
Pov normal
Sudah seminggu berlalu sejak ujian masuk universitas. Wonyoung merasa gugup saat ujian. Apalagi sekarang. Hari ini adalah hari pengumuman.
Kemarin sudah pengumuman kelulusan. Dan Wonyoung lulus dengan nilai terbaik dalam semua mata pelajaran. Karena berita bahagia itu Yohan membelikan Wonyoung tas baru berbagai macam dan merek ternama. Wonyoung yang melihatnya kebingungan memikirkan cara memakainya karena sangking banyaknya.
"Bagaimana? Sudah keluar hasilnya?" Tanya Yohan yang melihat Wonyoung sibuk menatap laptopnya.
"Belum. Lima menit lagi."
Yohan yang tak sabar menunggu akhirnya tertidur di ranjang Wonyoung. Tiba tiba Wonyoung teriak begitu iya melihat hasilnya dan membuat Yohan terbangun.
"Wahh!!"
"Astaga sayang... kamu mengagetkan saja." Kata Yohan menggosok matanya ketika sudah duduk.
"Ahh! Akhirnya aku lulus juga. Aku masuk ke kampus yang aku mau sayang." Kata Wonyoung langsung memeluk Yohan yang masih duduk di ranjang.
Saat itu Yohan yang masih mengantuk langsung membelalakkan matanya. Karena baru kali ini Wonyoung memanggilnya begitu.
"Jadi... Apa hadiah yang aku dapat?" Ucap Wonyoung mengulurkan tangannya tanpa melepaskan pelukannya.
"Kamu yakin mau aku kasih sekarang?" Ucap Yohan menggoda.
"Ih apaan sih? Emangnya apa hadiahnya?" Tanya Wonyoung yang melepaskan pelukannya. Kini dia sangat penasaran.
"Aku bakal kasih hadiahnya tapi kamu harus memohon dulu sama aku." Kata Yohan melipat tangannya didada.
"Hmmm ayo dong sayang~~ Kasih dongg.. hm? Hm?" Ucap Wonyoung dengan nada manja. Yohan melihatnya sekarang menahan tawanya. Yang sekarang di lihatnya adalah momen yang menggemaskan.
"Baiklah. Aku bakal kasih. Hadiahnyaa... Aku!" Kata Yohan semangat.
"Hah? Kamu serius dong.." rengek Wonyoung.
"Iya. Aku serius loh. Jadi... aku mau itu sekarang. Boleh ya.." bujuk Yohan.
Jujur dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Kemarin aja dia harus mandi air dingin di tengah malam. Karena Wonyoung lewat begitu aja masuk kekamarnya dengan tampilan yang menggoda menurut Yohan. Harum rambut Wonyoung sehabis keramas plus baju tipisnya yang selalu di pakai nya kalau tidur.
Wonyoung hanya diam aja. Kalau boleh jujur dia merasa takut bila melakukan itu sekarang. Dia merasa dia masih terlalu muda dan dia juga belum mempersiapkan hatinya untuk itu.
Karena belum mendapat respon dari Wonyoung dia menarik tubuh Wonyoung dalam pelukannya.
"Jujur ya. Sebenarnya sudah lama aku menginginkan itu. Tapi aku tahan karena melihat kamu semangat belajar. Jadi aku nggak mau ganggu kamu. Tapi sekarang, aku sudah nggak sanggup lagi." Jelas Yohan yang sekarang bagian bawahnya sudah mengeras.
Wonyoung bisa mendengar suara detak jantung Yohan semakin cepat. Dia yang berada dalam pelukan Yohan pun melihat ke arah bawah. Dia terkejut melihat milik Yohan membesar.
Melihat itu jantung Wonyoung pun ikut berdebar dengan kencang.
Yohan melepas pelukannya. Tangan kirinya megang bahu Wonyoung. Dan tangan kananya meraih dagu Wonyoung. Perlahan mengarahkan wajah Wonyoung yang tadi tertunduk menghadap ke wajahnya.
Mereka saling menatap. Mata mereka beradu sangat lama. Perlahan tatapan Yohan turun kehidung, dan sekarang kebibir Wonyoung. Yohan mendekatkan wajahnya dan masih melihat bibir Wonyoung.
