Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 15


__ADS_3

Pov Wonyoung.


Sudah dua bulan berlalu sejak Hangyul kembali ke Amerika. Dan sekarang dilaksanakannya ujian kelulusan. Pak Yohan bilang kalau aku lulus, aku harus merubah panggilanku padanya. Ya karena aku bukan lagi muridnya.


Sebulan sebelum ujian aku sangat sibuk belajar sampai tengah malam. Terkadang aku sudah terbangun di dalam pelukan pak Yohan. Selalu membuatku kaget setiap paginya.


Seongwoo oppa dan Eunbi eonni juga sering datang ke rumah. Dan setiap ke rumah pak Yohan selalu bertengkar dengan Eunbi eonni.


Hari ini, pagi ini aku melangsungkan ujian dengan mengisi semua pertanyaan yang sudah aku pelajari. Aku sangat senang semua pertanyaan berhasil aku jawab dengan mudah dan selesai dengan cepat. Pak Yohan yang mengawas pun tersenyum dan mengedipkan matanya diam diam.


Kata pak Yohan setelah ujian masuk universitas dia ingin memberikan aku hadiah. Aku curiga dengan hadiah pak Yohan. Karena dia bicaranya sambil memgedipkan mata genit ke arahku.


Dua hari lagi ujian masuk universitas diadakan. Dan hari ini setelah pulang dari ujian kelulusan kami datang ke rumah ibu mertuaku. Ibu pak Yohan.


"Pak. Saya ingin beli sesuatu untuk ayah dan ibu. Bisa berhenti ke mall sebentar?" Tanyaku pada pak Yohan yang sibuk menyetir.


"Boleh. Memangnya kamu mau kasih apa?" Tanya pak Yohan tanpa melihat ke arahku.


"Nanti bapak juga akan tau." Kataku sambil tersenyum.


Sudah lama tidak bertemu ayah dan ibu karena aku belakangan ini sangat sibuk. Tentunya sibuk belajar.


Sampainya di salah satu mall aku langsung mengajak pak Yohan berkeliling mencari hadiah yang cocok untuk ibu dan ayah. Kami mampir diberbagai toko sampai pak Yohan kelelahan.


"Sayang~ Apa kamu nggak lelah? Aku sangat lelah sekarang. Kita sudah hampir mwngelilingi mall ini." Kata pak Yohan yang berjalan lunglai dibelakangku. Tapi aku tetap menarik tangannya.


"Bapak pria tapi sangat lemah. Dulu kalau saya berkeliling dengan Hangyul dia nggak pernah seperti bapak ini." Kataku setelah berhenti karena makin lama pak Yohan memelankan langkahnya.


"Jangan pernah kamu membandingkan aku dengan pria urakan itu." Ucap pak Yohan lantang dan langsung berdiri tegap merangkul bahuku.


"Mau ke toko mana lagi kamu? Aku pasti menemani mu kemana pun." Lanjutnya lagi melihat ke arahku.


"Itu. Saya mau ke toko baju disana. Sepertinya baju disana cocok untuk ayah dan ibu." Kataku menunjuk toko baju yang bertemakan retro.


Kami pun memasuki toko tersebut. Aku melihat lihat isi toko itu. Dan akhirnya perhatianku jatuh pada syal merah muda dan jas polos berwarna navy. Setelah membayar kami pun berniat ingin makan.


Saat menuju restoran terdekat tak sengaja kami berpapasan dengan bu Han. Dia menatap wajah pak Yohan penuh arti. Lalu beralih ke arahku yang saat itu pak Yohan sedang memeluk pinggangku.


"Pak Yohan? Sedang apa disini?" Tanya setelah melihat ke adaan kami.


"Ah saya sedang jalan dengan istri saya." Jawab pak Yohan yang masih memelukku. Mendengar jawaban pak Yohan menatapku dengan tanda tanya.

__ADS_1


"Ngg.. maksud bapak?" Tanyanya lagi memastikan.


"Sebenarnya saya tidak mau memberi tahu seperti ini. Tapi ini istri saya Wonyoung. Kami menikah dua bulan setelah saya mengajar di sekolah." Jelas pak Yohan.


Bu Han terdiam sebentar dan kembali menatapku. Aku hanya tersenyum dan dia membalasku dengan senyum getir.


"Kalau begitu kami pamit bu Han." Ucap pak Yohan menarikku dan langsung pergi meninggalkan bu Han yang kebingungan.


"Pak. Apa tak masalah memberi tahu bu Han?" Tanyaku setelah kami menemukan restoran.


"Ya nggaklah. Lagian kamukan sudah lulus. Kita juga sekarang bukan guru dan murid lagi. Apa salahnya?"


"Iyasih. Ya sudahlah. Bapak mau pesan apa?" Kataku melihat menu.


"Hmmm aku mau steak. Kalau kamu?"


"Saya spageti aja pak."


"Oke. Pelayan!" Panggil pak Yohan.


