
"Selamat siang tuan Kim." ucap Yohan lalu menampakkan senyum liciknya.
"Haish." decah nya.
"Cepat juga kalian datang." ucap pria yang membukakan pintu itu.
"Hyung. Asal hyung tau. Gara-gara hyung aku tak bisa bersantai di rumah hari ini." ucap Yohan. Yohan lebih muda dua tahun darinya.
"Kau? Seorang Kim Yohan bersantai? Sejak kapan?" tanya pria bernama Kim Wooseok itu.
Astaga Yohan kelepasan. Karena sebelum menikah hari minggu pun dia pergi kantor. Dia harus mengalihkan pembicaraan.
"Kau membiarkan kami berdiri disini?" ucap Yohan melihat kiri dan kanan.
"Masuklah."
Mereka pun masuk ke dalam apartemen yang cukup luas itu. Tapi masih luas apartemen milik Yohan. Di sini hanya memiliki satu kamar.
"Untuk apa kau kabur-kabur begini? Kau merusak rencana saja. Kalau kabur saja nggak masalah. Tapi kau malah mau menarik saham." ucap Yohan setelah duduk di sofa kulit itu diikuti Seungwoo.
"Hanya bosan saja." kini dia membawa dua botol air mineral.
"Eyy... Terus gimana club mu?" Yohan mengambil botol air itu.
"Yah gitulah. Si Eunsang yang ngurus selama aku nggak ada." Wooseok menatap Yohan meneguk air mineral yang dibawanya tadi.
"Ya elah anak ingusan itu kau suruh? Apa nggak bermasalah nanti?" ucap Yohan. Lalu menenggak lagi minumannya.
"Eh gitu-gitu anak itu udah nikah tau." sontak perkataan Wooseok membuat Yohan menyemburkan air dari mulutnya. Untung saja tidak ke wajah Wooseok.
Seungwoo yang mendengarnya pun ikutan kaget. Seungwoo mengenal Eunsang. Sepupu dari mamanya Wooseok. Sedangkan mereka berdua itu sepupuan dari ayah.
"Seriusan?" kini Seungwoo yang bersuara.
"Jadi kalian belum tau ya? Oh iya juga. Waktu dia nikah kalian lagi sibuk sibuknya ya."
"Tunggu dulu. Kenapa anak itu udah nikah? Maksudku, si anak pintar itu, anak yang suka buat ulah itu udah berbuat apa? Apa dia hamilin anak orang?" ucapan Yohan membuat Wooseok melotot padanya.
"Kau ini. Kau kira sepupuku pria brengsek gitu?"
"Yah mana tahu kebablasan. Jadi dia menikahi perempuan seperti apa?" tanya Yohan.
"Lebih baik kau tanya sendiri. Tujuan kau datang kesini kan bukan itu."
"Oh iya sampai lupa. Hyung kemarikan berkasnya." Seungwoo pun mengeluarkan berkas yang akan di tanda tangani Wooseok.
"Ini. Tolong jangan berulah lagi." ucap Yohan memberikan berkasnya pada Wooseok.
"Terserah aku kok." Wooseok mengambil berkasnya dan mengambil pulpen yang diberikan oleh Seungwoo.
"Katanya kau sudah punya pacar?" ucap Yohan setelah Wooseok memberikan kembali berkas yang sudah ditandatanganinya.
"Nggak ada." ucap Wooseok tenang.
"Eyy.... Jangan jadi pria jahat. Kasihan calon iparku nggak diakui." ucap Yohan tersenyum licik sambil memeriksa berkasnya.
"Percuma kalian menggunakan dia sebagai kelemahanku. Dia bukan orang sembarang." ucap Wooseok.
__ADS_1
"Oh jadi benar. Ya sudahlah aku juga nggak peduli." ucap Yohan berdiri dari duduknya.
"Jadi hyung terima kasih kau telah membuang uangku sampai ke sini. Lain kali kita ketemuan di apartemenku bawa juga si bocah ingusan itu sama istrinya. Ada yang ingin ku beri tahu." ucapan Yohan membuat Wooseok menaikkan sebelah alisnya.
"Baru kali ini kau mengundangku ke rumahmu. Pakai bawa si Eunsang pula itu." ucap Wooseok. Mereka bicara sambil berjalan menuju pintu.
