Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 20


__ADS_3

Wonyoung POV


Selama perjalanan pulang kami lebih banyak diam. Sampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar tanpa berbicara sedikit pun pada Yohan. Di dalam kamar aku banyak berpikir.


Aku harus bagaimana sekarang. Walau kata dokter tidak ada masalah, aku tetap takut. Apalagi aku masih ingin kuliah dulu. Waktu sampai melahirkan paling tidak dua tahun aku menunda kuliahku. Aku harus cerita pada mama tentang masalah ini.


Hari sudah malam. Aku nggak bisa tidur walau sudah ku pejamkan mataku. Tiba-tiba ada suara pintu terbuka. Pasti Yohan. Dia naik keranjang dari arah belakangku. Lalu dia memelukku dari belakang.


"Sudah dong. Jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah gembira begini masa kamu suram begitu mukanya." ucapnya lembut.


"Kamu nggak tahu apa yang aku pikirkan." ucapku sedikit kuat. Ntah mengapa aku sedikit kesal.


"Iya aku nggak tahu. Maaf ya. Ya sudah ayo kita tidur. Besok kita ke rumah mama." ucap Yohan membuatku membalikkan tubuh menghadapnya.


"Benarkah? Baiklah." ucapku memeluknya lalu memejamkan mata.


"Haha.. Kamu ini. Cepat sekali moodnya berubah." ucap Yohan. Lalu kami pun tertidur sambil berpelukan hingga pagi.


☆☆☆☆


"Ma. Tadi papa dikabari Yohan, katanya mereka akan kesini hari ini." ucap papa Wonyoung bersemangat menghampiri istrinya di dapur.


"Benarkah? Sepertinya mereka ada kabar bagus pa." ucap mama Wonyoung yang bahagia mendengar kabar kalau anaknya akan datang.


"Kan belum tentu ma. Bisa aja mereka cuma mau mampir."


"Benar juga. Terserah sih. Yang penting mama mau masak banyak." ucap mama Wonyoung bersemangat.


Papa Wonyoung kembali kedepan untuk membaca koran. Sedangkan istrinya sibuk memasak berbagai makanan.


Tibalah siang hari. Wonyoung dan Yohan sampai ke rumah mama Wonyoung. Mereka disambut seperti biasa. Wonyoung langsung memeluk mamanya karena memang sudah lama tidak bertemu.


"Ma.. Wonyoung kangen banget sama mama." ucap Wonyoung memeluk mamanya erat.


"Iya sayang. Mama juga." ucap mamanya setelah melepaskan pelukannya.


"Apa kabar ma, pa?" ucap Yohan yang berdiri di samping Wonyoung.


"Baik. Kalian baik juga kan?" ucap papa mertuanya itu.


"Baik dong pa." ucap Yohan dengan sumringah.

__ADS_1


"Sepertinya benar dugaan mama tadi pa." bisik mama Wonyoung pada suaminya. Suaminya hanya mengangguk. Yohan dan Wonyoung hanya mengernyitkan dahi saja melihatnya.


"Oh iya sampai lupa. Ayo masuk. Kalian belum makan kan?" ucap mama sambil berjalan masuk dan diikuti mereka.


"Belum ma. Sekarang Wonyoung lapar banget nih." ucap Wonyoung manja.


"Ya sudah ayo kita makan. Mama kalian dari tadi sudah menyiapkan banyak makanan." ucap papa Wonyoung yang sudah duduk. Mereka pun duduk di ruang makan yang sudah tertata makanan diatas meja.


Wonyoung yang kelaparan langsung melihat dengan mata bersinar. Yohan yang melihat perubahan ekspresi istrinya itu tersenyum. Soalnya dari berangkat tadi Wonyoung hanya cemberut dan diam.


"Kenapa mama banyak sekali masaknya?" tanya Wonyoung yang sekarang sudah mengambil sumpit.


"Yah karena kalian akan datang ya sekalian saja buat banyak. Lagian kalian kan jarang berkunjung." ucap mama Wonyoung menatap Yohan.


"Maaf ma. Yohan belakangan ini sedikit sibuk." ucap Yohan yang sadar maksud ibu mertuanya itu.


Tanpa basa basi lagi Wonyoung langsung memakan makanan yang sudah tersedia itu. Tapi baru satu suapan dia sudah lari ke belakang. Menuju kamar mandi.


"Dia kenapa nak?" tanya mama Wonyoung yang khawatir.


"Hmm hanya...." belum sempat Yohan menjawab Wonyoung sudah datang.


"Sayang~ Suapin dong. Ya?" ucap Wonyoung memperlihatkan tatapan memohon yang sungguh polos membuat kedua orang tuanya menatap keduanya heran. Yohan hanya tersenyum membalas tatapan kedua mertuanya.


