Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 31


__ADS_3


"Saya bilang saya sudah menikah." kalimat itu terus terngiang di kepala Haneul.


"Aihh!! Kenapa aku berkata kayak tadi coba. Dasar Haneul bodoh." begitulah Haneul bermonolog sendiri.


"Eh, Haneul. Kau kenapa?" tanya Jeni. Rekan kerjanya itu.


"Hah? Nggak kok. Aku hanya memikirkan diriku yang bodoh sesaat." ucap Haneul lalu menghela nafas panjang.


"Kau pasti menderita menghadapi amarah Pak Yohan. Coba cerita gimana bapak itu kalau marah pada mu."


"Yah.... Dia seperti biasa." kalau mengingat kejadian tadi, dia ingin tenggelam saja.


#flashback on


"Ahh... itu. Saya memang menjaga jarak dengan kamu karena ada alasan. Sekarang saya sudah menikah jadi-"


"Tunggu pak! Barusan bapak bilang apa?" tanya Haneul memotong ucapan Yohan.


"Saya bilang saya sudah menikah." ucap Yohan sedikit menekankan pada kata terakhir.


"Apa?!" Bukan hanya Haneul yang syok. Seungwoo yang baru saja masuk ikutan syok mendengar suara Haneul. Kalau untuk Yohan dia sudah memprediksinya.


"Ada apa ini?" tanya Seungwoo setelah meletakkan berkas dan menatap Haneul sebentar.


"Bukan masalah besar kok." ucap Yohan pada Seungwoo.


"Jadi tadi saya mau bilang. Karena saya sudah menikah jadi saya tidak mau berdekatan dengan perempuan manapun selain istri saya. Jadi maaf bila itu membuat kamu tersinggung." ucap Yohan masih menatap Haneul yang sedikit bingung.


"Bapak bicara seperti itu karena memang tidak mau bicara dengan saya lagi kan Pak."


"Bukan itu maksud saya. Istri saya itu cemburuan. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anak saya. Jadi dia sedikit sensitif." Jelas Yohan yang masih bersabar menghadapi Haneul. Bagaimana pun Haneul designer muda yang berbakat. Dia tidak mau kehilangannya hanya karena masalah sepele.


"Hah! Mengandung? Menikah bapak bilang? Bapak kira saya bakal percaya? Saya tau kalau bapak memang tidak suka ada perempuan yang menempel dengan bapak. Hanya karena saya suka dengan bapak bukan berarti bapak bisa berbuat seperti itu lalu memecat saya kemudian untuk menyingkirkan saya." ucapnya panjang lebar.


Sebenarnya Seungwoo dan Yohan sudah tahu kalau Haneul menyukai Yohan. Tapi mereka terdiam karena terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Haneul akan mengungkapkannya.


Melihat kedua pria di depannya membuat Haneul sedikit tersadar akan ucapannya tadi. Lalu dia mengusap tengkuknya dan menatap Yohan dan Seungwoo bergantian.


"Tadi.... Sa-saya bilang apa ya pak?" ucapnya sedikit terbata.


"Hmm... Tadi kamu bilang kalau kamu, nona Lee menyukai pak Yohan?" bukan Yohan yang menjawab melainkan Seungwoo.


Haneul menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana hal itu bisa keluar dengan mudahnya dari mulutnya pikir Haneul. Padahal dia berusaha untuk menutupi perasaannya itu.


(Percuma juga lo tutupi Neul. si Doi dah tau😧)


Hening untuk beberapa saat di ruangan itu. Haneul berusaha memikirkan bagaimana mengatasi kecanggungan ini.


"Yah.. Jadi... maksud saya..." sungguh dia sangat bingung harus bagaimana.


"Jadi?" tanya Yohan kali ini.


"Yah jadi saya tidak percaya. Lagian saya lebih nyaman melaporkan ide saya langsung dengan bapak. Saya tidak bisa dibohongi. Permisi saya kembali." ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua pria itu.


#flashback off


Yah begitulah kejadiannya. Seharusnya dirinya tidak perlu protes. Haneul bukan kesal karena Yohan menjauhinya. Hanya saja dia kesal alasan Yohan menjauhinya tidak masuk akal. Lagian siapa yang mau menikah dengan pria dingin itu. Ya banyak sih dan dia pun juga mau sih sebenarnya.


Lalu kenapa dalam waktu dekat sudah punya anak saja. Dan juga kapan menikahnya kalau belum apa-apa dia bilang istrinya sudah mengandung. Haneul akhirnya mengerjakan kerjaannya untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggunya.


β˜†β˜†β˜†β˜†


"Wonyku~~ Lagi masak apa nih?" Yohan memeluk Wonyoung dari belakang begitu sampai apartement.

__ADS_1


"Ihh.... Apaan sih oppa... Pulang dari kantor bukannya mandi malah ndusel nggak jelas gini." Wonyoung masih melanjutkan masaknya dengan Yohan masih menempel ditubuhnya.


