
"Permisi. Saya mau bertemu dengan Kim Yohan." ucap Wonyoung dengan anggun. Sebenarnya itu bukan gayanya. Namanya juga akting.
"Maaf sebelumnya. Apakah anda sudah ada janji sebelumnya?" tanya perempuan itu.
"Excuse me? Are you really? Haruskah aku membuat janji untuk bertemu dengannya?" yah gitu-gitu Wonyoung lulusan terbaik di sekolahnya. Juara satu umum sekolah man!
"Maaf nona. Disini harus membuat janji terlebih dahulu sebelum bertemu CEO kita nona." perempuan itu mencoba untuk tetap sopan.
"Hah.. Aku nggak habis pikir. Karena kamu sopan jadi aku memaafkan mu. Ya udah aku menunggunya saja." ucap Wonyoung lalu dia berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tunggu.
Perempuan yang bekerja sebagai reseptionist itu lalu berbisik pada salah satu pegawai yang menghampirinya setelah Wonyoung pergi.
"Hey lihatlah nona muda itu. Sok sekali cara bicaranya. Untuk apa dia mencari pak Yohan? Memangnya dia siapa? Sudah banyak perempuan sepertinya datang kesini." ucap perempuan itu.
"Ya... banyak sekali perempuan cantik yang mendatangi pak Yohan. Tapi baru kali ini aku melihat yang sepertinya. Dia terlihat muda. Dia juga terlihat berbeda dari perempuan yang sering datang kesini." ucap Jeni. Ternyata itu rekan kerja Haneul.
Wonyoung menatap balik kedua orang yang sedang membicarakannya. Kenapa lama sekali Seungwoo oppa datang pikirnya.
Lalu tak berapa lama Seungwoo datang menghampiri reseptionist dan bertanya padanya.
"Apakah tadi ada yang mencari pak Yohan?" pertanyaan Seungwoo membuat keduanya membulatkan matanya.
"Ya. Itu orangnya sedang duduk disana." perempuan itu menunjuk ke arah Wonyoung. Orang yang dimaksud pun tersenyum dan berjalan menghampiri mereka.
"Pak. Dia siapanya pak Yohan ya?" tanya Jeni. Sungguh dia penasaran. Bos mereka tidak pernah menerima perempuan mana pun untuk naik ke ruangannya. Baru kali ini lah. Sampai Seungwoo yang menjemputnya kebawah.
"Ah dia ini...." saat ingin menjawab Wonyoung sudah sampai dihadapan mereka.
"Perkenalkan. Saya Wonyoung. Jang Wonyoung. Istri sah bos kalian." ucap Wonyoung sambil tersenyum.
Mereka sungguh terkejut. Sejak kapan bos mereka menikah. Dekat dengan perempuan saja tidak. Mereka malah mengira bosnya itu ada hubungan dengan Haneul. Siapa sangka kalau Yohan sudah menikah. Bukan calon lagi. Tapi istri sah?
"Apakah benar?" sungguh Jeni tak percaya.
"Hey aku bukan suaminya. Tanyakan sendiri pada bos kalian. Ayo. Udah ditunggu sama tuan diatas." ucap Seungwoo sopan. Ya iyalah. Kan ini ditempat umum.
"Baiklah sekretaris Han. Permisi." ucap Wonyoung lalu mengikuti Seungwoo yang sudah berjalan duluan.
"Wah gila. Aku harus memberitahu Haneul masalah ini." ucap Jeni lalu berlari menuju tempat Haneul.
☆☆☆☆
"Ya! Haneul! Haneul Haneul Haneul." ucap Jeni yang tak berhenti memanggil namanya.
"Apasih? Berisik loh. Aku lagi sibuk ini." ya memang benar Haneul sibuk. Dia lagi mempersiapkan rancangan detail untuk proyek yang baru saja dikerjakan.
"Itu.. Tadi ada perempuan muda datang mencari pak Yohan." ucap Jeni masih terengah dengan nafasnya.
"Terus? Kayak nggak pernah ada aja perempuan yang mencarinya." ucap Haneul.
"Ini lain. Kali ini perempuan itu mengaku istri sah pak Yohan. Kan kau bilang kalau pak Yohan udah menikah. Perempuan itu terlihat muda." jelas Jeni setelah dia mengatur nafasnya.
