
**Gimana menurut kalian?
Masih mau jadi sider???
Like dong**~~
Kini Wonyoung sedang duduk di ruang tv sambil menonton tayangan kesukaannya. Sekarang menunjukkan pukul 4 tapi istri Yohan ini belum menggerakkan tubuhnya untuk mandi.
Wonyoung menonton sambil memakan cemilan yang dibeli Yohan saat di bandara. Dia cengengesan karena tayangan tv menampilkan adegan lucu. Di tengah aktifitasnya itu ada suara bel yang mengusiknya.
"Siapa sih yang datang jam segini?" dengan berat hati Wonyoung berjalan menuju arah pintu masuk.
"Ya. Cari si.." ucapan Wonyoung terhenti saat melihat siapa yang datang.
"Hangyul?!" ucap Wonyoung tak percaya.
"Hai." ucap Hangyul sambil tersenyum.
"Ko-kok kau bisa tau aku disini?" tanya Wonyoung. Mereka masih berdiri di ambang pintu.
"Kau nggak izinin aku masuk nih?"
"Uh? Ah iya. Ayo masuk." Wonyoung mempersilahkan Hangyul masuk.
Mereka masuk dan menuju ruang tamu. Ruang tamu dan ruang tv itu satu. Wonyoung mematikan tv nya dan mempersilahkan Hangyul duduk. Wonyoung pun mendudukkan tubuhnya.
"Maaf ya sedikit berantakan." ucap Wonyoung. Memang ruangan itu terlihat berantakan karena bungkus camilan yang dimakannya.
"Nggak masalah kok. Kau sendiri aja?" tanya Hangyul melihat sekeliling.
"Sebelum aku jawab pertanyaan mu lebih baik kamu jawab dulu pertanyaanku." ucap Wonyoung. Dia tak percaya Hangyul ada disini sekarang. Belum lama Hangyul kembali ke Amerika dan sekarang dia ada di hadapannya.
"Hmm aku pindah kuliah ke sini. Aku sengaja meminta papa untuk memindahkanku. Aku tadi pagi sampai." Jelas Hangyul. Lalu dia menatap mata Wonyoung.
"Begitu sampai aku langsung ke rumahmu. Tapi kau nggak ada. Mama mu bilang kau udah pindah dan tinggal disini. Bersama..." ucapan Hangyul terhenti. Dia menundukkan kepalanya. Wonyoung merasa bersalah karena tidak memberitahu yang sebenarnya.
"Haha.. Ternyata pria tua itu beneran kaya ya. Lihatlah apartement ini. Wahhhh.... Memang kau tidak salah pilih ya." ucap Hangyul. Kini dia berdiri dan melihat sekeliling apartement. Wonyoung menundukkan kepalanya.
"Hey kau tak memberiku minum?" tanyanya yang sudah berjalan kedapur.
Wonyoung mengikutinya ke dapur. Hangyul membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya.
"Hangyul.. Maaf..." ucap Wonyoung pelan. Tapi Hangyul masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Maaf? Untuk apa?"
"Maaf karena merahasiakan semua ini."
"Bukan salahmu juga kali. Mungkin aja kau merasa malu udah menikah saat kau masih sekolah. Yah wajar aja sih. Kau tak perlu minta maaf." ucap Hangyul. Dia tau kalau Wonyoung pasti akan meminta maaf.
"Tapi kita masih bisa berteman kan?" tanya Wonyoung memastikan.
"Ya pasti lah. Perubahan status mu nggak akan merubah persahabatan kita kali." Hangyul kini berjalan keruang yang mereka tempati tadi.
Wonyoung pun kembali mengikuti Hangyul. Mereka duduk berhadapan. Hangyul mengambil remot tv dan menyalakannya. Wonyoung menatap Hangyul sesaat dan kemudian menatap layar tv.
"Kau beneran kuliah disini?" Tanya Wonyoung setelah cukup lama mereka terdiam.
"Yah sebenernya aku mau pindah karena kau akan kuliah juga tahun ini. Aku mau kita satu kampus. Tapi kata tante kau kuliah online jadi aku nggak yakin kuliah disini." jelas Hangyul. Dia tidak mau memberitahu Wonyoung alasannya pindah karena dia ingin berdekatan terus dengan Wonyoung.
"Hmm kan nggak harus bareng aku juga. Kan ada Hara. Kau bareng dia aja. Kasihan juga aku lihat dia harus mencari kampus sendiri. Sebenarnya pun aku kuliah online hanya untuk tahun pertama aja kok." kali ini Wonyoung yang menjelaskan.
"Ku pertimbangkan."
"Terus gimana kabar mu...." mereka pun kembali mengobrol panjang. Maklum mereka jarang bertemu. Wonyoung tidak ingat kalau sekarang sudah sore dan sebentar lagi suaminya itu akan pulang.
