
Bruak!!!
Terdengar suara bantingan pintu mobil. Ya Yohan yang melakukannya. Dia sangat marah sekarang sampai ingin menghancurkan semua barang.
Sekarang dia berada di kantor. Dia berjalan menuju lift dengan raut wajah yang susah di artikan. Semua karyawan ketakutan melihat ekspresi Yohan. Kini Yohan sudah berjalan menuju ruangannya. Saat melewati meja Seungwoo, Yohan hanya lewat saja dengan buru-buru. Seungwoo yang melihatnya merasa kalau Yohan sedang marah.
Seongwoo pun mengikuti Yohan keruangannya. Tapi sampai di dalam ruangan itu dia melihat Yohan teriak dan melemparkan semua yang ada di meja.
"Ahhkk!!!!!" teriaknya sambil menyingkitkan semua benda yang ada di atas mejanya.
"Kenapa? Ada masalah apa?" tanyanya pada Yohan yang masih mengatur nafasnya.
"Hyung. Aku masih ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku." ucapnya tanpa menatap Seungwoo.
"Baiklah. Kalau perlu sesuatu panggil saja." ucap Seungwoo lalu diangguki Yohan. Kemudian dia pun keluar dari ruangan itu.
Sekretaris perempuan yang bersama Seungwoo menanyakan masalah bos nya pada Seungwoo.
"Bagaimana dengan presdir?" tanyanya begitu melihat Seungwoo keluar.
"Aku juga tidak tau. Sudah kerjakan pekerjaan mu." Suruh Seungwoo. Sekretaris itu pun menurutinya.
Sementara dirumah Wonyoung sekarang dia sedang menangis tersedu-sedu dan mengunci diri di kamar. Padahal dia belum sempat menghabiskan makan siangnya.
Dia sungguh menyesal atas niatnya yang berakibat merusak semuanya. Demi egonya dia malah memikirkan kejahatan yang mungkin tidak akan dimaafkan suaminya.
"Pasti dia nggak mau memaafkan ku lagi. Maafkan ibu ya nak." ucapnya disela tangisnya.
Sudah berjam-jam dia menangis sampai dia tertidur.
☆☆☆☆
Hari sudah malam. Tapi Yohan belum juga keluar dari ruangannya. Merasa ada yang tidak beres Seongwoo masuk keruangan bos nya itu. Dilihatnya Yohan berdiri menghadap jendela kaca yang dibuka lebar sampai angin masuk menerbangkan semua barang yang ringan.
Seluruh isi ruangan itu berantakan. Berkas-berkas yang penting dan tidak sudah berhamburan kemana-mana. Dia berpikir apa yang sebenarnya sudah terjadi sampai bosnya itu menghancurkan seluruh isi ruangannya ini. Lalu Yohan pun bersuara.
"Hyung... Ayo pulang." ucapnya. Suaranya terlihat sedih.
"Baiklah." Seoungwoo pun keluar duluan menuju parkiran.
Seongwoo mengeluarkan mobil dan melajukannya kearah lobi. Datanglah Yohan dengan baju yang berserakan.
"Nggak mau menjemput Wonyoung dulu?" tanya Seongwoo. Dia tau kalau istri bosnya berada di rumah orang tuanya karena sebelum pergi tadi Yohan sudah memberitahunya.
__ADS_1
Yohan hanya menggelengkan kepalanya. Seongwoo bingung dengan reaksi Yohan saat dia menyebut nama istrinya. Seongwoo hanya bisa menghela nafas dan melajukan mobilnya.
Selama perjalanan Yohan tidak mengucapkan sepatah katapun. Sampainya di rumah Yohan keluar dan berjalan dengan lesu. Sama. Dia juga tidak bicara apapun. Seongwoo pun melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Yohan berjalan menuju lift dengan tatapan kosong. Tapi saat ingin menekan tombol lift ada yang menyapanya.
"Sudah pulang?" katanya sambil tersenyum.
"Siapa ya?" tanya Yohan dengan ekspresi datarnya.
"Kamu benar-benar sudah melupakan ku?" ucap perempuan itu.
Yohan melihatnya dari ujung kaki hingga kepalanya. Dia perempuan cantik dan memiliki badan yang bagus. Tapi menurut Yohan masih cantikan Wonyoung. Dan Wonyoung memiliki kaki yang jenjang dibanding dengannya.
"Aku Chaeyeon." ucapnya menatap Yohan penuh harap.
"Terserah kau itu siapa. Ada perlu apa kau menemuiku?" ucap Yohan. Dia malas meladeni ocehan perempuan itu hanya karena nama.
"Hah! Kau sungguh belum berubah. Pantas saja nggak ada yang mau bersama mu." ucap nya lalu pergi meninggalkan Yohan yang kebingungan.
