Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 10


__ADS_3

"Wonyoung!" katanya.


Aku terkejut mendengar suaranya dan langsung menoleh kearahnya.


"Hara! Kok tumben naik bus? Biasanya kamu diantar mama mu." ucapku yang masih tak sadar akan sesuatu.


"Iya mama aku sibuk. Tadi aja dia pergi pagi pagi sekali." jelasnya. Dan aku hanya ber oh ria.


"Oh ya. Kenapa kamu naik di halte tadi? Bukannya ini bukan bus dari arah rumah mu ya?" tanyanya menatap mataku. Aku bingung menjawabnya. Ku putar bola mataku melihat kearah lain sambil berpikir.


"Ahh... Aku sekarang tinggal di rumah sepupuku. Makanya aku naik bus ini." jawabku asal.


"Sepupu? Tumben. Biasanya kamu males berurusan dengan sepupumu."


"Hahaha... Mama tiba tiba suruh aku tinggal disana. Terpaksa aku turuti deh."


"Hm gitu.. Nanti kita ke Mall ya. Udah lama kita nggak jalan bareng." ajaknya riang.


"Oke." jawabku lega. Untung saja Hara percaya. Pokoknya hara tidak boleh tahu kalau aku sudah menikah.


☆☆☆☆


Selama jam pelajaran pak Yohan guru lain yang menggantikan. Ternyata memang izin beneran. Tapi kenapa harus bu Han yang menggantikan.


Ya. Pak Yohan mengajar pelajaran matematika. Dengan pak Yohan soal yang sulit menjadi mudah di ajarnya. Tapi sekarang bu Han mengajar soal yang mudah menjadi sulit dengannya.


Banyak teman sekelasku tertidur karena penjelasannya yang membosankan. Tiba tiba Hara mengajakku bicara.


"Wonyoung. Memang pak Yohan yang terbaik dalam matematika. Kalau bu Han menjadi wali kelas kita. bisa bisa aku tidak naik kelas." ucapnya sambil menguap.


"Iyakan. Aku yang suka matematika aja jadi bosan." ucapku sambil mencatat materi.


"Kamu mah enak. Siapa pun gurunya kamu tetap mengerti dan jadi juara. Sedang aku, rasanya ingin jadi pengangguran aja." ucapnya meletakkan wajahnya di atas meja.


Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan Hara.


☆☆☆☆


Di Kantor Yohan.


Perusahan Yohan menangani perabotan. Ya perusahaan mebel terbesar di kota ini. Sebenarnya ayah Yohan melarangnya mendirikan perusahaan ini. Tapi dari dulu Yohan bercita cita membuka usaha sendiri yang sesuai minatnya.


Kini Yohan sedang sibuk melihat berkas berkas yang menumpuk. Sudah sebulan ini dia belum memeriksa perusahaannya. Dia menyerahkan semua pekerjaan penting kepada Seongwoo. Ya walaupun Seongwoo lebih tua dari nya tapi mereka bersahabat layaknya seumuran.

__ADS_1


Seongwoon datang membawa berkas yang di minta Yohan.


"Ini berkas yang anda minta tuan." ucapnya. Seongwoo bersikap profesional bila sedang bekerja walau sedekat apa pun mereka. Seongwoo adalah sekertaris Yohan.


"Baiklah. Tapi hyung. Mau sampai kapan kau memanggilku tuan? Ayolah.. kau lebih tua dari ku." rengek Yohan.


"Maaf. Kalau masalah pekerjaan saya harus konsisten tuan."ucapnya sopan.


"Ya sangking konsistennya kau setia dengan satu orang dalam menjalin hubungan. Baik bos ataupun pasangan." tawa remeh Yohan.


"Kenapa tuan bicara seperti itu? Tapi kebetulan sedang membahas itu saya ingin memberi tahu kalau saya dan istri ingin datang ke rumah tuan."


"Kalau mau datang hyung harus berjanji dulu pada ku." ucap Yohan melihat ke arah Seongwoo.


"Hyung harus janji kalau kita sedang berdua hyung nggak boleh panggil aku kayak gitu lagi."


"Baiklah tuan." jawab Seongwoo pasrah.


"Hyung!" teriak Yohan membuat Seongwoo terkejut.


"Ah! Kau mengejutkan ku!" ucap Seongwoo sedikit meninggi.


"Gitu dong hyung." ucap Yohan cengir.


(Sungguh kasihan kamu seongwoo😅)


"Oh ya aku ingin tanya. Gimana hubunganmu dengan istri imut mu itu?" tanya Seongwoo yang tak sungkan lagi sambil duduk di sofa.


"Ya nggak gimana gimana." jawab Yohan yang masih memeriksa berkas.


