
Mika dan Radit sedang makan malam di cafe pinggir pantai, sedari tadi Radit banyak sekali bertanya kepada Mika dan Mika menjawab pertanyaan itu satu persatu, seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat. Hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang sulit Mika jawab, karena takut Radit marah.
"Mik.. ada hubungan apa kamu sama bocah temennya Ade aku itu??!!" Tanya Radit serius.
Mika berpikir keras apa yang harus dijawabnya. "Apa aku harus jujur atau gimana?" Batin Mika yang bingung.
"Jawab Mik, jangan buat aku menunggu!!" Perintah Radit, dengan mata yang tajam.
"Apa yang dikatakan Leo? Dan menurut bapak apa hubungan saya dengannya?" Tanya balik Mika.
"Leo tak mengatakan apapun, dan aku juga enggan memikirkan hubungan apa antara bocah itu dengan kamu!!!" Radit sedikit berteriak. Ia mengepalkan tangannya di atas meja cafe.
"Kalau begitu tak perlu ditanyakan, untuk apa memikirkan sesuatu yang tak mau kita pikirkan" ucap Mika santai.
"Lebih baik makan makanannya mas sebelum dingin" ucap Mika kembali lembut, karena tau Radit sudah marah.
Ciiih.. Radit berdecak kesal dan membuang mukanya ke sembarang arah. Terlihat wajah Radit yang sudah memerah menahan amarah. Mika menarik nafasnya dalam dan membuangnya pelan-pelan. Menahan kesal di hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan?? Aku hanya ingin pulang!" Ucap Mika dalam hati.
"Mas kalau tidak mau makan bisa antarkan aku pulang?" Tanya Mika ragu.
"Tidak!!" Jawab Radit singkat.
"Ya sudah aku pesan taksi online ya untuk pulang.." izin Mika.
"Tidak!!" Jawab Radit lagi.
"Terus maunya apa?" Tanya Mika yang sudah lelah dengan sikap Radit.
Radit tetap diam saja, lalu Mika mengambil sirloin steak yang Radit pesan dan belum disentuhnya sama sekali. Mika memotong-motong steak itu jadi beberapa bagian lalu menawarkan ke Radit.
"Mas makan ya.. kan belum makan dari tadi, ini udah aku potongin.." ucap Mika lembut.
Radit pun menoleh dan melihat ke arah Mika lalu ke arah piring didepannya, senyum kecil tercipta di wajah Radit.
"Makan dulu ya.." ajak Mika lembut.
Radit menganggukkan kepalanya seperti anak kecil. Ia memakannya dengan lahap, karena dari siang ia belum makan.
"Itu enak gak Mik?" Tanya Radit ke Mika, dengan maksud minta di suapi oleh Mika. Karena kebiasaan Mika jika di tanya seperti itu ia malah menyuapi ke orang tersebut seperti berbicara 'coba saja sendiri'.
__ADS_1
Benar saja Mika langsung memberinya suapan besar ke mulut Radit. Dan langsung di terima oleh Radit dengan senang hati.
"Gimana enak ga?" Tanya Mika dengan senyuman.
"I iya enak" jawab Radit dengan mulut penuh.
Setelah selesai makan dan membayarnya, Radit pun mengajak Mika untuk ikut dengannya menuju mobil. Mika mengikuti Radit, sedangkan Anto yang sedari tadi memperhatikan bosnya, ia selalu melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Radit ke Doni.
Saat di dalam mobil, Radit menyuruh Anto untuk mengantar mereka ke toko kue, ia ingin menggantikan kue yang ia jatuhkan tadi di Mall.
"Ke toko kue xx To" perintah Radit.
"Aku akan belikan kamu kue yang kamu inginkan Mik.. di sana kuenya sangat enak" ucap Radit lembut ke Mika, Mika menganggukkan kepalanya dan radit membelai lembut rambut Mika yang dikuncir kuda.
Mika yang agak risih memundurkan kepalanya, Radit mengerti lalu ia menghentikannya dan beralih menggenggam tangan Mika. Mika berusaha melepaskan genggaman Radit tapi usahanya sia-sia, akhirnya ia diam saja.
Sesampainya di toko kue Mika membeli cheesecake kesukaan ia dan bundanya.