Wonyoung menutup matanya. Dia bisa merasakan nafas Yohan yang berhembus ke wajahnya.
'Cup'
Kecupan lembut mampu membuat suasana menjadi sangat menggelora. Kemudian kecupan tadi berubah menjadi lumatan lembut. Tangan Yohan yang tadi memegang bahu Wonyoung kini turun memeluk pinggang Wonyoung. Dan tangan satunya lagi berpindah ke tengkuk Wonyoung seakan memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Wonyoung yang dari tadi tidak menolak tapi diam saja. Karena terbawa suasana kini Wonyoung membalas ciuman Yohan dan mengalungkan tangannya ke leher Yohan.
Mengetahui respon positif Wonyoung, Yohan langsung membaringkan Wonyoung dan masih melanjutkan kegiatannya.
Semakin lama lumatan lembut itu menjadi ciuman panas. Wonyoung yang belum bisa mengimbangi ciuman Yohan mulai kehabisan nafas. Melihat Wonyoung kesusahan bernafas kini Yohan beralih menciumi telinga dan menggitnya. Kini turun menciumi leher jenjang Wonyoung.
Wonyoung yang merasa geli hanya melenguh. Baru kali ini dia di perlakukan seperti ini oleh pria.
"Ugh..." suara Wonyoung berhasil lolos dari mulutnya.
Tangan Yohan sekarang meraba perut rata Wonyoung dari balik bajunya. Lalu Yohan menarik dress tidur Wonyoung ke atas. Memperlihatkan kaki jenjang Wonyoung yang mulus dan mulai merabanya. Wonyoung merinding dengan perlakuan yang diterimanya.
Yohan bangkit membuka bajunya. Dan membuangnya sembarang. Wonyoung melihat wajah Yohan terlihat merah.
"Kamu udah nggak bisa menolak lagi." Ucap Yohan pada Wonyoung yang menatapnya. Yohan pun menerkam Wonyoung.
"Ahhk!" Teriak Wonyoung.
☆☆☆☆
Pov Wonyoung.
Aku terbangun mendengar suara alarm. Aku merasa ada yang menimpa perutku. Ternyata tangan Yohan yang memelukku dari belakang. Aku membalik menghadap ke arah Yohan yang tertidur pulas. Ku tatap wajah tampannya sambil membuat pola abstrak di pipinya.
Melihat wajahnya ini mengingatkanku kejadian tadi malam. Dia sungguh tak ada hentinya melakukan itu padaku. Sangat lelah menghadapinya. Dia terlihat seperti singa yang kelaparan.
Aku masih tidak percaya dia bisa menahan selama itu. Pria yang lembut dan hangat ini menjadi pria ganas dalam satu malam.
"Kamu mau main satu ronde lagi?" Tanyanya masih menutup matanya.
Aku menarik tanganku menjauh dari pipinya.
"Hahaha.." tawa Yohan.
"Jadi kuliah aku gimana kalau misalnya aku hamil?" Tanyaku. Jujur aku takut kalau misalkan aku hamil saat sekarang aku sudah lulus ujian.
"Kamu tenang aja. Nanti tahun pertama kamu ambil kelas online aja. Lagian ibu juga udah maksa kita punya anak. Kamu nggak mau punya anak dari aku?" Tanyanya mengusap pucuk kepalaku.
"Bukan begitu. Tapi aku kan baru mau masuk kuliah. Aku hanya merasa ini terlalu cepat."
"Memang ini terasa cepat bagimu karena jarak umur kita terpaut jauh. Tapi umurku sekarang udah matang. Seorang pria sepertiku yang sudah menikah wajar kalau punya anak. Aku harap kamu mengerti keadaan kita." Jelas Yohan menenangkanku.
"Hm. Baiklah." Ucapku memeluk tubuhnya. Sungguh hari yang membahagiakan.
Ternyata tidak terlalu buruk menikahinya. Walau kami belum mengucapkan kata cinta. Tapi aku yakin kalau Yohan, suamiku ini tidak akan meningalkanku begitu saja.
