Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 19


__ADS_3

Dari pagi ntah kenapa Wonyoung sangat manja dengan Yohan. Tadi saja saat Yohan akan berangkat kerja Wonyoung merengek minta ikut. Yohan bingung menghadapi tingkah baru istrinya ini. Jarang sekali Wonyoung bertingkah manja. Bisa dibilang tidak pernah.


Sekarang Wonyoung tengah duduk dipangkuan Yohan yang sedang sibuk mengerjakan beberapa dokumen. Tangannya di lingkarkannya dileher Yohan. Wajahnya di benamkannya pada bahu Yohan. Yohan senang saja menerima perlakuan istrinya itu.


Saat datang tadi Seungwoo terkejut melihat Wonyoung ikut Yohan ke kantor dan bergelayutan manja dilengan Yohan.


"Pak. Sudah waktunya makan siang." ucap sekertaris perempuan setelah membuka pintu. Seungwoo sedang tugas keluar menemui klien. Sekertaris itu heran melihat atasannya itu dengan seorang perempuan.


"Baiklah. Kau boleh keluar. Kami nanti makan diluar." perintah Yohan dan sekertaris itu pun keluar. Wonyoung masih diam dipangkuan Yohan.


"Sayang. Kamu belum lapar? Udah jam makan siang nih." ucap Yohan yang menyusun semua berkasnya.


"Kamu sudah selesai kerjanya?" tanya Wonyoung menatap Yohan.


"Kerjaan ini bisa ditinggal kok. Ayo makan." ucap Yohan mengelus punggung Wonyoung. Wonyoung menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Mereka pun keluar ruangan menuju lift. Sekertaris melihat kemesraan atasannya itu dengan seorang perempuan dipangkuan Yohan. Sejak dia bekerja sebagai sekertaris baru kali ini dia melihat Yohan bermesraan dengan perempuan.


Wonyoung yang mengetahui sekertaris suaminya itu menatap kearahnya balik menatap tajam ke arah sekertarisnya itu. Wonyoung merasa tak suka bila suaminya dipandang lama lama sama perempuan lain.


Keluar lift pun Wonyoung masih bergelayut mesra ditangan Yohan. Yohan hanya terkekeh melihat tingkah istri imutnya itu.


☆☆☆☆


Mereka makan di restoran milik Hyeongjoon. Setelah mendapat omset lebih Hyeongjoon membuka restoran. Restorannya menjual berbagai jenis makanan dari berbagai asal negara. Kebetulan Hyeongjoon sedang memeriksa restorannya saat itu.


"Kamu mau makan apa?" tanya Yohan melihat daftar menu.


"Terserah kamu."


Yohan memesan beberapa set makanan dan dua minuman. Selesai memesan Hyeongjoon menghampiri meja mereka.


"Hyung. Hai Wonyoung. Tumben makan diluar?"


"Ya sekali sekali tak masalah. Makin rame aja restoran mu." ucap Yohan melihat sekeliling.


"Yah lumayan lah. Oh ya sudah pesan makannya?" tanya Hyeongjoon mendudukkan dirinya dihadapan Yohan.


"Udah kok. Kau lagi ada jadwal ya disini?" tanya Yohan.


"Iya hyung. Sudah dulu ya. Aku pamit dulu. Sampai ketemu lagi Wonyoung." pamit Hyeongjoon.


"Iya."


"Hm baiklah."


Hyeongjoon pun menjauh dari pandangan mereka.


Wonyoung melihat sekeliling restoran. Dilihatnya rata-rata perempuan disana melihat ke arah Yohan seperti melihat artis idolanya.


"Ihh mereka kenapa sih. Kenapa pada lihatin kamu. Sebel deh." ucap Wonyoung cemberut.


"Kamu kenapa sih? Kan sudah biasa begini. Nggak biasanya kamu begitu." ucap Yohan mengelus pipi Wonyoung.


"Aku nggak tau. Sebel aja lihatnya." Yohan hanya tersenyum melihat tingkah Wonyoung.