"Sudah mas, aku beli ini" ucap Mika seraya menunjuk cheesecake tersebut.
"Kok cuma itu?" Tanya Radit.
"Yang tadi jatuh cuma ini mas" ucap Mika pelan dan tersenyum.
Lalu Radit memilih beberapa kue, ia membeli red Velvet cake, rainbow cake, dan lain-lain totalnya ada 12 macam cake. Mika terbelalak saat karyawan sedang membungkuskannya.
"Yang benar saja mas... Mas kira aku mau arisan atau mau jualan apa beli sebanyak ini? Gak sekalian aja beli sama tokonya.." bisik Mika di telinga Radit. Radit malah tertawa kecil mendengar ucapan Mika.
"Ya sudah kalau kamu menginginkan toko ini nanti aku beli buat kamu" ucap Radit santai.
"Wah mas kamu salah makan apa? Gak mas aku ga mau makasih.." jawab Mika kesal.
"Besok aku suruh Doni membelinya" ucap Radit serius.
"Wah mas.. aku pulang aja deh.. kue nya ga jadi!!" Seru Mika.
"Loh kok gitu?.. Mik, kan aku minta maaf tentang kue yang tadi aku jatuhkan di Mall" lirih Radit.
"Ya aku maafin tapi jangan berlebihan gini aku gak suka!!" Jawab Mika.
"Ya udah terserah kamu aja" ucap Radit yang kalah argumen dengan Mika.
__ADS_1
Setelah selesai di toko kue, mereka masuk ke dalam mobil, Anto membawa dan menaruh box-box kue ke dalam bagasi mobil. Lalu mengantarkan Mika pulang. Di perjalanan Radit mencoba menggenggam tangan Mika, tapi Mika menolak nya secara halus. Radit yang kecewa hanya bisa diam dia takut menyakiti Mika lagi.
Sesampainya di kediaman Fatir, dengan segera Anto turun untuk membawakan box-box kue tadi. Radit pun ikut turun dan berinisiatif membantu membawakannya.
"Terimakasih pak atas semuanya (lagi-lagi Mika memanggilnya dengan sebutan pak), saya bawa 3 box saja ya" ucap Mika dengan senyumannya.
"Loh kok gitu sih.. terus ini mau dikemanakan?" Jawab Radit bingung. Anto pun tak kalah bingung dengan ucapan Mika.
"Satu box buat Ayah, satu buat bunda dan satu lagi untukku.. hehe" ucap Mika tanpa beban.
"Sisanya gimana? Aku beli ini semua buat kamu Mik!!" Ucap Radit yang sudah agak kesal.
"Pak Radit satu, pak Anto satu, Leo satu, dan sisanya bisa bapak bawa besok untuk bagi-bagi di kantor dengan pak Doni juga pak!!" Ucap Mika dengan langsung berjalan pergi masuk ke dalam halaman rumahnya yang sudah di bukakan gerbangnya oleh bi Sumi.
"Eh... Eh.. kok main pergi aja... Mik.. Mik...!!" Panggil Radit, dan Anto hanya menatap Radit bingung.
"Gimana pak?" Tanya Anto bingung.
"Udah ikutin aja" pasrah Radit.
Mereka pun akhirnya pergi menuju apartemen Radit.
"Pak jadi sisanya taruh di bagasi aja gitu? Biar besok langsung dibawa ke kantor?" Tanya Anto bingung.
"Ga tau To... Saya cuma ikutin maunya dia aja.. kamu atur baiknya gimana ya!" Radit yang duduk di kursi belakang menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Siap pak!" Jawab Anto sigap. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke apartemen Radit.
_______________
Keesokkan harinya di Stasiun televisi X tempat Radit dan Mika bekerja, Radit yang sedang fokus pada layar laptopnya kaget saat Doni terburu-buru masuk tanpa mengetuk pintu.
"Dit.. nih!!" Doni yang meletakkan sebuah surat kehadapan Radit.
Radit membelalakkan matanya. Wajahnya memerah menahan emosi.
"APA INI?!!!!!!!" teriak Radit ke Doni.
_________________
Jangan lupa untuk Like, komen dan vote nya ya ka.. biar aku tambah semangat nulisnya..
__ADS_1
Jangan lupa follow aku ya, Follow juga Ig aku : deena.sut
Terimakasih