Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 23


__ADS_3

Hari ini akhir pekan. Yohan berniat untuk bangun siang bersama Wonyoung. Tapi Wonyoung sendiri sudah terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Yohan yang terbangun tidak melihat istrinya langsung terbangun dan bergegas keluar kamar.


"Wonyoung! Kamu di mana?" teriak Yohan seakan istrinya akan pergi meninggalkannya.


Wonyoung yang mengambil panci di lemari dibawah wastafel langsung berdiri.


"Ada apa? Kenapa teriak?" tanyanya dengan wajah polosnya.


"Kamu ini bikin takut aku aja." ucap Yohan langsung memeluk Wonyoung.


Wonyoung heran melihat tingkah suaminya. Biasanya Yohan tidak pernah panik seperti itu.


"Lain kali kalau mau bangun duluan kamu juga bangunin aku." ucap Yohan menangkup wajah Wonyoung.


"Aku takut ganggu tidur kamu. Lagian aku juga nggak pergi kemana-mana kok. Aku cuma buat sarapan." ucap Wonyoung menunjuk bahan masakan yang sudah dikeluarkannya dari kulkas.


Yohan melihat bahan makanan yang ditunjuk Wonyoung lalu tertawa.


"Hahaha...." begitulah tawanya.


"Kamu kenapa?"


"Nggak. Hanya kamu imut sekali. Kamu belum mulai kan?" ucap Yohan meletakkan panci yang tadi dipegang Wonyoung.


"Hmm. Kenapa?" tanya Wonyoung menatap Yohan dengan tatapan polos.


"Aku mau...." ucap Yohan lalu berbisik sesuatu pada Wonyoung. Yohan membisikan sesuatu membuat wajah Wonyoung menjadi memerah.


"Apa? Kamu ini! Aku lagi hamil gini masa kamu mau itu?" ucap Wonyoung tak habis pikir dengan suaminya yang seeanaknya.


"Kamu tenang aja. Aku udah baca artikel dan juga sudah menanyakan itu dengan dokter. Asal aku melakukannya dengan lembut bayi kita nggak kenapa-kenapa." jelas Yohan membuat Wonyoung manggut-manggut.


"Jadi... Boleh ya." bujuk Yohan.


Wonyoung berpikir sebentar. Sebenarnya dia belakangan ini juga menginginkan itu. Dia juga tidak tahu kenapa dia seperti itu. Tapi dia juga berpikir apakah anaknya akan baik-baik saja. Dan ternyata nafsu lebih dominan di diri Wonyoung sekarang. Mungkin faktor hormon. Lalu Wonyoung menganggukinya pelan sambil tersenyum menatap Yohan.


Yohan yang mendapat lampu hijau dari Wonyoung langsung menggendong Wonyoung masuk kekamar nya.


"Ahhkk!" pekik Wonyoung karena terkejut Yohan mengangkatnya tiba-tiba.


"Awas aja kalau kamu main kasar." ucap Wonyoung mengalungkan tangannya dileher Yohan.


Yohan menutup pintu kamarnya dengan kakinya. Yohan pun menatap Wonyoung dengan seringainya.


"Kamu tenang aja sayang ku." ucapnya dengan wajah penuh kemenangan.


Yah mereka pun melakukan hal yang biasa Yohan sukai tanpa sarapan pastinya.


☆☆☆☆


"Yah. Hari ini kita berkunjung kerumah Yohan yuk. Pasti mereka sekarang dirumah." ucap ibu Yohan yang sedang mengemas makanan untuk dibawa kerumah Yohan.


"Ya sudah. Ayah mandi dulu ya bu." ucap suaminya lalu pergi kekamarnya untuk mandi.


Setelah selesai bersiap mereka pun berangkat. Mereka diantar oleh supir pribadi ayah Yohan. Begitu sampai mereka sampai menuju apartemen Yohan menaiki lift. Tiba di depan pintu kamar apartemen anaknya mereka menekan bel berkali-kali tapi pintu tak kunjung terbuka.


Mereka berpikir Yohan pergi, akhirnya ibu Yohan mencoba membuka pintu dengan menekan password pintu Yohan dan terbuka.


Di sisi lain Yohan yang malas bangun akhirnya bangkit setelah mendengar pintu ada yang menekan kode pintu mereka.


Yohan hanya menggunakan celana panjang tanpa memakai baju. Sedangkan Wonyoung hanya memakai selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa sih yang datang." ucap Yohan bangkit dengan malas.


"Kamu lihat aja dulu sana." suruh Wonyoung.


Yohan keluar kamar dan terkejut melihat ibu dan ayahnya sudah masuk kedalam apartemennya yang dibilang cukup berantakan.


"Ibu! Ayah!" ucap Yohan dengan spontan menutup tubuhnya yang tidak pakai baju.


"Kenapa.. Ke-kenapa kalian disini?" ucap Yohan terbata-bata.


"Kenapa kau begitu terkejut. Seperti melakukan sesuatu saja." ucap ayahnya sambil duduk di sofa.


"Dimana Wonyoung?" sekarang ibunya yang bertanya membuat Yohan kelabakan.


"Tu-tunggu sebentar. Kalian duduk lah dulu. Kalau mau minum ibu bisa ambil di kulkas." ucap Yohan lalu dia bergegas masuk ke kamarnya.


"Siapa yang datang?" tanya Wonyoung yang melihat wajah panik Yohan.


"Ibu dan ayah datang. Cepat mandi. Ah nggak usah, kamu langsung pakaian aja." ucap Yohan mengambilkan baju Wonyoung dan bajunya di lemari.


"Apa? Jadi gimana bercak di leher ku? Pasti kamu meninggalkan bekas tadi?" tanya Wonyoung langsung memakai pakaiannya.


