
Radit sangat kesal karena pertanyaannya belum di jawab oleh Mika. Dengan kesal ia meminggirkan mobilnya ke tepi jalan yang sedang ia lewati, setelah mobil berhenti ia memiringkan duduknya dan menatap Mika dalam. Tatapannya tajam dan penuh emosi.
"Saya tanya sekali lagi siapa tadi yang menelpon kamu?!!" Tanya Radit dengan suara yang keras karena sudah emosi..
Mika kaget karena bentakan dari Radit, tubuhnya sampai bergetar. Siapa sangka Mika melihat sisi buruk Radit yang menakutkan. Memang Radit dikenal sebagai atasan yang dingin tetapi ini Radit yang sekarang sedang berada di samping Mika adalah Raditya yang menakutkan.
"Bapak kenapa, kok marah sekali?" Tanya Mika pelan. "Saya akan mematikan handphone saya pak, jangan marah pak" ucap Mika dengan hati-hati.
"Bapak! Bapak! Terus dari tadi, kan sudah saya bilang kalau kita sedang diluar kantor kamu harus panggil saya apa hah?!!" Ucapan Radit dengan nada yang keras.
Mika kaget melihat reaksi Radit yang seperti itu. Lalu Mika tetap berusaha bersikap tenang, tidak ingin tersulut emosi, walaupun ia merasakan takut. Bukan takut karena Radit atasannya dan ia takut dipecat, tapi takut Radit diluar kendali, karena tatapan Radit yang murka itu seperti ingin membunuh. Ia membuang nafas nya pelan-pelan berusaha tetap tenang.
"Baiklah mas, sabar ya.. maaf ya kalau ucapan atau tingkah laku saya kurang mengenakkan hati mas Radit ya" ucap Mika pelan dan agak bergetar karena takut, tapi ia tetap tersenyum.
Sepertinya Radit tersadar akan tindakan buruknya, ia menyenderkan kepalanya di jok pengemudi.
"Maaf Mik" hanya itu yang keluar dari mulut Radit. Ucapan Radit itu hanya terdengar samar oleh Mika karena sangat pelan.
Lalu Radit melajukan lagi mobilnya entah apa yang dipikirkan, Radit malah melajukan mobilnya ke arah jalan berbayar yang lebih dikenal dengan sebutan jalan Tol ( tax on location ).
Wajah Mika mulai panik, dia langsung menatap ke arah Radit.
"Loh ini mau ke mana? Bukankah galeri Bu Sonya di gedung depan itu" ucap Mika seraya menunjuk gedung sekitar 800 meter di depannya.
Radit tak menjawabnya ia masih melajukan mobilnya. wajahnya fokus melihat ke jalan.
"Tolong Mas jawab ini mau ke mana?" Tanya Mika lagi dengan wajah panik dan bingung.
"Tenang sebentar lagi kita sampai" ucap Radit santai.
Akhirnya mobil tersebut berhenti di wilayah sekitar pantai, Radit memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dan buru-buru membukakan pintu untuk Mika. Mika yang kaget hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda terima kasih.
"Kita ngapain di sini?" Tanya Mika seraya mengedarkan pandangannya menatap sekitarnya.
"Maaf Mik, tolong temani aku sebentar" pinta Radit. Sebelum mika mengiyakannya Radit terlebih dahulu menarik pelan tangan Mika agar mengikutinya.
__ADS_1
Tetapi Mika langsung menepis tangan Radit. Dan Radit kaget langsung menatap Mika dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Maaf pak.. eh maaf Mas" ucap Mika menunduk tetapi masih mengikuti Radit berjalan.
Radit duduk di kursi yang berada di pinggir pantai, dan Mika juga duduk di sampingnya. Mika melepaskan sepatu heels nya, lalu mengganti dengan Flatshoes yang dia ambil dari tasnya.
"Mik.. tadi maaf ya entah mengapa aku jadi emosi seperti itu" ucap Radit dengan wajah yang menatap ke depan. Tatapannya memandang lautan yang luas tetapi entah pikirannya kemana.
"Aku sendiri juga bingung kenapa seperti itu... Aaaaargh..." Ucap Radit lagi sambil mengacak-acak rambutnya.
Mika yang melihat Radit seperti itu langsung iba. Tangannya tiba-tiba menepuk-nepuk bahu Radit pelan.
Puk..puk..puk pelan dan berirama.