"Apa? Kau serius? Aku nggak percaya." kini Haneul sudah melepas pekerjaannya dan beralih menatap Jeni.
"Iya. Tadi dia yang bilang sendiri. Lagian dia dijemput langsung sama sekretaris Han kok." ucapan Jeni membuat Haneul membulatkan matanya.
"Ayo kita lihat ke atas. Aku juga mau melaporkan ini pada sekretaris Han." Haneul mengumpulkan beberapa berkas yang dikerjakannya tadi.
Akhirnya Haneul dan Jeni naik kelantai CEO. Haneul sungguh penasaran perempuan mana yang dimaksud Yohan sebagai istrinya. Apalagi tadi Jeni memberitahunya kalau perempuan itu terlihat muda.
☆☆☆☆
"Kamu masuk aja. Yohan udah nungguin dari tadi." ucap Seungwoo setelah mengantar Wonyoung sampai didepan pintu ruangan Yohan.
__ADS_1
"Makasih ya oppa. Maaf udah buat oppa repot." ucap Wonyoung. Dia sungguh merasa tak enak pada Seungwoo.
"Ah. Nggak masalah kok. Yohan pernah buat masalah lebih dari ini. Udah ya aku tinggal dulu."
"Iya oppa. Sekali lagi makasih." ucap Wonyoung lalu melempar senyum. Seungwoo pergi setelah menggangguk sebagai balasan respon untuk Wonyoung.
Wonyoung membuka pintunya perlahan. Dia terkejut melihat Yohan sudah berada didepan pintu. Sepertinya Yohan menguping pembicaraannya dengan Seungwoo.
"Oppa.... Aku kaget tau.." rengek Wonyoung lalu berjalan masuk kedalam ruangan Yohan.
"Kamu bicara apa aja sama Seungwoo hyung?" Yohan sudah masuk kedalam dan menutup pintunya.
"Nggak ada. Aku cuma bilang makasih dan dia pergi. Itu aja." Yohan menatap Wonyoung penuh curiga.
"Ayolah oppa. Nggak ada lagi. Percaya deh. Lebih baik kita lakukan rencana kita sekarang. Perempuan yang menyukaimu itu pasti sebentar lagi datang." Yohan berjalan mendekati Wonyoung yang duduk disofa lalu duduk disampingnya.
"Oh benarkah?" goda Yohan dengan tubuhnya yang mulai mendekat pada Wonyoung.
"Oppa!! Nanti rencana kita berantakan loh.." Wonyoung mulai tidak suka bila sikap manja Yohan keluar. Nanti rencana yang sudah dibuatnya berantakan.
"Hahahaha... Oke oke. Wonyku yang manis. Oppa mu ini akan menuruti semua yang kamu mau. Hmmmm..." ucap Yohan sambil tertawa. Lalu dicubitnya sebentar pipi Wonyoung.
Wonyoung pun tersenyum menatap Yohan. Dia jadi teringat tentang pernyataan cinta yang dipikirkannya tadi. Jangan sampai dirinya lupa menyatakan itu.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Yohan dan Wonyoung saling pandang. Tebakan Wonyoung benar. Lalu Yohan berteriak menyuruh masuk orang diluar.
Dan benar saja. Haneul datang membawa beberapa berkas bersama Jeni yang tadi berada di lobby. Wonyoung sudah berubah menjadi anggun menatap keduanya sambil tersenyum.
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Yohan yang masih setia duduk disebelah Wonyoung.
Haneul masih terdiam menatap Wonyoung. Sungguh perempuan yang luar biasa pikirnya. Dia terlihat berbeda dari semua perempuan yang pernah datang. Walau terlihat muda disaat bersamaan juga terlihat dewasa. Dia merasa dirinya tidak sebanding dengan perempuan itu.
"Kalian ada perlu apa?" tanya Yohan sekali lagi saat menyadari Haneul hanya diam saja.
"Hey.. Kau sudah gila ya. Cepat katakan sesuatu." bisik Jeni. Haneul tersadar dan melihat sebentar pada berkas yang dibawanya. Dia berpikir sebentar lalu dia mulai berbicara.
