Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 33


__ADS_3

WARNING!!!!!


Untuk yang muslim dianjurkan membaca setelah berbuka.


INGAT!! INI PERINGATAN!


•


•


•


•


•


•


•


•


•


•


•


•


•


•


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Seungwoo pada kedua perempuan itu. Mereka sekarang sudah diluar ruangan Yohan.


"Kenapa Wonyoung sampai menangis?" tanya Seungwoo sekali lagi karena keduanya masih terdiam.


"Itu... tadi..." dengan ragu Jeni menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu.


"Apa?! Kalian ini kenapa tega bicara seperti itu?" ucap Seungwoo tak percaya.


"Pak itu bukan saya. Ini si Haneul tidak percaya. Padahal mereka terlihat seperti pasangan suami istri. Tapi Haneulnya saja yang tidak percaya." ucap Jeni membela dirinya. Haneul hanya diam saja. Semua perkataan Jeni benar. Padahal tadi Jeni sudah beberapa kali mengingatkannya.


"Terlihat? Memangnya Yohan tipe orang yang akan menipu publik dengan membawa seorang perempuan dan mengaku dia istrinya?" Seungwoo semakin tidak percaya. Kenapa karyawan yang sudah cukup lama bekerja diperusahaan itu tidak mengetahui sifat bosnya sendiri.


"Maaf pak." kali ini Haneul yang bersuara.


"Hah.... Mereka itu memang sudah menikah. Dan baru-baru ini istrinya mengandung. Memang salah ya Yohan menikahi gadis 10 tahun lebih muda darinya? Bukan. Maksudku salah ya kalau dia menikah? Kenapa kalian kekanakan sekali sih." Seungwoo sedikit kecewa pada Haneul. Dia kira Haneul akan terlihat dewasa menyikapinya. Ternyata salah.


Kedua perempuan itu hanya menundukkan kepalanya. Tidak berani mengangkat kepala. Entah itu karena rasa bersalah atau rasa malu.


"Kalian lebih baik istirahat dulu. Saya sarani kalian secepatnya harus meminta maaf pada mereka. Apalagi Wonyoung. Melihat dia menangis tadi sepertinya hatinya sudah tersinggung. Asal kalian tau Wonyoung itu bukan tipe perempuan manja dan cengeng." jelas Seungwoo panjang lebar.


"Tunggu apa lagi?" ucap Seungwoo lagi karena melihat keduanya masih dihadapannya.


"Baik pak. Kami permisi." mereka pun pergi meninggalkan Seungwoo sendiri.


☆☆☆☆


"Huhuhuhuhuhu...." Wonyoung masih menangis walau tak sekeras tadi.


"Udah dong. Kamu nggak lapar? Dari tadi nangis terus. Udah jam makan siang nih. Biasanya kamu selalu makan sebelum jam makan siang." ucap Yohan berusaha menenangkan Wonyoung. Yohan masih memeluk Wonyoung.


"Ini semua salah oppa." ucapnya tiba-tiba.


"Loh? Kok jadi salah oppa sih?" Yohan sedikit melonggarkan pelukannya agar melihat wajah istri imutnya itu.


"Yah kenapa oppa terlihat tampan? Nggak sesuai dengan umur." ucapan Wonyoung membuat Yohan terdiam.


"Kamu itu lagi puji aku atau lagi ejek aku? Kok kalimat kamu itu ambigu sih?" Wonyoung terlihat sudah berhenti menangis.


"Yah aku lagi puji lah. Kenapa juga oppa punya tampang begini sihh??" kedua tangan Wonyoung menangkup wajah Yohan dan melihat sisi kiri dan kanan wajah suaminya itu.


"Yah gimana ya aku kan memang terlahir tampan. Kamu aja sampai terpesona seperti ini. Apalagi orang lain." ucap Yohan bangga.


"Hmmm... memangnya kita terlihat nggak cocok ya?" ucap Wonyoung sambil menghapus sisa air matanya tanpa memperdulikan kenarsisan Yohan.


"Kenapa kamu bilang begitu? Walau usia kamu jauh lebih muda dari oppa tapi kamu itu terlihat anggun dan dewasa. Perempuan mana lagi yang terlihat cocok dengan oppa kalau bukan kamu? Hm?"