"Biarin kok. Namanya juga kangen. Oh ya, mualnya udah berkurangkan." kini Yohan melepaskan pelukannya dan menatap Wonyoung dari samping.


Yah Wonyoung sering kali mual ditengah malam dan pagi hari. Tapi belakangan ini dia juga sering mual saat makan siang dan juga makan malam. Itu membuat Yohan khawatir. Alasan Yohan tadi terlambat karena Wonyoung terus bolak-balik kamar mandi sampai jam 3.


"Hmm untuk sekarang nggak sih. Tapi nggak tau kalau malam nanti." ucap Wonyoung lalu tersenyum menatap Yohan yang berdiri disampingnya.


"Oh ya. Gimana kelas online kamu? Lancar?" kini Yohan sedang meminum air mineral yang baru diambilnya dari kulkas.


"Lancar kok. Malah aku nambah teman. Dia sering telpon aku saat kamu lagi di kantor." ucap Wonyoung yang masih fokus pada masakannya.


"Teman? Perempuan atau laki-laki?" kini Yohan menatap Wonyoung dengan tatapan dingin. Hah kambuh lagi deh es batunya.


"Perempuan kok. Namanya Mirae." Wonyoung menatap Yohan lagi.


"Oh gitu. Baguslah." kini senyum menghiasi bibir Yohan. Oh tidak. Sepertinya Wonyoung sudah benar-benar jatuh cinta pada suaminya ini.


"Ih... Kamu kok gemesin banget sih.." ucap Yohan.


"Seharusnya aku yang bilang begitu. Udah sana mandi. Nanti makanannya nggak jadi karena kebanyakan bicara sama oppa."


"Iya. Bawel amat sih. Masak yang enak ya Wonyku sayang~~" ucap Yohan lalu dia benar-benar pergi dari dapur.


"Dasar es batu tua." caletuk Wonyoung. Tentu saja dia bilang begitu setelah Yohan pergi. Kalau sampai Yohan dengar bisa tidak jadi masak dia.


β˜†β˜†β˜†β˜†


"Oh ya. Kamu mau nggak datang ke kantor aku?" tanya Yohan sambil mengelus kepala Wonyoung. Mereka sekarang berada di ruang tv.


"Kantor yang mana?" kini Wonyoung menatap wajah Yohan dari bawah. Soalnya Wonyoung membaringkan tubuhnya disofa berbantal paha Yohan.


"Kantor aku. Bukan kantor ayah." Yohan membalas tatapan istrinya itu.


"Eh? Siapa bilang. Malah kalau ada kamu aku jadi semangat tau." Yohan cengir-cengir tidak jelas.


"Semangat apanya? Semangat gangguin aku iya." Wonyoung membuang arah pandangnya dan menatap layar tv.


"Tau aja. Tapi aku serius loh. Soalnya ada karyawanku yang nggak percaya kalau aku udah nikah. Malah dia suka sama aku pula itu." Yohan tau istrinya itu anti yang namanya pelakor. Kalau denger begituan pasti gercep.


"Oh." tak disangka. Tanggapannya hanya begitu.


"Oh?? Kamu yakin dengan respon kamu itu?" tanya Yohan tak percaya.


"Yakin." Wonyoung mendudukkan tubuhnya.


"Lagian oppa untuk apa aku datang? Aku juga nggak percaya kalau karyawan oppa itu suka oppa. Aku percaya kalau oppa cuma mau bawa aku untuk gangguin aku aja kan." ucap Wonyoung yakin.


Astaga. Kenapa perempuan jaman sekarang susah percaya pada laki-laki? Yang satu tidak percaya kalau dirinya sudah menikah. Yang satu lagi tidak percaya kalau ada perempuan lain yang menyukai suaminya. Dasar. Harus sabar berapa lama dia menghadapinya.


(Yaelah han. emg lu nya aja yang gk bisa dipercaya.πŸ˜₯)


"Ihh kamu kok nggak percaya sih?? Aku beneran. Makanya aku suruh kamu datang. Biar dia percaya." jelas Yohan lagi.


Wonyoung menatap mata suaminya itu. Tentu saja dia tidak menemukan kebohongan disana. Sudah dari lama Yohan tidak pernah berbohong lagi padanya. Jadi kali ini dia percaya.


"Beneran? Kok bisa?" kini Wonyoung penasaran.


"Iya. Aku tau dia udah lama suka sama aku. Bahkan sebelum aku kenal sama kamu. Tapi aku pura-pura nggak tau kok. Seungwoo hyung juga tau." ucap Yohan dengan sedikit pembelaan diri.


"Hmm... Okelah. Tapi aku mau....." ucap Wonyoung lalu dia mendekat pada Yohan dan membisikkan sesuatu.


"Gimana?" tanyanya begitu selesai membisikkan rencananya.