Setelah mengambil berkas yang diberikan Haneul, Yohan beralih menatap Wonyoung.
"Maaf ya sayang. Aku periksa ini dulu sebentar." ucap Yohan. Lalu dia pun berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Kalian duduklah dulu." Haneul dan Jeni benar-benar duduk disofa. Dihadapan Wonyoung pastinya.
"Kan sudah saya bilang. Kalau masalah seperti ini laporkan pada sekretaris Han saja. Kenapa masih kesini?" ucapan Yohan terdengar seperti berkata 'Hey perempuan. Jangan dekat-dekat.'
Wonyoung menatap intens Haneul dari atas sampai bawah. Lalu menatap kedua orang yang dihadapannya ini tanpa arti sambil tersenyum.
Semua orang juga tahu maksud tatapan Wonyoung itu seperti apa. Seperti, 'Heh perempuan. Jangan dekat-dekat suami orang'. Oke. Sepasang pasutri ini sepertinya membuat kode yang cukup jelas.
Dan semua kode yang dilontarkan pasutri itu hanya Jeni yang menangkapnya. Mungkin Haneul terlalu buta untuk melihatnya. Jeni sekarang sangat kesal melihat Haneul yang sibuk melihat Wonyoung dengan tatapan membunuh. Seharusnya itu yang dilakukan oleh istri bosnya itu. Tapi memang Haneul yang terlalu bodoh.
"Nah ini. Semua tidak ada masalah. Hanya saja kurangi detail yang tidak perlu." Yohan memberikan kembali berkas tadi dan duduk disamping Wonyoung.
"Baik pak." tatapan Haneul masih melihat gerak-gerik Yohan dan yang katanya istri Yohan itu.
"Oh kalian belum kenalankan? Ini Wonyoung istri saya. Sayang ini karyawanku. Yang ini Jeni sebagai interior designer. Dan ini Lee Haneul Ketua designer disini." begitulah Yohan memperkenalkan mereka bertiga.
"Salam kenal. Saya Jeni, nyonya?" Jujur dia bingung memanggilnya apa. Istri bosnya itu terlihat lebih muda darinya.
"Haha tidak perlu begitu. Kesannya saya terlihat lebih tua." tertawa saja dia terlihat anggun pikir Jeni.
"Dan saya Haneul. Biasa pak Yohan memanggil saya nona Lee." ingatkan Jeni untuk memukul kepala Haneul agar sadar dari kenyataan.
Wonyoung menatap Yohan sebentar. Tapi tidak terlihat ada perubahan ekspresi diwajahnya. Yohan hanya tersenyum membalas tatapan sang istri.
__ADS_1
"Nona Lee? Bukan hal yang spesial. Tapi kenapa kau memanggilnya begitu oppa. Kalau kau memanggilnya seperti itu terdengar tidak sopan." Ya. Wonyoung yang biasanya langsung emosi malah berkata seperti itu sambil menatap Yohan.
"Benarkah? Baiklah. Akan aku ganti. Menurutmu lebih baik aku memanggilnya seperti apa?"
"Designer-nim? Itu kan terdengar sopan." ucap Wonyoung spontan. Jeni mencoba menahan tawanya. Sepertinya kali ini Haneul harus sadar pikirnya.
"Kata pak Yohan anda sedang mengandung. Tapi anda tidak terlihat seperti mengandung. Kalian cuma beraktingkan agar kami semua percaya. Kalian tidak bisa membohongi saya." masih dengan angkuhnya tidak mempercayai bosnya itu.
Ayolah. Jeni sudah ingin tenggelam saja sekarang. Kenapa Haneul masih keras kepala. Mungkin memang benar kalau matanya telah buta.
"Nona Lee! Tolong jaga ucapan anda. Anda tidak pantas bicara tidak sopan seperti itu dengan istri saya." Yohan sudah cukup emosi mendengarnya. Inilah salah satu alasan kenapa dia ingin menjauhi Haneul.
Jeni semakin ketakutan mendengar perkataan Yohan. Sebenarnya dia tidak mau terlibat dengan mereka. Tapi rasa penasarannya membuatnya duduk berada diantara orang-orang ini.