"Mas coba lakukan ini deh" pinta Mika yang mempraktekkan gerakan peluk kupu-kupu. Lengan Mika bersilang di dada, dan jari-jari tangan berada di pundak, lalu sebelah kanan jarinya menepuk bahunya pelan.
"Biasanya ini bisa menenangkan hati kita mas, bisa mas?" Tanya Mika dengan senyuman.
"Sebenarnya hanya senyuman itu yang bisa membuatku tenang Mik" gumam Radit dalam hati.
Karena tidak enak dan takut Radit marah lagi, akhirnya dengan berat hati Mika menyambut uluran tangan Radit. Terlihat wajah Radit langsung tersenyum senang, mereka pun berjalan menelusuri pantai. Tangan kanan Radit menggandeng tangan Mika sedangkan satunya lagi membawa sepatu heels Mika.
"Terimakasih ya Mik.." ucap Radit.
"Untuk apa mas mengucapkan terimakasih?" Tanya Mika dengan senyuman.
"Untuk semuanya" jawab Radit dengan senyuman yang terus ada di wajahnya.
"Oh iya bagaimana urusan dengan Bu Sonya?" Tanya Mika yang menghentikan langkahnya.
"Udah nanti biar aku yang urus" ucap Radit dengan mengacak-acak rambut Mika.
"Ih pak kebiasaan deh" keluh Mika.
"Hei kok panggil bapak lagi?" Protes Radit dan Mika yang lupa hanya tertawa.
__ADS_1
Saat itu Radit sangat bahagia senyuman selalu terukir di wajahnya, sedangkan Mika entahlah apa yang ia pikirkan, ia hanya mengikuti kemauan Radit.
Tiba-tiba Mika berhenti dan memandang ke arah langit ia terpukau saat melihat matahari terbenam, lalu Radit yang melihat itu langsung mengambil ponselnya. Radit mengambil beberapa gambar dengan ponselnya. Mika yang menyadari apa yang dilakukan Radit lalu melirik ke arah Radit. Radit yang tertangkap basah sedang asik mengambil foto diri Mika langsung berpura-pura mengambil gambar pemandangan saat matahari terbenam.
"Liat deh matahari dan langitnya indah kan?!" Ucap Radit seraya menunjukkan gambar yang baru ia ambil dengan ponselnya.
Iya membuat alibi bahwa ia tadi tidak mengambil foto Mika, saat melihat layar ponselnya Radit Mika pun tersenyum. "Hahaha ternyata dia foto pemandangan toh gue kira dia diam-diam foto gue" gumam Mika dalam hati. Sepertinya Mika berhasil tertipu.
Radit dan Mika makan malam di salah satu restoran seafood di dekat pantai. Mereka makan dengan tenang, lalu Radit mencoba membuka pembicaraan.
"Suka gak Mik sama masakannya?" Tanya Radit.
"Ini enak mas tapi terlalu pedas hehe" jawab Mika yang memberi review tentang udang dan cumi saus Padang.
"Kalo mas gimana apa itu enak?" Tanya Mika seraya menunjuk piring Radit dengan matanya. Lalu kembali menunduk menikmati makanannya.
"Nih coba aaaa" bukannya menjawab malah menyuapi makanan itu ke mulut Mika.
Tanpa menoleh ke Radit, Mika membuka mulutnya dan menerima makanan dari tangan Radit. "Mmm enak" jawab Mika. Tetapi beberapa saat kemudian Mika membulat kan matanya ke arah Radit.
"Ih mas kebiasaan, kan aku bisa makan sendiri" ucap Mika kesal dan cemberut.
Radit hanya tertawa mendengarnya dan melihat wajah Mika. Menurut Radit Mika saat itu sangat mengemaskan. Setelah selesai makan mereka langsung menuju mobil Radit untuk mengantarkan Mika pulang.
Saat di perjalanan..
Mika diam saja dan hanya memandang ke arah luar jalan, sedangkan Radit fokus menyetir. Saat hampir sampai di kediaman Mika, tiba-tiba Radit...
"Mika.. i love you.." ucap Radit yang tiba-tiba, membuat Mika membulatkan matanya.
__________________________
**Terimakasih banyak atas kunjungannya ya ka...
jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya, beri kritik dan sarannya. Like dan jadikan novel ini favorit kamu, bantu votenya juga ya... terimakasih**..
__ADS_1