
"Saya tidak mungkin menerima Bu Han." ucap Pak Yohan tegas.
"Saya sudah menikah kemarin." lanjutnya lagi.
Semua teman kelasku menjadi penasaran. Kenapa tiba-tiba pak Yohan sudah menikah? Dan Hara menjadi syok berat setelah mendengar perkataan pak Yohan. Secara dia itu fans beratnya.
"Hara. Kamu tidak apa apa kan?" tanyaku khawatir.
"Iya Wonyoung. Aku hanya kaget mendengarnya. Secara bapak itu belum terlihat dekat dengan perempuan. Ah itu tidak penting. Kamu sudah belajar?"
"Sudah kok."
"Karena hari ini ulangan simpan semua bukunya. Awas kalau ada yang ketahuan mencontek."ucap pak Yohan membagikan lembar soal.
☆☆☆☆
Sepulang sekolah niatnya aku mau naik bus. Jadi aku dan Hara jalan ke halte. Belum sampai halte Hara sudah di jemput mamanya pulang. Terpaksa deh aku naik bus sendiri. Sampai di halte belum sampai 10 menit aku menunggu ada sebuah mobil berhenti di hadapanku.
"Wonyoung. Ayo masuk."ucap pak Yohan.
Tanpa menunggu lagi aku langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Tadi kenapa pak Yohan tidak menolak bu Han di depan semuanya?" tanyaku buka suara.
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Pak Yohan melirikku sedikit.
"Bukan apa apa pak."
Yohan melihat wajah Wonyoung yang terlihat cemberut.
Kenapa anak ini pasang wajah imut begitu sih. Ingin ku terkam saja. Ujar Yohan dalam hati.
☆☆☆☆
POV Yohan
Di apartement.
Yohan memperhatikan sikap Wonyoung padanya sangat dingin tidak seperti biasanya. Begitu sampai Wonyoung tak banyak bicara dan langsung masuk ke kamarnya. Karena penasaran Yohan pun memanggil Wonyoung untuk memasak.
"Wonyoung. Aku lapar nih. Kamu tolong masakin makanan ya."ucap Yohan sedikit berteriak melihat kamar Wonyoung dari ruang tamu.
Tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian Wonyoung keluar dari kamarnya tanpa melihat kearah Yohan dan menuju dapur. Melihat sikap Wonyoung seperti itu, Yohan langsung menghampiri Wonyoung yang di depan kulkas dan memeluknya dari belakang.
"Kamu kenapa sih? Kok kamu nggak banyak bicara?"tanya Yohan yang meletakkan dagunya di bahu Wonyoung.
"Nggak ada. Perasaan bapak aja kali." jawab Wonyoung jutek.
__ADS_1
"Yakin.."masih posisi yang sama.
"Saya mau tanya sama bapak." ucap Wonyoung menghentikan aktivitasnya tapi masih membelakangi Yohan.
"Hm. Mau tanya apa?" mengelus bahu Wonyoung dengan bagunya.
"Kenapa bapak setuju menikah dengan saya? Bukankah bapak bisa menolak."
Aku pun melepaskan pelukanku dan membalikan tubuh Wonyoung. Mata kami pun beradu. Aku diam dan dia pun dia diam. Aku merasakan kalau dia sedang mencari sesuatu dari mataku.
"Mari kita bicarakan sambil duduk." kutarik lengannya kearah ruang tamu.
Setelah duduk ku lanjut perkataanku. "Aku sebenarnya tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun karena menurutku perempuan itu sangat merepotkan."
"Lalu tiba tiba ibu bilang kalau aku akan dijodohkan denganmu. Pertamanya aku tidak mau menikah. Dan aku bertanya pada ayah bagaimana orang yang akan aku nikahkan. Ayah memberi tahu kalau kamu sekolah di tempat aku mengajar. Dan aku penasaran dengan kamu. Dan setelah mengenalmu aku mulai berubah pikiran kalau nggak semua perempuan sama. Itulah alasan aku setuju nikah sama kamu." ujarku panjang lebar.
"Apa bapak tidak punya mantan? Kan banyak cewek cantik yang mau sama bapak." ucap Wonyoung dengan nada polosnya.
"Tidak ada. Kan aku bilang dulu aku berpikir kalau perempuan itu merepotkan. Jangankan pacaran. Untuk dekat aja aku males."
"Terus kenapa waktu itu bapak tersenyum ramah sama bu Han? Sama saya aja hampir nggak pernah."kata Wonyoung sambil buang muka.
Astaga anak ini sangat menggemaskan. Kalau nggak karena lapar sudah ku makan dia ini.
"Hahahaha... Kamu ini ya kenapa bisa imut begini sih.." ucapku sambil mengunyel-ngunyel pipi Wonyoung.
