
"Oh? Oppa udah pulang?" Tanya Wonyoung begitu melihat Yohan sudah berada dikamar. Sekarang Wonyoung baru selesai mandi.
"Iya. Maaf ya aku lama pulangnya." Ucap Yohan lalu memeluk Wonyoung.
"Nggak papa kok. Oh ya, tadi Hangyul datang." Mereka sudah duduk ditepi ranjang.
"Hangyul? Untuk apa dia kesini? Bukannya dia udah kembali ke Amerika?"
"Dia memutuskan kuliah disini. Terus dia juga udah tau kalau kita udah menikah." Wonyoung berucap begitu sambil menatap Yohan.
"Baguslah. Jadi kita nggak perlu menyembunyikan apapun."
"Tapi aku merasa bersalah. Seharusnya aku duluan yang memberitahunya." Nada suara Wonyoung terdengar sedih.
"Hey... Kamu nggak salah kok. Wajar ajakan kamu nggak memberitahunya. Apalagi melihat usia kamu. Kamu mungkin berpikir dia nggak percaya. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Oke." Yohan mengecup pipi Wonyoung.
"Hmm..."
"Oppa mandi gih. Aku mau masak untuk makan malam." Wonyoung bangkit dari duduknya.
Yohan hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Wonyoung pergi ke dapur.
Dalam 20 menit Yohan keluar dari kamar mandi. Terdengar ponselnya begetar pertanda ada yang menelponnya.
Dilihatnya ponsel itu. Tertera nama "Lee Designer" di ponselnya. Yohan berpikir kenapa Haneul memanggilnya. Yohan terdiam sampai ponselnya berhenti bergetar. Lalu bergetar kembali. Tak menunggu lama Yohan mengangkat panggilan Haneul.
"Halo?"
"Halo pak~~ Akhirnya bapak mengangkatnya~~ Hik! Pak.... Kenapa-" tiba tiba panggilan terputus.
Yohan tau kalau Haneul sedang mabuk. Haneul tidak pernah bicara padanya seperti itu. Tapi kenapa tiba-tiba panggilannya terputus?
Ditengah kebingungan Yohan terdengar suara Wonyoung yang memanggilnya. Yohan pun segera menghampiri istrinya meninggalkan ponselnya di kamar.
☆☆☆☆
"Yak! Kenapa kau menelpon bos mu saat kau mabuk begini?" Tanya Hangyul setelah mematikan ponsel Haneul. Hangyul tadi meninggalkan Haneul sebentar karena ke toilet. Hampir saja kan noona nya itu membuat masalah dengan bosnya.
"Eh? Ada adik kesayanganku~~ Hangyul~~ Jangan marah dong pada noona mu ini... hik!" Ucap Haneul kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Aih.. Noona apaan. Kalau tau begini aku ajak minum di rumah aja. Padahal aku yang mau mabuk hari ini. Kenapa jadi dia." Ucap Hangyul mendudukkan tubuhnya di hadapan Haneul.
Hangyul menatap noonanya. Padahal niatnya mengajak Haneul kesini ingin memintanya mendengarkan keluh kesah dirinya.
Kenapa bisa jadi begini pikirnya. Situasi sekarang dan kondisi cintanya. Padahal dia sudah dari lama menyukai Wonyoung. Ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Hangyul pernah berpikir mungkin saja Wonyoung mendapat pacar saat dia pergi. Dan saat kembali pun memang Wonyoung mengaku berpacaran dengan pria yang jauh lebih tua darinya.
Hangyul berpikir kalau status pacaran bisa saja putus. Dan Hangyul masih berpikir pasti ada kesempatan. Tapi saat dia memutuskan untuk kuliah di negaranya dia benar-benar terpukul. Padahal niat hati ingin lebih dekat dengan Wonyoung dan membujuk sahabatnya itu untuk putus dengan pria tua itu. Hahh... Hangyul kembali meneguk minuman pahit itu.
"Noona. Ayo kita pulang. Aku capek nih." Ucap Hangyul membangunkan Haneul.
"Hmmmm...." begitulah Haneul merespon. Tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
"Hah... Ayo." Hangyul memapah Haneul setelah mengalungkan tas kakaknya itu.
Hangyul memanggil supir pengganti. Tidak mungkin dia menyetir setelah meminum minuman tadi. Mereka pun pulang ke rumah kakaknya. Haneul sudah lama tinggal sendirian. Jadi tidak mungkin Hangyul membawa kakaknya yang mabuk ke rumah orang tuanya. Bisa digorok dia.
__ADS_1
☆☆☆☆
"Hyung untuk sementara ini kita fokus ke perusahaanku dulu. Aku juga udah bilang pada ayah." ucap Yohan. Mereka berada di mobil menuju kantor Yohan.
"Baiklah. Kemarin Haneul udah melaporkan designnya pada klien. Dia bilang kalau klien kita suka." ucap Seungwoo yang berkonsentrasi mengemudi.
"Bagus. Aku harap ini semua cepat selesai. Aku nggak mau sering kesini kalau nggak terlalu penting." Yohan mau semua ini cepat selesai karena dia sedikit tidak nyaman berada di sekitar Haneul. Apalagi setelah kemarin Haneul menghubunginya.
"Kita udah sampai. Nanti kita langsung rapat." setelah bicara seperti itu Seungwoo turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yohan.
Mereka langsung ke ruang rapat. Seperti biasa para pegawai masih terlihat kagum pada bos mereka. Tapi mereka belum tahu kalau bos mereka sudah menikah dan akan segera memiliki anak.
Mereka sampai di ruang rapat. Terlihat semua sudah hadir disana. Tapi ada satu orang yang tidak terlihat. Yohan hanya diam dan berjalan menuju kursinya diikuti Seungwoo dibelakangnya.