Akhirnya datang pesanan mereka. Setelah makanan tertata Wonyoung segera ingin menyantap makanannya. Tapi tiba-tiba dia merasa mual saat mencium makanan yang dipesan Yohan tadi itu.


"Hueekk.."

__ADS_1


"Kamu kenapa?" ucap Yohan khawatir.


"Nggak tau nih. Bau nya bikin aku mual. Hueekk!" Wonyoung sedikit menjauhkan makanannya.


"Benarkah? Ya udah makan punya aku aja nih." ucap Yohan menyodorkan makanannya. Tapi Wonyoung menggeleng.


"Makan. Nanti kamu masuk angin loh kalau nggak makan. Sini aku suapin." Yohan menyodorkan sesuap. Wonyoung memakannya. Lalu dia merasa tidak mual.


"Aku saja." ucap Wonyoung.


Yohan tersenyum melihat Wonyoung mau makan. Tapi saat sendok kedua Wonyoung tak berselera. Wonyoung melirik Yohan yang sedang makan. Tentu Yohan tau.


"Kenapa?"


"Suapin aku dong. Ya?" ucap Wonyoung manja.


"Kamu ini. Tadi katanya mau sendiri." ucap Yohan sambil mengambil alih piring Wonyoung.


Terpaksa Yohan menyuapi Wonyoung sampai selesai barulah dia makan.


"Makasih." ucap Wonyoung setelah mengecup pipi Yohan. Yohan semakin heran melihat tingkah istrinya itu.


"Kamu kenapa sih seharian ini?" tanya Yohan berhenti dari kegiatan makannya.


"Tidak ada. Memangnya aku kenapa?" tanya Wonyoung balik. Dia merasa dirinya seperti biasa.


"Udahlah lupakan. Aku mau makan dulu." Yohan melanjutkan makannya. Dia sudah lapar dari tadi.


☆☆☆☆


Niatnya Yohan ingin mengajak Wonyoung makan malam diluar. Tapi bagaimana ceritanya mereka jadi makan di rumah dan sekarang dia berada di kamar dan berada di pelukan Wonyoung.


"Aku juga nggak tau. Aku maunya cuma di rumah dan seperti ini sama kamu."


"Kalau itu aku mengerti. Bisa aja kamu memang ingin bermanja. Tapi bagaimana dengan mualmu?"


"Kalau untuk mualnya udah lebih baik kok. Paling cuma masuk angin." ucap Wonyoung santai.


"Walau cuma masuk angin kamu seharusnya jangan sepele dong. Aku nggak bisa lihat kamu sakit." ucap Yohan menatap Wonyoung.


"Pokoknya besok kamu harus ke rumah sakit. Kita periksa ke dokter." lanjutnya lagi.


"Tapi aku benci bau rumah sakit." tolak Wonyoung.


"Ya udah. Kita panggil dokter aja ke sini." terpaksa Yohan mengalah. Kalau tidak bisa Wonyoung marah-marah nggak jelas.


Besoknya dokter datang sesuai perkataan Yohan. Sekarang Wonyoung diperiksa di kamar mereka. Tentunya ada Yohan juga.


"Bagaimana dok?" tanya Yohan ketika dokter itu selesai memeriksa Wonyoung.


"Sudah berapa lama mualnya bu?" tanya dokter itu pada Wonyoung.


"Hmm sekitar 2 minggu yang lalu dok." jawab Wonyoung.


"Kapan terakhir kali menstruasi?" tanya dokter itu lagi.


"Sekitar awal bulan lalu. Seharusnya bulan ini saya sudah tapi sampai sekarang belum dok." jelas Wonyoung.


"Ya, menurut jawaban ibu tadi saya menduga ibu sedang hamil 2 minggu." ucap dokter itu pada Wonyoung dan melihat ke arah Yohan..

__ADS_1


Yohan yang mendengarnya langsung bersemangat. Sementara Wonyoung sepertinya terkejut dan belum menerima kenyataan.