"Mendengar jawabanmu aku sangat kecewa. Bukan ini jawaban yang ingin ku dengar. Ku ulang lagi pertanyaanku. Udah ngapain aja kalian?" tanya Seongwoo dengan menaik turunkan alisnya.


Yohan menghentikan kegiatanya. Lalu menatap Seongwoo dan menghampirinya.


"Sebelum ku jawab, aku ingin tanya dulu. Hyung dengan Eunbi gimana setelah menikah?" tanya Yohan menaikan sebelah alisnya.


"Yah kami sangat bersemangat di malam pertama. Karena setelah menikah sulit untuk menahan itu." jawabnya santai.


"Kenapa? Wonyoung langsung kau makan?" lanjutnya dengan cengiran di bibirnya.


"Benarkan. Menahan itu sangat sulit. Aku sengaja tidak langsung melakukan itu karena aku mau dia fokus sekolah dulu."


"Kalau kau aku tidak heran. Dari dulu aja tak pernah pacaran. Padahal ada perempuan cantik datang menawarkan diri malah kau tolak mentah mentah." ucap Seongwoo panjang lebar sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.

__ADS_1


"Tapi apa tadi kau bilang? Seorang Yohan sedang menahan hawa nafsunya? Hahahaha... Apa dia begitu menggoda dimatamu sampai kau bernafsu ingin memakannya? Hahaha..." ejek Seongwoo.


"Ini nih yang aku nggak suka dari hyung. Selalu saja mengejek ku." ucapnya cemberut.


"Hahahaha.... Ternyata selera mu yang begitu, daun muda yang imut. Pantas aja semua perempuan cantik yang seksi itu selalu kau tolak. Hahahaha... seleranya yang begitu. Dasar om om." kata Seongwoo yang masih tertawa.


"Ngatai orang om om dirinya juga om om." kata Yohan berdecih dan langsung kembali ke mejanya.


"Hei. Aku berani taruhan sebelum dia lulus pasti dia sudah habis kau makan. Sudah ya. Aku kembali dulu. Hahaha..." kata Seongwoo berlalu keluar yang masih belum puas tertawa.


Yohan jika bersama teman temannya sangat berbeda dengan para perempuan yang di dekatnya. Bila dengan temannya dia akan mengeluarkan berbagai ekspresi. Jika berada di sekitar perempuan pasti dia memasang wajah datarnya.


Berbeda dengan waktu itu. Karena dia pertama kali mengajar jadinya dia ingin bersikap ramah kepada sesama guru. Tapi siapa sangka kalau sikap ramahnya mengundang kesalahpahaman yang tidak di inginkan. Setelah kejadian bu Han Yohan menjadi dingin kepada semua guru dan bicara seperlunya saja.


☆☆☆☆


"Sudah waktu pulang nih. Kamu jadi ikutkan Wonyoung?" tanya Hara membuatku menghentikan kegiatanku.


"Iya. Emang ada apasih?" tanyaku penasaran. Hara kalau ada apa apa pasti tanya pertanyaan yang sama lebih dari satu kali.


"Itu... Tadi anak Universitas XX ajak aku jalan. Katanya dia bawa teman. Jadi aku disuruh bawa teman. Mau ya Wonyoung." ucap Hara memohon.


"Kenapa harus aku? Teman gosipmu bawa sana. Aku sibuk mau belajar. Aku kira tadi hanya pergi jalan saja." jawabku sambil membereskan barangku.


"Kali ini aja deh. Lagian cuma sebentar kok. Mau ya. Ya?" tanyanya lagi.


"Okelah. Tapi jangan lama lama ya." kataku sambil tersenyum.


"Asaa... Iya nggak lama kok. Tapi tumben kamu nggak ambil kelas tambahan."


"Ah sebenarnya aku ambil kelas tambahan karena nggak ada kerjaan di rumah. Tapi sekarang kerjaan ku sangatlah banyak." jelasku.


"Owh okelah."


Setelah bel pulang kami langsung menuju salah satu kafe yang dekat sekolah. Begitu masuk kafe itu ada seseorang melambaikan tangan ke arah kami. Kami langsung menghampirinya.


Hara yang sejak datang tadi bersemangat mengobrol dengan temannya itu. Aku yang duduk berhadapan dengan laki laki yang baru ku kenal hari ini hanya menjawab seadanya tentang pertanyaannya. Aku merasa gelisah dan merasakan dingin di sekitarku sama seperti tadi pagi saat pak Yohan mengeluarkan aura dinginnya.


Aku tak tau kalau ada dua orang sedang memperhatikan ku dari jauh.


☆☆☆☆


Maaf typo bertebaran.😁

__ADS_1


Mohon dukungannya. Jangan lupa like dan komennya ya😊


__ADS_2