Wonyoung pun menunjukkan makanan yang mau dimakannya. Yohan mengambil makanan sesuai permintaan istrinya itu. Setelah semua diambil lalu Yohan menyuapi Wonyoung dengan lembut. Mama Wonyoung yang sudah penasaran langsung bertanya pada anak dan menantunya itu.


"Yohan. Sebenarnya Wonyoung kenapa?" tanyanya membuat Wonyoung yang sibuk makan menjadi tersedak. Yohan mengambilkan minum dan memberikannya pada Wonyoung.


"Coba jelaskan pada kami. Kami ini orang tua kalian." sekarang papa Wonyoung pun sudah buka suara.


Saat Yohan ingin menjelaskan Wonyoung menghentikannya.


"Tolong ambilkan hadiah untuk mama papa di mobil. Tadi kelupaan." ucap Wonyoung.


"Oh? Oke. Maaf ya ma, pa. Yohan ambil dulu." ucap Yohan langsung beranjak dan menuju mobil.


Saat Yohan keluar Wonyoung pun buka suara.


"Ma. Pa. Sebenarnya Wonyoung hamil." ucap Wonyoung membuat kedua orang tuanya terkejut sekaligus bahagia.


"Kenapa kamu menyuruhnya keluar. Mama tau kamu mau bicara agar Yohan tidak mendengarnya." ucap mama Wonyoung.

__ADS_1


"Sebenarnya.. Wonyoung mau langsung kuliah ma, pa. Tapi kalau Wonyoung hamil seperti ini pasti kuliah Wonyoung tertunda paling tidak 2 tahun." jelas Wonyoung.


"Maksud kamu apa?" tanya papanya yang mulai bingung.


"Rencana Wonyoung mau menggugurkan anak ini dengan alasan kecelakaan...." ucap Wonyoung membuat kedua orang tuanya terkejut. Bagaimana bisa anaknya punya pikiran seperti itu.


"Apa?!!" suara lantang terdengar dari arah belakang Wonyoung. Wonyoung langsung ketakutan mendengar suara Yohan yang membentak seperti itu.


Yohan menghampiri Wonyoung dan memegang kedua bahu istrinya agak keras lalu mengangkatnya sampai Wonyoung berdiri.


"Apa kamu bilang tadi?! Kamu itu gila hah? Tega sekali kau berpikir seperti itu pada anak mu sendiri! Pada anak ku?!" ucap Yohan dengan suara tinggi sambil menggoyangkan tubuh Wonyoung.


"Maaf...." ucap Wonyoung pelan.


"Aku tahu kamu itu memang takut karena kamu masih muda. Tapi aku tidak habis pikir kalau kau berani merencanakan melenyapkan anakmu sendiri. Kau sungguh keterlaluan!" ucap Yohan melepas pegangannya pada Wonyoung.


Wonyoung menangis sejadi-jadinya. Dia menyesal telah berpikir seperti itu. Dia tidak tau kalau itu melukai perasaan Yohan. Mama dan papanya hanya bisa diam melihatnya karena itu memang salah anaknya.


"Kau. Aku tidak mau melihat muka mu untuk saat ini." ucap Yohan pada Wonyoung. Dia benar-benar kecewa dengan istrinya.


"Ma. Pa. Yohan pulang dulu. Permisi." ucap Yohan lalu pergi meninggalkan ruangan itu lalu di ikuti Wonyoung


"Tunggu! Ku mohon jangan pergi." ucap Wonyoung menahan tangan Yohan.


"Lepas. Selagi aku masih bicara baik-baik." ucap Yohan menatap Wonyoung yang masih menangis.


"Tidak. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku." ucap Wonyoung memohon.


"Lepas!!" ucap Yohan teriak membuat Wonyoung terkejut dan melepas tangannya. Lalu Yohan pergi meninggalkannya dan melajukan mobilnya tidak tau kemana.


Wonyoung menangis sampai terduduk di lantai. Mama dan papanya datang menghampiri. Lalu mamanya memeluknya dengan lembut sambil berkata.


"Seharusnya kamu tidak pernah merencanakannya. Bahkan memikirkannya sekalipun. Dia itu tidak berdosa." ucap mamanya sambil mengelus kepala Wonyoung.


"Wonyoung tidak berpikir sampai kesana ma. Wonyoung hanya takut kalau ini akan menghambat pendidikan Wonyoung ma." ucapnya masih menangis sesegukan.


"Sudahlah. Biarkan saja Yohan sekarang. Mungkin dia menenangkan diri. Kamu istirahat saja dulu." ucap papanya.


"Iya. Kasihan bayi mu. Kalau ibu nya menangis pasti dia juga akan sedih." ucap mamanya yang menghapus air mata Wonyoung.


"Iya ma. Pa."

__ADS_1


Wonyoung pun istirahat dikamarnya sampai tertidur.


☆☆☆☆


__ADS_2