
"Kamu lagi sama perempuan?" ucap Chaeyeon begitu melihat Wonyoung mendekati Yohan.
"Ini siapa?" tanya Wonyoung menatap Yohan.
Saat ini Yohan bingung mau menjelaskan apa. Sebenarnya dia tidak ingat siapa sebenarnya wanita itu. Yang cuma Yohan ingat waktu itu perempuan itu pernah datang ke apartemennya saat Yohan dan Wonyoung bertengkar.
"Dulu saat aku mendekati mu, kau bilang kau tidak butuh perempuan. Aku terima karena kau selama ini tidak pernah terlibat dengan perempuan lain. Tapi ini apa?" ucap Chaewon.
"Sebenarnya aku tidak terlalu ingat kau ini siapa. Karena banyak perempuan yang mencoba mendekatiku. Tapi yang jelas dari dulu sampai sekarang aku tidak membutuhkan perempuan seperti kalian yang selalu mengejar Laki-laki." ucap Yohan menunjuk Chaeyeon.
"Yang jelas jangan pernah ganggu aku lagi. Sekarang aku sudah memiliki istri dan sekarang istriku ini sedang mengandung anak kami." ucap Yohan merengkuh pinggang Wonyoung.
"Istri? Dia kelihatan jauh lebih muda dariku. Kau menikahi perempuan yang sudah seperti keponakan mu. Kecuali kau seorang pedofil penyuka anak-anak!" ucapan Chaeyeon membuat Wonyoung naik pitam.
"Apa?! Siapa bilang aku anak-anak?! Lagian ya ajumma kalau memang dia nggak suka denganmu jangan terlalu memaksa sampai mengikuti orang seperti ini." ucap Wonyoung membuat Chaeyeon syok.
"Apa? Ajumma?" ucap Chaeyeon tak habis pikir.
"Iya. Ajumma. Yohan ini dia suka perempuan muda, cantik dan tinggi seperti saya ini. Dan ingat saya bukan anak-anak, tapi perempuan muda. Lebih baik pergi dari sini sebelum saya lapor polisi atas tuduhan penguntit dan perusak rumah tangga orang." ucap Wonyoung menutup pintu kamar.
"Wahh! Sungguh nggak bisa dipercaya." ucap Chaeyeon pergi dari sana.
Di dalam kamar Wonyoung menatap tajam Yohan. Mereka masih berdiri di depan pintu. Wonyoung menatap Yohan seperti akan menembakkan laser dari matanya. Yohan hanya tersenyum kikuk membalas tatapan Wonyoung itu.
Wonyoung melangkah masuk menuju meja makan. Dia duduk disana dan kembali menyantap makanannya. Yohan mengikuti Wonyoung perlahan dan duduk dihadapan Wonyoung dengan hati-hati.
Wonyoung memakan makanan tadi. Dia memang lapar. Apalagi tadi sempat terhenti karena perempuan tak diundang datang. Yohan juga kelaparan karena memang jam makan siang.
Yohan mengambil garpu untuk mengambil makanan. Dengan perlahan dia mengambil makanan. Tapi tiba-tiba dengan gerakan cepat Wonyoung menusuk makanan itu sampai membuat suara piring dihantam. Yohan pun terkejut. Dia menatap Wonyoung berharap Wonyoung berbaik hati.
"Kamu nggak boleh makan yang ada disini. Ini semua untukku." ucap Wonyoung membuat Yohan menarik kembali garpunya dan meletakkannya.
"Eyy.... Please dong sayangku. Aku juga lapar sekarang." ucap Yohan memelas.
"Siapa suruh buat tamu tak diundang datang." ucap Wonyoung melanjutkan makannya.
"Itu bukan aku yang suruh kok. Aku aja lupa dia itu teman aku atau bukan. Aku juga nggak tau dimana dia sekolah, dimana dia tinggal, dimana pertama kali kami bertemu. Dia itu nggak penting." ucap Yohan membela diri.
"Ya kamu bisa bilang begitu karena kebetulan dia nggak menarik perhatianmu. Kalau nanti yang datang perempuan yang sempat dekat dengan mu lain lagi ceritanya. Kan banyak perempuan yang mendekatimu." ucap Wonyoung datar penuh penekanan di akhir kalimat tapi masih makan.
