Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 12


__ADS_3

"Ah. Maaf ya." Kata Seongwoo oppa menghentikan kegiatan kami. Aku yang kaget langsung kelabakan melepaskan tanganku. Pak Yohan langsung mengalihkan pandangannya.


"Ehemm.. ehemm... Apa tak bisa kalian ketuk dulu pintunya?!" tanya Pak Yohan meninggi. Ya, pak Yohan sedang bicara dengan Eunbi eonni dan Seongwoo oppa. Aku terdiam dengan wajah yang memerah.


Mereka langsung masuk dan duduk di sofa.


"Kau apakan anak orang di kantormu sendiri?! Apa kau tidak tahu malu?" ucap Eunbi eonni menatap tajam pak Yohan.


"Ya! Kau kok begitu sih bicara denganku? Lagian terserah aku ingin melakukannya dimana. Dia kan istriku jadi wajar saja dong." ucap pak Yohan kesal sambil membereskan berkasnya.


"Sudahlah sayang jangan campuri masalah mereka." kata Seongwoo oppa menengahi.


"Kalau bukan karena aku ingin betemu dengan Wonyoung aku juga malas disini oppa." ucap Eunbi eonni masih menatap tajam ke arah pak Yohan.


"Ya ya. Terserah kau saja. Ayo sayang kita pulang." ucap pak Yohan menarik tanganku keluar ruangan yang di ikuti kedua temannya itu.


Aku yang di tarik masih terdiam mendengar ucapa pak Yohan. Sayang? Apa aku salah dengar? Mungkin sekarang wajahku sangat merah.


Sepanjang jalan dari menunggu lift dan sampai di lobby pak Yohan merangkul pinggangku posesif. Seperti mengatakan 'Dia milikku'. Semua karyawan semakin menjadi menatap ke arah kami. Seongwoo oppa dan istrinya hanya geleng kepala melihat tingkah temannya yang tak pernah seperti itu. Kalau aku? Jangan tanya. Sangking bingungnya aku hanya diam saja melihat ke arah tangannya.


☆☆☆☆


"Kamu harus makan banyak ya Wonyoung. Kamukan masih sekolah." ucap Eonni meletakan spageti di piringku. Aku dan eonni langsung masak begitu sampai apartemen. Pak Yohan dan Seongwoo oppa hanya diam saja melihat tingkah Eunbi eonni.


"Eh, iya eonni terima kasih." kataku yang langsung memakan spagetinya. Pak Yohan yang duduk di depan ku memperhatikan aku makan.


"Ya. Kau ingin membuatnya gemuk?" ucap pak Yohan sambil membersihkan sisa saus spageti di bibirku. Eunbi eonni hanya diam melanjutkan makannya tak mempedulikan ucapan pak Yohan.


"Wah lihat siapa yang ada di sampingku ini. Benar kau itu Kim Yohan yang anti perempuan itu?" Kata Seongwoo oppa. Aku hanya mendengarnya sambil melanjutkan makanku.


"Apa? Mau cari masalah denganku? Nanti ku potong gaji hyung baru tau rasa."


"Awas aja kau memotongnya! Ku bawa kabur nanti istrimu ini." ancam Eunbi eonni. Seongwoo oppa hanya terkekeh melihat teman dan istrinya berdebat.


"Uuuu takut." jawab pak Yohan memakan makanannya.


"Wonyoung. Asal kamu tau ya. Ini Yohan suamimu dulu dingin dengan perempuan. Ada dulu perem..." ucap Seongwoo oppa yang dipotong pak Yohan.


"Apa? Makan saja hyung yang banyak." katanya sambil memasukan spageti miliknya kemulut Seongwoo oppa. Aku yang melihatnya sangat lucu langsung tertawa begitu saja.

__ADS_1


"Hahahahahaha...." mereka yang tadinya tak memperhatikanku langsung mengalihkan pandangannya kearahku.


"Kamu bisa tertawa juga sayang?" ucap pak Yohan tersenyum.


"Kenapa? Kalian sangat lucu sekarang. Haha.." kataku yang masih tertawa kecil. Mereka pun saling pandang dan ikut tertawa.


Begitulah sore hari ini kami terisi dengan kebahagian yang sebelumnya belum kurasakan.


☆☆☆☆


Malam ini aku sedang di kamar belajar. Karena sebulan lagi sekolahku mengadakan ujian kelulusan. Sudah dua bulan berlalu sejak makan malam dengan Eunbi eonni dan Seongwoo oppa.


Selama dua bulan penuh ini aku mengambil kelas tambahan dan belajar setiap malam. Aku belajar sungguh sungguh agar masuk Universitas impianku. Pak Yohan pun banyak membantuku. Bukan, lebih tepatnya kami sekelas. Dia ingin kami satu kelas lulus ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.