"Apalagi kamu sekarang lagi mengandung anak kita. Makin terlihat serasi dong kita. Mereka itu hanya iri melihat kamu yang begitu hebat. Kamu hebat tambah lagi kamu punya suami hebat kayak oppa mu ini." ucap Yohan sambil tersenyum manis memandang wajah istrinya itu.


Wonyoung merasa tersentuh mendengar perkataan Yohan. Jarang-jarang Yohan mengucapkan hal seperti itu. Bukan jarang sih. Memang Wonyoungnya saja yang tidak pernah bertanya apa yang ingin didengarnya.

__ADS_1


Wonyoung teringat sesuatu. Ya pernyataan cinta. Apa sekarang saja dia menyatakannya ya? Tapi disela pikiran Wonyoung, Yohan kembali melanjutkan ocehannya.


"Selain itu kamu juga seksi. Kaki kamu yang jenjang ini selalu menggoda. Terus bibir seksi kamu ini. Minta dicium terus." ucap Yohan lalu mengecup singkat bibir Wonyoung.


Oke. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat menyatakannya. Yohan yang mesum sudah kembali. Kalau sampai dia menyatakan sekarang, Yohan bukan lagi makan makanan yang dibawanya tadi. Tapi dirinya yang habis dilahap sama Yohan.


"Udah dong oppa. Suasananya lagi serius oppa malah bercanda. Nggak lucu tau." kini Wonyoung memajukan bibirnya pertanda dia merajuk.


"Eh siapa yang bercanda. Aku serius kok. Nih buktinya bibir kamu ini selalu kamu giniin. Gimana nggak gemes aku lihatnya."


"Bodo." Wonyoung beneran merajuk.


"Oke-oke. Ayo kita makan dulu. Oppa juga udah lapar nih. Kamu masak apa tadi? Kayaknya banyak." kini Yohan meraih tempat bekal yang kelihatan besar. Sepertinya itu lebih dari dua porsi.


"Wah. Kok kamu banyak banget bawanya. Gimana oppa habiskannya?" Yohan cukup terkejut melihatnya.


"Siapa bilang itu untuk oppa semua. 2/3 dari itu punya aku." ucap Wonyoung sambil mengeluarkan alat makan dari tempatnya.


"Apa? Kamu yakin? Ini banyak banget loh.." ucap Yohan tak percaya. Yohan menatap bekal itu dan Wonyoung bergantian.


"Kan aku nggak sendiri lagi oppa. Ada anak kita disini." ucap Wonyoung menunjuk perutnya.


Yohan hanya tersenyum mendengarnya. Baru kali ini Wonyoung mengatakan 'anak kita' dengan sendirinya. Dulu saat awal mengetahui kehamilan Wonyoung terlihat tak terima akan anak yang tak berdosa itu. Sekarang Yohan merasa lega dan bahagia karena Wonyoung benar-benar berubah lebih dewasa lagi.


"Iya-iya. Ya udah kita makan ya."


"Hmm selamat makan."


"Selamat makan."


☆☆☆☆


"Halo noona? Aku udah sampai nih. Buruan dong. Mama udah telpon aku dari tadi." ucap Hangyul pada seseorang disebrang telponnya.


"........."


"Iya. Aku nunggu dilobi. Bisa cepat sedikit nggak?"


".........."


"Iya. Buruan ya." panggilan pun terputus.


Sekarang Hangyul lagi duduk di ruang tunggu lobi. Menurut kalian apa? Ya apalagi kalau menjemput kakak kesayangannya itu.


Disisi lain Yohan dan Wonyoung bersiap untuk pulang. Karena memang sudah jam pulang. Untung saja Wonyoung tidak merengek minta pulang dari siang. Jadi Yohan bisa mengerjakan beberapa pekerjaan untuk minggu depan.


Rencananya Yohan ingin mengambil cuti seminggu dan pergi berlibur dengan Wonyoung. Semuanya terlihat lancar untuk saat ini. Apalagi Wonyoung mengambil kelas online. Itu mempermudahkan mereka untuk pergi. Ya kelas online kan bisa dilakukan dimana saja.


"Udah selesai oppa?" Wonyoung menghampiri Yohan dimeja nya. Terlihat Yohan masih sibuk pada kertas yang Wonyoung sendiri tidak tahu apa itu.


"Hm? Sedikit lagi nih. Sebentar ya." Yohan melihat Wonyoung yang sudah memeluk lehernya. Lalu dagunya diletakkan dibahu Yohan.