"Ayolah.. Aku nggak begitu tau. Coba tanya aja sama Seungwoo hyung. Selama ini sebelum aku kenal kamu aku hanya sibuk kerja kok." ucap Yohan menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang bersanggah di atas meja.
"Kasih ya sayang~ Aku beneran lapar ini. Lapar sekali. Ya?" ucap Yohan menampilkan puppy eyesnya.
Wonyoung menatap Yohan yang sekarang sok imut nggak jelas. Sungguh dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Jarang sekali Yohan menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Huupft! Hahahaha....." Akhirnya lepas juga tawanya. Yohan tersenyum melihatnya. Berarti dia berhasil melakukannya.
"Kamu.... hahaha... kamu kok lucu sekali sih"
__ADS_1
"Jadi boleh nih?" tanya Yohan memastikan.
Wonyoung pun mengangguk sambil tersenyum. Mereka makan sambil tersenyum karena bahagia. Walau tadi sempat ada pengganggu tapi mereka tidak terlalu memikirkannya.
☆☆☆☆
Drrrrrrttt Drrrrrtttt
Ponsel Yohan bergetar di atas nakas sebelah tempat tidur mereka. Yohan mencoba meraihnya dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang memanggil. Mereka sekarang lagi tertidur sambil berpelukan. Kemarin setelah makan jalan-jalan di sekitar hotel sampai malam.
"Halo?" ucap Yohan dengan suara seraknya karena baru bangun tidur.
"......."
"Ya hyung. Ini masih di kamar hotel. Kenapa?" ucap Yohan sambil mengucek matanya.
"......."
"Hmm baiklah. Udah ya. Hm" panggilan terputus. Yohan meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.
Yohn melepas pelukannya dari Wonyoung dan bangkit melangkah menuju kamar mandi. Yohan bersiap karena ada kerjaan yang harus melibatkannya langsung dan mereka harus kembali ke Korea.
Merasa Yohan tidak ada di sebelahnya Wonyoung terbangun. Dia mendudukkan dirinya. Dia mendengar suara air gemericik dari dalam kamar mandi. Wonyoung berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintunya yang tidak dikunci.
Yohan yang sibuk membersihkan diri tidak sadar Wonyoung sudah berada didalam. Wonyoung melewati Yohan dari belakang menuju wastafel untuk menggosok gigi. Karena mendengar suara brus menggosok Yohan menghentikan aktifitasnya dan memandang ke arah wastafel.
"Kalau mau masuk ketuk dulu dong." ucap Yohan. Wonyoung tidak peduli masih terus menggosok giginya. (Mungkin karena baru bangun kali ya. :D).
Yohan melanjutkan mandinya. Wonyoung selesai menggosok giginya berkumur dan meletakkan sikat giginya. Wonyoung mulai membuka pakaiannya. Setelah membuka semua Wonyoung berjalan mendekati Yohan. (Mau mandi ceritanya).
"Kamu mau ngapain?" ucap Yohan nelihat Wonyoung sekarang sudah berada di depannya.
"Mau mandi lah. Kamu kasih sampo ya di rambutku." ucap Wonyoung memberikan sampo kepada Yohan. Yohan menerimanya dan mulai mengambil sampo itu dan menggosok rambut Wonyoung.
Sedangkan Wonyoung menyabuni tubuhnya. Dia berdiri membelakangi Yohan. Yohan menggosok rambut Wonyoung dengan lembut dan memijat pelan kepala Wonyoung.
"Kamu tumben mau mandi bareng." ucap Yohan masih fokus pada rambut Wonyoung.
"Biar cepat aja. Aku tau kalau pagi ini kita harus pulang." ucap Wonyoung. Kini dia menghadap ke arah Yohan.
Yohan menatap Wonyoung lekat. Sepertinya adik Yohan sudah bangun. Yohan langsung membalikkan tubuh Wonyoung dan segera membilas tubuhnya cepat kemudian mengambil handuk dan meninggalkan Wonyoung sendirian di dalam kamar mandi.
Wonyoung yang di tinggal begitu saja menjadi bingung. Biasanya Yohan akan langsung menerkamnya saat itu juga. Tapi tidak tahu kenapa Yohan malah pergi begitu saja.