"Hmm boleh sih. Tapi yang kedua harus ikut saran aku."

__ADS_1


"Oke."


Mereka pun saling menatap sambil tersenyum. Hahhh... Padahal hanya membicarakan hal sederhana. Tapi mereka merasakan kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


β˜†β˜†β˜†β˜†


"Han. Mereka udah mulai proyek sesuai yang kau mau. Sekarang mereka sudah tahap mengerjaan." jelas Seungwoo pada Yohan yang sibuk pada berkasnya. Mereka lagi berdua di kantor Yohan. Jadi wajar Seungwoo memanggilnya begitu.


"Hm baguslah."


"Kau kenapa terburu-buru mengerjakannya. Bukankah masih banyak waktu sampai sore nanti?" tanya Seungwoo bingung melihat Yohan memburu pekerjaannya agar cepat selesai.


"Hmmm nanti ada yang mau datang. Jadi aku nggak mau semua pekerjaan ini menggangguku. Lebih baik hyung keluar saja. Mana tau nanti ada yang mencariku hyung langsung bawa kesini." jelas Yohan tanpa melihat ke arah Seungwoo.


"Baiklah. Aku keluar dulu. Kalau butuh sesuatu panggil aja."


"Hm."


Setelah mendengar respon Yohan, Seungwoo pun keluar dari ruangan itu. Seungwoo tidak tahu siapa yang akan datang nanti. Setahu Seungwoo sebagai sekretaris Yohan di kedua perusahaan Yohan tidak memiliki janji dengan siapa pun hari ini.


Yah bagaimana pun yang dihadapinya sekarang adalah Yohan. Dia harus banyak bersabar. Seperti dia menghadapi istrinya yang mengandung sudah memasuki usia 3 bulan.


Disisi lain........


Wonyoung baru selesai memilih baju yang pas untuk datang ke kantor suaminya itu. Dres kembang berwarna merah yang sangat cocok dengannya. Tentu saja dia setuju hari ini karena dia yakin rasa mualnya sedikit membaik.


Sebelum memilih baju. Wonyoung sudah memasak makan siang untuk dibawa ke kantor. Untuk siapa lagi. Ya untuk suami tercinta lah. Eh masalah cinta. Wonyoung merasa mereka belum mengungkapkan perasaan masing-masing. Seperti saling menyatakan cinta dengan kata-kata.


Wonyoung menatap pantulan dirinya dari cermin fullbody yang ada di kamarnya. Pokoknya dirinya harus mengungkapkan perasaannya pada Yohan hari ini juga. Kalau ditunda lagi bisa-bisa dia menjadi kurang percaya diri dan hanya menebak-nebak apakah Yohan juga mencintainya.


Setelah berpakaian Wonyoung mengambil bekal yang sudah disiapkannya tadi dengan porsi tiga orang. Untuk Yohan satu porsi dan dirinya dua porsi. Lalu pergi dengan supir yang sudah disuruh Yohan dari pagi tadi.


(Maklumlah. Namanya juga bumil.πŸ˜‰)


β˜†β˜†β˜†β˜†


"Sekretaris Han. saya sudah selesai dengan semua berkas ini. Kau bisa mengambilnya." begitulah perintah Yohan pada Seungwoo lewat interkomnya.


Tidak lama kemudian Seungwoo datang berniat membawa semua berkas yang menumpuk di atas meja Yohan.


"Cepat sekali kau mengerjakannya. Biasanya seperempat dari ini kau kerjakan dalam waktu tiga hari." ucap Seungwoo tak percaya menatap berkas itu.


"Aku ada rencana untuk hari ini dan beberapa hari ke depan. Jadi aku mau semuanya selesai." jelas Yohan sambil menatap layar ponselnya.


"Yah terserah sih. Ya udah aku bawa dulu ini semua." ucap Seungwoo lalu mengangkat berkas-berkas itu.


"Hyung orangnya udah sampai. Jemput dia dan bawa kesini ya." ucap Yohan sebelum Seungwoo benar-benar menghilang dari hadapannya.


Sebenarnya Yohan mau dia sendiri yang menjemput orang itu. Tapi karena sudah direncanakan dari awal Yohan tidak bisa menolak. Toh pertemuan yang kedua dia sendiri yang merencanakannya.


Di Lobby.......


Seorang wanita muda turun dari mobil mewah menggunakan dress merah yang sangat cocok dengannya sedang membawa bekal ditangannya.


Dengan anggun dia melangkahkan kakinya memasuki area lobby. Semua orang disana menatapnya. Bukan tidak ada alasan. Dress merahnya terlalu mencolok untuk diabaikan.


"Permisi. Saya mau bertemu dengan Kim Yohan."


β˜†β˜†β˜†β˜†



Jangan lupa like dan komennya ya~~~~


Yah kali ini ceritanya lebih panjang dari sebelumnya. Huft πŸ˜₯

__ADS_1


__ADS_2