☆☆☆☆
Tok tok tok
"Permisi pak." ucap perempuan itu.
"Oh. Ada apa nona Lee?" ucap Yohan setelah mengetahui siapa yang ada didepannya itu.
"Saya mau melaporkan masalah proyek kita pak." ucapnya memberikan beberapa berkas pada Yohan.
"Hmm sepertinya tadi saya sudah bilang. Kalau mau membuat laporan cukup sama sekretaris Han saja." walau Yohan berucap begitu dia tetap memeriksa berkas yang di bawa oleh Haneul.
"Maaf pak. Tadi saya mau menemui sekretaris Han, tapi tadi kata asistennya dia sudah pulang siang tadi pak. Jadi saya terpaksa melapor pada bapak." jelasnya.
"Ya sudah. Untuk kali ini nggak masalah. Tapi saya harap kedepannya kamu cukup melapor pada sekretaris saya saja. Mengerti?" ucap Yohan sambil memberikan berkas yang di periksanya tadi.
"Baik pak. Sekali lagi saya minta maaf." ucap perempuan itu dan melangkah mundur. Tapi langkahnya terhenti dan kini dia membalikkan tubuhnya menghadap Yohan kembali.
"Hm maaf bila mengganggu. Tapi saya ada pertanyaan pak." ucapannya membuat Yohan kembali menatapnya.
"Ya?"
"Kenapa bapak tiba-tiba menjauhi saya? Apa saya ada salah sama bapak? Hm maksud saya apa saya membuat kesalahan?" tanya Haneul.
__ADS_1
"Kamu nggak membuat kesalahan kok. Hanya saja saya rasa selama ini saya terlalu dekat dengan satu karyawan saja. Jadi saya pikir itu tidak adil jadi saya membuat keputusan seperti itu." jelas Yohan. Haneul hanya mengangguk paham dengan penjelasan Yohan.
"Kalau begitu saya keluar dulu. Permisi pak." perempuan itu pun keluar dari ruangan Yohan disambut oleh beberapa rekan kerjanya.
"Gimana? Apa bapak itu marah pada mu?" ucap salah satu rekannya itu.
"Nggak. Dia hanya bilang dia merasa tak adil bila hanya dekat dengan satu karyawan aja. Jadi dia buat batasan." jelas Haneul yang sudah berjalan menuju mejanya dan diikuti oleh rekannya.
"Wah berarti dia mencoba menjaga jarak dengan mu. Apa dia udah tau kalau kau suka dengannya?"
"Ntahlah. Sepertinya dia nggak tau. Akkhh! Nggak tau lagi lah aku." ucap Haneul frustasi.
☆☆☆☆
"Halo yah?"
"......."
"Sepertinya beberapa waktu ini aku bakal mengurus perusahaanku dulu yah. Soalnya kami memulai proyek baru."
"......."
"Iya. Ayah nggak usah khawatir. Hm.. salam buat ibu ya. Hmm...."
"Memang ayah satu ini. Dibilang tak perlu khawati juga." ucap Yohan menatap layar ponselnya.
"Ah sudah jam segini. Pasti Wonyoung kesepian." ucap Yohan setelah melihat jam menunjukan pukul 5. Dia langsung bersiap siap dan berlari menuju arah parkiran.
Saat Yohan berlari tadi Haneul dan beberapa karyawan Yohan melihat bos mereka sedang berlari. Baru kali ini mereka melihat bos mereka itu berlari. Kalian tau sendirikan seberapa coolnya Yohan selama di kantor. Mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat.
"Yak. Kalian lihat kan pak Yohan sedang berlari." Seru salah satu karyawan.
"Kira-kira ada masalah apa ya?" ucap karyawan yang lainnya.
Haneul hanya mendengarkan bisikan bisikan itu tanpa ikut nimbrung di dalamnya. Karna memang sudah waktu pulang mereka pun ikut bersiap pulang.
Haneul sudah bekerja dengan Yohan saat pertama kali Yohan merekrut karyawan. Sebenarnya sekarang dia sudah menjadi kepala designer. Tapi untuk dilihat Yohan lebih dari seorang karyawan sangat sulit. Maksudnya Haneul ingin dilihat sebagai perempuan.
Selama ini dia sudah senang bisa berdekatan dengan Yohan walau hanya sebatas karyawan dan atasan. Tapi saat Haneul akan mulai melakukan pendekatan lebih Yohan seakan memberi jarak dengannya.
Haneul sekarang berjalan keluar lobby. Tadi adik laki-lakinya yang baru saja datang dari Amerika menghubunginya dan katanya akan menjemputnya. Dan benar saja pria tampan nan muda itu sudah tersenyum melihat kakaknya keluar.
"Lama sekali keluarnya?"
"Udah lama ya Hangyul." ucap Haneul sambil memeluk Hangyul.
__ADS_1
☆☆☆☆
Jangan lupa like dan komennya~~~