Sementara Wonyoung melanjutkan mandinya Yohan mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Di luar Yohan sudah memakai pakaiannya setelah menjernihkan pikirannya dan menenangkan adiknya yang dibawah sana.
"Hah.... Hampir saja kelepasan." ucap Yohan yang sudah duduk di pinggir kasur.
Mereka kemarin sore pergi jalan-jalan sekalian membeli beberapa baju untuk dipakai malam hari dan pagi ini. Yohan menelepon pelayan memesan makanan untuk mereka sarapan nanti.
__ADS_1
Setelah selesai memesan makanan Wonyoung keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Paha dan bahu Wonyoung terlihat. Yohan melihat Wonyoung lewat begitu saja di hadapannya dengan rambut basahnya itu.
"Oppa. Ambilkan baju punyaku dong." ucap Wonyoung di depan cermin sedang mengeringkan rambutnya.
"Hah?" ucap Yohan terkejut. Sejak kapan Wonyoung memanggilnya dengan sebutan oppa pikirnya.
"Ambilkan bajuku. Masa begitu aja nggak dengar sih." ucap Wonyoung. Dia masih mengeringkan rambutnya.
"Oh iya." Yohan pun mengambilkan paper bag berisi baju dress dan dalaman yang kemarin mereka beli. Yohan menganggap tadi dia salah dengar.
"Oppa. Tolong keringkan rambutku. Aku mau pakai pelembab." ucap Wonyoung menyerahkan hair dryer pada Yohan.
Yohan menatap hair dryer itu dan menatap Wonyoung. Apa dia sedang berhalusinasi? Sudah dua kali dia mendengar Wonyoung memanggilnya oppa.
"Ada apa?" tanya Wonyoung karena dari tadi Yohan hanya diam.
Yohan pun mengambil hair dryer yang masih di tangan Wonyoung. Wonyoung tersenyum dan mengambil pelembab kulit yang sudah tersedia di hotel itu. Setelah mengambil pelembab Wonyoung duduk di depan Yohan. (Jadi si Yohan itu duduk agak membuka kakinya).
"Kamu ini kenapa? Biasa juga kamu kerjai semua sendiri." ucap Yohan sambil mengeringkan rambut Wonyoung dengan telaten.
"Nggak papa sih. Biar cepat aja." ucap Wonyoung yang sibuk menerapkan pelembab di seluruh tubuhnya.
"Sebenarnya nggak perlu buru-buru juga loh." ucap Yohan yang masih sibuk dengan rambut Wonyoung.
"Aku mau cepat aja. Nanti saat nunggu jam terbang aku mau melakukan sesuatu." ucap Wonyoung.
"Melakukan apa?"
"Ada deh.." ucap Wonyoung sambil tersenyum.
Singkat cerita mereka berdua sudah selesai makan. Dan nanti mereka tinggal berangkat. Jarak dari hotel dan bandara cukup dekat.
Tadi Seungwoo menelpon Yohan dan bilang mereka berangkat jam 11. Sekarang baru jam 9. Masih ada dua jam lagi. Yohan yang baru saja mematikan panggilan kantor dibalkon berbalik melihat istrinya sudah duduk di sofa.
"Ada apa sayang?" tanya Yohan duduk di samping Wonyoung.
Setelah Yohan duduk Wonyoung langsung bangkit dan duduk di pangkuan Yohan. Dia meletakkan kepalanya di ceruk leher Yohan.
"Jadi ini yang mau kamu lakukan? Hm?" ucap Yohan mengusap kepala Wonyoung lembut.
Wonyoung hanya mengangguk. Wonyoung pun memejamkan matanya menikmati aroma tubuh suaminya itu.
"Oh ya. Nanti dalam waktu dekat sepupu aku yang dari ayah akan datang ke apartemen kita. Kamu nggak masalahkan?" tanya Yohan dengan hati-hati.
"Hmm. Nggak masalah kok oppa." ucap Wonyoung membuat Yohan tertegun. Ini sudah tiga kali dia mendengarnya.
"Kamu.... hm. Kamu tadi panggil aku apa?"
☆☆☆☆
__ADS_1