Cinta pertama Wonyoung

Cinta pertama Wonyoung
Bagian 11


__ADS_3

Hara yang sejak datang tadi bersemangat mengobrol dengan temannya itu. Aku yang duduk berhadapan dengan laki laki yang baru ku kenal hari ini hanya menjawab seadanya tentang pertanyaannya. Aku merasa gelisah dan merasakan dingin di sekitarku sama seperti tadi pagi saat pak Yohan mengeluarkan aura dinginnya.


Aku tak tau kalau ada dua orang sedang memperhatikan ku dari jauh.


Disisi lain.


Yohan yang merasa bosan bekerja di kantornya mengajak Seongwoo untuk bekerja di luar. Kebetulan melihat lihat perabotan lain yang mana tahu bisa jadi inspirasi produk barunya.


Seongwoo pun mengajak Yohan ke kafe langganannya yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Sudah cukup lama mereka di sana dan ingin pindah kafe. Tapi belum sempat keluar mereka melihat seorang anak SMA yang mereka kenal. Mereka mengurungkan niatnya dan duduk kembali.


"Eh. Untuk apa istri imut mu berada disini? Bukanya dia tipe anak pintar yang selalu mengambil kelas tambahan." kata Seongwoo yang melihat Yohan sedang memperhatikan istri imutnya menghampiri dua cowok muda sambil tersenyum.


"Dia nggak pernah senyum seperti itu padaku." ucap Yohan membuat Seongwoo langsung melihat Wonyoung.


"Astaga dia sedang kencan buta. Padahal masih SMA berani sekali istrimu itu." kata Seongwoo yang masih melihat Wonyoung.


Disisi Wonyoung.


"Hara pulang yuk. Perasaanku nggak enak ini ra." bisikku pada Hara.


"Sebentar lagi ya." balas Hara kembali mengobrol dengan temannya itu.


Aku merasa semakin lama aku gelisah. Karena aku rasa ada yang tak beres, aku melihat sekeliling kafe. Dan mataku terhenti pada seseorang yang ku kenal. Dia menatapku seperti ingin menerkamku. Rasanya seperti ketahuan berselingkuh. Mati aku. Kenapa ada pak Yohan di sini.


Disisi Yohan.


"Eh dia kayaknya tau ada kau deh han." kata Seongwoo yang melihat Wonyoung sedang menoleh kekiri dan ke kanan.


"Aku penasaran reaksi seperti apa yang di buat istri imutmu itu." Lanjut Seongwoo. Yohan masih diam saja melihat Wonyoung dengan tatapan membunuh.


"Wah dia kelabakan melihatmu. Haha.. Ehem." kata Seongwoo yang melihat Yohan dan menahan tawanya.


Di sisi Wonyoung.


"Hara. Aku duluan ya. Sepupu aku udah nelpon aku nih. Dah." ucapku sambil lari keluar kafe tanpa melihat pak Yohan.


Sepertinya pak Yohan mengikutiku. Padahal aku tidak ada salah apa apa. Tunggu. Aku ngapain melarikan diri. Aku tidak bersalah kok. Tiba tiba ada yang memegang lenganku.


"Kamu! Sedang apa kamu di sana tadi?"


Ternyata pak Yohan. Dan ada Seongwoo oppa juga. Ah bikin malu aja kalau kayak gini.


"Nggak ada kok pak." jawab ku tidak melihat pak Yohan.


"Mau bohong ya sama aku. Udah pulang bukannya pulang malah ikut kencan buta sama bocah!" ucap pak Yohan sedikit meninggi. Aku mendengarnya terkejut. Belum pernah pak Yohan kulihat semarah ini.


"Saya nggak bohong kok pak. Saya hanya menemani teman saya aja kok. Saya nggak ada niat buat kencan buta." ucapku tenang. Aku nggak mau terlihat takut di depan Seongwoo oppa.

__ADS_1


"Kamu banyak alasan. Pokoknya sekarang kamu ikut aku pulang!" lenganku di tarik pak Yohan dengan kasar ke arah mobilnya.


"Hyung kembali aja ke kantor. Nanti kalau sempat aku kembali." ucap Yohan langsung masuk kedalam mobil.


Astaga kasar sekali dia dengan perempuan. Sudah dipastikan kalau dia sangat menyukai Wonyoung. ucap Seongwoo dalam hati dan pergi memanggil taksi.


☆☆☆☆


Selama perjalanan kami hanya diam saja. Kulihat wajah pak Yohan terlihat menakutkan. Aku ingin menangis tapi ku tahan. Aku tidak mau terlihat menyedihkan di matanya.


Sampailah kami di apartemen. Dari keluar mobil sampai di dalam lift pak Yohan masih memegang tanganku yang sedikit ditekan. Begitu sampai di lantai tujuan kami dia menarik paksa aku masuk ke dalam apartemen.


"Aahhkk! Sakit pak!" teriakku. Memang sakit dari keluar mobil tadi. Dilepasnya tanganku dan dia menatapku dengan wajah bersalah.


"Kamu... Masuk kamar. Cepat!" bentaknya. Aku yang kaget langsung lari ke kamarku dengan air mata yang sudah berlinang.


"Ahhhkkk!!"


Kudengar dia teriak di ruang tamu. Kenapa dia sangat marah hari ini. Apa ada masalah di kantornya? Tapi walau begitu jangan dilampiaskan ke aku dong.


Aku langsung mengganti bajuku dengan pakaian santai. Kulihat ponselku ada banyak misscall dan pesan dari Hara. Ahh maafkan Hara. Aku pergi buru buru. Kalau aku tidak langsung pergi mungkin meja kami sudah melayang dibuat pak Yohan.


