
"Sayang~ Ayo bangun. Kita udah sampai nih." ucap Yohan mengelus pipi Wonyoung.
Wonyoung mengerjapkan matanya begitu mendengar suara Yohan. Dia menatap Yohan sebentar kemudian menatap sekeliling. Semua penumpang sudah turun termasuk Seungwoo. Yohan tadi menyuruh Seungwoo menunggu mereka di pintu kedatangan.
"Kok kamu baru bangunin sekarang?" tanya Wonyoung. Mereka sekarang sudah berdiri bersiap untuk keluar.
"Kamu terlihat kelelahan. Aku jadi nggak tega bangunin kamu. Yang penting kita keluar dulu sekarang. Seungwoo hyung sudah memunggu dibawah." ucap Yohan yang menarik tangan Wonyoung.
Saat mereka sudah sampai dipintu kedatangan terlihat Seungwoo sedang mengobrol dengan petugas bandara. Mereka pun menghampiri Seungwoo.
"Oh sudah bangun? Lebih baik kita bergegas ke hotel." ucap Seungwoo yang sudah berjalan duluan.
"Ayo." ajak Yohan. Mereka pun mengikuti Seungwoo.
Mereka menaiki mobil pribadi milik Yohan yang sudah disiapkan oleh Seungwoo. Sebelum berangkat Seungwoo sudah menyiapkan semua dengan detail. Hanya kamar hotel. Karena Wonyoung yang tiba-tiba ikut jadi Seungwoo memesan kamar ulang.
Sampai dihotel Seungwoo berjalan menuju receptionist dan memesan ulang kamar. Yang awalnya satu kamar dengan double bed. Sekarang Seungwoo memesan dua kamar dengan single bed.
"Ini kartu pass kamar kalian. Kamar kalian lantai 7. Nomor kamar sudah tercantum dikartu itu. Aku mau keluar sebentar. Mau mencari informasi tambahan." ucap Seungwoo sambil memberikan kartu pass.
"Oh ya hyung. Lebih baik kau lebih berhati-hati. Tuan Kim itu sangat berbahaya." saran Yohan sebelum Seungwoo pergi. Seungwoo hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.
"Ayo. Kamu pasti masih mengantuk kan?" ucap Yohan.
"Nggak lagi. Tadikan aku sudah lama sekali tidurnya. Sekarang aku lapar. Ayo kita makan dulu." rengek Wonyoung.
"Ih dari tadi makan terus ya." ucap Yohan mencubit pipi Wonyoung.
"Ya sudah kalau gitu kita makan dulu ya." ucap Yohan sambil tersenyum. Wonyoung pun mengangguk.
Yohan mendekati resepsionis dan bertanya.
"Excuse me. Which floor is the restaurant on?" tanya Yohan pada wanita itu.
"The restaurant is on the 8th floor." jawab petugas resepsionis itu.
"Thankyou."
Mereka pun berjalan menuju lift. Saat menunggu lift Wonyoung menatap Yohan. Yohan yang ditatap merasa heran.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanyanya.
"Tidak. Hanya saja kamu terlihat keren saat bicara baha inggris." ucap Wonyoung takjub. Yohan menanggapinya dengan tertawa.
Mereka memasuki lift begitu pintu lift terbuka. Hanya satu orang di dalam. Seorang ibu yang seumuran dengan ibu Yohan.
"Kenapa kamu takjub begitu? Tidak pernah ya melihat orang berbicara dengan bahasa asing?" tanya Yohan setelah menyelesaikan tawanya.
__ADS_1
"Aku sebenarnya bisa dan pernah melihatnya. Hanya saja kamu terlihat berbeda saat bicara seperti itu. Jadi aku sangat takjub melihatnya." ucap Wonyoung dengan wajah polosnya.
"Ihhh.... Istriku ini gemesin banget sihhh..." ucap Yohan mencubit pipi Wonyoung. Sepertinya itu kegemarannya.
"Ah!! Sakit tau." ucap Wonyoung mengelus pipinya.
Ibu-ibu yang berada dilift itu tersenyum. Yohan menoleh ke arah ibu itu dan berbicara padanya. Mereka berbincang dan sesekali menoleh ke arah Wonyoung lalu tertawa. Wonyoung hanya menatapnya dengan senyum canggung karena tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan.
Setelah mereka keluar dari lift Wonyoung menanyakan percakapan suaminya itu pada ibu-ibu tadi.
"Itu tadi bahasa apa?" tanya Wonyoung.
"Prancis."
"Lalu apa yang kalian bicarakan sampai tertawa seperti itu?" pertanyaan Wonyoung membuat Yohan mengalihkan pandangannya tapi mereka tetap berjalan.
"Nah itu restorannya." ucap Yohan mengalihkan topik pembicaraan.
Mereka pun memesan makanan. Makan seperti biasa. Kali ini Wonyoung meminta lebih banyak porsi. Yohan sedikit kaget melihat nafsu makan Wonyoung makin hari makin bertambah.
