
Davi yang selama 4 tahun terakhir ini bersekolah di luar negeri sesekali pulang ke Indonesia hanya untuk mencari tahu kabar dari Mika, tapi Davi tidak pernah mengatakan dan bertemu langsung dengan Mika, dia hanya melihat Mika dari kejauhan.
Suatu saat Davi yang sedang berlibur ke Indonesia, dia sengaja meminta supir pribadi keluarganya untuk memarkir mobil yang dia tumpangi dan sopirnya kendarai di seberang rumah mika.
Saat itu Davi ingin menemui ayah mika.
"Ah.... aku harus bertemu dengan ayah (sebutan Davi ke Fatir) dan bunda (Lena ibu mika)" gumam Davi karena rasa rindunya kepada keluarga Mika. Tapi saat akan turun dari mobilnya, Davi melihat Mika yang turun dari sebuah mobil SUV dengan senyum manisnya lalu Mika melambaikan tangannya ke arah seseorang yang duduk di kursi pengemudi mobil SUV tersebut.
"makasih yah" mika berkata kearah mobil tersebut.
Sontak Davi pun kaget dan langsung mengurungkan niatnya untuk turun dan menemui keluarga Mika, entah kenapa dadanya begitu sakit melihat kejadian itu jantungnya pun tiba-tiba tidak beraturan.
Deg
Deg
Deg
Davi terpaku dan bingung dengan apa yang dirasakannya, hingga ia tersadar karena pertanyaan dari pak imam sopir keluarga Adrian.
"Den Davi kenapa bengong begitu? Apa den Davi lupa dengan non Mika? Itu non Mika den, cantik ya" pak imam berkata dengan wajah yang sumringahnya..
"Iya cantik banget dia" gumam Davi pelan tapi masih terdengar oleh pak imam.
"Pak kita pulang saja" dengan lesu Davi meminta pak imam untuk mengantarnya pulang.
"Den udah 4th ya belum ketemu dengan non Mika?" Tanya pak imam yang memecahkan keheningan saat di jalan.
"sepertinya iya pak" jawab Davi dengan lesu.
Sesampainya di kediaman Adrian, Davi pun langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya di kasur, dia memejamkan matanya sambil mengingat apa yang tadi dia liat.
"ah kakak kenapa kamu berubah jadi cantik seperti itu? Dan siapa orang tadi? Apa itu pacarmu? Mengapa kamu melupakan aku kak?" gumam Davi sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba
drrrrrrrrt..
drrrrrrrrt..
drrrrrrrrt suara getar dari handphone Davi.
__ADS_1
"Iya mih ada apa?" Tanya Davi ke sipenelpon yang tidak lain adalah Amalia mamih nya.
"Ayang kamu gimana apa sudah bertemu dengan ayah Fatir? Atau kamu sudah bertemu Mika?" Tanya Amalia di seberang sana.
"Belum mih sepertinya aku belum siap" jawabnya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa nak? Apa ada yang kamu risaukan nak?" tanya Amalia khawatir.
"Mmm" Davi hanya menjawab seperti itu dan membuat mamihnya khawatir.
"Katakanlah nak mungkin mamih bisa membantu mu" ucap Amalia yang agak bingung dengan sikap anaknya, karena saat di negara xx Davi sangat menggebu-gebu ingin bertemu keluarga Fatir tapi saat di Indonesia malah dia enggan melakukan nya.
"Mmm mih bisakah aku kembali bersekolah di Jakarta?" Pertanyaan Davi yang membuat Amalia mendadak kaget.
"Kamu serius nak? Apa kamu sudah pertimbangkan dengan benar tentang sekolahmu??" Tanya Amalia khawatir.
"Sudah mih sepertinya aku akan menetap di sini dulu mih, bolehkan?!" Perkataan sekaligus pernyataan Davi yang membuat Amalia percaya kalau itu pilihan anaknya.
"Hmm,.. baiklah nak mamih akan bicarakan ini pada papihmu ya" jawab Amalia menenangkan Davi.
"sungguh mih???.. aku akan rajin belajar di sini mih, dan mamih juga papih tak perlu khawatir kan aku karena kan ada keluarga ayah Fatir" ucap Davi semangat dan bahagia, dan akhirnya Amalia pun menutup sambungan telepon nya setelah banyak lagi yang dia dan anaknya bicarakan.
Davi berpikir bahwa dia akan menyelesaikan SMA nya di Jakarta karena dia hanya ingin sesering mungkin bisa melihat Mika walaupun dari jauh. Davi belum tahu apa yang dia rasakannya saat ini ke Mika, yang dia tahu dia hanya ingin melihatnya saja.
Drrrrrrt drrrrrrt drrrrrrt drrrrrrt getar handphone Davi.
"Halo pih... " Sapa Davi ke Adrian di seberang sana.