"Yah pokoknya datang saja. Tapi jangan pernah kau mencari tahu apapun dulu. Biar aku saja yang beritahu. Udah dulu ya. Aku mau jalan-jalan dulu." ucap Yohan melangkah menuju lift.
Seungwoo menunduk hormat lalu mengikuti Yohan. Wooseok masih berdiri di ambang pintunya melihat punggung sepupunya itu. Sudah lama mereka tidak bertatap muka seperti ini.
☆☆☆☆
Sekarang Wonyoung membongkar kulkas hotel. Dia sungguh lapar. Ada beberapa makanan seperti coklat, kacang almond dan tiga lainnya.
Dia mengambil makanan itu dan membawanya ke depan televisi. Dia menonton acara Kanada yang dia rasa cukup lucu.
Setelah makanan tadi habis dia mematikan televisi dan melangkah menuju ranjang. Sungguh membosankan. Sudah lama Yohan pergi tapi sampai sekarang dia belum kembali. Sekarang sudah jam 12 siang menurut jam Kanada.
"Ah aku lapar. Kapan Yohan pulang ya?" ucap Wonyoung pada dirinya sendiri.
"Eh tapi aku belum memberikan nama panggilan untuk Yohan. Kalau memanggil namanya saja terlihat nggak sopan padahal dia lebih tua." ucap Wonyoung terduduk tiba-tiba.
Selesai di berdialog tiba-tiba bel berbunyi. Dia segera berlari menuju pintu kamar dan mengintip keluar melihat siapa yang ada di luar sana. Dia takut orang asing datang dan masuk ke kamarnya saat Yohan tidak ada.
Dilihatnya Yohan sedang berdiri disana dia langsung membuka pintu dan memeluk Yohan.
"Kamu tuh kok lama banget sih?" ucap Wonyoung tanpa melepas pelukannya.
"Mending kita masuk dulu." ucap Yohan. Kini Yohan mengangkat tubuh Wonyoung dan menggendongnya masuk kamar ala anak koala.
"Kamu makan apa tadi kok pipi kamu kotor begini?" ucap Yohan mengelus pipi Wonyoung berusaha membersihkan bekas coklat dengan ibu jarinya lalu mencicipinya.
"Coklat dari mana?" tanya Yohan setelah merasakan manisnya coklat itu.
"Habis aku lapar sekali. Kita makan dulu yuk. Udah siang juga kok." ucap Wonyoung manja. Dia memberikan tatapan berbinar membuat darah Yohan terasa panas dingin.
"Hmm ya sudah. Kita pesan aja ya. Makan disini aja. Lagian nanti kamu capek lagi." ucap Yohan. Lalu berdiri menuju telepon kamar. Dia memesan beberapa makanan pada pelayan tersebut dengan bahasa Prancis.
"Kamu bisa bahasa apa lagi selain Inggris dan Prancis?" tanya Wonyoung mendudukan tubuhnya dengan kaki menyila.
"Aku bisa lima bahasa selain dua itu. China, Spanyol, Jepang, Thailand, Korea." ucap Yohan duduk di sebelah Wonyoung.
"Eh? Korea mana di hitung."
"Kan sama aja. Kan bahasa juga." ucap Yohan. Kini dia memeluk Wonyoung dan menciumi pipinya.
"Kamu kok masih harum aja sih? Hmm?" ucap Yohan. Sekarang dia menciumi leher Wonyoung.
"Eummh.." Wonyoung masih belum terbiasa menahan geli akibat ulah Yohan itu.
Kini mereka sudah berbaring. Yohan masih saja menciumi Wonyoung. Kali ini tangan Yohan menuju payudara Wonyoung yang sekarang sudah lebih membesar dari sebelumnya. Tidak tahu karena faktor apa tapi yang pasti begitulah.
"Eummhh.... nnngggh.. Yoo... han.. Udah dong...." ucap Wonyoung mendorong dada Yohan. Tapi jangan harap. Bergerak pun tidak. Malah Yohan semakin merapatkan tubuhnya menindih Wonyoung.
Wonyoung mencubit pinggang Yohan keras membuat yang dicubit mengaduh dan sedikit mengangkat tubuhnya dari Wonyoung.
"Aduh!! Kamu kenapa sih?" ucap Yohan menatap mata Wonyoung.
__ADS_1
"Kamu menindih perutku. Nanti anak kita kesakitan tau." ucap Wonyoung. Sungguh Yohan lupa kalau Wonyoung lagi mengandung anaknya.