Yah kelakuan pak Yohan masih sama berubah ubah. Kadang dingin kadang manja. Pokoknya pak Yohan besoknya berubah dingin setelah kami sedang mesra mesra. Kami sampai sekarang belum melakukan itu. Kulihat pak Yohan sangat teguh pada pendiriannya.


Tapi dia semakin baik dan lebih perhatian kepadaku. Buktinya dia setiap hari membuatkan aku susu seperti sekarang.


"Sayang~ Ini minum susunya." katanya setelah meletakkan segelas susu di mejaku. Aku hanya menganggukan kepalaku karena terlalu fokus belajar.


"Udah dong belajarnya. Minum dulu susunya nanti keburu dingin." ucapnya sambil duduk di pinggir ranjangku.


"Kamu ingin jadi apa setelah kuliah nanti? Maksudku cita cita mu jadi apa?" tanyanya sambil berbaring di ranjang ku.


"Hmm saya ingin jadi penulis." jawabku tanpa menoleh ke arah pak Yohan.


"Padahal nilai kamu itu bisa membuatmu jadi dokter atau nggak jadi pengacara."


"Saya tidak terlalu suka bertemu banyak orang setiap hari pak. Saya ingin pekerjaan yang nyaman dan tidak merugikan orang lain." jelasku panjang.


"Ternyata kamu sangat memikirkan orang lain. Tapi kamu tak pernah memikirkan aku sedikit pun." katanya tiba tiba membuatku mengalihkan pandanganku.


"Maksud bapak apa sih?" tanyaku keheranan.


"Nggak ada. Kamu lanjut aja belajarnya. Lupain aja apa yang aku bilang tadi." katanya lalu pergi keluar kamarku begitu saja. Mataku mengikutinya keluar hingga hilang dari balik pintu.


"Udah ngomong begitu tapi di suruh lupain?" ucapku sendiri melanjutkan belajarku.


Ditengah belajarku ada pesan masuk dari seseorang. Ku buka pesan itu dan ternyata Hangyul. Ah sudah lama dia belum kasih kabar.

__ADS_1


*Apa kabar Wonyoung? Kalian sudah masa ujian ya. Maaf ya aku nggak kasih kabar sebelumnya. Minggu depan aku kembali karena liburan semester. Ayo hangout bareng. Nanti aku kabarin kalau sudah sampai. Bye.


Hangyul*


"Eh..??? Minggu depan dia kembali? Lama nggak kasih kabar malah kembali tiba tiba? Dasar suka seenaknya aja." kataku sendiri.


Setelah membaca pesan nya itu aku jadi tidak fokus belajar. Aku pun keluar kamar ingin mengambil minum dan menyegarkan pikiranku. Kulihat pak Yohan masih duduk di meja makan mengerjakan pekerjaan dengan laptopnya.


"Kok nggak kerja di kamar pak?" tanyaku sambil jalan ke arah kulkas.


"Sengaja kalau kamu butuh sesuatu biar gampang. Kamu ingin apa?" tanyanya menatapku yang sudah di depan kulkas.


"Saya hanya haus. Lagian saya juga bosan di kamar terus." jawabku setelah mengambil sebotol air mineral dan duduk di depan pak Yohan.


"Gimana kalau kamu belajar di sini sama aku. Biar ganti suasana."


"Boleh. Sebentar ya pak." kataku setelah meminum air tadi dan berjalan ke kamar.


☆☆☆☆


POV Yohan.


Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku yang tanpa kusadari Wonyoung telah tertidur. Aku menyadarinya ketika bicara kepadanya tapi tak dibalas ucapanku.


"Kamu belum ngantuk? Udah jam 11 lewat nih." kataku masih mengetik di laptoku. Dia hanya diam. ku lihat ke arahnya ternyata sudah tidur di atas bukunya. Aku hanya tersenyum melihatnya.


Ku matikan laptop ku dan kubereskan bukunya. Ku letakkan di meja yang sama dengan laptopku. Kuangkat tubuhnya yang selalu masuk dalam mimpiku.


Berat juga ternyata.


Ku bawa dia masuk ke dalam kamarku. Karena kamarnya lebih jauh dari posisi aku berdiri daripada kamarku.


Ku letakkan dia dengan hati hati agar tidak bangun. Aku pun menarik selimut menutupi tubuhnya. Ketika ingin keluar untuk mematikan lampu luar tanganku tiba tiba ditariknya. Aku yang terkejut langsung menghentikan langkahku.


Aku melihat ke arahnya. Aku terkejut melihatnya sudah membuka mata sedang melihat ke arahku. Dia pun bicara dengan suara paraunya.


"Pak. Jangan pergi."


☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2