"Nak apa kamu serius ingin melanjutkan SMA kamu di Jakarta?" Tanya Adrian yang gusar saat diberi tahu oleh istrinya tentang anaknya yang ingin menetap di Jakarta.
"iya pih, apa aku boleh melakukan nya?" tanya Davi dengan cemas.
"Tentu saja nak kami akan persiapkan keperluan mu untuk pindah ke Jakarta, tapi apakah kamu tidak apa-apa kalau papih dan mamih belum bisa tinggal di sana nak?" Tanya Adrian.
"Mmm ga papa pih... Aku bisa kok sendiri, dan aku tidak ingin membuat papih dan mamih khawatir dan terganggu aktifitasnya karena aku ingin di Jakarta" ucapnya ke Adrian.
"Ayang kamu ga pernah ganggu papih dan mamih karena kami sangat menyayangi mu,.. mmmm.. papih akan minta pak Fatir mengurus kepindahan sekolahmu ya nak dan mengurus kebutuhan mu di sana" ucap Adrian ke Davi.
"Tapi pih aku takut merepotkan ayah pih" jawab Davi.
"Tidak nak mereka sudah menganggap kamu seperti anak mereka jadi itu tidak mungkin, jadi tak perlu khawatir ya.." ucap Adrian yang mencoba membuat diri dia tenang karena anaknya akan jauh darinya, dan tetap Adrian menugaskan Fatir untuk menjaga dan merawat Davi.
__ADS_1
Setelah sambungan telepon selesai Davi pun mandi dan makan siang di bawah.
"Bi.... Bi Minah.... " Teriak Davi ke arah dapur.
"Iya den, mau makan sekarang?" Tanya bi Minah, pekerja yg berkerja sebagai Art di kediaman Adrian.
"Iya Bi aku lapar" jawab Davi sambil menarik kursi di ruang makan.
Dengan cepat bi Minah menghidangkan makanan yang sudah ia masak tadi, dan Davi pun langsung menyantap makan siangnya dengan lahap karena sudah sangat kangen dengan masakan Indonesia.
__________________
Di kediaman Mika beberapa hari kemudian
"Bunda Mika mana?" Tanya Fatir ke isterinya Lena.
"Masih di kamarnya kayanya yah, bentar bunda panggilkan dulu" jawab Lena sambil berjalan ke arah tangga rumahnya dan berteriak ke arah lantai dua dimana kamar Mika berada, "Mika... Mika..... Turun nak dipanggil ayah" teriak Lena.
"Iya bunda sebentar" jawab Mika langsung membuka pintu kamarnya dan turun ke ruang keluarga dimana ayah dan bundanya berada.
"Kenapa yah?" Tanya mika yang langsung duduk diantara ayah dan bundanya.
"Eh anak ayah masih aja manja ya" Fatir berkata sambil mengelus kepala Mika.
"Nak Davi akan sekolah di Jakarta lagi, tapi papih dan mamihnya sepertinya masih di negara Xx, jadi pak Adrian meminta ayah untuk menjaga Davi dan memberikan keperluan Davi" terang Fatir ke Mika.
"Terus?" Tanya Mika cuek.
"Pak Adrian dan bu Amalia juga minta bantuan mu, untuk menemani Davi karena Davi belum punya teman di Jakarta" Fatir yang masih menerangkan maksud keluarga Adrian kepada keluarga nya.
"wah bunda kangen banget sama anak lelaki bunda itu yah" ucap Lena yang sudah menganggap Davi anaknya, Fatir pun tersenyum kepada Lena dan lalu menatap Mika yang masih belum ada jawaban atas permintaan ayahnya.
"Gimana nak?" Tanya Fatir ke Mika.
"Aku sih oke yah secara dia udah aku anggap Ade aku sendiri dengan senang hati aku pasti bantu si ayang(panggilan kesayangan Davi) yah" jawab Mika dan membuat Fatir lega.
"Klo gitu besok kamu antar dia ke mall ya buat beli persiapan sekolahnya" ucap Fatir ke Mika dan dijawab Mika dengan anggukan.
Sikap Mika pun biasa saja setelah tau Davi akan bersekolah di Jakarta, dan besok akan bertemu dengannya, karena menurut nya tidak ada yang spesial kalau hanya akan mengantarkan Davi yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. Mika pun melanjutkan duduk santai sambil ngobrol ngalir ngidul bersama orang tuanya di ruang keluarga.
______________
__ADS_1
Berbeda dengan Davi yang sangat antusias dan panik saat dia tahu besok adalah hari penting dia akan bertemu Mika dan keluarga nya setelah 4tahun tidak bertemu.
"Duh aku harus pakai apa ya mmmm harus gimana ya nanti" gumam Davi dalam hati, setelah mamihnya menelpon nya bahwa besok Mika akan mengantarnya untuk membeli keperluan sekolahnya.