"Ihh sakit pak pipi sayaaa.."
Dan aku mendekat ke wajahnya. kulihat matanya tebelalak. Aku hiraukan reaksinya saat itu. Ku kecup bibir mungilnya pelan. Melihat reaksinya tidak menolak aku langsung melumat bibirnya lembut. Awalnya tidak ada balasan darinya. Tapi lama lama dia membalas ciumanku.
Cukup lama aku menciumnya tiba tiba bunyi bel dari arah pintu. Aku menghentikan aksi kami. Kulihat dia sangat terkejut.
"Tunggu sebentar. Biar aku aja yang buka." kataku bangkit dari duduk ku. Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Eh.. Mama... Kok nggak ngabari kalau mau datang?" tanyaku sambil menyalim tangan mama mertuaku.
"Iya mama sengaja mau kasih kejutan. Wonyoung ada kan?"
"Ada ma. Silahkan masuk." ku ambil rantang yang di tangan mama mertuaku dan mengikutinya masuk.
☆☆☆☆
POV Wonyoung.
"Mama apa kabar?" tanyaku begitu mama masuk dan memeluk ku.
"Mama baik kok. Kamu baik kan." tanya mama sambil duduk di sofa dan aku pun ikut duduk. Sedangkan Pak Yohan membuka rantang makanan mama di ruang makan.
__ADS_1
"Wonyoung. Kamu tadi lagi apa sama nak Yohan?" tanya mama berbisik. Aku yang mendengarnya kaget. Aku sangat bingung dengan pertanyaan mama. Tidak mungkin aku bilang kalau kami habis berciuman mesra tadi.
"Hah?? Kami tadi baru sampai dari sekolah ma." ucapku dengan mataku yang lari ntah kemana.
"Owh.... Oh ya kalian belum makan kan? Ayo makan bareng. Tadi mama masak makanan kesukaan kamu." ucap mama bangkit dari duduk nya menuju meja makan dan aku juga menyusul mama.
Kami makan dalam diam. Aku yang masih memikirkan yang tadi aku lakukan. Apa yang aku lakukan sih? Kenapa aku malah membalas ciumannya pak Yohan.
Tanpa sadar pak Yohan memperhatikan aku yang melamun.
"Kamu kenapa Wonyoung?"tanya pak Yohan.
"Hah? Hmm... nggak ada." jawabku kaget.
"Kalau nggak ada kok diam begitu?" kata pak Yohan yang tangannya membersihkan sisa makanan di bibirku.
Mama dari tadi memperhatikan sikap kami yang sudah seperti sepasang suami istri.
Sepertinya Wonyoung semakin dekat dengan nak Yohan. Apa sudah terjadi sesuatu ya? ucap mama dalam hati.
"Mama kok nggak bareng papa?" tanyaku.
"Oh papa kamu besok baru pulang. Mama kesepian dan mau makan siang bareng kamu. Jadi mama kesini nggak bilang bilang deh. Mama nggak ganggu kalian kan?" tanya mama melihat ke arahku dan melirik ke pak Yohan.
"Uhuk.. uhuk.." tiba tiba pak Yohan tersedak.
"Pak Yohan nggak papa?" tanyaku sambil memberikan air minum.
"Kamu nggak papa kan nak Yohan?" tanya mama setelah pak Yohan minum.
"Ehem.. Nggak papa kok ma." kata pak Yohan tersenyum.
☆☆☆☆
Sejak kepulangan mama pak Yohan menghindar dariku. Sekarang aja pak Yohan diam hanya menatap laptopnya di kamarnya.
Memang setelah menikah kami belum berbuat jauh seperti yang dilakukan pasutri pada umumnya. Mungkin karena pak Yohan berpikir aku masih sekolah jadi belum bisa melakukan itu. Tapi papa juga tidak ada melarang kami untuk melakukan itu seperti yang ada di novel novel.
Aku masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamarku. Apa aku tidur di kamar pak Yohan aja ya malam ini? Tapi nanti malah jadi canggung dong kalau aku datang.
(Jangan masuk kamar Yohan Wonyoung. Dia sedang diambang mode on. Bisa habis kamu di makan.)
Entahlah. Setelah mandi aku menukar bajuku dengan baju tidur mirip dengan yang pernah ku pakai waktu di hotel. Dress tidur tipis tanpa lengan berwarna hitam dengan jubah kilat warna pink. Walau pun tipis, sangat nyaman di pakai tidur. Saat tidur aku memang terbiasa tidak pakai bra. Sangat sesak memakainya.
Saat ingin naik ke ranjang, tiba tiba lampu padam. Dan seketika aku berlari ke kamar pak Yohan sambil berteriak.
"Ahhhkkk!!! Pak Yohannnn!!!"
__ADS_1
☆☆☆☆
Maaf typo bertebaran 😁