Tok tok tok..


Terdengar ketukan pintu dari arah pintu kamarku. Aku lansung membuka pintu dan ada pak Yohan di situ.


"Boleh kita ngobrol sebentar?" tanyanya tidak melihat ke arahku.


"Wonyoung. Maafkan aku yang sudah kasar tadi dengan mu." ucapnya menundukkan kepalanya.


"Iya pak. Nggak masalah kok pak." Kataku sambil tersenyum.


Pak Yohan mengangkat kepalanya dan melihatku. Dia pun tersenyum kearahku.


"Kamu jangan tersenyum seperti itu dengan pria lain ya. Lagian siapa pria bocah tadi?"


"Sebenarnya Hara mengajak saya untuk menemaninya bertemu dengan temannya itu karena temannya membawa teman juga. Sebenarnya saya juga nggak ingin ikut."


"Ya sudah lain kali jangan mau di ajak ajak yang seperti itu." katanya sambil berdiri.


"Tapi pak, saya ingin tanya. Kenapa setiap kita berdua akan dekat besoknya bapak selalu menghindar?" tanyaku melihat kearahnya yang berdiri. Dia berbalik dan melihatku yang masih duduk.


"Lebih baik kamu jangan tanya masalah itu dan bahas itu. Udah aku mau kembali ke kantor." ucapnya lalu beranjak pergi ke pintu luar. Aku menarik tangannya, ntah datang dari mana keberanianku ini.


"Pak. Saya boleh ikut nggak pak? Saya bosen di ruma sendirian." ucapku dengan wajah memohon. Pak Yohan diam sebentar melihat ekspresi wajahku.


Kenapa dia selalu berekspresi menggemaskan seperti itu di hadapanku? Aku harus kuat menahannya!! ucap Yohan dalam hati.

__ADS_1


"Boleh.. Ganti baju sana aku tungguin nih." katanya sambil duduk. Aku pun bersiap dan kami langsung pergi ke kantor Pak Yohan.


☆☆☆☆


Di Kantor Yohan.


Semua mata tertuju melihat Wonyoung. Walaupun sedikit risih tapi tetap mengikuti Yohan. Sedangkan Yohan tidak peduli karena dia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Tapi Yohan tidak tahu kalau tatapan itu adalah tatapan tanda tanya. Karena baru kali ini Yohan membawa perempuan bersamanya.


"Eh.. Siapa perempuan itu? Tinggi dan cantik." kata salah satu karyawan.


"Iya. Biasanya pak Yohan nggak pernah bawa perempuan sekali bawa yang bening seperti itu." kata karyawan yang lain.


Aku yang menyadari kalau diriku di tatap dari lobby sampai di depan pintu lift.


"Pak. Kenapa mereka semua melihatku seperti itu?"


"Tak perlu kamu tanggapi. Biar saja. Kan kamu datang ke sini bukan untuk mereka." ucap pak Yohan sambil menarik tangan ku memasuki lift.


Sengwoo yang melihat Yohan datang bersama Wonyoung tersenyum.


"Gimana? Udah selesai masalahnya?" ejeknya setelah Yohan sampai di depannya.


"Sudahlah hyung."balas pak Yohan malas.


"Oh ya. Kau nanti sebelum pulang jemput dulu istri mu hyung. Setelah pekerjaanku selesai kita ke rumah ku." kata Pak Yohan berlalu dan masih menarik lengan ku. Aku tersenyum ke arah Seongwoo oppa dan mengikuti pak Yohan.


Sampai di dalam ruangan pak Yohan langsung menutup pintu. Aku melihatnya dengan pandangan curiga.


"Apa yang kamu pikirkan sih?" tanyanya berjalan ke meja kerjanya.


"Ng.. nggak. Nggak ada kok pak." Ucapku sambil duduk disofa.


"Sampai kapan kamu akan memanggilku begitu?" tanyanya mengerjakan berkasnya.


"Jadi saya panggil apa dong?"


"Oppa? Sayang? Kan banyak nama panggilan yang lebih bagus dari pada 'pak'." kini dia bicara menatapku. Aku bingung ingin memanggilnya apa. Selain canggung aku juga sudah nyaman memanggilnya begitu.


"Mungkin lain kali saja ya pak." kataku berjalan menuju jendela yang ada di dekat meja pak Yohan. Tiba tiba ada lengan yang memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahuku. Aku sangat kaget dengan tingkah pak Yohan seharian ini.


"Aku ingin sekarang kamu memanggilku dengan nama panggilan. Kalau kamu memanggilku seperti itu aku terdengar tua." ucapnya dengan nada manja. Tak pernah aku melihat pak Yohan begitu manja. Apa dia salah makan obat?


Dia menciumi bahuku yang memang terbuka karena pakaianku model sabrina yang memperlihatkan bahuku. Setelah puas dia membalikan tubuhku menghadapnya.


Mata kami pun beradu. Kulihat matanya yang biasanya hangat sekarang terlihat sayu. Dia menurunkan pandangannya melihat bibirku. Perlahan wajahnya mendekat dan bibirnya pun menyentuh bibirku lembut.


Awalnya dia hanya mengecup bibirku. Tapi lama lama dia melumat habis bibirku. Tanpa sadar aku pun ikut dalam permainannya dan mengalungkan lenganku di lehernya. Ditengah kegiatan tanpa kami sadari tiba tiba ada dua orang masuk ke ruangan pak Yohan.

__ADS_1


"Ah. Maaf ya."


☆☆☆☆


__ADS_2