Setelah memesan kami melanjutkan obrolan kami sambil menunggu pesanan. Aku memang sudah tak canggung lagi bila bicara dengan pak Yohan. Hanya aku belum terbiasa melihatnya bermanja manja dengan ku.


Sampai sekarang kecuali aku ketiduran kami selalu pisah kamar. Dan tentunya kami belum melakukan itu. Sesuatu yang dilakukan pasangan suami istri pada umumnya.


"Saya yakin. Semakin lama saya merasa itu memang jalan saya. Bapak nggak tau kan kalau dulu saat saya SMP saya pernah jadi juara tulis nasional pak." Kataku menyombongkan diri.


"Ya aku tau itu. Kan aku pernah lihat waktu ke rumahmu." Kata pak Yohan santai.


"Tapi pak. Bapak mau sampai kapan mengajar di sekolah?" Tanyaku menyendokkan spageti pesanan ku tadi.


"Oh kalau itu sepertinya semester depan aku nggak masuk lagi."


"Jadi bapak mengajar hanya untuk melihat saya?" Tanyaku dengan pedenya.


"Hey... kamu terlalu berharap. Aku mengajar karena permintaan pak wakil. Dulu pak wakil itu wali kelas aku. Jadi bapak itu minta tolong. Dan ingat, aku tau kalau mau dijodohkan denganku setelah aku menerima panggilan dari pak wakil saat aku di Amerika."


"Hmm yayaya..." kataku mencibir.


Setelah selesai makan kami langsung berangkat menuju tujuan kami. Sesampainya ditujuan, ibu menyambut kami dengan senyum bahagia.


"Wonyoung~ makin cantik aja menantu ibu ini." Kata ibu sambil memelukku.

__ADS_1


"Ah ibu bisa aja." Ucapku malu.


"Oh ya bu. Ayah mana?" Tanyaku melihat sekeliling tapi tak menemukan keberadaan ayah.


"Ayah kalian lagi di ruang kerjanya. Ayo masuk dulu." Ajaknya menarik lenganku. Aku pun mengikutinya.


Biasanya kami kalau ke rumah ini kami bakal tinggal sampai 5 hari. Tapi karena aku akan ada ujian lagi jadi besok kami akan pulang.


"Ayah! Wonyoung udah datang nih.." teriak ibu dari ruang tamu.


"Ibu. Anak ibu juga datang. Kenapa ibu memperlakukanku seperti supir yang mengantar anaknya pulang?" Kata pak Yohan sambil mendudukkan tubuhnya ke sofa.


"Kalau kamu sudah sering kami lihat. Jadi jangan ganggu kesenangan kami." Kata ibu merangkulku yang sekarang duduk di sampingku.


Tak lama kemudian ayah pun keluar dan menghampiri kami.


"Yaaa.... sudah lama ayah tidak melihat menantu ayah yang cantik ini." Kata ayah setelah mendudukkan tubuhnya di sofa menghadap kami.


"Haha.. ayah ini, kalau bicara selalu berlebihan." Ucapku dengan suara tertawa.


"Ya kan memang kenyataan. Buktinya Yohan mau menikah denganmu." Balas ayah menunjuk ke arah Yohan.


Kami pun tertawa memdengar ucapan ayah mertua ku ini. Lalu aku teringat hadiah yang tadi kami beli malah tertinggal di dalam mobil.


"Oh iya. Tadi kami membeli hadiah untuk ayah dan ibu. Ini buat ayah dan ini buat ibu." Ucapku memberikan bingkisan yang tadi kami bawa. Mereka pun mengeluarkan isinya dan merasa takjub.


"Wah.. Bagus sekali. Kebetulan ibu juga mau membeli syal." Kata ibu setelah melihat isinya.


"Iya. Jas ini pun sangat bagus. Terima kasih ya Wonyoung." Ucap ayah tersenyum kepadaku dan ibu juga ikut tersenyum.


Setelah itu kami mengobrol banyak hal. Mulai membahas ujianku dan kampus mana yang ku pilih dan pilihan sekarang yang di lontarkan ibu membuatku terkejut.


"Jadi.. kapan kalian akan punya anak? Umur Yohan sekarang sudah mau kepala tiga. Lagiankan sekarang Wonyoung sudah lulus." Ucap ibu memandangku penuh arti.


"Ya.. memang sampai sekarang kami belum ada membahas itu bu. Ibu tau sendirikan betapa sibuknya Wonyoung dan aku. Lagian aku nggak mau ganggu pikiran Wonyoung selagi masih ujian." Jelas pak Yohan. Aku hanya diam tak tau mau menjawab apa.


"Ya ibumu hanya memberi tahu karena ayah dan ibu sudah tua sekarang." Balas ayah.


"Ya udah. Nanti kami bahas lagi." Ucap pak Yohan menggenggam tanganku. Aku menatap pak Yohan dan tersenyum.


☆☆☆☆

__ADS_1


Mohon dukungannya ya... Jangan lupa like dan komennya... Terima kasih😁


__ADS_2