"Udah kenyang?" tanya Yohan melihat makanan yang dipiring Wonyoung sudah habis.
"Hm. Tapi habis ini kamu mau langsung pergi?" tanya Wonyoung. Sekarang dia membersihkan mulutnya dari sisa makanan.
"Nggak sih. Kenapa? Mau jalan-jalan?" tawar Yohan sedikit bersemangat. Kapan lagi dia bisa merasakan seperti bulan madu.
"Boleh dong. Tapi kayaknya nggak bisa sekarang. Seungwoo hyung udah hubungi aku tadi." ucap Yohan.
"Ya udah sih nggak masalah kok. Aku juga agak capek."
"Hmm ya udah aku antar kamu ke kamar dulu ya." ucap Yohan. Wonyoung hanya mengangguk.
Yohan pun memanggil pelayan dan membayar makanan mereka tadi menggunakan black card miliknya. Selesai membayar mereka langsung beranjak menuju kamar mereka.
Sampai di depan kamar Wonyoung menatap Yohan. Yohan yang ingin membuka pintu kamarnya menoleh ke arah Wonyoung.
"Kenapa?" ucapnya lembut.
"Kamu yakin mau tinggalin aku sendiri." ucap Wonyoung sedikit manja.
"Sebaiknya kita masuk dulu." ucap Yohan sambil membuka pintu. Mereka pun masuk ke dalam kamar.
Setelah menutup pintu Wonyoung langsung mencium Yohan. Mengalungkan tangannya ke leher Yohan. Yohan sedikit terkejut dengan sikap istrinya itu. Tidak lama Yohan pun membalas ciuman Wonyoung memperdalam ciuman mereka dan memeluk pinggang Wonyoung. Cukup lama mereka berciuman di depan pintu Yohan melepas ciumannya.
"Ehhemm. Aku harus pergi sekarang." ucap Yohan mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau melihat wajah Wonyoung. Yohan takut dirinya mode on.
"Harus banget ya?" tanya Wonyoung tanpa melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Iya. Lagian tujuan aku kesini mau mengurus bisnis." ucap Yohan. Sekarang dia sudah bisa mengendalikan dirinya dan menatap Wonyoung.
"Ya udah deh. Jangan lama-lama ya pulangnya." ucap Wonyoung melepaskan tangannya dari Yohan dan melangkah masuk menuju ranjang.
"Hmm. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku ya." ucap Yohan lalu dia pergi keluar.
Saat keluar Yohan tidak langsung pergi. Dia bersandar di depan pintu kamarnya sambil memegang dadanya yang berdebar karena istrinya mulai agresif.
"Astaga Yohan. Tenangkan dirimu. Selesaikan pekerjaanmu." ucapnya sambil mengelus dadanya lalu melangkah pergi.
☆☆☆☆
"Hyung." ucap Yohan saat dirinya sudah sampai di dalam mobil.
"Kenapa lama sekali." ucap Seungwoo tanpa mengalihkan pandangannya dari tab miliknya.
"Ahh itu..." ucap Yohan terpotong saat dia teringat kejadian tadi. Kedua telinganya berubah menjadi merah.
Karena tidak ada suara Seungwoo mengalihkan pandangannya dan menoleh kebelakang. Saat ini Seungwoo duduk di kursi kemudi.
"Kau kenapa?" tanya Seungwoo heran melihat Yohan diam sambil tersenyum.
"Nggak ada. Ayo kita langsung berangkat." ucap Yohan menatap Seungwoo. Seungwoo hanya menggelengkan kepalanya dan menyalakan mesin mobil. Mereka pun berangkat menuju salah satu apartemen yang tidak terlalu jauh dari hotel yang mereka tinggali.
Sampainya di apartemen itu mereka langsung turun dan memasuki lift.
"Sebenarnya untuk apa dia ke sini?" tanya Yohan pada Seungwoo yang menekan tombol lift.
"Hmm aku juga nggak tahu." ucap Seungwoo. Kemudian lift terbuka. Mereka pun masuk kedalam lift itu. Seungwoo menekan tombol empat.
"Semua berkas sudah dibawakan?" tanya Yohan.
"Sudah. Tapi sepertinya dia sulit di temui." ucap Seungwoo sambil menatap layar yang menunjukkan angka lantai.
"Hyung kau tau nama pacarnya?" tanya Yohan. Saat ingin menjawab pintu lift terbuka. Mereka berjalan keluar lift.
"Tau. Namanya Chaewon? Ya Chaewon." ucap Seungwoo kemudian berhenti di depan pintu salah satu apartement.
"Oke. Aku bisa gunakan itu sebagai senjata. Tapi dia belum tau aku sudah menikah kan?"
"Belum ada satu pun yang tau." ucap Seungwoo lalu menekan tombol bel yang ada pada samping pintu itu.
Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu lalu menatap Seungwoo dan juga Yohan.
"Selamat siang tuan Kim." ucap Yohan lalu menampakkan senyum liciknya.
☆☆☆☆
__ADS_1