
"Ahhhkkk!!! Pak Yohannnn!!!" teriakku yang membuat pak Yohan panik langsung membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Wonyoung?!" kata pak Yohan di hadapanku.
Tanpa menunggu lama lagi aku langsung memeluknya.
"Pak. Saya takut gelap."ucapku yang membenamkan wajahku di dadanya.
"Aku kira ada apa. Kamu ini bikin takut aja. Tunggu sebentar ya aku mau cek dulu kenapa bisa mati lampunya." kata pak Yohan yang akan melepaskan pelukanku.
"Saya ikut pak." kataku masih memeluk pak Yohan. Dan kali ini tambah erat.
"Oke. Ayo." Ajaknya.
Dia melihat skring lampu dan katanya tak masalah. Dan kami menuju balkon untuk melihat sekeliling. Dan ternyata di luar lagi hujan.
"Memang padam semua listriknya nih." ucap pak Yohan melihat sekeliling. Aku tak peduli. Aku hanya memeluknya dan membenamkan wajahku di dadanya.
"Pak. Saya tidur di kamar bapak ya. Saya beneran takut sendirian kalau gelap." kataku tanpa melihat pak Yohan.
"Ah. Yasudah."
☆☆☆☆
POV Yohan
Wonyoung sekarang tidur disampingku. Sambil memelukku dengan erat. Aku yang sedari tadi tak bisa tidur hanya bisa pasrah. Aku juga tidak bisa macam macam karena dia masih sekolah. Dan lagi pula ini sedang padam listrik. Kenapa harus padam di saat seperti ini. Sungguh menyiksa kalau seperti ini terus.
Aku merasakan dibalik baju tidurnya ini dia pasti tidak memakai bra. Apa dia sengaja menggodaku atau bagaimana? Dia ini polosnya keterlaluan.
(Terima nasib ajalah Yohan. Namanya kamu nikahin anak SMA)
Sebenarnya aku yang belum pernah melakukan itu masih bisa menahan diri. Ciuman yang waktu itu pun sebenarnya juga ciuman pertamaku. Tapi kalau dia begini setiap hari apa aku bisa bertahan?
Kamu pasti bisa Yohan! Kamu bukan pria brengsek yang dominan. Kamu pria lembut dan hangat.
Tiba tiba lampu menyala. Aku melihat jam di samping ranjang. Sudah pukul 00.11. Sudah jam segini masih belum bisa tidur. Kulihat wajah tidur Wonyoung. Sangat tenang dan polos.
Setelah seminggu menikah dengannya baru dua kali kami tidur bersama. Itu pun karena keadaan. Sebelumnya saat dia tidur di kamarnya aku sangat lega karena terbebas dari siksaan seperti ini.
__ADS_1
Lama ku tatap wajah imutnya itu. Tak sadar aku mengelus pipi nya dan dia pun bergerak seperti terganggu. Lalu terbuka lah matanya.
"Bapak kok belum tidur?" tanyanya dengan suara seraknya.
Gimana bisa tidur kalau kamu seperti ini padaku.
"Iya nih, nggak tau kenapa." jawabku mengalihkan pandanganku.
"Kamu nggak pindah kamar? Lampunya udah menyala kok." lanjutku. Sengaja aku menyuruhnya pindah agar aku bisa tidur.
"Males pak. Saya mau tidur disini aja. Lagian sudah nyaman." ucapnya sambil mengucek matanya.
Kamu yang nyaman. Dan aku gelisah sepanjang malam.
"Baiklah. Lanjutlah tidur."
"Ah. Tapi saya mau ke kamar madi dulu pak." ucapnya beranjak menuju kamar mandi.
Ku lihat dia berdiri menuju kamar mandi. Tubuhnya yang tinggi sekitar 169 cm. Dan kira kira memiliki berat badan 47. Rambutnya yang bergelombang sangat cocok dengan wajahnya yang polos itu. Sungguh ideal. Tapi aku yang suaminya ini hanya bisa melihatnya saja.
Lebih baik aku tidur dulu sebelum dia kembali.
Aku kaget dan bertanya tanya. Kenapa dia suka memelukku? Kemana perginya gulingku tadi. Sudah. Kalau sudah begini gimana aku bisa menahannya lagi. Ku balik kan tubuhku menghadapnya. Dia yang melihatku kaget langsung bertanya.