"Aneh." ucap Yohan lalu ditekannya tombol lift itu.
Yohan sampai di depan pintu apartemennya. Dia ragu untuk masuk. Dibukanya pintu itu perlahan. Dia sekarang sudah didalam. Yohan memperhatikan seluruh ruangan itu. Apartemennya berisi Wonyoung diingatannya. Bila dia mengingat Wonyoung rasanya dia ingin marah. Tapi sekarang tenaganya sudah habis.
Csssshhh...... Suara guyuran air. Dalam mandi pun dia melamun. Dia masih belum mengerti kenapa Wonyoung berpikir seperti itu. Dia merasa ada yang salah. Dia berpikir antara dirinya atau Wonyoung yang salah.
Selesai mandi Yohan masuk ke kamarnya. Direbahkan tubuhnya menatap langit-langit. Dia mengingat tadi siang. Dia sudah membentak-bentak Wonyoung dan memperlakukan Wonyoung dengan kasar di depan orang tuanya.
Lalu tiba-tiba dia teringat kalau Wonyoung tidak bisa makan kalau tidak disuapi nya. Bangkitlah dia dari tidurnya. Diambilnya jaketnya dan kunci mobilnya. Lalu dia turun menuju parkiran.
☆☆☆☆
Dirumah Wonyoung terdengar sedikit berisik. Suara itu berasal dari papa dan mamanya Wonyoung yang menyuruh anaknya keluar untuk makan malam.
"Wonyoung. Keluar ya nak. Makan dulu baru tidur lagi. Kasihan anak kamu nanti nak." ucap mamanya dari balik pintu kamar.
Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Mama dan papanya sungguh khawatir kalau terjadi sesuatu dengan anaknya itu.
"Wonyoung. Kalau kamu merasa bersalah dengan nak Yohan kamu jangan seperti ini. Ini sama saja kalau kamu lagi melaksanakan rencana gila mu itu." kini papanya juga ikutan bersuara.
Lalu terbukalah pintu kamar itu. Wonyoung keluar perlahan dari kamar gelap dengan jendela yang belum tertutup.
"Kamu dari tadi ngapain aja? Kenapa tidak hidupkan lampu dan tutup jendela?" tanya mamanya. Dilihatnya mata anaknya yang sudah bengkak karena kebanyakan menangis.
__ADS_1
"Astaga. Sebenarnya berapa lama kamu menangis nak?" tanya mamanya yang mengusap wajah Wonyoung.
"Ayo makan ma." ucap Wonyoung dengan suara seraknya dan berlalu keruang makan.
Mereka juga mengikuti Wonyoung keruang makan dan duduk disana. Mereka pun mulai makan. Saat Wonyoung akan memasukkan suapan pertamanya dia merasa mual dan berlari ke kamar mandi.
"Huekk!! Huekk!!" begitulah suara yang terdengar dari kamar mandi.
"Bagaimana dia bisa makan ya pa kalau setiap makan seperti itu terus." ucap mamanya yang khawatir.
"Namanya masih awal kehamilan ma." balas papanya.
"Tapi kasihan pa. Nggak bisa masuk makanan sedikit pun jadinya." ucap mamanya yang mulai makan.
Lalu datang Wonyoung dengan wajah pucat. Dia duduk di hadapan mama papanya dalam diam menatap makanan yang ada dimeja. Kemudian keluar air matanya perlahan membuat mama papanya terkejut.
"Kenapa nak? Apa makanannya nggak enak?" tanya mamanya.
"Iya bilang aja." ucap papanya
"Hiks.. Bukan ma. Hanya saja... Hiks.." ucap Wonyoung terputus karena tangisnya.
Bila dia melihat makan itu dia teringat Yohan. Karena dia sekarang hanya bisa makan kalau disuapi oleh Yohan. Suaminya itu.
"Sudahlah. Mama tahu kalau kamu teringat pada Yohan. Ayo makan saja." kini mamanya memberikan makanan ke piring Wonyoung.
"Iya. Aku pun mau nya juga begitu ma. Tapi aku hanya bisa makan kalau Yohan yang menyuapiku. Aku juga nggak tau kenapa bisa kayak gitu." ucap Wonyoung yang masih menangis.
"Mungkin itu bawaan anak kalian." ucap papanya.
Kemudian ada suara bel ditengah percakapan mereka.
"Biar aku aja yang buka ma." ucap Wonyoung.
"Yakin? Mata mu bengkak sekali loh." ucap mamanya.
"Nggak masalah kok ma." ucapnya lalu beranjak menuju pintu.
Wonyoung berjalan dengan lesu. Saat membuka pintu dia menunduk. Tapi saat pintu terbuka dia terkejut sekaligus terharu melihat seseorang yang sangat dia rindukan seharian ini.
"Kamu...."
☆☆☆☆
__ADS_1