☆☆☆☆
"Halo. Kamu setelah lulus jarang memghubungiku." Ucap Hara setelah mendudukkan tubuhnya didepanku.
Kami kemarin janji bertemu di sebuah kafe di dekat sekolah. Kafe ini mengingatkanku tingkah cemburu Yohan.
"Ah benarkah? Hahaha... jangan marah dong ra. Sekarang ini aku kangen banget denganmu." Ucapku menyeruput minumanku.
"Wah... wajahmu sekarang terlihat bahagia. Dan kulihat bentuk tubuhmu berubah Wonyoung." Ucap Hara memperhatikan bentuk tubuhku dari atas sampai bawah.
"Uhuk uhuk uhuk......" aku tersedak minumanku sendiri. Betapa terkejutnya aku kalau Hara menyadari itu.
__ADS_1
"Hey kau tak apa?"
"Ehemm... Ya aku tak apa. Lagian perkataanmu itu membuatku terkejut."
"Yah mungkin karena sudah lama kita belum bertemu sejak ujian kelulusan. Tapi apa kau banyak makan belakangan ini? Tapi kalau banyak makan maka wajahmu juga akan berubah." Kata Hara masih memperhatikan tubuhku.
"Ku lihat dadamu semakin besar. Dan juga pinggul dan bokongmu... Ah! Kau semakin bohai sekarang." Ucapnya kesal dan menyeruput minumannya.
Ya selama dua minggu ini Yohan sering sekali mengajakku melakukan itu. Dia tak kenal waktu dan tempat. Aku sungguh takut kalau pinggangku patah.
"Hahahaha.... kau bisa aja. Hara, kau juga tambah cantik. Belakangan ini kau ada perawatan apa?" Tanyaku mengalihkan topik bicara.
"Kau mengejekku?"
"Hey. Bukan itu maksudku."
"Ya aku tau. Coba ceritakan gimana kuliahmu?" Tanya Hara yang melihatku merasa bersalah.
"Ya baik." Kujawab sekedarnya.
Lalu kami pun mengobrol panjang lebar. Kami membahas banyak hal karena kami jarang bertemu. Tiba tiba ada pesan masuk disela obrolan kami.
Drrrt Drrrt Drrrt
*Sayangku♡
Jangan lupa beritahu temanmu itu. Nanti aku akan menjemputmu. Jadi saat aku bertemu dengannya dia harus udah mengetahuinya. Bye~~😘*
Ternyata Yohan. Memang sudah lama dia bilang padaku untuk memberitahu Hara. Tapi aku belum siap kalau Hara mengetahuinya. Tapi hari ini aku merasa harus memberitahu Hara.
"Siapa?" Tanya Hara setelah kuletakkan ponselku.
"Hmm Hara... aku sebenarnya ingin bertemu kali ini karena ada yang ingin aku beritahu padamu." Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya tadi.
"Beritahu apa? Sepertinya sangat serius." Sepertinya dia waswas mendengar ucapanku.
"Sebenarnya... aku udah nikah ra." Ucapku ragu ragu.
"Apa?! Kamu serius?!" Tanyanya sedikit berteriak.
"Iya. Dan orang yang aku nikahi pak Yohan. Wali kelas kita itu." Jawabku pelan.
"Hah?! Pak Yohan yang tampan itu? Kok bisa? Kapan kamu nikahnya?"
"Tanyanya satu satu dong. Iya pak Yohan itu. Ya aku dijodohkan dengannya. Terus aku nikahnya dua bulan setelah dia mengajar." Jawabku sesuai pertanyaannya.
"Wah.. Beruntung banget sih kau ini. Enak nggak nikah muda?"
"Dibilang enak pun aku rasa biasa aja. Nggak banyak perubahan kecuali aku tinggal di apartemennya dan aku memasak untuknya. Itu saja."
Aku pun menjawab semua pertanyaan Hara. Dari yang masuk akal sampai diluar pikiran.
☆☆☆☆
Mohon bantuannya ya...
Jangan lupa like dan komennya...
__ADS_1
Terima kasih😁