Wonyoung merasa Haneul ini mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Tapi dia tidak begitu yakin siapa itu. Yang jelas sekarang dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Hahhh... Oppa. Kita hentikan saja akting ini. Aku udah nggak sabar lagi." ucap Wonyoung membenarkan posisi duduknya seperti biasa.
"Ng?" Yohan terkejut sampai tak bisa bicara apapun. Bisa gawat kalau Wonyoung berubah. Bukan masalah lain. Yohan hanya kasihan dengan Haneul. Takut mentalnya down setelah melihat Wonyoung yang asli.
"Ya eonni. Haha..." oke kali ini Wonyoung terlihat menyeramkan. Sungguh berbeda dari yang tadi.
"Memang benar aku tadi akting agar terlihat anggun dimata semua karyawan disini. Kupikir kalian akan takut walau sedikit. Tapi ternyata.... wah..." Wonyoung memutuskan bicaranya.
"Sa-saya sudah cukup takut sekarang. Sangat takut malah." Ucap Jeni. Memang dari awal Yohan angkat bicara tadi dia sudah takut.
"Eonni dengar ya." Wonyoung menyisirkan rambut panjangnya kebelakang.
"Eonni nggak bisa begini terus. Bukan masalah dia ada istri atau tidak. Kalau pria itu terlihat nggak menyukai mu jangan paksakan. Beberapa hari yang lalu aku juga bertemu dengan perempuan yang mirip eonni ini. Menyukai pria yang jelas-jelas tak menyukainya. Menyedihkan." ucap Wonyoung lalu melemparkan tatapan meremehkan Haneul.
"Apa?!" sepertinya Haneul mulai emosi. Yohan sekarang memandang kearah lain untuk menahan tawanya.
"Aku tau kau jauh lebih muda dariku. Berani sekali kau nggak sopan pada yang lebih tua." Haneul sudah tidak memakai bahasa formalnya. Yohan tak masalah. Toh Haneul bukan bicara padanya.
"Ya benar. Aku jauh lebih muda dari kalian. Tahun depan aku baru berusia 19 tahun. Dan umurku dengan oppa ini berjarak 10 tahun. Tapi apa kau juga nggak sopan berbicara begitu pada kandungan orang lain?" skakmat!! Begitulah posisi Haneul sekarang.
"Aku memang mengandung anaknya. Dia suamiku. Kenapa kau yang sibuk mengurusi kami dan mengatai kami berakting?" Yohan sekarang harus menegahinya. Bisa bahaya dengan janin yang dikandung Wonyoung.
Yohan mengambil ponselnya dan menghubungi Seungwoo untuk segera membawa mereka berdua keluar dari ruangan itu.
"Halo hyung. Tolong kau bawa mereka dari sini." ucap Yohan lalu menutup ponselnya.
"Udah dong sayang. Nanti anak kita kelelahan kalau kamu marah-marah terus." ucap Yohan mengelus punggung Wonyoung dengan lembut.
Wonyoung menatap Yohan. Matanya terlihat bergetar dan sudah mulai berkaca-kaca. Sepertinya emosinya mulai labil lagi. Kalau begini Yohan tidak tega melihatnya.
"Oppaaaa..... Dia... Dia nggak percaya kalau aku istrimuu... Huaaa...." yah akhirnya lepas juga. Mau bagaimana lagi. Emosinya memang masih sering labil begini.
Yohan pun memeluk istrinya itu didepan Haneul dan Jeni. Lalu Jeni berbisik sesuatu pada Haneul yang membuat dia berubah pikiran.
"Hey sepertinya dia memang istrinya. Kau lihatlah mereka." bisik Jeni.
Lalu Seungwoo masuk kedalam ruangan itu. Seungwoo yang tidak tau cerita awalnya tentu saja terkejut melihat Wonyoung menangis.
"Tuan?"
"Hyung. Tolong bawa mereka sekarang." ucap Yohan tanpa melepaskan pelukannya.
"Baik tuan. Sepertinya kalian sudah dengar barusan." ucap Seungwoo pada kedua perempuan itu.
Mereka pun menurut dan keluar dari ruangan Yohan. Meninggalkan pasutri itu larut dalam emosi.
☆☆☆☆
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya~~~
Yunseong masih terus menunggu komenan kalian lohhh