"Udah tiga kali oppa bilang kayak gitu. Udah dong kerjanya. Apa oppa nggak lelah? Dari tadi kerja terus." lagi-lagi Wonyoung memajukan bibirnya.


Yohan menoleh kesamping dimana wajah Wonyoung berada. Yohan tersenyum melihat istrinya itu sedang cemberut. Sepertinya Wonyoung sudah sangat bosan.


"Kamu bilang begitu nanti taunya kamu yang lelah." Yohan masih menatapnya.


"Iya aku yang lelah. Oppa nggak kasihan lihat aku disini dari tadi sampai tertidur?" Wonyoung sedikit melirik pada Yohan yang menatapnya.


Cup.


"Kamu itu kok gemesin banget sih?" tanya Yohan setelah mengecup pipi Wonyoung.


"Ya udah. Ayo kita pulang. Tapi lepas dulu dong ini. Gimana oppa mau bersiap kalau kamu tempelin terus."


Wonyoung melepaskan tangannya lalu Yohan pun berdiri mengambil jasnya yang tergantung. Saat Yohan memakai jas Wonyoung menatapnya. Sepertinya dia kagum.


"Kenapa? Kamu nggak mau pulang?" tanya Yohan membuyarkan lamunannya.


"Ah iya. Bentar aku ambil tempat bekal dulu." Eonyoung berjalan ke arah sofa dan mengambil tempat bekal yang dibawanya tadi.


"Ayo." ajak Wonyoung sambil tersenyum.


"Tunggu." ucap Yohan menahan tangan Wonyoung.


Dengan perlahan Yohan mengecup kedua mata Wonyoung yang terlihat membengkak. Dia suangguh merasa bersalah telah membuat istrinya menangis. Itu semua salahnya. Kalau saja dia tidak memaksa Wonyoung datang mungkin ini tidak terjadi.


"Maaf sudah membuat kamu lelah begini sampai mata cantik ini bengkak. Sekali lagi maafin aku ya." Yohan kini menggenggam kedua tangan Wonyoung lembut.


"Untuk apa oppa minta maaf. Bukan oppa yang salah kok."


"Ya tapi aku juga bersalah disini. Kalau aja aku nggak---"

__ADS_1


"Sssttt. Udah. Oppa nggak salah. Memang akunya aja yang emosional tadi. Jadi jangan salahkan diri sendiri. Oke." Wonyoung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Yohan.


Yohan tersenyum mendengar ucapan Wonyoung. Ditariknya tangan Wonyoung agar tubuh Wonyoung mendekat padanya.


"Kamu ini selain gemesin bisa manis juga ya." ucap Yohan sambil tersenyum nakal.


"Apaan sih. Udah ah ayo pulang. Aku nanti ada kelas oppa." ucap Wonyoung mencoba melepaskan diri dari Yohan. Tapi Yohan menggelekan kepalanya cepat.


Mereka saling menatap dan Yohan mendekatkan wajahnya dan mulailah dia mencium bibir Wonyoung. Aihh memang ya Yohan ini tidak tahu tempat.


Wonyoung pun melupakan tempat mereka saat ini. Dia pun membalas ciuman mesra dari suami tercintanya. Yah lumayan lama lah. Sampai Seungwoo, Haneul dan Jeni masuk kedalam ruangan.


Betapa terkejutnya mereka melihat bosnya itu begitu liarnya mencium perempuan yang hadapannya itu.


Yang terkejut hanya Haneul dan Jeni saja. Kalau Seungwoo tidak terkejut lagi. Lebih tepatnya terbiasa. Bagaimana tidak. Yohan kalau menyalurkan kasih sayangnya pada Wonyoung itu selalu tidak tahu tempat.


Seungwoo akhirnya berdehem untuk mwnghentikan aktifitas pasutri itu. Ya kali aja mau berapa lama mereka meyaksikan adegan eksklusif itu? Kalau sampai lebih dari itu kan gawat.


"Eheem!!"


Yohan tidak terkejut mendengarnya. Tadi Yohan juga mendengar ketukan pintu kok. Tapi lain dengan Wonyoung yang tampak terkejut melihat ada orang lain selain Seungwoo. Sudah berapa lama mereka disana pikirnya.