"Karena kita sudah menyelesaikan semuanya. Mulai dari design, investor, bahan, pegawai dan lain-lain. Kapan kita akan memulai pekerjaan ini?" saat Yohan selesai bertanya tiba-tiba ada yang menyela. Designer Lee. Nafasnya terlihat memburu.
"Maaf pak. Saya terlambat." ucapnya terengah.
Yohan mengangkat sebelah alisnya. Dia menatap Haneul sebentar lalu membuang nafasnya kasar. Disandarkannya punggungnya pada kursinya. Diangkatnya lengannya dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal itu.
"Sebenarnya saya sudah cukup terlambat datang hari ini." ucapnya. Suasana disana cukup hening.
"Hahh.... Ya sudah kamu boleh masuk." ucap Yohan lagi. Haneul langsung bergegas masuk dan mendudukkan tubuhnya.
Di ruangan itu tidak terdengar suara apapun sebentar. Lalu terdengar Yohan membuka kertas materi rapat hari ini.
"Baiklah. Nona Lee. Kapan kita akan mulai proyek ini?" tanya Yohan menatap Haneul.
Haneul membeku. Bagaimana dia bisa tau? Dia saja belum mengecek emailnya karena kemarin dia sibuk mabuk. Dia lupa kalau hari ini akan mengadakan rapat.
Haneul melirik pada salah satu rekannya. Tentu saja rekannya itu tidak mau ikut campur. Bisa kena imbasnya dia. Jadi dia hanya mengangkat bahunya.
"Haha. Astaga. Seharusnya aku nggak boleh marah pagi ini." Yohan bermonolog sendiri tapi masih terdengar oleh mereka.
Gawat. Yohan sudah mengeluarkan bahasa informalnya. Kalau sudah begini Dia bakal habis dimarahi oleh Yohan. Bukan. Bukan hanya Haneul. Tapi semua yang ada disana.
"Manager Kim. Kapan kita akan memulai proyek ini?" tanya Yohan pada Managernya yang ada di sebelah kirinya.
"Ya. Menurut pemberitahuan oleh semua divisi kita bisa memulainya dan 5 hari lagi pak." ucap Manager Kim. Sungguh dia sedikit takut.
"Oke. Kita mulai dalam 2 hari lagi. Sekian rapat hari ini." Yohan berdiri berjalan keluar setelah mengucapkan itu tanpa memikirkan bagaimana karyawannya kelimpungan karena waktunya dipercepat.
Langkahnya terhenti tepat di belakang kursi Designer Lee. Yohan mengangkat kepalanya menatap langit-langit. Dimasukkannya kedua tangannya itu pada saku celananya.
"Nona Lee. Anda saya tunggu di ruangan saya." ucapnya lalu benar-benar pergi dari sana.
Setelah Yohan dan Seungwoo pergi semua yang ada di ruang rapat itu menatap Haneul tidak suka. Bagaimana tidak. Karena kesalahannya semua orang terkena masalah. Haneul hanya bisa pasrah. Lalu dia keluar setelah semua meninggalkannya dan melempar tatapan tak suka. Dia harus menghadapi bos dinginnya itu.
☆☆☆☆
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Yohan menyuruhnya masuk karena tahu siapa yang datang.
"Permisi pak." ucap Haneul setelah masuk.
__ADS_1
"Hm." Balas Yohan singkat.
"Maafkan kesalahan saya tadi pak." Haneul menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Yohan. Bukan apa-apa. Baru kali ini Yohan marah padanya. Biasanya dia hanya melihat Yohan marah pada yang lain.
(emg jatah mu neul😅)
"Nona Lee ada masalah dengan keluarga?"
"Tidak."
"Terus ada masalah dengan pacar?" untuk apa Yohan menanyakan ini. Padahal Yohan tahu kalau Haneul sedang sendiri.
"Ti-tidak." kali ini Yohan mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar jawabannya.
"Bagus kalau begitu. Pertahankan."
"Ba-baik pak."
"Apa kamu tidak mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan pada saya."
"Ya? Sesuatu? Mungkin... tidak ada." kini Yohan menatap bosnya itu.
"Benarkah? Yakin? Saya cuma kasih kamu kesempatan sekali saja loh." ucap Yohan sambil melepas jasnya.
Haneul memikirkannya sebentar. Kapan lagi mendapatkan kesempatan seperti ini pikirnya. Apalagi dari bosnya itu.
"Hmm.. Sebenarnya ada sedikit yang mengganggu saya. Sedikit pak."
"Hm. Bilang saja."
"Kenapa belakangan ini bapak menjauhi saya. Maksud saya biasanya pun bapak tidak mempermasalahkan kalau saya langsung melapor pada bapak. Jadi.. Kalau boleh saya tahu apa sebabnya pak?" ucap Haneul. Dia kembali menundukkan kepalanya.
"Ahh... itu. Saya memang menjaga jarak dengan kamu karena ada alasan. Sekarang saya sudah menikah jadi-"
"Tunggu pak! Barusan bapak bilang apa?" tanya Haneul memotong ucapan Yohan.
"Saya bilang saya sudah menikah." ucap Yohan sedikit menekankan pada kata terakhir.
"Apa?!"
☆☆☆☆
**Jangan lupa like dan komennya ya~~~
~Parodi Haneul~
Y : Saya sudah me~ni~kah~
H : Appaaaaaaa????!!!!😲🤤😨😱😱
Y : Nona Lee? Jangan pingsan!😲😲
Bughhh (Haneul jatuh kelantai)
Y : 😧**
__ADS_1