pergi ke minimarket terdekat. Dia ingin mencari minuman dan beberapa makanan ringan. Indi mengikuti Edwin. Indi mengambil satu minuman kemasan. Sedangkan Edwin mengambil beberapa minuman dan makanan ringan. Ketika berada dikasir, Edwin berdiri didepan Indi, membelakanginya. "Edwin tinggi sekali" Indi bicara dalam hati. Kemudian, dengan lembut Edwin mengambil minuman ditangan Indi dan menaruhnya dimeja kasir.
"Biar aku yang bayar." Kata Edwin.
"Kamu beli ini saja? Tidak mau yang lain?" Edwin meyakinkan.
"Tidak, aku tidak sedang ingin ngemil" jawab Indi singkat.
Indi membiarkan minuman yang dibelinya dibayar oleh Edwin. Tubuh tinggi Edwin menghalangi pandangannya ke meja kasir. Lagipula, dia tidak mau berdebat diminimarket.
Selesai berbelanja, mereka pulang kerumah Indi.
Mereka melanjutkan kembali obrolan yang terputus tadi. Edwin menceritakan kehidupannya selama berada diluar negri. Indi hanya mendengarkan. Edwin begitu lembut, namun dia terlihat agak dingin. Sangat berbeda dengan laki-laki manapun. Edwin benar-benar menyenangkan. Tidak kaku saat diajak bicara. Beberapa candaan juga keluar dari mulutnya membuat suasana menjadi hangat.
__ADS_1
Saat tengah asik bicara berdua, tiba-tiba ponsel Indi berdering.
"Hallo bu...." telepon tersebut ternyata dari ibunya Edwin.
"Hallo nak Indi, hari ini Edwin bilang akan kekota untuk menemuimu."
"Oh iya bu, ini Edwin ada disini. Ibu mau bicara?" tanya Indi sopan. Dia sama sekali tidak gugup.
"Tidak usah, sampaikan saja padanya untuk selalu hati-hati dijalan."
"Baik bu, nanti saya sampaikan."
Bu Edwin menutup teleponnya.
"Siapa yang menelepon?" tanya Edwin. Dia bertanya karena namanya sempat disebut.
"Ibumu."
"Apa katanya?"
"Kenapa ibuku nggak menelponku langsung?" Edwin tidak mengerti akan sikap ibunya.
"Entahlah." Indi mengangkat bahunya.
Edwin dan Indi asik berbincang, sampai-sampai mereka tidak sadar ini sudah jam dua belas malam.
Edwin berpamitan pada Indi. Selama berada dikota, Edwin akan menginap dirumah temannya.
Sepeninggal Edwin, Indi menutup pintu dengan banyak sekali pertanyaan. Apakah Edwin mencintainya? Untuk apa Edwin menemuinya kalau tidak ada rasa cinta? Lalu, kenapa tidak ada ucapan kata-kata cinta sama sekali? Atau belum saatnya? Indi menghela nafas panjang. Jawaban dari semua pertanyaannya adalah sabar.
Tapi ada pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Kenapa dia selalu saja merasa jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir deras ketika Edwin akan menghubunginya. Apakah itu cinta?
***
__ADS_1
Dirumah Edwin didesa, ibunya baru saja selesai menghubungi Indi. Tiba-tiba Arga datang setelah empat hari tidak pulang.
"Arga kamu darimana saja?" tanya ibunya.
"Dari rumah teman bu." Sahut Arga sembari membuka kulkas mencari makanan.
"Rumah teman siapa?"
"Ibu tolong jangan tanya sekarang, aku capek bu." Arga tidak ingin membahas hal yang menyakitkan dalam hidupnya. Saat ini, dia merasa sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Oh iya bu, aku dengar Edwin sudah pulang."
"Iya, kakakmu sudah pulang dua hari yang lalu. Dia membawakanmu banyak oleh-oleh. Ibu taruh didalam lemarimu. Nanti kamu lihat saja sendiri."
"Kemana dia sekarang? Kok aku nggak melihat tanda-tanda keberadaannya?" Arga bertanya sambil menggigit roti tawar yang baru dia olesi selai.
"Tadi sore dia kekota. Katanya mau ketemu Indi, wanita yang dicintainya." Bu Rika menjawab dengan santai.
Deg!
Jantung Arga rasanya berhenti berdetak. Roti itu tiba-tiba rasanya pahit. Arga berusaha terlihat senormal mungkin didepan ibunya. Dia tetap mengunyah rotinya. Dia tidak mau ibunya tahu dia sakit hati karena mencintai wanita yang sama dengan kakaknya. Salah, Arga tidak mau ibunya tahu kalau kakaknya mencintai wanita yang sudah menjadi kekasihnya.
Segera dia habiskan rotinya, kemudian dia masuk kamar.
"Mau kemana Arga?" Bu Edwin sedikit berteriak melihat Arga berjalan tergesa-gesa.
"Mau istirahat bu, capek." sahutnya dari balik pintu.
Hati Arga hancur, pikirannya berkecamuk. Kakak yang sangat disayanginya merebut orang yang sangat dia cintai. Tapi ini bukan salah kakaknya karena dia melarang Indi menceritakan tentang hubungan mereka pada Edwin. Ini juga bukan salah Indi, karena sudah lima bulan Arga tidak bisa tegas pada dirinya sendiri.
"Indi, kali ini aku akan melepasmu. Bukan karena aku sudah tidak mencintaimu, tapi karena aku ingin kamu bahagia. Aku yakin Edwin akan membahagiakanmu. Tapi jika kamu memang jodohku, kamu pasti akan kembali padaku." ucap Arga dalam hati.
Kegalauan hatinya ditemani beberapa lagu. Kata orang, lagu adalah salah satu wujud seni yang bisa membangkitkan memori. Dia mendengarkan lagu-lagu yang pernah mereka dengarkan berdua dirumah Indi, lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan saat mereka menelepon, dan banyak lagu lain yang memiliki kenangan untuknya.
__ADS_1
"Ikhlas, aku akan ikhlas Indi, jika ini membuatmu bahagia. Mungkin juga ini caraku membalas kebaikan Edwin atas semua yang pernah dia berikan padaku." Mata Arga berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan perih dihatinya.
*Selamat membaca. Jangan lupa like, comment dan vote*