"Jadi.... Kalian mau sampai kapan memamerkan kemesraan kalian itu?" tanya Seungwoo saat keduanya belum melepaskan pelukan.


Wonyoung dengan segera melepaskannya. Sedangkan Yohan santai saja. Malah dia niatnya tidak mau melepaskannya. Biar saja orang lain melihatnya. Begitulah pikirnya.


"Kenapa kalian belum pulang?" tanya Yohan. Dirinya langsung duduk lagi dikursi kebesarannya itu. Wonyoung hanya mematung ditempatnya.


"Ah ini. Mereka katanya mau minta maaf atas kejadian tadi." ucap Seungwoo berjalan mendekati meja Yohan.


Yohan hanya mengangguk. Lalu dia menatap Wonyoung yang masih mematung ditempatnya. Saat Haneul ingin mengeluarkan suara Yohan lebih dulu bicara pada Wonyoung.


"Sayang. Kamu ngapain disana?" tanyanya menatap Wonyoung dari tempat duduknya.


"Hah?" sepertinya Wonyoung belum terbiasa dengan kejadian tadi. Dia masih linglung karena terkejut. Dan juga setelah ini Yohan akan lebih sering melakukannya di tempat umum. Dasar tidak tahu malu.


"Sini." Yohan mengulurkan tangannya. Tahulah ya bagaimana cara memanggil orang dengan tangan.


(Maafkan saya🙏🙏)


Wonyoung pun berjalan mendekati Yohan. Yohan pun berdiri dari duduknya lalu menyuruh Wonyoung duduk di kursinya.


"Silahkan." itu suara Seungwoo mempersilahkan Haneul dan Jeni untuk berbicara. Tapi sepertinya hanya Haneul yang akan bicara.


"Maafkan kami pak atas kelakuan kami tadi. Bukan. Lebih tepatnya kelakuan saya yang kurang ajar tadi. Maafkan saya sudah berperilaku buruk terhadap istri bapak." ucapnya sambil menunduk.


Yohan menatap istrinya sekilas lalu kembali menatap Haneul.


"Ya kamu saya maafkan. Tapi kamu belum meminta maaf langsung pada istri saya." ucapan Yohan membuat Haneul mengangkat kepalanya untuk menatap Wonyoung.


"Maafkan saya nyonya. Saya tidak tahu mau memanggil apa. Tapi saya beneran tulus meminta maaf. Tidak seharusnya saya berkata kasar pada anda." cukup lama Haneul mengeluarkan suaranya.


"Wonyoung." ucap Wonyoung tiba-tiba.


"Ya?" bukan hanya Haneul yang menatapnya Jeni dan kedua pria itu juga menatapnya.


"Panggil aja Wonyoung eonni. Aku bolehkan panggil eonni?" tanya Wonyoung.


"Ya... Boleh saja. Tapi, apa saya dimaafkan?" tanya Haneul memastikan.


"Ya kalau aku bilang begitu berarti iya dong. Gimana sih." oke Wonyoung yang biasa sudah kembali.


"Untuk eonni itu juga." Wonyoung kembali bersuara lalu menunjuk Jeni.


"Hahaha.... Kamu ini manis sekali sih. Boleh kok Wonyoung." ucap Jeni. Dia tahu situasi sekarang sangat canggung.


Wonyoung ikut tertawa mendengarnya. Semua yang ada disana juga tertawa. Sungguh mudah sekali ya menyelesaikan masalah sebenarnya. Hanya saja beberapa orang tidak mau melakukan hal sepele seperti meminta maaf.


Yah begitulah kejadian hari ini yang begitu panjang. Belum tahu lagi kedepannya bagaimana. Tapi Yohan senang kalau Wonyoung mau memaafkan Haneul.


Walau begitu Haneul juga karyawannya. Akan sangat canggung nanti kalau keadaannya lebih rumit dari ini. Dia sungguh tidak mau kehilangan designer handal seperti Haneul.


Mereka bertiga pun pamit karena hari semakin sore. Yohan dan Wonyoung juga ikut keluar karena mereka juga mau pulang.


-Sementara Hangyul yang dilobi-


"Aih kemananya ni orang dari tadi ditunggu juga. Kalau bukan karena mama aku nggak mau nunggu lama-lama disini." gerutunya.


☆☆☆☆


Jangan lupa like dan komennya~~~


__ADS_1


__ADS_2