"Ba.. bapak belum tidur? Sa.. saya pikir bapak sudah tidur." katanya terbata bata.
"Kamu tau nggak kenapa aku sengaja suruh kamu tidur di kamar sebelah?" tanyaku menatap matanya.
"Nggak tau pak." jawabnya polos.
"Karena aku nggak mau terjadi sesuatu yang nggak kamu inginkan." ucapku dengan suara tertahan. Ya, sekarang aku menahan hasratku yang sudah diubun ubun.
"Sesuatu? Sesuatu seperti apa yang nggak saya mau pak?" tanyanya lagi. Kulihat matanya. Mata polosnya yang murni tidak tau apa apa membuatku tak bisa menahan hasratku lagi.
"Sesuatu yang seperti ini!" ucapku langsung menindihnya dan melumat bibirnya perlahan lembut semakin lama semakin ganas.
"Ehhmmm ehhmmm... pakk.." tangannya mendorongku dengan gemetar tapi tak berhasil karena kalah kuat dengan tenagaku.
Tanganku mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah puas menciumi bibirnya, aku pun menciumi leher jenjangnya. Dia meronta ronta dan menangis akibat perbuatanku.
__ADS_1
"Pak. Jangan.... Saya mohon jangan pak.." katanya dengan berlinang air mata membasahi pipinya.
Aku melihatnya dan langsung berhenti. Tak tega aku melihatnya bangkit duduk di sebelahnya. Apa yang sebenarnya aku lakukan. Kalau seperti ini aku tidak ada bedanya dengan pria brengsek itu. Aku mengusap kasar wajahku. Ku lihat dia duduk merapihkan jubah tidurnya yang berantakan akibat ulahku.
Dia masih menangis tersedu sedu. Aku memeluknya hangat memberikan ketenangan untuknya. Dia tidak menolak dan membalas pelukanku.
"Maafkan aku ya Wonyoung. Aku sudah lepas kendali. Maaf telah menyakiti perasaanmu." ucapku lembut dengan mengelus punggungnya agar dia tenang.
"Hiks.. hikss.. Saya sangat takut tadi pak.."ucapnya masih menangis.
"Iya. Kamu tenanglah. Ayo kita tidur lagi. Besok kamu sekolahkan. Ayo." ajakku membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuh kami.
☆☆☆☆
POV Wonyoung.
Pagi ini kami hanya diam saja. Kejadian tadi malam sungguh menakutkan. Kalau aku tau dengan memeluk pak Yohan bisa membuatnya seperti itu, aku tidak mau memeluknya.
Tadi malam saat mati lampu aku sangat ketakutan dan tak berpikir panjang malah memeluk pak Yohan. Ternyata aku merasa aman dan nyaman saat memeluknya. Setelah terbangun dan kembali dari kamar mandi aku ingin tidur dengan nyaman makanya aku memeluknya.
Saat ini kami sedang menikmati sarapan dalam diam. Sesekali aku melihatnya. Dia terlihat lebih dingin dari sebelumnya. Aku bisa merasakan dinginnya seakan bilang jangan dekati aku. Seharusnya aku yang bersikap seperti itu.
"Kamu... Hari ini pergi sendiri. Aku akan ke kantor. Jadi hari ini aku izin dan di gantikan dengan guru lain."katanya setelah selesai makan.
"Baik." jawabku.
"Aku pergi dulu." ucapnya berlalu keluar dan menghilang dari balik pintu.
Lihatlah. Rumah ini terasa seperti Frezer raksasa sangking dinginnya ruangan ini. Aku pun bersiap menuju sekolah. Aku berangkat naik bus dekat apartemen.
Saat di halaman apartemen aku melihat perempuan modis seperti sedang menunggu seseorang. Perempuan itu sangat cantik dan bodynya sangat ideal. Baru kali ini aku melihatnya disekitar sini.
Kuhiraukan perempuan itu karena aku sudah terlambat. Aku berlari mengejar bus yang hampir pergi. Di dalam bus aku langsung duduk di kursi kosong dekat pintu keluar. Tiba tiba ada yang menyapaku.
"Wonyoung!" katanya.
☆☆☆☆
Maaf ya typo bertebaran. 😁
__ADS_1
Mohon dukungannya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih.😊