"Gerai aja rambut kamu. Sini aku sisirkan rambut mu." ucap Yohan menyisirkan rambut Wonyoung setelah selesai memakai bajunya.


"Kamu juga sisir rambut. Tuh berantakan." ucap Wonyoung memakai bedak sedikit.


Mereka keluar dengan keadaan yang sudah rapi. Pertama Yohan yang keluar dan di ikuti Wonyoung dari belakang.


"Maaf lama bu, yah." ucap Yohan yang duduk dihadapan ayah ibu nya diikuti Wonyoung yang duduk di sampingnya.


"Sebenarnya kalian habis ngapain?" tanya ibu Yohan. Kalau ayah Yohan sudah tahu apa yang dilakukan anaknya sama menantunya itu.


"Kami.. tadi..." ucap Yohan terbata.


"Hmm iya juga. Bagaimana keadaan kalian?" tanya ibu Yohan dengan riang sambil memegang tangan Wonyoung.


"Baik bu." ucap Wonyoung menunduk. Sungguh dia sangat malu sekarang.


"Bu. Kami punya kabar baik." ucap Yohan. Wonyoung melirik ke arah Yohan.


Ibu dan ayah Yohan saling menatap lalu menatap anak dan menantunya.


"Kabar apa nak?" ucap ibunya.


"Hmm Wonyoung hamil bu." ucap Yohan dengan senyum yang mengembang. Wonyoung juga ikut tersenyum.


"Wah... Benarkah? Selamat ya nak. Yah kita sebentar lagi punya cucu." ucap ibu Yohan pada anaknya dan juga suaminya.


"Terima kasih bu." ucap Wonyoung.


"Jadi mau sampai kapan kalian tinggal di apartemen yang sempit ini?" tanya ayah Yohan. Memang seharusnya mereka pindah.


"Belum tahu lagi yah. Yohan belum dapat rumah yang dekat dengan kantor." ucap Yohan.


"Jadi kuliah kamu gimana nak?" tanya ayah Yohan pada Wonyoung.


"Kemarin sudah di bicarakan yah kalau Wonyoung kuliah online untuk 2 tahun pertama." ucap Wonyoung memandang Yohan sekilas.


"Baguslah kalau begitu. Ini ibu ada bawakan kalian makanan. Nanti siang kalian makanlah dengan ini." ucap ibu Yohan memberi rantang makanan.


"Terima kasih bu." ucap Wonyoung sambil tersenyum. Suaranya terdengar manis.

__ADS_1


"Iya. Ya sudah kami pulang dulu ya." ucapnya beranjak dari duduknya.


"Kok sebentar saja bu?" tanya Wonyoung.


"Kami cuma mau mengantarkan ini saja." kali ini ayah Yohan yang bersuara. Beliau juga bangkit dari duduknya..


"Yohan antar ya." ucap Yohan yang juga berdiri.


"Tidak perlu. Cukup kau jaga saja istrimu. Nanti kalau ada sesuatu bagaimana? Sudah kami juga bawa mobil kok. Bersama supir lagi." ucap ayah Yohan.


"Baiklah."


Kedua orang tua Yohan pun pergi meninggalkan mereka. Yohan dan Wonyoung saling pandang dan tersenyum.


"Ini semua salah kamu. Sampai aku tidak sempat mandi." ucap Wonyoung bangkit dari duduknya.


"Eh?? Bukan salah aku juga kali. Mana aku tau kalau mereka datang." ucap Yohan yang tidak terima disalahkan.


"Sebel. Pokoknya nggak ada itu lagi di pagi hari." ucap Wonyoung memperingatkan. Kemudian dia melangkah menuju kamar.


"Tapi suka kan??" ejek Yohan sambil tersenyum.


Wonyoung hanya diam saja. Dia melangkah menuju kamar mandi. Dilihatnya bercak bekas merah kebiruan di sekitar leher dan bahunya.


"Hmm... Selalu." ucapnya kemudian berlalu.


Saat Wonyoung mandi Yohan mendapat telpon Seungwoo.


"Halo. Ada apa hyung?"


"Proyek kita dapat masalah."


"Proyek yang mana?"


"Perusahaan mu. Kau tau Tuan Kim kan? Yang menangani modalnya. Dia berulah."


"Tuan Kim yang anggota mafia itu?"


"Iya. Sekarang kita harus mengejarnya. Dia tadi malam pergi ke Kanada."


"Apa?! Yang benar saja! Ya sudah aku langsung ke bandara. Kau sudah pesankan tiketnya kan?"


"Sudah. Pokoknya kau cepat datang. Satu jam lagi kita berangkat." Lalu terputus panggilan mereka.


"Sial. Bagaimana dengan Wonyoung? Apa aku bawa saja? Terserahlah yang penting dia bersamaku." ucap Yohan langsung menuju kamar dan kembali menelpon Seungwoo.


"Halo. Pesankan satu tiket lagi untuk Wonyoung sekarang." ucap Yohan sambil memilihkan baju miliknya dan milik Wonyoung.


"..........."


"Nggak usah banyak tanya hyung. Pesankan saja." ucap Yohan lalu mematikan ponselnya dan meemparnya ke atas ranjang.


"Kamu mau kemana?" tanya Wonyoung. Dia sudah selesai mandi.


"Sayang. Kamu pakai baju ini cepat ya. Kamu ikut aku." ucap Yohan memberikan baju yang tadi dipilihnya.


"Memangnya mau kemana?!" tanya Wonyoung terburu-buru memakai bajunya.


"Kanada." ucap Yohan yang juga memakai bajunya.


"Apa?!"

__ADS_1


☆☆☆☆


Maaf kalau saya jarang up. Maklum saya masih kuliah. Sekali lagi maaf🙏🙏🙏


__ADS_2