"Ah! Maafkan aku ya sayang." ucap Yohan. Dia mendudukkan tubuhnya sambil menarik tangan Wonyoung juga ikut duduk.
"Kamu ini. Kalau sudah nafsu sampai lupa segalanya." ucap Wonyoung.
"Hmm maaf ya... Aku benar benar nggak bermaksud." Yohan memasang wajah bersalah dan menundukkan kepalanya.
Wonyoung melihat Yohan bertingkah seperti itu menurutnya sangat lucu. Jarang-jarang dia melihat Yohan seperti itu. Biasanya kalau tidak tersenyum Yohan akan menunjukkan ekspresi dingin seperti manusia es.
Wonyoung tersenyum. Diraihnya wajah suaminya itu menghadap ke arahnya. Mata mereka beradu. Yohan melihat Wonyoung tersenyum dia pun ikut tersenyum.
"Tumben kamu pasang wajah kayak tadi?" tanya Wonyoung melepaskan tangannya dari wajah Yohan.
"Habis aku benar-benar merasa bersalah. Hanya karena keinginan ku sampai hampir mencelakaimu." ucap Yohan. Kini dia memasang wajah sendu lagi.
Wonyoung ingin menghiburnya. Sebenarnya tidak sampai terasa sakit saat Yohan menindihnya. Hanya saja Wonyoung takut sampai terjadi sesuatu. Apalagi umur kandungannya baru dua minggu lebih beberapa hari saja. Masih sangat muda dan masih rentan.
Wonyoung tiba-tiba mengecup bibir Yohan. Lalu Wonyoung ******* bibir Yohan sampai mendorong tubuh Yohan berbaring di kasur. Yohan yang awalnya terkejut mulai membalas ciuman Wonyoung.
Mereka melakukan itu sedikit lama. Tapi saat Yohan inging melakukan lebih bel kamar mereka berbunyi. Mereka berhenti dan saling menatap.
"Kamu bukain gih." ucap Wonyoung beranjak dari tubuh Yohan dan duduk di sampingnya.
Yohan hanya diam dan beranjak melangkahkan kakinya menuju pintu. Di bukanya pintu tersebut dan ternyata makanan yang mereka pesan tadi sudah sampai. Pelayan itu meninggalkan dorongan makanan itu di depan pintu sambil tersenyum ramah pada Yohan. Yohan pun membawa masuk meja dorong itu kedalam.
"Sayang ini makanannya udah datang loh." ucap Yohan menata makanannya ke atas meja makan.
Wonyoung berjalan ke arah suara Yohan. Dia melihat banyak makanan dan semua itu terlihat lezat. Mata Wonyoung berbinar dan mulutnya sedikit terbuka.
"Wahhh.... Sepertinya makanannya enak." ucap Wonyoung. Sekarang dia sudah duduk di depan Yohan.
"Benarkah. Menurutku ini biasa aja sih. Apa karena kamu yang udah lapar ya jadi semua makanan terlihat enak." ucap Yohan memberikan sendok dan garpu pada Wonyoung.
"Hmm! Makanan hotel memang beda ya." ucap Wonyoung setelah mencicipi makanannya.
"Kamu suka? Kalau kamu suka biar nanti kita pesan makanan dari hotel aja." ucap Yohan yang juga ikut makan.
"Makanan enak mana boleh dimakan setiap hari. Nanti bosen tau." ucap Wonyoung disela makannya.
"Lagian aku udah mahir masak juga. Sayang kemampuan aku nggak dipakai." ucapnya lagi. Kali ini Wonyoung menatap Yohan.
Di tengah kegiatan mereka bel kamar mereka berbunyi lagi. Mereka saling menatap begitu mendengarnya.
"Kamu ada pesan lagi?" tanya Wonyoung.
"Nggak ada kok. Bentar ya biar aku lihat." ucap Yohan lalu beranjak menuju pintu.
Merasa agak lama Yohan di depan sana akhirnya Wonyoung menyusul Yohan.
"Sayang.. Siapa yang datang?" ucap Wonyoung melangkah mendekat.
Yohan menoleh kebelakang. Wonyoung melihat ke arah pintu. Dia melihat ada seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya sedang menatapnya dari depan pintu.
"Kamu lagi bersama perempuan?"
☆☆☆☆
__ADS_1