"Jadi istri saya hamil dok?" tanya Yohan memastikan.


"Itu menurut dugaan saya. Untuk lebih jelasnya bapak bisa periksa ke dokter kandungan atau pakai testpack." jelas dokter itu.


"Terima kasih dok."


"Baiklah saya permisi." ucap dokter itu. Yohan mengantar dokter itu kedepan.


Selagi Yohan mengantar dokter ke depan, Wonyoung terdiam. Dia masih belum menerima kenyataan ini. Bagaimana dia bisa hamil di usianya ini. Dia takut akan terjadi sesuatu.


(Tahulah gaes perasaan remaja beranjak dewasa yang sedang hamil muda. Walau sudah menikah pasti ada takutnya. Begitulah perasaannya)


"Aku nggak boleh berpikir macam macam dulu. Mungkin dokter itu salah. Aku harus mengajak Yohan ke dokter kandungan." ucap Wonyoung berusaha menenangkan diri.


"Sayang. Aku bahagia sekali mendengar kabar ini." ucap Yohan langsung memeluk Wonyoung.


"Ini belum pasti. Kata dokter tadi ini hanya dugaan." ucap Wonyoung melepas pelukannya dan menatap Yohan.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu nggak senang mendapat kabar ini." Yohan merasa curiga.


"Bukan. Bukan begitu maksudku. Ayo kita pergi ke dokter kandungan. Biar kita tau dengan jelas."


"Baiklah kalau itu mau mu. Ayo bersiap." ucap Yohan.


Mereka pergi ke rumah sakit pusat kota yang tak jauh dari apartemen mereka. Mereka langsung menuju departemen dokter kandungan dan ikut mengantri.


Setelah giliran mereka, mereka langsung masuk ke ruangan dokter dan melakukan beberapa pemeriksaan.


"Seperti dugaan dokter sebelumnya memang benar bahwa istri bapak sedang mengandung 2 minggu. Selamat ya bapak dan ibu." ucap dokter itu setelah selesai memeriksa.


"Apa?! Jadi saya beneran hamil dok?" ucap Wonyoung spontan.


"Benar bu."


"Dokter. Apakah hamil diusia seperti saya ini akan mengalami masalah serius?" tanya Wonyoung membuat Yohan terkejut. Yohan tidak tahu kalau istrinya itu takut hamil diusia mudanya ini.


"Ibu tenang saja. Janin ibu dalam keadaan sehat begitu juga ibu. Bila ibu menjaga pola makan dan tidur yang teratur maka ibu dan anak akan selamat sampai melahirkan." jelas dokter itu.


"Terima kasih dok." ucap Wonyoung. Ada sedikit terlihat rasa lega diwajahnya.


"Saya mau bertanya. Kalau rasa mual itu bertahan berapa lama ya dok? Soalnya saya takut akan mempengaruhi pola makannya." ucap Yohan.


"Bapak tenang saja. Itu hanya terjadi sampai trisemester saja. Saya sarankan bapak harus banyak bersabar menghadapi istri bapak." jelas dokter.


"Baik dok terima kasih. Kalau begitu kami pamit." ucap Yohan bangkit dari duduknya dan membantu Wonyoung berdiri.


"Ya silahkan pak."


Mereka keluar dan menuju mobil mereka. Setelah didalam mobil Wonyoung terlihat diam. Yohan melihatnya berinisiatif buka suara sebelum menjalankan mobilnya.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Hm?" Tanya Yohan sambil mengelus punggung tangan Wonyoung.


"Hanya merasa sedikit takut. Apalagi aku hamil diusia muda. Mungkin hanya rasa takut remaja biasa." ucap Wonyoung sedikit tersenyum.


"Kamu tenang aja. Aku ada selalu."ucap Yohan mengecup punggung tangan Wonyoung. Lalu Yohan melajukan mobilnya untuk pulang.


☆☆☆☆

__ADS_1


Maaf typo bertebaran. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2